

“Eh, pindah, yuk,” Hani berkata pada dua temannya. “Ada cowok bau kaus kaki!“ ujarnya sembari sesekali melirik Pon yang akan melintas.
“Bau terasi,” imbuh salah teman Hani menutup hidungnya. Ketiganya lantas pergi menjauh.
Ponirin atau biasa dipanggil Pon, yang baru keluar dari toilet, hanya bisa menghela napas berat mendengarnya. Ia tetap berjalan, mengabaikan gunjingan itu.
Tiba di depan kelasnya, 12 IPA 2, Pon kembali bertemu dengan sekelompok siswi lainnya.
“Bubar, bubar. Bangkotan sekolah datang, hahaha,” Anggi mengomando teman-temannya agar menjauhi Pon.
Langkah Pon terhenti, menatap tajam Anggi yang baru saja berdiri dari kursi depan kelas.
“Bangkotan? Apa maksudmu?“ Pon mengeraskan rahang.
Anggi membalas tatapan tajam Pon. “Kelas 12 di usia 22 tahun, apa itu wajar?“ cibirnya pedas.
Pon ingin marah, namun ia masih berusaha bersabar.
“Aku memang sempat telat beberapa tahun karena keadaan, dan mengikuti kejar paket B dulu, tapi bukan berarti aku tidak layak bersekolah disini!“ balasnya bernada kesal.
“Halah, pembelaan basi. Simpan saja omong kosongmu itu. Aku tidak butuh!“ Anggi memutar tubuh dan berlari menuju kantin diikuti beberapa temannya.
Lagi-lagi Pon menghela napas berat. Kejadian ia dikucilkan, dianggap miskin, dan berbagai hinaan lainnya memang sudah sering ia alami.
“Wah, pencemar kedamaian kelas datang nih. Kenapa tidak ke kantin? Pasti tidak punya uang!“ baru saja kepala Pon menyembul di pintu masuk kelas, hinaan Shinta dari dalam kelas sudah menyambutnya.
Pon tidak meladeni. Ia hanya berjalan tenang dan duduk kembali di bangkunya.
“Kenapa diam? Mau aku kasih sedekah?“ Shinta masih merasa belum puas menghina.
Pon sedikit mengangkat wajahnya. “Shin, tolong jangan memulai. Aku tidak ingin ribut,” ucap Pon berusaha meredam amarahnya sendiri.
Bukan mereda, Shinta justru semakin menjadi-jadi. “Heh! Kamu dengar baik-baik, ya. Bukan aku, tapi kamu yang memulai. Kamu yang membuat kelas ini menjadi tak nyaman!“ balas Shinta tak berperasaan.
“Harga diri kelas ini anjlok gara-gara ada kamu, Pon. Kamu lihat kelas lain, minimal orang tua mereka masih staf kantoran. Nah kamu! Sudah miskin, bau, tua, tidak ada yang bisa dibanggakan satupun!“ imbuh Shinta semakin parah.
“Kamu tidak boleh membeda-bedakan, Shin. Setiap siswa memiliki latar belakang sendiri-sendiri. Tidak bisa dipukul rata seperti—”
“Dan kamu bahkan tidak punya latar belakang apapun, Pon! Sadar diri, dong,” potong Shinta cepat.
“Setuju. Kamu memang tidak layak di kelas kita, Pon!“ Hani tiba-tiba muncul, mendukung Shinta.
“Saranku, sih, kamu kerja saja sana, tidak usah sekolah. Terserah deh mau jadi loper koran, atau tukang semir sepatu keliling. Setidaknya kamu tidak bikin mood anak kelas ini rusak!“ Anggi juga mendadak muncul, membuat Pon seperti sedang dihakimi oleh tiga wanita cantik namun sadis.
Pon terdiam, ingin membalas cacian mereka, namun ia cukup sadar diri bahwa ketiganya adalah anak-anak orang kaya yang tak mungkin dijangkaunya.
Shinta maju beberapa langkah, membungkukkan sedikit tubuhnya menatap kaki Pon dikolong bangku. “Kamu lihat, Pon. Dari seribu dua ratus siswa di sekolah ini, cuma kamu yang sepatunya bolong dan sobek-sobek. Memalukan saja!“
“Miskin!“ timpal Anggi.
“Miskin struktural!“ Hani mempertegas.
Detik itulah kesabaran Pon terkikis habis. Ia berdiri cepat dari bangkunya.
“Shinta, Anggi, dan kamu Hani. Penghinaan kalian sudah kelewatan! Lihat saja nanti, aku akan membuat kalian bertekuk lutut padaku!“ raung Pon menudingkan jari telunjuknya, tangan dan dadanya bergetar penuh emosi.
Tett!
Bel akhir istirahat berbunyi, mengiterupsi ledakan amarah Ponirin.
—
Tett!
Bel pulang sekolah berbunyi, Pon bergegas keluar kelas, sedikit terburu-buru, karena ia ingin datang mengadu ke makam kedua orang tuanya.
Di luar sekolah kondisi sedang hujan gerimis, namun tak menyurutkan langkah Pon untuk segera pergi.
Pon sedikit berlari di halaman sekolah menuju tempat parkir sepeda, tapi—
Brukk!
Karena terburu-buru, Pon tak sengaja menabrak Sukma, siswi tercantik dan bertubuh menarik di sekolah.
Kondisi sangat ambigu karena posisi jatuh Pon yang menindih tubuh Sukma. Lebih ambigu lagi karena dua tangan Pon yang bertumpu pada dua bukit Sukma.
Dalam beberapa detik mereka diam saling menatap.
“Ma-maaf, Sukma!“ Pon tergagap.
Glekk!
“Sial! Kenyal sekali!“ Pon baru sadar jika tangannya bertumpu pada dua benda besar itu.
Pon cepat berdiri, namun matanya justru tertaut pada bagian depan kemeja Sukma yang menjadi basah karena air hujan, membentuk siluet lekukan nan terawang indah.
“Pon! Kurang ajar kamu ya,” hardik Sukma yang segera ikut berdiri.
Pon menggoyangkan telapak tangannya. “Salah paham, Sukma. Tadi itu tidak… tidak sengaja!“ ia membela diri.
Plakk!
Tamparan keras tangan Sukma mendarat di pipi Pon sebagai jawaban. Mata Pon melotot kaget menerima hal tak terduga tersebut.
Melihat keributan antara Pon dan Sukma, beberapa siswa yang menuju tempat parkir segera mendekat.
“Ada apa, Sukma?“ tanya Roni mewakili beberapa siswa lainnya.
Mata Sukma berkaca-kaca sembari menunjuk ke arah Pon. “Dia meremas dada dan menindihku!“
“Wooh, dasar miskin kurang ajar!“ tanpa klarifikasi, hampir sepuluh siswa termasuk Roni langsung menghujani Pon dengan pukulan dan tendangan.
Pon hanya bisa melindungi wajah dengan kedua tangannya tanpa bisa membalas.
Bukk!
Bukkk!
Dua tendangan Roni mengakhiri penderitaan Pon yang kini terkapar di atas tanah basah dengan beberapa bagian tubuh lebam dan tangan terkilir.
“Dengar ya, Pon! Kamu ini sudah miskin, mesum pula. Sekali lagi kami lihat kau melakukan hal serupa, kami akan melapor pada Kepala Sekolah biar kau dikeluarkan dari sekolah ini,” ancam Roni bengis.
—
Di depan makam yang berdampingan, Pon bersimpuh, air matanya menggenang.
“Bapak, Ibu. Mas Wage, Mas Kliwon, Mas Pahing, dan Mas Legi sudah terlalu sibuk dengan para istrinya. Aku hanya hidup sendiri di rumah. Mereka sudah tak peduli padaku,” adunya sedih.
Ia melanjutkan, “Tapi aku tidak menyerah, pak, bu. Aku membuat gorengan dan titip di warung Mak Yah. Hasil dari sanalah aku membayar sekolah dan bertahan hidup.“
Pon sejenak menyeka air matanya yang mulai mengalir di pipi.
“Aku tadi juga dihajar anak-anak di sekolah karena menuduhku tanpa klarifikasi. Aku sakit hati, pak, bu. Tapi apa dayaku? Aku tak memiliki kemampuan membela diri.“
“Dan sekarang, semua teman di desa dan di sekolah menjauhiku yang miskin ini. Tapi tidak apa-apa, Pak, Bu,“ ia berusaha tegar, menahan air mata. “Aku pasti bisa bangkit. Bapak, Ibu, tenang saja, aku akan tetap berjuang!”
Lalu, ia tak mampu lagi menahan dua bulir air mata, dan menumpahkan semua uneg-unegnya.
Suasana sejenak hening. Hanya sesekali suara sesenggukan Pon menyeruak di tengah area pemakaman yang sepi tersebut.
Tiba-tiba—
Duarr!
Guntur menggelegar, disusul hujan yang mulai turun. Beberapa kali kilatan petir menyilaukan mata Pon.
Pon beringsut, berlindung dari air hujan di gubuk kosong dekat makam. Rasa kalut sedikit mereda, berubah menjadi wajah tegang karena kehadiran hujan lebat yang tiba-tiba datang.
“Wah, malah hujan! Bisa telat nih kirim gorengan sore ke warung Mas Yah,” keluh Pon menyedekapkan tangan, menahan dingin yang mulai menusuk.
Cratt!
Kilatan petir kembali datang, namun kali ini sedikit berbeda. Kilatan itu bukan berasal dari langit seperti sebelumnya, namun dari arah depan.
“Kok dari depan?“ ia menajamkan mata namun terhalang derai air hujan yang cukup lebat.
Pon memilih untuk mengabaikan hal itu. “Mungkin lampu mobil,” pikirnya.
Pon kembali terpekur, berharap hujan segera mereda. Namun sayup terdengar suara lain dari sisi kanannya.
“Kakek Buyut!“
Pon jelas terkesiap. Bulu kuduknya meremang seketika. “Eh, suara apa itu? Ini di tengah kuburan!“ gumamnya ngeri sendiri.
Pon ingin menoleh ke sisi kanannya, tapi tak berani.
“Kakek Buyut, lihat kesini, deh!“ suara itu kembali terdengar.
Mau tak mau Pon menoleh ke arah suara itu berasal. Seketika matanya melebar kaget. “Si-siapa kamu?“
Seorang pemuda seumuran dengannya tiba-tiba sudah berada di sisi kanannya, hanya berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri.
“Ka-kamu kok mirip denganku?“ Pon terpana, mencoba mencermati fitur wajah, postur, dan tinggi pemuda tersebut.
Pon seperti melihat duplikat dari dirinya sendiri meski tidak sama persis seratus persen.
“Perkenalkan, aku Piniron, biasa dipanggil Pin. Aku cicit kakek yang datang dari masa depan, seratus tahun dari sekarang.“
“Pin… Piniron! Apa maksud semua ini?!“ kening Pon berkerut bingung.
“Kakek Buyut, aku datang membawa Super Sistem Masa Depan untuk memperbaiki dan membantu Kakek.“
Pon masih belum paham. “Super Sistem! Apa pula itu?!“
Pin mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. “Kakek Buyut, jalur hidup Kakek sangat terjal. Kakek selalu dalam keadaan terpuruk secara ekonomi, dan itu akan terus terjadi sampai anak turun Kakek nanti, termasuk aku.“
“Jadi… jadi kamu datang dari masa depan, ingin menolongku memperbaiki keadaan ini agar bisa memperbaiki perekonomianku dan keturunanku?“ tanya Pon memastikan.
Pin mengangguk. “Tepat sekali! Aku bangga memiliki Kakek Buyut yang sedikit cerdas,“ ia terkekeh senang.
“Sedikit cerdas gundulmu! Aku ini langganan juara kelas, tahu?!“ sembur Pon yang tiba-tiba merasa familiar dengan gaya bercanda Pin yang mirip dirinya.
Tanpa menanggapi omelan Pon, Pin membuka telapak tangannya. Sebuah benda sebesar bola tenis di tangannya tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih benderang.
“Ijinkan aku menyematkan Super Sistem Masa Depan ke tubuh Kakek,” Pin mengarahkan benda tersebut ke punggung Pon.
Cratt!
— bersambung.