
Pembawa Sinar Dari Benteng Tua
Ocha Ruby|Bersambung
- Jumlah kata
- 167.7K
- Popular
- 156
- Subscribe
- 17
- Jumlah kata
- 167.7K
- Popular
- 156
- Subscribe
- 17
Sinopsis
Prajurit Raga selalu menjadi sumber masalah. Saat latihan, ia melukai rekannya sendiri hingga diasingkan ke Kota Lembah Terlaran sebagai hukuman. Hampir tewas, Raga menemukan Gelang Perak di benteng kuno yang menyimpan roh prajurit legendaris yang memberinya ketenangan dan kemampuan memprediksi bahaya. Raga berubah total, memimpin evakuasi, dan meredam amukan energi purba. Rahasia terungkap, gelang itu milik pamannya yang hilang, dan ketakutannya selama ini hanya menekan potensial luar biasa dalam dirinya. Raga bukan pecundang, melainkan pewaris sejati cahaya benteng.
Ulasan
1 ulasan
akuadalahaku
2 hari yang lalu
Congratz ya thor..bhsanya simple ngalir, lugas, dgn hmpir slruh tanda bacanya enak semua..plotnya pas..keren...sukses terus utk semua karya2 nya ya thor..semangat...
Kesalahan Yang Menghancurkan
"Sekali lagi! Kali ini kau tidak boleh salah, Raga!"
Suara Letnan Dika menggema di lapangan tembak terbuka markas Batalyon Rajawali. Matahari siang membakar kulit, tapi tidak ada yang berani mengeluh. Dua belas prajurit berdiri dalam barisan, senapan laras panjang terpasang di bahu, pelindung telinga menggantung di leher. Di hadapan mereka, sasaran bergerak otomatis meluncur di rel besi, target-target berbentuk manusia yang muncul dan menghilang di balik dinding beton.
Raga Pratama Jaya merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Bukan karena panas. Bukan karena latihan. Tapi karena tatapan Letnan Dika yang tajam seperti belati mengarah tepat padanya.
Latihan hari ini latihan simulasi penyerbuan kota. Skenario paling sulit.
Prajurit di sebelahnya, Serda Bayu, menyenggol sikunya. "Tenang, Ra. Ini cuma latihan. Kau sudah hafal rutenya."
Raga mengangguk, tapi tenggorokannya terasa sesak. Dia hafal memang. Semalam dia mempelajari peta lokasi sampai matanya perih. Tapi hafal tidak sama dengan yakin. Dan Raga tidak pernah yakin dengan tangannya sendiri.
Peluit panjang dibunyikan. "Mulai!"
Dua belas prajurit bergerak serentak menuju jalur asap yang menyelimuti area simulasi. Asap buatan tebal, kabut putih yang sengaja disebar untuk mengganggu pandangan. Raga mengikuti di posisi ketiga, di belakang Bayu dan Serda Herman. Langkahnya mantap di detik-detik awal, mata mengikuti gerakan sasaran, jari bersiap di pelatuk.
Sasaran pertama muncul di jendela kiri. Raga mengangkat senapannya, membidik dan menembak. Peluru mengenai target. Tepat sasaran.
Sasaran kedua, di balik tembok rendah. Raga jongkok, menembak, kepala target pecah. Efisien.
"Bagus, Raga!" teriak Letnan Dika dari pos pengawas. "Pertahankan!"
Raga hampir tersenyum. Mungkin kali ini berbeda. Mungkin kali ini dia lebih baik.
Sasaran ketiga muncul.
Tapi kali ini, target itu bergerak tidak sesuai pola. Sistem otomatis sering berubah-ubah, tapi yang ini terlalu cepat, munculnya dari balik tembok beton, melesat ke kanan, ke kiri. Raga mengikuti dengan moncong senapan, tubuhnya tegang. Asap makin pekat.
Di sebelah kirinya, Bayu berlari maju untuk mengambil posisi lebih baik.
Dan Raga mendengar suara Letnan Dika. "Kau tidak boleh salah!"
Suara itu mengiris kepalanya seperti belati. Tangannya gemetar. Pandangannya kabur. Ketika target itu muncul kembali, yang sebenarnya hanya bayangan asap, Raga menekan pelatuk.
Dor! Dor!
Satu peluru menembus asap.
Peluru lain mengenai sesuatu yang lebih lembut dari beton.
Bayu berteriak.
Akh!
Bukan teriak peringatan. Bukan teriak semangat. Tapi teriakan kesakitan yang menusuk telinga, suara yang Raga kenali dari film-film perang tapi tidak pernah dia dengarnya secara nyata.
"Tembakan dari sayap kiri!" seseorang berteriak panik.
"Bukan! Itu dari—"
Raga menurunkan senapannya. Asap mulai menghilang. Dan di sana, lima meter di depan, Serda Bayu terjatuh di tanah berlumuran darah. Peluru Raga mengenai lengan atasnya, tepat di celah pelindung dan Bayu memegang lukanya dengan wajah pucat pasi.
Raga tidak bisa bergerak. Kakinya membeku. Senapan di tangannya terasa berbobot seribu kilo.
Astaga! Apa yang kau lakukan barusan? Aku salah tembak?
"Bayu!" Serda Herman berlari mendekat, menekan luka Bayu dengan kain lap dari sakunya. "Tahan! Tahan!"
Lapangan latihan mendadak kacau. Prajurit lain berhamburan, ada yang memanggil tim medis, ada yang membantu menopang Bayu. Letnan Dika melompat dari pos pengawas, wajahnya merah padam bukan karena panas.
"APA YANG TERJADI?!" teriaknya.
Raga mencoba membuka mulut. "Letnan, saya—"
"DIAM!"
Bayu digotong ke tandu darurat. Darah menetes di tanah, bercak-bercak merah di pasir kuning. Raga melihat wajah Bayu yang mengerang kesakitan, dan untuk sesaat, hanya sesaat Bayu menatapnya. Bukan dengan kebencian. Tapi dengan ketakutan. Seolah-olah Bayu tidak mengenalnya.
"Bayu, maafkan aku. Aku tidak sengaja dan salah menembak." Suara Raga gemetar dan rasa takut dan bersalah.
"Kau menembak rekanmu sendiri, Wardhana!" Letnan Dika menggenggam kerah seragam Raga, mendorongnya mundur sampai punggung Raga membentur dinding beton. "Apa-apaan kau?! Hari ini simulasi level satu yang paling dasar! Dan kau malah melukai—"
"Letnan, saya tidak sengaja—"
"TIDAK SENGAJA?! Kau pikir latihan ini mainan?!"
Raga tidak bisa menjawab. Matanya masih tertuju pada bekas darah di tanah.
Beberapa menit kemudian, tim medis membawa Bayu ke klinik markas. Letnan Dika menyuruh semua orang kembali ke barak.
"Istirahat dulu, tapi jangan kira ini selesai!" Ia lalu menunjuk Raga. "Kau. Ikuti aku ke ruang komandan. Sekarang."
Jalan menuju ruang komandan terasa seperti pawai kematian.
Raga berjalan di belakang Letnan Dika, menunduk. Prajurit-prajurit lain yang berpapasan menatapnya dengan tatapan aneh, ada yang iba, ada yang jijik, ada yang menggelengkan kepala. Dia mendengar bisikan.
"Raga lagi ...."
"Korban ketiga bulan ini."
"Dia sialan, tahu. Setiap latihan pasti ada yang kena."
Raga mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Mereka benar. Dua bulan lalu dia menjatuhkan granat latihan di dekat rekannya, tapi syukurlah granat itu tidak aktif. Bulan lalu dia salah mengunci rantai saat latihan penjinakan bom, menyebabkan temannya hampir terluka. Dan sekarang ini, Bayu tertembak
Selalu dia.
Di depan pintu ruang komandan, Letnan Dika berhenti. Tanpa menoleh, dia berkata dengan suara datar.
"Kau tidak pantas di sini, Wardhana. Kau tidak pantas memakai seragam ini."
"Siap, salah, Letnan!" Raga jawab tugas mesti diliputi aura rasa bersalah dalam ketakutan.
Pintu terbuka.
Di dalam, Kapten Galang, komandan batalyon duduk di balik meja kayu jati. Wajahnya tidak marah. Dia hanya menatap Raga dengan tatapan kosong yang lebih menyakitkan dari seribu makian.
"Tutup pintu," kata Kapten Galang. Suaranya tenang.
Raga menutup pintu. Letnan Dika berdiri di sampingnya, tangan bersilang, wajah masih merah.
Kapten Galang meletakkan berkas di meja. "Kau tahu, Raga, aku sudah membaca laporan latihanmu selama enam bulan terakhir. Enam bulan. Dan dalam enam bulan itu, kau mencatat lebih banyak insiden daripada dua batalyon lain digabungkan."
Raga menunduk lebih dalam. "Saya minta maaf, Komandan."
"Maaf?" Kapten Galang mendengus pelan. "Bayu sekarang di klinik dengan luka tembak di lengan. Dokter bilang mungkin ada kerusakan saraf. Kau tahu apa artinya itu? Dia mungkin tidak bisa bertugas tempur lagi. Selamanya."
Kata-kata itu menancap di dadanya seperti pisau. Raga ingin mengatakan sesuatu, apa saja untuk membela diri. Tapi apa yang bisa dia katakan? Dia memang menembak Bayu. Tangannya yang melakukannya.
"Letnan Dika," Kapten Galang melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan, "Apa sanksi untuk insiden semacam ini?"
Letnan Dika menghela napas. "Menurut aturan, harus ada pengadilan militer, Komandan. Tapi mengingat Bayu masih hidup, bisa diturunkan hukumannya menjadi pemecatan atau—"
"Atau?"
"Atau dipindah ke unit lain."
"Pindah ke unit lain?" lirih Raga dengan suara bergetar yang bercampur dengan rasa syok.
Daftar bab
149 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
149 bab








