
Grief Beneath Grey Skies
boublish13|Bersambung
- Jumlah kata
- 707
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 707
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Lucian terlahir dalam kesunyian. Sebagai seorang tuna wicara, dunianya tidak diisi oleh kata-kata, melainkan oleh kehangatan tatapan dan sentuhan tangan kedua orang tuanya, Alistair dan Evangeline. Mereka adalah pelita yang selalu meyakinkan Lucian bahwa kekurangannya bukanlah sebuah kutukan, melainkan bahasa kasih yang jauh lebih dalam dari sekadar suara. Namun, langit biru Lucian seketika berubah kelabu. Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa Alistair dan Evangeline tepat di depan matanya sendiri, menyisakan trauma yang membeku dalam diam. Hidupnya berubah total; dari pelukan rumah yang penuh cinta, kini ia terlempar ke balik dinginnya dinding panti asuhan yang asing. Di sana, Lucian harus belajar bertahan menghadapi dunia yang keras tanpa "suara" untuk membela diri. Di tengah duka yang tak bertepi dan kesepian yang mencekik, Lucian memulai perjalanan panjang untuk menemukan kembali arti kehadirannya. Ini adalah kisah tentang perjuangan seorang anak yang mencoba merajut kembali serpihan jiwanya yang hancur, mencari setitik cahaya di bawah langit yang tak kunjung berhenti menurunkan hujan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
bab 1
Malam itu apartemen kecil di sudut kota terasa begitu hangat. Alistair menatap istrinya Evangeline yang sedang melipat baju bayi dengan senyum yang tak kunjung pudar dari wajahnya. Enam bulan pernikahan mereka terasa seperti mimpi yang paling indah tanpa ada pertengkaran hebat melainkan hanya tawa dan rencana tentang masa depan.
"Dia akan menjadi pemusik yang hebat seperti ayahnya nanti" bisik Evangeline pelan sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Alistair tertawa kecil lalu mendekat dan mengecup kening istrinya dengan lembut. "Atau mungkin dia akan memiliki suara seindah ibunya agar seluruh dunia terpukau saat mendengarnya menyanyi."
Namun takdir sering kali menyimpan rahasia gelap di balik tirai kebahagiaan manusia. Sembilan bulan berlalu dan putra mereka akhirnya lahir ke dunia. Mereka menamainya Lucian. Bayi itu sangat tampan dengan mata cemerlang yang seolah mampu menembus jiwa siapa pun yang melihatnya. Hanya saja ada satu hal yang mulai mengganjal di hati Evangeline seiring berjalannya waktu.
Suatu sore di dapur Evangeline sengaja menjatuhkan sebuah sendok logam ke lantai. Bunyi dentingnya nyaring namun Lucian yang berada di dekatnya tidak merespons sama sekali. Bayi itu juga tidak menoleh saat pintu kamar terbanting keras karena angin. Yang paling menyayat hati adalah Lucian tidak pernah mengeluarkan suara tangisan atau celoteh bayi yang biasa terdengar di rumah-rumah lain.
Setelah melakukan serangkaian tes medis kenyataan menghantam mereka dengan sangat keras. Dokter menjelaskan bahwa Lucian menderita kondisi permanen yang membuatnya tidak akan pernah bisa berbicara.
Evangeline terduduk lemas di kursi rumah sakit. "Tuhan di mana letak kesalahanku" ucapnya pelan dengan suara bergetar. "Aku menanti suara Mama keluar dari bibir kecil itu seumur hidupku namun kini rumah ini akan terasa begitu sunyi selamanya."
Alistair menggenggam tangan istrinya dengan erat mencoba menyalurkan kekuatan. "Eve tolong jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu dan ini bukan akhir dari segalanya."
"Tapi Alistair kesunyian itu akan mencekik kita perlahan" bantah Evangeline dengan air mata yang mulai mengalir. "Aku melihatmu bekerja begitu keras dan aku merasa telah gagal memberimu seorang putra yang sempurna. Apakah cinta kita cukup kuat untuk menanggung beban diam ini."
Bulan-bulan berikutnya adalah badai bagi perasaan Evangeline. Ia mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena rasa malu dan sedih yang mendalam. Setiap kali melihat Lucian mencoba menggerakkan bibirnya tanpa ada suara yang keluar air mata Evangeline selalu jatuh. Suatu malam Alistair menemukan istrinya duduk di lantai kamar bayi yang gelap sambil terisak pelan.
"Mungkin ini hukumanku Alistair" bisik Evangeline parau saat suaminya masuk ke kamar. "Kau pantas mendapatkan keluarga yang lebih normal dari ini. Aku tidak tahu apakah aku sanggup melihatnya tumbuh dalam dunia yang tidak bisa mendengarnya."
Alistair langsung berlutut di depan istrinya. Ia memegang kedua tangan Evangeline yang gemetar lalu menatapnya dengan binar mata yang tidak berubah sejak hari pernikahan mereka.
"Eve tatap aku sekarang" suara Alistair terdengar berat namun sangat tenang. "Lucian tidak butuh suara untuk memberitahu kita bahwa dia mencintai kita. Dia bicara lewat matanya dan lewat genggaman tangannya yang kuat pada jarimu saat dia tertidur."
Alistair menarik napas panjang mencoba menguatkan fondasi rumah tangga mereka yang sedang goyah. "Ujian ini bukan untuk menghancurkan kita tapi untuk membuat kita belajar bahasa yang lebih tinggi dari sekadar kata-kata manusia. Jika dunia tidak bisa mendengar suaranya maka kita berdua yang akan menjadi suaranya."
Evangeline hanya terdiam sambil menatap suaminya dengan ragu. "Bagaimana jika aku tidak sekuat itu."
"Aku tidak akan pergi Eve" tegas Alistair sambil mengusap air mata di pipi istrinya. "Aku tidak akan menyerah pada kita dan aku tidak akan pernah menyerah pada Lucian. Dengar detak jantung ini."
Alistair mengambil tangan Evangeline dan meletakkannya tepat di dada kirinya. "Jantung ini tidak butuh suara untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu dan anak kita. Kita akan belajar bahasa isyarat bersama dan kita akan membangun dunia di mana Lucian merasa paling didengar meski tanpa satu kata pun terucap."
Evangeline melihat ketulusan yang begitu dalam di mata suaminya. Perlahan rasa sesak di dadanya mulai terangkat sedikit demi sedikit. Alistair benar bahwa kesunyian Lucian bukanlah sebuah cacat melainkan sebuah ruang kosong yang harus mereka isi dengan jenis cinta yang lebih luar biasa.
Malam itu di bawah temaram lampu kamar mereka berdua mulai mempelajari gerakan tangan pertama mereka. Sebuah simbol sederhana dengan menyatukan jemari di depan dada yang berarti aku mencintaimu. Rumah itu tidak lagi terasa sepi karena di sana cinta tidak lagi butuh suara untuk merayakan keberadaannya.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








