

Setelah melihat story akun media istrinya melalui akun rahasia milik Varra sahabatnya dari kampung barulah yakin kalau Avey selama ini dipermainkan di belakang. Yang lebih membuatnya sakit hati ketika Sevia dan selingkuhannya itu merayakan hari pernikahan yang ke 18 tahun. Ia baru tahu kalau selama ini sebenarnya Avey lah yang menjadi selingkuhannya Sevia. Yang membuat ia bertanya-tanya seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengan Alvian, putranya. Avey pun mencari tahu sendiri dan ternyata pria itu adalah putranya Sevia dengan selingkuhannya yang sudah berumur 15 tahun. Umurnya lebih muda dari Alvian. Mungkin ini memang tidak masuk akal, tapi beginilah yang dia dapat.
Sevia sudah tidak pulang sejak seminggu dengan alasan ada pekerjaan di luar kota. Padahal sedang merayakan hari pernikahan dengan keluarga rahasianya. Mendengar kabar Sevia sudah tiba di kantor begitu awal, Avey bergegas menemui istrinya. Dia ingin mendapat penjelasan langsung dari Sevia.
"Sejak kapan? Ah bukan itu, kamu sudah menikah 18 tahun yang lalu secara diam-diam. Lalu menikah denganku secara resmi. Pertanyaanku adalah kenapa kamu bersikap begini padaku? Apa salahku?"
Sevia berdiri, raut wajah manisnya mendadak berubah menjadi sinis. Ia tahu arah pembicaraan suaminya. "Aku memang berencana mengatakan ini. Tapi bagus kalau kamu tahu lebih dulu." Sevia mengeluarkan dua buku kecil dari map coklat yang pagi ini diambilnya dari suatu tempat.
"Kita sudah bercerai!"
"A-Apa mangsudmu?" Avey begitu kaget melihat dua buku cerai itu. Bahkan dia tidak pernah menandatangani surat cerai.
"Kamu sudah memanipulasinya, Sevia!"
Sevia tersenyum miring. "Seminggu yang lalu kamu menandatanganinya. Apa kamu tidak ingat?" Sevia mengingatkan.
Avey mengingat kejadian seminggu lalu ketika di apartemen. Sevia tiba-tiba memberikan sebuah berkas untuknya, Sevia bilang itu berkas kantor. Saat Avey hendak membaca berkasnya, Sevia melarangnya. Ia langsung memeluk Avey dan merayunya hingga Avey buru-buru tanda tangan.
Sevia menaruh buku cerai milik Avey dan keluar dari kantornya. Pagi ini ada pertemuan seluruh pekerja untuk membicarakan sesuatu.
Avey mengejar Sevia tidak terima. "Sevia tunggu! Kamu menipuku!" Ia menarik tangan Sevia agar mau berhenti dan menjelaskan ini semua. Saat Avey berhasil meraih tangan istrinya, wanita itu menepisnya lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Kejadian itu dilihat banyak orang.
Saat Avey hendak membantunya berdiri Sevia justru menangis berteriak agar didengar semua orang. "Kamu jangan memaksa untuk menerimamu lagi, Avey! Sudah cukup kamu menyiksa selama ini hanya karena aku tulus!"
"Kamu boleh selalu memukulku! Tapi biarkan aku pergi!"
Avey tertegun tidak mengerti kenapa Sevia berbuat begitu. Asistennya membantu Sevia berdiri.
"Apa maksudmu Sevia? Aku hanya tidak terima kenapa kamu berselingkuh!"
"Jangan membuat fakta baru, Avey! Aku tahu selama ini kamu berselingkuh dengan Varra!"
Bagi Avey ini lebih tidak masuk akal lagi. Varra memang orang terdekat dan teman satu kampung, tapi tidak pernah ada sedikit pun rasa padanya.
"Dengar semua! Kesabaran hari ini sudah habis. Aku memutuskan untuk memecat Avey Sagara dan Varra Sintia secara tidak hormat karena sudah menodai perusahaan ini!" Sevia memainkan aktingnya. Avey tidak menyangka Sevia bisa berbuat begini. Yang ia tahu sejak kenal dua puluh tahun lalu dia wanita lembut dan lugu.
Varra langsung datang. "Bu Sevia, anda salah paham. Kami hanya berteman sekaligus rekan kerja. Kenapa menuduh kami seperti ini!" Varra juga tidak mau dituduh begini.
"Kalian masih mengelak!" Sevia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan memencet tombol hidup di layar monitor di aula ini. Sevia sudah menyiapkan semuanya. Di sana terlihat banyak foto Avey dan Varra bersama seolah-olah mereka begitu mesra bahkan berselingkuh. "Tidak hanya itu, mereka berdua bersekongkol menggerakkan dana perusahaan sebanyak dua miliar."
Varra menggeleng, ia mendekati Sevia. "Saya tidak pernah menggerakkan dana perusahaan. Mungkin terjadi kesalahpahaman! Tolong percaya padaku, Bu."
"Aku sudah mempercayai kalian selama ini, tapi ini balasannya. Kalian pengkhianat!"
Semua orang percaya dengan Sevia. Semuanorang memandang Avey dan Sevia dengan rendah bahkan ada yang mengatainya orang kampung yang sama.
"Sevia cukup! Lalu bagaimana dengan perselingkuhan selama 18 belas tahun terakhir?" Avey merasa dia juga punya bukti.
"Jangan memutar balikan fakta!" seru Sevia.
"Aku punya bukti kalau sebaliknya anda yang berselingkuh!" ujar Varra yang melihat akun media sosialnya Sevia dengan akun media sosial palsu milik Varra.
"Kalau begitu mana? Ayo buktikan!" Sevia melotot ke arah Avey dan Varra.
Tapi anehnya akun itu hilang, Varra tidak bisa menemukannya. Mungkin Sevia memang sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Avey benar-benar terlambat menyadari semua lebih awal. Sevia lebih dulu membuat rencana untuk membuat Avey pergi tanpa membuat namanya tercoreng.
Sevia tiba-tiba menampar Varra. "Kurang ajar sekali kamu. Sudah salah malah mau menfitnahku." Saat Sevia hendak menapar Varra untuk kedua kalinya, Avey menahan tangan Sevia.
"Cukup, Sevia! Sandiwaramu membuatku muak!" seru Avey hanya menangis tangan Sevia agar tidak lagi melukai Varra. Tapi Sevia justru menjatuhkan diri lagi seolah membuat suasana menjadi makin panas.
"Bu Sevia!" Asistennya membantunya.
"Avey! Kamu memang benar lebih memilih menyakitiku hanya untuk melindunginya!" Sevia menangis tersedu-sedu.
"Karena mereka sudah menggelapkan dana perusahaan, bagaimana kalau kita laporkan agar mereka masuk penjara." Salah satu orang memberikan usul.
Sevia tidak mengijinkan. "Biarlah mereka pergi dari hidupku! Aku merelakan Avey bersama Varra. Aku tidak mau memperpanjang masalah." Itu semua memang hanya tipuan Sevia saja. Jika mereka diadili justru Sevia yang akan terkena batunya karena bukti itu hanya tipuannya saja.
Mereka pun diusir dari perusahaan itu secara tidak terhormat meski tidak salah apa pun. Bahkan mereka sudah dibacklist dari semua perusahaan karena laporan palsu dari Sevia.
Beberapa hari melamar kerja dan semua menolak hingga akhirnya mereka pulang kampung.