
Si Kuat - Sang Alien di Tanah Batak
Best Siallagan|Bersambung
- Jumlah kata
- 5.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 5.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1

Best Siallagan|Bersambung
Mereka memanggilnya cacat. Mereka melihat seorang pria Batak berusia tiga puluh lima tahun yang lumpuh sejak kecil dan menghabiskan hidupnya di atas kursi roda. Tidak ada yang tahu bahwa otaknya mampu memecahkan persoalan yang bahkan tidak bisa dijelaskan para ilmuwan. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia memandang bintang-bintang bukan karena mimpi... ...melainkan karena ia merindukan rumah. Namanya Kuat Siallagan. Sejak kecil, ia hidup sebagai orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Tubuhnya rapuh karena penyakit langka yang perlahan menghancurkan sarafnya. Namun di balik kelemahan itu tersembunyi rahasia yang bahkan tidak pernah berani ia ceritakan kepada siapa pun. Ia bukan manusia. Ia adalah makhluk dari dunia yang jauh melampaui galaksi Bima Sakti. Tiga puluh lima tahun lalu, sebuah pesawat asing jatuh di pegunungan sekitar Danau Toba. Seorang bayi ditemukan hidup di antara puing-puing yang mustahil dijelaskan akal manusia. Bayi itu adalah Kuat. Ketika sinyal misterius mulai muncul dari langit Sumatera Utara dan benda-benda aneh mulai bermunculan di sekitar tanah Batak, masa lalu yang selama ini terkubur perlahan bangkit. Kini Kuat harus menghadapi kenyataan yang mengubah segalanya. Apakah ia manusia yang dibesarkan oleh budaya Batak? Atau alien terakhir dari sebuah peradaban yang telah musnah? Di tengah konflik identitas, cinta, pengkhianatan, dan ancaman yang datang dari luar bumi, Kuat harus memilih: Tetap menjadi manusia... atau menerima takdirnya sebagai sesuatu yang jauh lebih besar. Karena terkadang orang yang terlihat paling lemah adalah makhluk paling kuat di alam semesta.
Suara cangkul Ayah yang menghantam tanah berbatu di kebun kopi luar adalah satu-satunya jam dinding yang kupunya.
Prang. Srek. Prang. Konsisten setiap lima detik. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter ini, aku hanya bisa menghitung detak itu lewat telinga, sementara tubuhku sendiri mengkhianatiku.
Namaku Kuat. Sebuah ironi yang barangkali sengaja dipilihkan amang dan inangku sebagai doa, atau mungkin ejekan tak sengaja dari garis takdir.
Sejak umur tujuh tahun, demam tinggi merenggut kendali atas otot-ototku. Sekarang, di usia dua puluh dua, aku adalah seonggok daging yang terperangkap di atas kursi roda besi berkarat pemberian dinas sosial. Kepalaku selalu miring ke kanan seolah-olah ditarik oleh beban tak kasat mata. Lengan kiriku melingkar kaku di depan dada, menyerupai sayap burung yang patah sebelum sempat mengepak. Hanya tangan kananku yang masih berkompromi—itu pun dengan gemetar yang membuat guratan pena di atas kertas sering kali tampak seperti cakar ayam yang sekarat.
"Kuat! Minum obatmu!"
Suara Inang melengking dari arah dapur, memutus ritme cangkul Ayah. Bau asap kayu bakar dan rebusan daun pepaya pahit menguar menembus celah pintu kamarku yang tidak bisa tertutup rapat. Aku tidak menjawab. Toh, pita suaraku hanya bisa mengeluarkan bunyi erangan serak seperti mesin tua yang kehabisan oli jika dipaksa bicara.
Aku memilih fokus pada buku catatan bersampul batik di pangkuanku. Ujung pulpen pilot hitam kuposisikan di atas kertas yang permukaannya sudah agak menguning karena lembap. Hari ini ada riuh di luar sana. Dari jendela kamar yang menghadap langsung ke jalan setapak desa, aku bisa melihat beberapa pasang kaki berbalut sepatu pantofel mengkilap berjalan menuju rumah Sintua Tobing, beberapa ratus meter dari rumah kami.
Mereka sedang membahas *adat*. Lagi.
Di tanah ini, adat adalah napas, sekaligus tali yang siap menjerat leher siapa saja yang miskin. Bulan depan, anak perempuan Sintua akan menikah dengan seorang jaksa dari kota Medan. Kudengar dari bisik-bisik tetangga yang singgah saat membeli kopi mentah di depan, uang mahar—*sinamot*—yang diminta menyentuh angka seratus lima puluh juta rupiah. Belum lagi hitungan kerbau yang harus disembelih untuk pesta *adat* tiga hari tiga malam.
Aku mendengus lewat hidung. Ayahku harus membanting tulang di ladang hingga punggungnya membungkuk demi membayar utang adat pemakaman kakekku dua tahun lalu, dan sampai sekarang utang itu belum lunas. Manusia-manusia di luar sana rela memiskinkan diri demi sebuah gengsi yang dibungkus dengan nama kehormatan marga.
*Kenapa mereka menyembah aturan yang mereka buat sendiri untuk menyiksa diri mereka?*
Pertanyaan itu berputar di kepalaku. Aku ingin menulisnya. Tanganku mulai bergerak. Huruf *K* terbentuk, miring dan bergetar. Lalu *E*. Saat aku hendak menarik garis untuk huruf *N*, sebuah sensasi aneh mendadak menyengat tengkukku.
Itu bukan rasa sakit yang biasa. Bukan pegal akibat terlalu lama duduk. Ini seperti... setruman listrik statis yang dingin. Sangat dingin, hingga bulu kuduk di leher belakangku berdiri tegak.
Pandanganku mendadak kabur. Warna hijau pohon kopi di luar jendela seperti tersedot keluar, digantikan oleh warna abu-abu pekat.
*Bzzzt.*
Telingaku berdenging hebat. Suara cangkul Ayah hilang. Suara Inang yang sedang menumbuk bumbu di dapur senyap. Seluruh ruangan ini seolah-olah ditarik masuk ke dalam tabung hampa udara.
Kemudian, di atas kertas putih buku catatanku, tinta hitam yang baru saja kutorehkan mulai berperilaku aneh. Tinta itu tidak meresap ke dalam serat kertas. Tinta itu justru mencair, melebar, lalu... memisahkan diri dari permukaan kertas.
Aku membelalakkan mata. Kepalaku yang miring mencoba bergerak lurus karena syok, namun otot leherku menjerit kaku.
Butiran tinta hitam itu melayang beberapa milimeter di udara, berputar-putar seperti miniatur badai topan. Perlahan, warna hitamnya luruh, berganti menjadi pendaran cahaya perak kebiruan yang sangat terang. Cahaya itu memantul di bola mataku.
*“Struktur organik terdeteksi. Kompatibilitas neorologis: sembilan puluh dua persen. Memulai sinkronisasi darurat.”*
Sebuah suara bergema. Bukan di telingaku. Suara itu bergaung langsung di dalam tempurung kepalaku, tepat di pusat saraf tempat semua pikiran liarku berkumpul. Suaranya tidak memiliki emosi, datar, jernih seperti kristal, namun memiliki frekuensi yang membuat gigiku bergetar.
"Si... sia... pa...?" batin hatiku menjerit. Aku panik. Jantungku berdegup kencang seperti mesin diesel yang dipaksa berjalan tanpa pelumas.
Cahaya perak di atas kertas itu mendadak melesat, menembus ujung pulpen yang sedang kupegang, mengalir cepat melewati punggung tanganku, naik ke lengan, dan langsung menghantam dadaku.
*Deg!*
Tubuhku menegang kaku di atas kursi roda. Kedua kakiku yang biasanya mati rasa mendadak kram hebat, seolah-olah ada ribuan jarum es yang ditusukkan bersamaan ke dalam sumsum tulang. Aku ingin berteriak, tetapi rahangku terkunci rapat.
Di dalam kepalaku, sebuah visualisasi aneh mendadak terhampar. Itu bukan pemandangan desa paropo, bukan pula bukit-bukit yang mengitari Danau Toba. Aku melihat hamparan kegelapan yang tak berujung, dipenuhi oleh bintik-bintik cahaya yang melesat cepat. Di tengah kegelapan itu, ada sebuah entitas—gumpalan energi berbentuk geometris kompleks yang terus berubah bentuk, memancarkan fraktal cahaya perak yang rumit.
*“Identifikasi unit: Penjelajah Kelas Tiga. Armada Pemetaan Sektor Sembilan. Mengalami kegagalan sistem akibat badai radiasi lokal. Membutuhkan inang biologis untuk mencegah disintegrasi kesadaran.”*
Suara itu kembali terdengar. Kali ini, entitas geometris di dalam kepalaku melarut, merambat masuk ke dalam jaringan sinapsis otakku yang rusak.
Anehnya, seiring dengan merambatnya cahaya itu, rasa sakit yang membakar di tubuhku perlahan surut. Digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa nyaman. Rasa hangat yang belum pernah kurasakan sejak aku berusia tujuh tahun.
Perlahan, aku bisa merasakan paru-paruku mengembang lebih dalam. Udara yang kuhirup terasa berbeda—lebih tajam, lebih bersih. Aku bahkan bisa mencium bau tanah basah dari jarak satu kilometer di luar sana. Aku bisa mendengar kepakan sayap seekor lalat yang hinggap di daun kopi terjauh di ujung ladang Ayah.
Lebih dari itu, otot-otot di tangan kananku... berhenti gemetar.
Aku menurunkan pandangan ke arah jemari tangan kananku yang masih memegang pulpen. Jemari itu kini kokoh. Tenang. Tidak ada lagi tremor yang menyiksa. Kulit di sekitar punggung tanganku tampak memancarkan urat-urat halus berwarna perak yang berkedip samar mengikuti ritme detak jantungku, sebelum akhirnya memudar dan kembali terlihat seperti kulit manusia biasa.
*“Sinkronisasi fase pertama selesai. Inang mengalami keterbatasan mobilitas fisik level tinggi. Namun, kapasitas pemrosesan kognitif berada di atas rata-rata spesies lokal. Pertanyaan: Mengapa entitas di luar sana menukar makanan dengan hewan berkaki empat hanya untuk mendapatkan status abstrak?”*
Aku terpaku. Makhluk... atau apa pun yang baru saja masuk ke dalam kepalaku ini, rupanya langsung membaca isi pikiranku sebelum kami bertabrakan. Dia sedang mempertanyakan konsep *sinamot* dan pesta adat yang baru saja kupikirkan.
"Itu namanya adat," jawabku dalam hati, mencoba berkomunikasi lewat jalur pikiran yang sama. "Gengsi. Di sini, kalau kau tidak punya uang untuk itu, kau dianggap mati sebelum dikubur."
*“Analisis: Logika yang sangat tidak efisien untuk kelangsungan hidup spesies. Mengorbankan sumber daya primer demi validasi imajiner. Menarik. Saya akan mengamati lebih lanjut melalui instrumen Anda.”*
Seketika itu juga, denging di telingaku hilang. Warna-warna di dalam kamar kembali normal. Cahaya perak telah lenyap. Tinta di atas bukuku kembali menjadi coretan huruf *K* dan *E* yang jelek dan miring. Suara cangkul Ayah kembali terdengar di luar. *Prang. Srek.*
Semuanya tampak seperti semula. Kecuali satu hal.
Tangan kananku sekarang benar-benar diam. Diam yang kokoh. Dan saat aku mencoba menggerakkan pulpen di atas kertas, ujung pulpen itu meluncur dengan kehalusan yang belum pernah terjadi seumur hidupku. Aku tidak lagi menulis seperti orang cacat. Aku menulis dengan presisi seorang juru tulis ahli kerajaan.
Pintu kamar tiba-tiba digebrak dari luar.
Sintua Tobing berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam, memegang secarik kertas tagihan, sementara Ayahku mengekor di belakangnya dengan wajah pucat dan tubuh yang membungkuk minta maaf.
Bencana pertama dalam hidup baruku baru saja datang mengetuk pintu. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut. Di dalam kepalaku, entitas asing itu mulai menghitung kalkulasi data digital dari ponsel di saku Sintua Tobing yang bahkan belum dikeluarkannya.
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







