

Langit sore Jakarta hari ini berwarna keemasan, cahaya jingga matahari terbenam memantul di dinding kaca ruang rapat utama milik Dharmawan Group. Di ruang luas beraroma kayu dan kopi itu terlihat dua pria dari dua dunia yang berbeda.
Yang pertama, Adrian Pramana Dharmawan, biasa dipanggil Prof Pram. Pria usia awal lima puluhan itu tenang dengan senyum berwibawanya—pendiri sekaligus pemilik kampus dan jaringan bisnis besar di bidang pendidikan dan mode. Rambutnya sebagian sudah memutih, namun auranya tetap tajam, seolah setiap langkah meninggalkan jejak keputusan besar.
Yang kedua, Airlangga Azzam Rajendra, CEO muda dengan reputasi yang sangat luar biasa di industri fashion juga bisnis. Ketika ia datang tadi, sekretaris Prof Pram sempat menatapnya tak percaya—karena Azzam dikenal sulit dijangkau, bahkan oleh khalayak media sekalipun. Ia datang hanya karena satu panggilan dari rektor sekaligus rekan bisnisnya itu. Awalnya, ia mengira mereka akan membicarakan terkait kerja sama antar perusahaan.
Nyatanya yang disampaikan Pramana hari ini berbeda dari perkiraannya.
"Azzam," ujar Pramana seraya meneguk secangkir kopinya. "Saya memanggil kamu bukan untuk membicarakan soal kerja sama atau apapun yang berhubungan dengan bisnis. Saya ingin memberikan penawaran yang lebih... personal."
Azzam menatap Pramana dengan dahi berkerut. "personal, Prof?" tanyanya memastikan.
"Ya," Pramana tersenyum tipis. "Saya mau kamu menjadi dosen di kampus kami. Tepatnya di Fakultas Fashion and Business."
Azzam sempat terdiam beberapa saat. Lelaki dengan balutan kemeja putih serta celana panjang high waist trousers berwarna hitam yang membingkai di tubuh proporsionalnya itu menatap jendela besar di sudut ruangan. Di sana, pantulan langit senja tampak seperti pola tenun yang berubah-ubah, memantul di kaca seolah mengikuti bentuk pikirannya yang tengah berpikir keras mengambil keputusan sekaligus amanah sangat besar yang dititipkan padanya.
"Dosen?" ulangnya dengan nada ragu. "Saya tidak yakin, Prof. Dunia saya selama ini bukan di ruang kelas.''
"Justru itu."
Suara Pramana terdengar mantap, tapi juga lembut. "Kampus kami butuh seseorang yang tidak hanya bisa mengajar dari teori saja, tapi juga dari realita. Anak-anak muda zaman sekarang perlu melihat bahwa pola tidak hanya terbentuk dari kain, tapi juga dari sebuah perjuangan."
Kata-kata itu membuat Azzam terdiam. Pria itu menatap cangkir kopi di tangannya, uapnya tipis, berputar seperti pikirannya yang mulai terguncang.
''Saya sudah lama memperhatikan perjalanan kamu, Azzam," lanjut Pramana. "Cara kamu membangun brand dari nol, cara kamu bertahan di saat pasar jatuh, bahkan cara kamu berpegang teguh pada prinsip dan komitmen meskipun dunia bisnis tidak selalu adil.''
Azzam tersenyum tipis, juga sedikit tersentuh. "Prof berpikir saya layak dijadikan contoh?"
"Bukan contoh," jawab Pramana sambil menatap Azza penuh arti. "Tapi ruang pola."
"Ruang pola?"
"Ya," Pramana mengangguk perlahan. "Setiap orang memiliki ruang pola tersendiri—ruang tempat di mana ia membentuk dirinya sendiri, jatuh dan bangkit merangkai pengalaman yang akan menjadi satu desain kehidupan. Saya ingin mahasiswa kami melihat itu dari kamu, Zam. Bahwa fashion bukan hanya sekadar pakaian, tapi juga tentang ruang hati di balik karya tersebut."
Lagi dan lagi kata-kata Pramana menancap dalam. Azzam yang selama ini selalu berpikir logis dan strategis tiba-tiba merasakan sesuatu bergetar dalam dadanya, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan sejak lama. Ada semacam keinginan untuk menemukan arti baru tentang apa yang di jalaninya.
Pramana menatapnya, seolah memahami pergolakan batin yang sedang berlangsung di depan matanya. "Kalau saya boleh jujur," katanya lirih, "saya ingin anak saya juga belajar dari seseorang yang berani membangun dari luka, bukan hanya kemudahan semata."
Azzam menatap Pramana sekilas. Ia belum tahu siapa anak yang dimaksud rektornya. Tapi dari nada bicara Pramana, tersirat doa terselubung, antara harapan dan kekhawatiran seorang ayah yang menahan banyak hal di dalam dada.
Ruang itu hening, hanya tersisa suara jam dinding yang terdengar pelan. Akhirnya Azzam mengangguk perlahan. "Baik, Prof. Saya akan coba."
Senyum hangat muncul di wajah Pramana. Ia berdiri, menyalami Azzam dengan tatapan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Azzam. Kamu tahu ini sangat berharga sekali. Bukan hanya bagi saya... tapi juga mahasiswa yang akan kamu temui."
Azzam mengangguk lagi. Dalam hatinya, ia tahu bahwa langkah ini akan membawa dirinya pada sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan.
Keesokan harinya.
Hari pertama Azzam menginjakkan kaki di Dharmawan Univercity, langit masih diselimuti kabut tipis. Udara pagi membawa aroma rumput basah serta tanah yang baru disapu hujan tadi malam. Ia berdiri di depan gedung Fakultas Fashion Design and Business—bangunan modern dengan dinding kaca tinggi dan relief logam berbentuk pattern menyerupai jalinan benang. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus menantang di tempat itu.
Langkahnya mantap. Setiap kali sepatu hitamnya itu menapak, suara pantulannya bergema lembut di koridor. Beberapa mahasiswa yang melewatinya langsung memperlambat langkah, menoleh dengan tatapan kagum.
"Wah gila ganteng banget."
"Maa syaa Allah..."
"Dosen baru ya? kalo beneran senang banget gue."
Bisikan para mahasiswa di sepanjang lorong terdengar di telinga Azzam. Namun ia tetap berjalan dengan ekspresi datar dan fokusnya, seolah pria itu tidak terusik dengan sorot mata yang mengikutinya. Di balik ketenangan wajahnya ada rasa asing. Berada di dunia yang begitu berbeda dari ruang rapat dan panggung bisnis yang biasa dirinya kuasai.
Berbeda dengan Mahasiswa lain yang tengah terpesona oleh ketampanan Azzam, Gia, Anggia Prameswari Serayu, justru masih terjebak di tengah kemacetan kota Jakarta. Sisa hujan tadi malam membuat jalanan licin, suara klakson yang saling bertautan seperti simfoni ketidaksabaran. Di tengah derunya kendaraan, bunyi notifikasi yang berasal dari handphonenya memecah lamunannya.
Disana terdapat pesan dari sahabatnya raina :
"Giaa, kamu dimana? cepat ke kampus! ada dosen baru, Maa syaa Allah ganteng banget tapi killer vibesnya kerasa!"
Gia menarik napas panjang. "Baru hari pertama aja udah begini ... ya Allah hadiah apa yang engkau siapkan untuk hamba," gumamnya. Gadis itu langsung mempercepat langkahnya begitu sampai di parkiran kampus, menenteng tas dan berlari menuju lantai dua. Napasnya memburu.
Sementara di kelas, Azzam mulai memeriksa daftar hadir mahasiswa satu per satu. Suaranya tenang namun tegas. Tapi lisannya terhenti saat menyebut satu nama.
“Anggia Prameswari Serayu, hadir?”
Tak ada sahutan. Kelas mendadak hening. Beberapa mahasiswa saling pandang satu sama lain.
“Sekali lagi saya panggil, Anggia Prameswari Serayu, hadir?”
Tepat saat itu, pintu kelas diketuk. Gia muncul sambil menunduk sedikit, napasnya masih tersengal karena berlari dari parkiran.
“Permisi, Pak… maaf, saya telat.”
Suara Gia memecah keheningan. Semua mata tertuju padanya.
Azzam menatapnya sekilas — tatapan tajam namun tenang, seperti sedang menilai lebih dari sekadar keterlambatan.
“Kamu telat sepuluh menit,” ujarnya datar. “Silakan keluar kelas saya. Tunggu sampai jam istirahat pertama selesai.”
Gia terkejut. “Pak, tapi tadi saya—”
“Saya tidak akan mengulangi perkataan sebanyak dua kali.”
Suasana kelas seketika kembali hening. Gia menggigit bibir bawahnya, kemudian menunduk dan keluar tanpa kata. Suara langkahnya perlahan menghilang dari balik pintu.
Kini Gia duduk di kursi kantin, ditemani Raina yang menatapnya dengan ekspresi simpati. Di hadapan Gia, terlihat sepiring nasi goreng seafood yang sudah sudah habis setengah.
“Tadi Pak Azzam belum jelasin materi kok, baru absen aja,” ujar Raina menenangkan.
Gia menatapnya malas, sendoknya berhenti di udara. “Jadi dosen nyebelin itu namanya Azzam?”
Raina mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Tapi kalau nyebelinnya kayak gitu, aku rela kok disuruh keluar tiap hari," candanya.
Gia mendengus kecil, namun dalam diamnya, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Nama Azzam seolah menempel di kepalanya — sama seperti aroma kopi dan senja keemasan yang menjadi awal dari semua ini.