Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Legiun Darah Bangsawan

Legiun Darah Bangsawan

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
40.0K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Legiun Darah Bangsawan
Legiun Darah Bangsawan

Legiun Darah Bangsawan

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
40.0K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Kekuatan Super
Seorang Pemuda biasa yatim piatu, Aldo Herlambang 23th sedang menyelesaikan tesis S2 di kampus, menyelamatkan seorang wanita dari kecelakaan mobil ketika pulang dari interview kerja yang sudah ke sekian kalinya. Ternyata wanita itu adalah CEO-Pemilik perusahaan tempat ia interview kerja. Seorang Vampire yang sudah berumur ratusan tahun. Wanita itu-Selena Vayne memerintahkan bawahannya untuk menerima Aldo Bekerja di Perusahaannya karena tertarik dengan bau darah Aldo yang tidak biasa, Selena belum pernah mencium bau darah seperti itu selama ratusan tahun. Darah yang mengalir didalam tubuh Aldo mengundang berbagai Ras yang ada dimuka bumi untuk merasakan dan menikmati darah nya.
1. Interview

Udara di dalam ruang tunggu Nocturne Holdings terasa seperti di dalam kotak perhiasan raksasa yang didinginkan tepat pada suhu 22 derajat Celsius.

Aldo Herlambang, duduk di tepi sofa kulit putih yang terlalu empuk, merasa dirinya bagai noda tinta pada kertas linen mahal. Pakaiannya—kemeja lengan panjang putih polos dengan lipatan yang mulai melunak akibat perjalanan, dan celana hitam yang sudah sedikit mengkilap di lutut—terasa sangat tidak sepadan dengan kemewahan sekitarnya.

Dinding marmer hitam mengkilap memantulkan siluetnya yang kaku, sementara lampu gantung kristal memantulkan cahaya dingin yang membuat setiap detail ruangan tampak tajam dan tanpa ampun.

Jari-jarinya yang berkeringat membasahi tepi berkas portofolio yang ia pegang erat. Di dalamnya tersimpan CV-nya yang bersih namun biasa-biasa saja, ijazah S1 dari universitas negeri ternama tapi bukan unggulan, dan transkrip nilai yang baik tapi tidak cemerlang.

Di usianya yang ke-23, sebagai mahasiswa pascasarjana Manajemen yang sedang menyelesaikan tesis di Aztlan University, tekanan untuk segera bekerja terasa seperti batu giling di pundaknya. Biaya hidup di metropolis ini menggerogoti tabungannya yang sudah menipis, dan tawaran magang tanpa gaji dari kampus sudah tidak lagi ia hiraukan. Ia butuh pekerjaan yang menghasilkan.

“Sudah yang keberapa ini, ya?” pikirnya dalam hati, matanya menatap lukisan abstrak besar di seberangnya yang hanya berupa coretan-coretan perak dan hitam. Interview yang kesekian kalinya. Setiap kali, harapan kecil selalu muncul, hanya untuk dipadamkan dengan email penolakan yang sopan atau bahkan kesunyian tanpa kabar.

“Mungkin ini memang takdir,” bisik hatinya dengan pesimis.

“Anak biasa dari keluarga biasa, mencoba meraih sesuatu yang terlalu tinggi.”

Ia menghela nafas pelan, berusaha menenangkan degup jantung yang berdetak kencang. Bau parfum udara yang disemprotkan HVAC tercium seperti lavender dan sesuatu yang logam—mungkin perak? Ia tidak yakin. Suara langkah hak tinggi yang ritmis dari lorong membuatnya menegak. Seorang resepsionis dengan wajah sempurna bagai boneka porselen muncul.

“Bapak Aldo Herlambang?” suaranya datar namun jelas.

“Iya, saya.”

“Silakan masuk ke ruang meeting tiga. HRD Manager sudah menunggu.”

Aldo mengangguk kaku, berdiri, dan mengikuti wanita itu. Setiap langkahnya di karpet tebal berwarna abu-abu metalik membuatnya merasa seperti berjalan di awan yang tidak stabil.

Ruang meeting tiga lebih kecil dari yang ia bayangkan, minimalis, dengan sebuah meja kaca panjang dan dua kursi ergonomis. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata frameless dan setelan blazer abu-abu duduk di seberang. Namanya, menurut kartu nama di meja, Nyonya Dian.

“Selamat siang, Pak Aldo. Silahkan duduk.”

“Selamat siang. Terima kasih,” ucap Aldo sambil duduk, berusaha menjaga postur tegak.

Interview berjalan dengan pola yang ia hafal di luar kepala. Pertanyaan tentang latar belakang pendidikan, keterampilan, pengalaman organisasi yang minim, dan alasan memilih Nocturne Holdings.

Aldo menjawab dengan jawaban yang telah ia latih: tentang visi perusahaan yang progresif, peluang belajar, dan kontribusi yang ia harapkan dapat diberikan. Suaranya terdengar datar di telinganya sendiri, seperti rekaman yang diputar ulang.

Nyonya Dian mengangguk-angguk, sesekali mencatat di tabletnya. Ekspresinya tidak terbaca. Tidak ada senyum, tidak ada antusiasme.

“Sebagai mahasiswa pascasarjana, bagaimana Anda akan membagi waktu antara magang penuh waktu dan penyelesaian tesis?” tanyanya, tanpa mengangkat pandangan dari tablet.

“Saya akan mengatur jadwal dengan ketat. Malam dan akhir pekan akan saya dedikasikan untuk penelitian tesis. Saya percaya manajemen waktu adalah kunci,” jawab Aldo, mencoba menyuntikkan keyakinan pada suaranya.

Nyonya Dian akhirnya menatapnya. Tatapannya analitis, mengukur. “Nocturne adalah perusahaan dengan tuntutan tinggi. Lingkungan kerja kami… sangat kompetitif. Apakah Anda siap dengan tekanan seperti itu?”

“Saya belajar paling baik di bawah tekanan, Nyonya.”

Dia mengangguk singkat. “Baik. Pertanyaan saya sudah selesai. Apakah Anda memiliki pertanyaan untuk kami?”

Aldo sudah menyiapkan beberapa pertanyaan standar tentang budaya perusahaan dan peluang pengembangan. Ia melontarkannya dengan suara yang mulai serak. Nyonya Dian menjawab dengan kalimat-kalimat baku yang terdengar seperti diambil dari brosur perusahaan.

“Terima kasih atas waktunya, Pak Aldo. Kami akan menghubungi Anda dalam waktu satu minggu jika ada kelanjutan.”

Kalimat pamungkas itu. Aldo bangkit, menjabat tangan yang dingin dan cepat dilepaskan, lalu keluar dari ruangan.

Jantungnya kini berdetak pelan dan lesu. Ia tahu nada itu. Ia sudah mendengarnya terlalu sering.

“Jika ada kelanjutan.” Itu hanyalah cara halus untuk mengatakan “tidak”.

Ia berjalan menyusuri lorong yang sama menuju lift. Hatinya berat. Langit di luar jendela tinggi gedung tampak kelabu dan mendung. Ia memasuki lift yang kosong dan membiarkan tubuhnya bersandar ke dinding kaca dingin saat lift meluncur turun.

“Gagal lagi,” gumamnya lirih.

Bayangan wajah paman yang telah membesarkannya dengan susah payah muncul di pikirannya. Rasa malu dan kecewa menyelimutinya.

Keluar dari lobi gedung yang megah, angin sore yang lembap menyambutnya. Hujan gerimis halus mulai turun, membasahi jalanan dan menciptakan kilauan pada aspal. Aldo tidak membawa payung. Ia hanya menarik kerah jaket jeansnya yang tipis dan berjalan cepat menuju halte bus terdekat, berharap bisa segera pulang ke kamar kontrakannya yang sempit.

Persimpangan menuju halte itu relatif sepi, jauh dari keramaian pusat bisnis. Lampu lalu lintas baru saja berubah menjadi hijau untuk pejalan kaki. Aldo melangkah, pikiran masih tenggelam dalam kegagalan tadi.

Dari arah kanan, sebuah mobil hitam panjang dan mewah—sebuah limosin yang terlihat seperti potongan malam—meluncur dengan kecepatan cukup tinggi. Ia hampir tidak memperhatikannya, berasumsi mobil akan berhenti.

Namun, tiba-tiba, dari sudut bangunan, seorang wanita melangkah cepat untuk menyeberang. Dia tampak lengah, mungkin karena melihat ponselnya atau terburu-buru. Mobil hitam itu, bukannya melambat, justru seperti melaju lebih kencang. Remnya mencicit nyaring, suara yang tidak wajar, seperti logam yang tergores keras.

Rem blong!

Aldo tidak punya waktu untuk berpikir. Refleksnya bekerja lebih cepat dari nalar. Dari jarak beberapa meter, ia menerjang ke depan, tangannya meraih lengan wanita itu dan menariknya dengan sekuat tenaga ke arahnya, menjauh dari jalur mobil.

Mereka berdua terjatuh berputar di trotoar yang basah, dengan Aldo menjadi bantalan. Tubuhnya menghantam paving block, rasa sakit tajam menyambar di siku dan telapak tangan yang menahan beban.

Namun Ia juga merasakan sesuatu yang empuk menempel di badannya dan pada pegangan di telapak tangan nya, sesaat mata mereka bertemu. kemudian memutarkan badan wanita itu kesamping.

Mobil hitam itu melintas tepat di tempat wanita itu berdiri tadi, sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan beberapa meter di depan dengan suara gedebuk yang keras.

Napas Aldo tersengal. Hujan gerimis membasahi wajahnya. Di bawahnya, wanita yang baru saja ia selamatkan terbaring, terlihat selamat.

Aldo segera bangkit setengah, merogoh lengan wanita itu. “A-Apakah Anda baik-baik saja?”

Wanita itu menatap mata nya. Aldo terkesima.

Dia sangat cantik, dengan kecantikan yang menusuk dan dingin. Kulitnya pucat sempurna bagai porselen, hampir berpendar di cahaya senja yang suram. Rambut hitam legamnya yang biasanya mungkin tertata rapi, kini sedikit berantakan, beberapa helai menempel di pipinya yang runcing.

Matanya berwarna abu-abu perak, seperti badai yang membeku, dan saat ini terbuka lebar dengan kejutan. Dia mengenakan setelan jas dan rok pensil berwarna hitam pekat, dari bahan yang tampak sangat mahal dan halus, kini sedikit kotor oleh air dan debu. Tidak ada satupun perhiasan di tubuhnya, kecuali sebuah jam tangan sederhana berangka Romawi yang terbuat dari logam pucat.

“Saya… baik,” suaranya terdengar, sejuk dan jernih seperti tetesan air di gua batu. Dia membetulkan posisinya, duduk dengan anggun di trotoar yang basah seolah itu adalah singgasana. Tatapannya menancap pada Aldo, menganalisis, memindai.

“Anda?”

“Saya… oke,” Aldo menghela napas, merasakan perih di telapak tangan kirinya. Saat ia mengangkatnya, terlihat lecet dan tergores, darah segar mulai menetes dari beberapa luka kecil, bercampur dengan air hujan.

Wanita itu—Selena Vayne—matanya tiba-tiba terfokus pada tetesan darah itu. Pupil abu-abunya menyempit hampir tak kasat mata. Hidungnya yang tinggi dan sempat samar-samar bergerak, seperti mencium sesuatu di udara yang lembap. Ekspresi acuh tak acuhnya yang sempurna retak sejenak, digantikan oleh suatu kilatan rasa ingin tahu yang sangat intens dan primitif.

“Kau terluka,” ucapnya, lebih merupakan pernyataan daripada pertanyaan. Suaranya rendah.

“I-Itu cuma lecet,” Aldo mencoba tersenyum, merasa agak canggung di bawah tatapan tajamnya. Ia mencoba berdiri, menawarkan tangan pada Selena.

“Biar saya bantu.”

Selena tidak segera mengambil tangannya. Dia masih memandangi luka itu selama dua detik yang terasa lama. Di dalam matanya, seperti ada perhitungan yang sangat cepat, sebuah pengenalan akan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin.

Darah itu… aromanya. Sangat samar, tapi berbeda. Seperti sinar matahari pertama setelah ribuan tahun dalam kegelapan, seperti tanah yang subur setelah musim dingin abadi. Itu menggelitik indranya yang paling dasar, membangkitkan sesuatu yang lama tertidur.

Akhirnya, dengan gerakan yang sangat halus dan terkendali, ia meraih tangan Aldo yang tidak terluka dan berdiri dengan sekali gerak. Sentuhan tangannya sangat, sangat dingin, seperti es yang dibalut beludru. Aldo hampir menarik tangannya secara refleks, tetapi menahannya.

“Terima kasih,” ucap Selena, suaranya kembali datar, namun ada bobot di balik kata itu.

“Tindakan yang… berani.”

“Siapa pun akan melakukan hal yang sama,” jawab Aldo sopan, sambil mengibaskan kotoran di jaketnya. Ia melihat mobil yang menabrak. Pengemudinya sudah keluar, terlihat panik.

“Anda harus memeriksakan diri, atau menghubungi seseorang?”

“Tidak perlu.” Selena membetulkan setelan jasnya dengan satu gerakan tangan. Tatapannya sekali lagi menyapu wajah Aldo, seolah memotret setiap detailnya.

“Nama Anda?”

“Aldo. Aldo Herlambang.”

“Aldo,” ucapnya, seperti mencicipi kata itu.

“Saya berhutang budi.” Dari saku dalam jasnya, ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang sederhana, hanya berisi nama SELENA VAYNE dan sebuah nomor kontak, tanpa jabatan.

“Jika ada kebutuhan, hubungi.”

Aldo menerima kartu itu, bingung. “Terima kasih.”

Sebelum ia bisa mengatakan apapun lagi, Selena sudah berbalik dan berjalan dengan langkah pasti dan cepat menuju mobil yang rusak, di mana supirnya sudah menunggu dengan wajah ketakutan. Dia tidak melihat ke belakang lagi.

Aldo berdiri di tengah gerimis, kartu nama dingin di tangannya yang terluka, merasa seperti baru saja mengalami kejadian yang tidak terduga namun pasti akan terjadi-seperti takdir. Ia menghela napas, menyimpan kartu itu, dan melanjutkan perjalanan ke halte bus dengan tubuh yang mulai pegal.

Selena memasuki gedung kantornya. Saat melewati ruang interview, pandangannya tertarik pada tumpukan berkas yang sedikit berkibar akibat angin AC di atas meja, seakan memanggilnya. Hatinya tergerak untuk melihat.

Dengan mata vampirnya yang mampu melihat detail dari jarak jauh, ia membaca nama “Aldo Herlambang” di salah satu lembaran, dikonfirmasi oleh foto yang sama dengan pemuda yang baru saja menyelamatkannya.

Selena segera memanggil HR Manager ke ruangannya.

“Bu Dian, apakah tadi ada pemuda bernama Aldo Herlambang yang melamar di perusahaan ini?”

“Iya, Bu, benar. Tapi dia tidak memenuhi syarat perusahaan kita, jadi saya tidak memajukan berkasnya ke manajemen untuk ditindaklanjuti.”

“Terima dia,” perintah Selena, singkat dan tegas.

“Baik, Bu. Saya undur diri.”

Keesokan harinya, Aldo sudah berusaha melupakan kegagalan interview dan kejadian aneh itu. Ia duduk di depan laptopnya di kamar, mencoba mengetik bab tesis, ketika ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

“Halo?”

“Pak Aldo Herlambang?” suara wanita yang familiar—orang HR Nocturne Holdings yang mengirim undangan interview sebelumnya.

“Iya, betul.”

“Selamat pagi. Saya dari HRD Nocturne. Atas instruksi langsung dari manajemen puncak, lamaran magang Anda diterima. Anda diharapkan dapat mulai besok, pukul 08.30, di lobi utama. Silakan membawa dokumen asli dan fotokopi yang diperlukan.”

Aldo terdiam, mulutnya terbuka. “D-Diterima? Tapi… interview kemarin…”

“Keputusan ini datang dari atas, Pak Aldo. Selamat bergabung di Nocturne Holdings.”

Suara di telepon itu tetap datar dan profesional, lalu menutup pembicaraan.

Aldo menatap ponselnya, tidak percaya. Instruksi langsung dari manajemen puncak. Siapa? Kenapa?

Ia teringat wanita yang ia selamatkan. Selena Vayne. Apakah dia? Tapi dia tidak tampak seperti staf HRD. Gaya dan auranya lebih seperti… eksekutif tingkat tinggi. Sangat tinggi.

Pikirannya berputar. Ia mencari kartu nama yang ia simpan. Saat melihatnya, ia memutuskan untuk mencari nama itu di internet.

Hasilnya membuatnya tercekat. Selena Vayne – CEO dan Pemilik Nocturne Holdings. Fotonya di artikel bisnis menunjukkan wanita yang sama, dengan tatapan dingin dan elegan yang tak mungkin terlupakan.

Jantung Aldo berdebar kencang. Jadi, wanita yang ia selamatkan adalah pemilik perusahaan itu sendiri. Tapi bagaimana dia bisa tahu bahwa Aldo adalah pelamar magang? Mungkin dari wajahnya? Atau…

Ia teringat saat Selena memandanginya dengan saksama. Lalu, keputusan penerimaan yang tiba-tiba dan tidak biasa. Sebuah perasaan campur aduk antara keberuntungan dan kebingungan. Ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Namun, kebutuhan akan pekerjaan dan penghasilan membuatnya memutuskan untuk menerimanya. Menolong CEO perusahaan ternyata membuka pintu masuk ke perusahaan besar dan bergengsi, pikirnya.

Malam harinya, saat Aldo mandi air hangat untuk meredakan pegal, ia baru teringat pada luka lecet di telapak tangannya. Ia memeriksanya, siap melihat goresan merah yang mungkin mulai mengering.

Yang ia lihat membuat darahnya membeku.

Kulit telapak tangannya mulus. Sama sekali tidak ada bekas luka. Tidak ada goresan, tidak ada memar, tidak ada tanda merah. Seolah-olah kecelakaan sore tadi tidak pernah terjadi. Ia menggosok-gosok kulitnya, mencari sisa-sisa luka. Tidak ada.

Ingatannya berputar cepat. Ia pasti terluka. Ia merasakan sakitnya, melihat darahnya. Tapi sekarang… hilang. Sembuh total dalam hitungan jam.

Dengan tangan bergetar, ia berdiri di depan cermin kamar mandi yang beruap, menatapi bayangannya sendiri. Wajahnya yang biasa-biasa saja menatap balik, penuh dengan ketidakpercayaan dan sebuah pertanyaan besar yang mulai menggeliat di benaknya.

Dari jendela kamarnya yang kecil, bulan purnama tersibak dari balik awan, menyinari kota Aztlan dengan cahaya perak pucat yang seakan menyoroti kamarnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca