Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pembersih Toilet Naik Tahta

Pembersih Toilet Naik Tahta

Runna Horaysa | Bersambung
Jumlah kata
26.5K
Popular
391
Subscribe
83
Novel / Pembersih Toilet Naik Tahta
Pembersih Toilet Naik Tahta

Pembersih Toilet Naik Tahta

Runna Horaysa| Bersambung
Jumlah Kata
26.5K
Popular
391
Subscribe
83
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMafiaBalas DendamSistem
Bagaimana rasanya kehilangan SEGALA-GALANYA? Bryan merasakannya: dipecat karena impoten, dikhianati istri dan sahabat, dipenjara, bahkan ibunya meninggal karena ulah mereka. Namun, kematian memberinya kesempatan kedua... dan kekuatan yang tak terbayangkan! Sekarang, Bryan kembali untuk menuntut balas. Akankah cinta pada putri seorang bos mafia menghalangi misinya? Siapkan diri Anda untuk rollercoaster emosi, intrik, dan aksi mendebarkan dalam kisah Bryan yang tak terlupakan! Catatan: Terdapat adegan 21+, kekerasan.
Penghinaan

Di lantai marmer toilet eksekutif lantai 15, Bryan berlutut. Tangannya yang kasar namun kokoh menggenggam kain pel, menggosok noda karat di sudut ruangan.

Dia berhenti sejenak, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Di hadapannya, cermin besar memantulkan sosok yang seharusnya ada di sampul majalah kebugaran, bukan di toilet pria.

Bryan, 35 tahun. Rahang tegas, bahu lebar yang terbentuk dari kerja kasar bertahun-tahun, dan mata cokelat tajam yang kini redup karena lelah. Seragam cleaning service berwarna biru muda itu terasa sesak di dadanya yang bidang.

"Bryan!"

Suara interkom di dinding berbunyi, memecah keheningan. Itu suara sekretaris lantai ini.

"Ya, ada apa?" jawab Bryan, menekan tombol bicara dengan jari yang masih basah.

"Ibu Laura memanggilmu ke ruangannya. Sekarang. Jangan buat dia menunggu."

Klik. Sambungan putus.

Jantung Bryan berdegup kencang. Apakah aku melakukan kesalahan? Bayangan ibunya, Margaretha, yang terbaring lemah dengan selang infus menari-nari di kepalanya. Dia butuh uang itu.

Bryan merapikan seragamnya, mencuci tangan dengan cepat, dan melangkah keluar.

Bryan menunduk, mempercepat langkah menuju pintu kayu jati ganda dengan plakat emas bertuliskan: LAURA VOSSI – GENERAL MANAGER.

Tok. Tok.

"Masuk."

Bryan membuka pintu. Laura, wanita berusia 38 tahun itu masih sangat cantik dengan cara yang mengintimidasi. Rambut merah anggurnya disanggul rapi, kacamata bingkai tebal bertengger di hidung mancungnya, dan kemeja sutra putihnya sedikit terbuka di bagian atas, menampilkan leher jenjang yang memikat.

"Bryan, tutup pintunya dan kunci," perintah Laura tanpa mendongak dari berkas di tangannya.

Bryan menelan ludah. "Baik, Nyonya."

Klik. Kunci berputar.

Laura meletakkan penanya. Dia melepas kacamata, menatap Bryan dari ujung kaki hingga ke wajahnya.

"Kemarilah," kata Laura. Dia memutar kursi kerjanya, menghadap penuh ke arah Bryan.

Bryan melangkah ragu, berhenti tepat di depan meja. "A-apa ada masalah, Bu? "Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan seperti yang diminta”

"Ada satu yang belum kamu kerjakan" ucap Laura tertawa kecil, sambil berjalan mendekati Bryan.

"Ada komplen masuk," bisik Laura. "Katanya... Kau tidak berkerja dengan baik," ucap Laura yang kini sudah berdiri dihadapan pria itu dengan tatapan penuh gairah

"S-saya minta maaf, Bu. Saya akan … "

"Ssstt." Jari telunjuk Laura menempel di bibir Bryan, membungkamnya.

Mata Laura berkilat aneh. Dia tidak marah. Tangan wanita itu turun dari bibir Bryan, merambat ke dada bidang pria itu, meremas otot dada yang keras di balik seragam tipis itu.

"Kau tahu, Bryan..." suara Laura berubah menjadi bisikan serak yang penuh gairah. "Sejak hari pertama kau bekerja di sini, aku sering melihatmu. Saat kau mengangkat galon air... saat kau membungkuk mengepel lantai... Keringatmu, ototmu..."

Bryan membeku. "Bu Laura, tolong... ini tidak pantas."

"Pantas?" Laura mendengus. Dia mendorong Bryan hingga punggung pria itu menabrak tepi meja kerjanya. "Aku bos di sini. Aku yang menentukan apa yang pantas dan tidak."

Tangan Laura bergerak liar. Dia menarik kemeja Bryan keluar dari celananya, lalu dengan gerakan agresif, tangannya menyusup ke bawah, meraba perut six-pack Bryan. Napas Laura memburu. Dia menatap mata Bryan dengan sorot mata menuntut.

"Aku lelah dengan pria-pria kaya yang perutnya buncit dan bicaranya besar," desah Laura, wajahnya mendekat ke leher Bryan, mengecup kulit di sana dengan kasar. "Aku butuh sesuatu yang bergairah dan memuaskan. Buktikan padaku kalau kau laki-laki, Bryan."

"Nyonya, jangan..." Bryan mencoba menahan tangan Laura, tapi tenaganya hilang entah ke mana. Rasa takut dan trauma masa lalu melumpuhkannya.

Laura tidak peduli. Dia berlutut di depan Bryan. Pemandangan itu seharusnya menjadi fantasi setiap pria: seorang bos wanita yang cantik dan berkuasa, berlutut pasrah, siap melayani. Tangan lentik Laura dengan cepat membuka gesper sabuk Bryan. Suara logam beradu terdengar nyaring.

‘Zreet.’ Resleting celana Bryan terbuka.

"Ayo, Sayang..." Laura mendongak, matanya sayu penuh harap, bibirnya basah dan sedikit terbuka. "Tunjukkan padaku 'itu'. Biarkan aku memanjakanmu. Aku akan menaikkan gajimu... aku akan memberimu apa saja..."

Tangan Laura masuk ke dalam celana dalam Bryan, menggenggam senjata pria itu dengan antusias. Dia mulai membelainya, memberikan pijatan ritmis, bahkan sesekali menggunakan lidahnya untuk menggoda bagian sensitif di sana melalui kain tipis. Laura mengerahkan segala kemampuannya, teknik yang dia banggakan bisa membuat pria manapun bertekuk lutut dalam hitungan detik.

Satu detik. Sepuluh detik. Satu menit berlalu.

Hening.

Tidak ada reaksi.

Di dalam celana itu, "milik" Bryan tetap tertidur. Layu. Dingin. Sama sekali tidak merespon sentuhan hangat Laura maupun desahan nakal yang keluar dari mulut wanita itu.

Penyakit diabetes sialan itu telah lama memutus saraf-saraf kenikmatan di sana. Bryan memejamkan mata, menahan rasa malu yang membakar wajahnya. Dia bukan pria. Dia hanyalah cangkang kosong yang rusak.

Gerakan tangan Laura melambat, lalu berhenti total.

Atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Udara yang tadinya panas penuh gairah, kini membeku menjadi es.

Laura menarik tangannya kasar. Dia berdiri, wajahnya memerah padam. Bukan karena gairah, tapi karena rasa malu dan amarah yang meledak. Dia, Laura Vossi, wanita yang diinginkan semua pria, baru saja ditolak oleh tubuh seorang tukang bersih-bersih.

"Apa ini?" desis Laura, suaranya bergetar menahan murka. Dia menunjuk ke arah selangkangan Bryan yang masih terbuka. "Kau... kau impoten?"

Bryan buru-buru menaikkan resletingnya dengan tangan gemetar. "S-saya punya kondisi medis, Bu. Dia..."

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Bryan. Rasa perih menjalar, tapi tidak seperih harga dirinya yang hancur.

"Menjijikkan!" teriak Laura. Dia berjalan cepat ke balik mejanya, mengambil tisu basah dan mengelap tangannya dengan jijik, seolah dia baru saja memegang bangkai tikus. "Kau punya tubuh seperti dewa Yunani, tapi ternyata kau cuma sampah yang tidak berguna! Barangmu bahkan tidak bisa berdiri!"

"Maafkan saya, Bu ..."

"Diam!" Laura melempar tisu bekas itu ke wajah Bryan. "Keluar dari sini! Kau dipecat!"

Mata Bryan membelalak. "Dipecat? Bu, tolong... jangan pecat saya. Ibu saya sedang kritis di rumah sakit. Saya butuh pekerjaan ini. Saya akan lakukan apa saja, suruh saya bersihkan gudang, apa saja... asal jangan pecat saya."

Bryan hendak berlutut, tapi Laura menatapnya dengan pandangan yang bisa membunuh.

"Pria yang tidak bisa berdiri tidak pantas berdiri di perusahaanku," ucap Laura dingin. "Dan kalau kau berani menceritakan apa yang terjadi di ruangan ini, aku akan pastikan kau masuk penjara dengan tuduhan pelecehan seksual. Siapa yang akan percaya pada tukang pel sepertimu?"

Bryan terdiam. Dia tahu Laura benar. Dia kalah sebelum bertanding.

"KELUAR!"

Bryan menyeret kakinya keluar dari ruangan itu. Dia berjalan menyusuri lorong panjang, mengabaikan tatapan orang-orang. Dipecat. Tanpa pesangon.

Dia sampai di lobi gedung, melangkah keluar menuju trotoar London yang kelabu. Hujan rintik-rintik mulai turun, menyamarkan air mata yang tertahan di sudut matanya.

Ponsel butut di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk.

Bryan membukanya dengan tangan gemetar.

[RS: Tagihan susulan untuk pasien Margaretha. Total tertunggak: $5,000. Harap lunasi dalam 2x24 jam atau asuransi akan dibekukan.]

Bryan meremas ponsel itu hingga buku jarinya memutih. Dia menengadah ke langit kelabu, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Dia hancur.

"Tuhan," bisik Bryan parau. "Kenapa Kau membenciku?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca