Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Liar Si Tukang Loak

Gairah Liar Si Tukang Loak

Tinta_Hitam | Bersambung
Jumlah kata
60.9K
Popular
13.8K
Subscribe
1.5K
Novel / Gairah Liar Si Tukang Loak
Gairah Liar Si Tukang Loak

Gairah Liar Si Tukang Loak

Tinta_Hitam| Bersambung
Jumlah Kata
60.9K
Popular
13.8K
Subscribe
1.5K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremPria Miskin21+Mengubah Nasib
(21+) "Ahh! Sep... enak banget!" desah wanita itu terengah merasakan hentakan demi hentakan di bawah perutnya. _____ Asep, seorang pemulung yang awalnya di pandang sebelah mata. Seketika hidupnya berubah saat ia menemukan sebuah koin antik di dalam tumpukan barang bekas miliknya. Koin yang akan merubah hidupnya, dan membawanya ke petualangan yang begitu liar dan mendebarkan.
Ditolak Mentah-Mentah

“Sep! Mau ke mana?”

Langkah Asep terhenti, suara lembut seorang perempuan menyapanya dari belakang. Ia menoleh, Anita—gadis cantik berkulit sawo matang terlihat sedang berlari kecil ke arahnya.

“Nita, ada apa?” tanya Asep bingung.

Anita mengatur napasnya pelan. “Kamu mau ke mana? Tumben sore begini udah rapi,” ujar Anita sambil menatap Asep dari ujung kaki ke ujung kepala.

Asep tersenyum tipis. “Wah, kebetulan nih.” Asep langsung merapikan kemeja mendiang ayahnya yang kini ia pakai. “Coba liat aku ganteng, enggak?”

Anita mengerjap, alisnya terangkat rendah. “Ganteng apaan? Yang ada malah aneh, penampilan kamu kayak bapak-bapak gitu,” cibirnya sambil memutar manik mata.

“Ah! Kamu mah enggak tau trend, Nit.” Asep masih bersikeras.. “Aku mau nembak si Bella hari ini, Nit,” ujarnya kembali dengan senyum penuh percaya diri.

“Apa?!” Anita terkejut. “Sep, kamu gila ya?”

“Loh, kok gila sih?”

“Sep, jangan, Sep.” Anita berusaha mencegah. Ia mengenal baik siapa Asep dan juga siapa Bella. Mereka dulunya satu SMA.

Asep hanya pemuda miskin, sebatang kara. Satu-satunya yang ia punya hanyalah rumah kayu peninggalan orang tuanya. Bahkan setelah lulus sekolah beberapa bulan lalu, ia menyambung hidupnya dengan cara memulung barang bekas yang nanti dijual kepada penadah di pinggiran kota. Sedangkan Bella, dia anak kepala desa. Ekonominya cukup mapan, bahkan sekarang Bella kuliah di salah satu kampus ternama di kota—berbanding terbalik dengan Asep yang serba kekurangan. Jangankan kuliah, kadang makan saja tidak beraturan.

“Sep, percaya deh kata aku. Jangan!” Anita mencoba keras melarang. Ia tidak mau Asep kecewa nantinya.

“Kenapa sih, Nit? Kamu cemburu ya?” canda Asep.

Pipi Anita seketika memerah. “Bu-bukan itu masalahnya, Sep. Aku tahu si Bella itu gimana orangnya.”

“Tahu gimana? Dia baik, kok. Aku sering tuh ambil barang-barang bekas di rumah dia. Si Bella juga sering bicara sama aku.” Asep masih bersikeras.

Sementara Anita hanya menatap Asep dengan penuh harap agar pria itu mengurungkan niatnya.

“Udah, Nit. Kamu tenang aja." Asep menepuk bahu Anita sambil tersenyum. "Aku jalan dulu, ya.” Asep melambaikan tangannya. “Dah…”

Anita berdiri mematung melihat punggung pria yang selama ini ia sukai perlahan menjauh.

“Sep, Sep, kenapa kamu enggak pernah peka sih?” lirihnya pilu.

Asep berjalan dengan dada membusung, ia benar-benar tidak sabar untuk menyatakan cintanya kepada Bella. Ia merogoh sakunya, memastikan kotak gelang yang ia beli di tukang loak tadi siang tidak tertinggal.

Asep berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi berwarna hitam—rumah Pak Kades. Bella terlihat sedang duduk santai di teras, namun dia tidak sendiri, ada seorang pria duduk bersamanya.

“Bella!” panggil Asep dari depan pagar dengan penuh semangat.

Bella menoleh, lalu membisikkan sesuatu pada pria di sampingnya yang memancing tawa kecil. Bella berdiri dan berjalan ke arah pagar dengan wajah yang tampak terganggu.

“Ngapain kamu ke sini, Sep? Kamu mau ambil rongsokan di belakang? Kan aku bilang ambilnya besok aja kalau bapak ada,” ketus Bella sambil menatap malas ke arah Asep.

Asep menelan ludah, keberaniannya goyah melihat tatapan Bella yang berbeda dari biasanya. “Anu, Bel... aku ke sini bukan mau ambil rongsokan. Aku... aku mau ngomong sesuatu.”

“Mau ngomong apa? Mau pinjam uang?!” tanya Bella lagi, bahkan ia tidak membukakan pintu pagar untuk Asep.

“Bu-bukan, Bel.” Asep langsung merogoh sakunya, mengambil kotak kecil berisi gelang yang ia beli di tukang loak siang tadi.

“Aku mau ngasih ini,” ujarnya lagi sambil menyodorkan kotak itu dari sela-sela jeruji besi pagar.

Bella tidak langsung mengambilnya, ia menatap Asep dari ujung kaki ke ujung kepala. “Apa ini?” tanyanya dengan nada tidak enak didengar.

“Anu, Bel. Ini… gelang. Aku… aku sebenarnya udah lama suka sama kamu.” Tangan Asep sedikit bergetar saat menyatakan perasaanya. Ia berulang kali menelan ludahnya karena gugup. “Kamu… mau enggak jadi pacar aku, Bel?”

Bella terdiam sejenak, lalu tawa sinis keluar dari bibirnya. Ia mengambil kotak itu dengan ujung jarinya, seolah takut tangannya akan tertular kuman jika menyentuh barang pemberian Asep.

Saat kotak itu terbuka, pria yang tadi duduk di teras menghampiri Bella. Pria itu menatap Asep sinis.

"Siapa ini, Sayang? Pengemis baru?" tanya pria itu sambil tertawa mengejek.

"Bukan, Sayang. Ini Asep, tukang loak yang biasa ambil rongsokan di sini," jawab Bella tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Bella kemudian menunjukkan gelang logam kusam di dalam kotak kepada pria itu. "Liat deh, dia nembak aku pake barang ginian. Ini pasti dia mungut dari tempat sampah, ya?"

"Bel, itu aku beli di pasar, aku nabung buat itu..." sela Asep, suaranya parau.

"Nabung? Nabung dari hasil jual botol bekas?!" Bella melemparkan kotak itu ke wajah Asep.

Pluk!

Kotak itu mengenai pipi Asep sebelum jatuh ke tanah.

"Sadar diri, Sep! Kamu itu miskin, bau, kotor. Ngaca! Apa pantes pemulung kayak kamu jalan sama aku?"

Pria di samping Bella kemudian membuka pintu pagar. Tanpa peringatan, ia mendorong dada Asep dengan keras. "Pergi sana!” bentaknya. Dan ini..." Pria itu menginjak gelang logam yang terjatuh di tanah sampai melengkung dan kotor. "Bawa balik sampahmu!"

Asep tersungkur ke aspal. Hatinya jauh lebih perih daripada sikunya yang lecet. Bella dan pria itu masuk ke dalam rumah sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan Asep yang mematung di bawah tatapan beberapa tetangga yang mulai berbisik.

Dengan tangan gemetar, Asep memungut gelangnya. Ia berjalan pulang dengan kepala tertunduk.

Di depan rumahnya, terlihat Anita masih berdiri menunggunya.

“Sep…”

Anita langsung dapat menebak apa yang terjadi. “Sep, kamu—”

“Jangan sekarang, Nit. Aku lagi pengen sendiri.”

Asep langsung masuk ke dalam rumahnya dan membanting pintu dengan kuat, hampir saja rumah itu roboh karenanya.

Anita terpaku, ia begitu kasihan kepada Asep. “Sep, kenapa sih kamu enggak pernah dengerin aku?” lirihnya. “Liat aku, Sep. Sekali aja,” batinnya pilu.

Dengan wajah tertunduk, Anita akhirnya beranjak dari sana membiarkan Asep seorang diri menenangkan diri dan pikirannya.

Namun di dalam rumah. Alih-alih tenang, Asep malah duduk bersandar dengan wajah ditekuk, air matanya mulai menetes, tangannya menggenggam erat gelang logam yang kini sudah rusak.

“Aargghh! Kenapa hidup ini tidak adil?!” teriaknya meluapkan kekesalan. Ia melihat karung barang rongsokan yang belum sempat ia sortir tadi siang. Asep bangkit dan menendang karung tersebut dengan sangat kuat.

“Aarrgghh! Sialan!”

Brak!

Karung itu pecah membuat semua barang rongsokan di dalamnya berhamburan keluar.

Asep jatuh berlutut meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan. Ia hidup sebatang kara, makan dan minum hanya mengandalkan tumpukan sampah yang ia jual. Di umurnya yang baru menginjak 20 tahun, Asep merasakan kerasnya hidup yang luar biasa.

“Kenapa?!” teriaknya. “Kenapa hidup ini tidak adil?!”

Bugh!

Asep meninju lantai hingga tangannya berdarah. Ia benar-benar kesal dengan hidupnya sendiri.

Namun tiba-tiba…

Ting!

Dari tumpukan barang bekas yang sudah berhamburan, menggelinding sebuah koin kusam. Koin itu menggelinding dan berhenti tepat di depan Asep.

Asep terpaku, menatap koin itu yang seolah juga ikut menertawakannya.

“Sialan!”

Asep mengambil koin tersebut hendak melemparnya kembali. Namun… sesuatu yang tidak terduga terjadi. Darah di tangan Asep yang bersentuhan dengan koin tersebut, memicu kejadian aneh. Koin tersebut tiba-tiba bersinar, dan Asep merasakan panas yang membakar di tangannya.

“Aargghh!” Asep mengerang, ia menjerit histeris sambil menggeliat tak tahan dengan sakit di telapak tangannya.

Pandangannya tiba-tiba buram, di sisa kesadaran terakhirnya, ia sempat melihat koin itu seolah merangsak masuk ke dalam telapak tangannya.

Bugh!

Sore itu, Asep terkapar tidak sadarkan diri di antara barang-barang bekas yang berhamburan di rumahnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca