

Rasanya seluruh tubuhku begitu sakit, aku merasakan darahku mengalir deras keluar dari tubuh, sedangkan jantungku terasa ditusuk oleh belati. Sakit, hingga ingin segera mati. Pandanganku gelap, mataku berat untuk dibuka.
Tapi...
Betapa terkejutnya aku saat membuka mata. Aku dapat melihat belati menancap di dadaku, dan dua belati lain di kedua telapak tanganku, menancap hingga merobek tulang, sampai menancap pada batu altar di bawah tubuhku. Di sana ku lihat guruku, tengah menyeringai dengan belati lain di lengannya.
"Guru? Kau!" Suaraku tercekat, aku lemah dan kehabisan banyak darah.
"Selamat tinggal muridku, dan terima kasih sudah menjadi tumbal ku!" Dia menikam jantungku dengan belati di tangannya.
Rasa sakit sekujur tubuhku, membuatku nyaris mati rasa, aku hanya merasakan sekujur tubuhku begitu dingin. Akankah aku mati seperti ini? Mati di tangan guruku sendiri? Guru yang selama ratusan tahun ini ku anggap sebagai ayah! Sungguh ironis sekali...
π€π€π€β΅π€π€π€
Aarone De Rhine adalah anak yang lahir dari keluarga bangsawan di sebuah kota makmur. Dia bukanlah anak tunggal, dia memiliki seorang kakak lelaki bernama Drime De Rhine, dan saudara kembarnya Ryan De Rhine.
Aarone dan Ryan adalah anak kembar dengan fisik yang berbeda, sehingga sangat mudah untuk dikenali, sekalipun wajah mereka sangatlah sama mirip. Aarone memiliki iris mata berwarna merah, rambutnya putih dengan ujung merah, dan kulitnya yang terlihat lebih pucat.
Sedangkan Ryan memiliki kulit sawo matang, rambut hitam seperti kedua orang tuanya, Begitu juga matanya yang hitam seperti ayahnya.
Dengan fisik berbeda Aaron menjadi tersingkir, mereka merasa tidak nyaman melihat sosok Aaron. Bahkan tidak pernah menganggapnya ada, semuanya hanya fokus pada Ryan. Terlebih saat berumur 5 tahun Ryan telah membangkitkan kekuatan dengan Kelas S.
Sedangkan Aarone sama sekali tidak membangkitkan kekuatannya. Sekalipun dia melakukannya, mungkin tidak akan ada yang melirik nya. Meski begitu, Aarone dibiarkan hidup di rumah besar itu tanpa pelayan pribadi, dia merawat dirinya sendiri, dan menahan rasa iri beserta kesepian yang memeluknya sepanjang hari.
Sepanjang hari, dia selalu melihat orang tuanya sangat menyayangi kakak dan saudara kembarnya itu, seolah menganggap Aarone memang tidak pernah ada.
Hatinya semakin sesak, dia terkadang menangis sendirian di kamarnya, memeluk dirinya sendiri, mengharapkan pelukan dari orang lain. Saat umurnya 6 tahun, ibunya mengandung dan melahirkan sosok bayi perempuan dengan ciri-ciri identik dengan keluarga mereka.
"Kenapa hanya aku yang berwarna putih?" gumam Aaron saat melihat dirinya di cermin.
Untuk menghilangkan rasa kesepiannya, dia sering pergi ke perpustakaan keluarga secara diam-diam, lantas membaca buku yang membuat hidupnya sedikit berwarna. Hingga 3 tahun berlalu. Dia tumbuh menjadi anak yang membunuh perasaannya sendiri, sehingga wajahnya tidak tampak menampilkan ekpresi apa pun dan sekarang dia berusia 9 tahun yang sibuk dengan dirinya sendiri yang posisinya tidak jauh berbeda dengan para pelayan kediaman.
Hari itu dia memetik buah Berry di ladang, memasukkannya dengan perlahan ke dalam ranjang. Sampai suara kecil mengalihkan perhatiannya. "Wah rambutnya putih!"
Aaron terperangah saat menoleh, dia melihat gadis kecil berusia 3 tahun dengan gaun merah muda, lucu sekali gadis kecil itu. Namanya adalah Rihana De Rhine, anak bungsu keluarga ini dan juga adiknya. Sayangnya mereka tidak pernah bertemu secara langsung.
"Wajahmu mirip sekali dengan kak Ryan." Gadis itu kembali berujar. Sedangkan Aaron tidak tahu harus bagaimana.
"Nona! Astaga, ternyata di sini. Ayo kembali, ini bukan tempat bermain!" seru seorang pengasuh Rihana langsung menggendong gadis kecil itu.
"Rihana," lirih Aaron dengan pikiran bingung.
Setelah pertemuan pertamanya dengan Rihana, gadis itu kembali menemui Aaron yang sekarang sedang bersantai di taman dengan tubuh tertidur di atas rerumputan hijau.
"Hai kak!"
Aaron melirik kala seseorang menyapanya. "Rihana?" lirih Aaron sedikit terkejut dengan kedatangn anak itu. Dia tersenyum manis dengan sedikit kekehan.
"Kenapa aku tidak pernah bertemu Kakak?" tanyanya membuat Aarone bingung. Tapi tetap diam tanpa mengatakan apa pun.
Saat ini Rihana sudah berusia 4 tahun, dan dia mendatangi Aarone ingin mengajaknya berbicara, tidak seperti sebelumnya yang tidak memiliki kesempatan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aarone bersiap untuk menyuruhnya kembali.
"Aku tahu, namamu Aarone De Rhine. Saudara kembar Kak Ryan." Aarone hanya melirik nya dengan mata menyipit, membuat Rihana sedikit takut dengan mata merahnya.
"Para pelayan selalu mengatakan untuk tidak menemui Kakak. Tapi kenapa Kak? Bukannya Kakak adalah kakakku. Tapi, kenapa tidak pernah makan bersama." Gadis kecil itu mengomel pelan. Sedangkan Aarone hanya diam.
"Rihana, kembalilah! Jangan katakan kamu bertemu denganku!" Aarone bangkit dari tidurnya, hendak meninggalkan tempat itu agar tidak ada interaksi lebih.
"Kak?"
Panggilan Rihana tidak menghentikan langkah kaki Aarone. Lagi pula dia tidak di anggap di tempat ini. Dan dia tidak berhak mengharapkan apa pun darinya.
Wajahnya menengadah pada langit dengan awan abu-abu yang seolah hampir sepanjang hari jarang cerah. Dia ingin pergi dari rumah besar ini. Tapi, dunia bukanlah tempat yang aman.
Sekitar puluhan tahun lalu, dunia mengalami kekacauan besar. Bencana alam terjadi di segala tempat, banyak lautan yang menelan daratan, gunung-gunung yang hancur, tanah dengan lava, atau sebuah tempat penuh beracun muncul dari dalam tanah, ditambah makhluk mengerikan yang disebut monster keluar merayap dari tanah. Seolah keluar dari alam bawah.
Setelah tragedi itu, manusia mengalami revolusi, mereka bisa memiliki sihir dengan menyerap energi yang tersedia di alam. Kemudian memeragi para monster menyelamatkan sebagian kecil manusia yang akhirnya mampu bertahan hingga kini.
Sedangkan Aarone, jika ingin pergi dia harus memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Bisa jadi kehidupan di luar sana lebih sulit dari pada sekarang. Itu membuat Aarone merasa bingung sepanjang hari.
Hingga saat dia berusia 12 tahun, Aarone bermimpi di dalam tidurnya yang terasa begitu nyata. "Aarone bangunlah! Kamu harus tahu siapa dirimu!"
Aaron membuka matanya saat mendengar suara di kepalanya itu dengan sedikit terkejut. Tapi, dia mendapati dirinya berasa di tempat yang belum pernah dia lihat dengan peradaban berbeda juga pemandangan tempat itu sangat menakjubkan, bahkan dia bisa melihat sebuah kastil di atas awan, Orang-orang terbang di atas sebilah pedang, atau kereta yang diterbangkan oleh seekor hewan bersayap yang beragam jenisnya.
Dia terpesona sesaat oleh keindahan itu, tapi dia tersadar saat seseorang mengajaknya berbicara. Sayangnya dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya semaunya. Tubuhnya ini bergerak dengan sendirinya. Sedang saat dia sadar, dia memiliki fisik orang dewasa dengan umur kitaran 30 han.
Dia pergi terbang dengan sebulan pedang di kakinya, pergi ke tempat layaknya kastil dengan tembok putih berkilauan yang tidak sembarang dibuat. Di sana dia memberi hormat pada seorang pria tua berjenggot dengan sebutan guru.
Kemudian dia diajak ke suatu tempat oleh guru dan saudara seperguruannya, namun saat di sana dia di serang di sebuah altar. Tubuhnya terikat oleh rantai. Kekuatannya melemah, sedang dia kehilangan perlawanan.
Darahnya trus mengucur di altar, seolah membuatnya menjadi persembahan. Di akhir kesadarannya dia melihat orang-orang itu termasuk gurunya memanggil sosok mengerikan sebagai raja alam bawah.
Tawa mengerikan menggelegar dengan energi gelap yang menyesakkan. Dia membebaskan sosok iblis yang bisa menghancurkan dunia. Tapi, sayangnya tubuhnya sudah tidak bisa bertahan. Dia kehilangan seluruh darahnya sebagai pengorbanan pada sosok mengerikan itu.
Aarone terbangun dengan nafas terengah-engah, keringatnya mengucur deras, sedang wajahnya memucat. "Apa tadi itu mimpi?" gumam Aarone sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal.
ππππππ ππππ, πππππ ππ’π π’π.
ππππππ πππππ. π
πππππππ πππππππ π
Next....