Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM MENYELAMATKANKU, MENJADIKANKU YANG TERHEBAT

SISTEM MENYELAMATKANKU, MENJADIKANKU YANG TERHEBAT

Chris Jun | Bersambung
Jumlah kata
98.4K
Popular
4.0K
Subscribe
563
Novel / SISTEM MENYELAMATKANKU, MENJADIKANKU YANG TERHEBAT
SISTEM MENYELAMATKANKU, MENJADIKANKU YANG TERHEBAT

SISTEM MENYELAMATKANKU, MENJADIKANKU YANG TERHEBAT

Chris Jun| Bersambung
Jumlah Kata
98.4K
Popular
4.0K
Subscribe
563
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahSistemKekuatan SuperSupernatural
Alan seharusnya mati, tapi sebuah sistem misterius menyelamatkannya dan memberinya kesempatan kedua. Dengan bantuan sistem ini, Alan bangkit, dari semula remaja miskin yang lemah dan menjadi objek perundungan, menjadi sosok yang begitu kuat, kaya-raya, dan ditakuti. Tak seorang pun bisa menandingi Alan. Mereka yang menantangnya dan mencoba mencelakainya akan dia hancurkan!
1 - Insiden di Stasiun

Di sebuah peron kereta.

Alan berdiri dengan wajah yang sedikit menunduk. Sengaja ia kenakan hoodie untuk menutupi lebam dan memar di pipi, leher, dan tubuhnya.

Ia bukan tukang kelahi. Ia juga bukan sosok yang senang membuat onar. Ia begini karena disiksa oleh Darius dan murid-murid lain di SMA Tunas Bangsa. Sudah jadi hal lumrah murid miskin dan yatim piatu sepertinya menjadi sasaran bully dan dijauhi. Itu makanan Alan sehari-hari.

"Darius sialan," gerutu Alan sambil membayangkan betapa memuakkannya wajah anak menteri pendidikan itu. Anak yang mungkin selalu dimanja dan tak pernah hidup susah. "Dia selalu saja punya alasan buat menggangguku!"

Tiba-tiba Alan mengernyit. Nyeri yang sangat hebat di perutnya tampaknya belum tuntas. Sejak semalam ia merasakannya, membuatnya sulit tidur. Tadi subuh nyeri itu sempat pudar. Kini muncul lagi.

"Sialan!"

Kemarin siang Darius dan kawan-kawan sempat menonjok Alan di bagian perut. Alasannya karena menghalangi jalan mereka. Sebuah alasan yang seperti biasa mengada-ada.

"Mereka cuma enggak suka aku sekolah di Tunas Bangsa," gerutu Alan lagi. "Lagi pula siapa juga yang meminta beasiswa? Orang-orang berdasi itu yang memberinya padaku!"

Kalau boleh memilih, Alan lebih senang sekolah di sekolah negeri. Tempat yang mungkin lebih tenang dan aman baginya. Kini hari-hari penuh rasa sakit. Mungkin nyeri di perutnya inilah puncak deritanya. Entah, ia tak tahu separah apa. Pergi ke dokter butuh biaya. Melapor ke guru? Tampaknya hal yang percuma.

Perlahan rasa mual juga mulai hadir. Alan mencoba menahan diri. Ia terus menunggu kereta sembari bersandar di tiang peron. Matanya mulai memejam, seolah dengan begitu nyeri dan mual bisa saja mereda.

"Ayo, kereta, cepatlah datang! Kereta sialan! Perutku keburu mual!"

Alan yakin ia bisa menahan mual setelah duduk di kursi kereta nanti. Berdiri seperti ini terasa sangat menyiksa perut.

Namun, belum semenit berlalu, Alan sudah tak tahan lagi. Ia berlari ke toilet dekat peron, sebuah toilet yang cukup bersih. Cepat saja ia menghambur ke wastafel, menumpahkan seluruh isi perutnya.

"Hoek!"

Byar!

Tumpahan muntah meluber ke mana-mana, tampak seperti bubur bau yang penuh air liur. Orang-orang yang kebetulan masuk ke situ sontak menatap penuh rasa jijik.

"Ih, jorok banget!"

"Bisa enggak sih muntahnya jangan lebay?!"

Mereka berjinjit, takut menginjak muntahan Alan yang terciprat ke lantai. Alan tak merespons gerutuan mereka. Sudah biasa ia memperoleh tatapan dan reaksi tak mengenakkan begini.

Maklum saja ia ngekos di kawasan kumuh. Setiap kali berjalan keluar untuk menuju stasiun, orang-orang di sekitar selalu menatap sarat penghakiman.

Alan menduga itu pasti karena seragam Tunas Bangsa yang ia kenakan. Orang miskin macam mana yang tak tahu diri bersekolah di tempat mahal dan elite begitu?

Mungkin karena itulah mereka menatap rendah Alan, mengira ia termakan gengsi. Tak mungkin dijelaskan ke semua orang bahwa ia hanya murid berprestasi yang dapat beasiswa.

Setelah puas menguras isi perutnya, rasa mual tadi lenyap. Nyeri perlahan memudar. Alan merasa sedikit lemas, tapi ia baik-baik saja.

"Mari kita tunggu kesialan apa lagi yang datang hari ini," cibir Alan meratapi nasib sendiri. Ia renggut beberapa helai tisu, ia bersihkan bekas-bekas muntahannya. Cukup lama ia mengerjakannya, sambil menahan pusing yang mulai terbit.

Selesai membersihkan muntahan, Alan kembali ke peron. Ia bersandar di tiang yang sama. Ia tutupi separuh wajahnya dengan hoodie. Dan ia memejam sambil menyilangkan kedua tangannya, menunggu suara kereta dari jauh perlahan mendekat.

Saat dirasa kereta yang dinanti akan mendekat, Alan membuka mata. Ia mendongak menatap langit, berharap tak ada siksaan lagi, paling tidak untuk hari ini.

Pada saat itu kereta sudah memasuki stasiun. Kecepatannya belum cukup aman untuk orang-orang mendekat melewati garis di sisi rel.

Hanya saja, tiba-tiba, sebuah kereta bayi meluncur, melintasi Alan yang sekejap kemudian menoleh.

Terdengar teriak histeris ibu sang bayi, "Toloong! Anak saya! Anak saya di situ!"

Sontak, Alan melompat maju, menarik pegangan kereta bayi itu. Sesaat kemudian ia lemparkan tubuhnya sendiri ke sisi samping, dengan tujuan membuat momentum agar sang bayi tak terlontar ke arah kereta yang melaju.

Hanya saja aksi itu justru membahayakan Alan. Kereta dan sang bayi selamat, namun Alan terlempar. Ia hilang pijakan dan keseimbangan. Terjatuh ke lubang rel kereta, Alan tahu ia tak mungkin akan selamat. Kurang dari sedetik, kereta pun menghantamnya.

Duak!

Jerit para pengunjung stasiun adalah hal terakhir yang Alan dengar saat itu. Semua menjadi gelap dan segala rasa menjadi hambar.

'Inikah rasanya maut?' Alan sempat bertanya-tanya di ujung kesadarannya.

***

"Tak apa kalian tinggal dulu," ucap sebuah suara, samar-samar. "Ya, dia akan baik-baik saja."

"Memangnya gimana kejadiannya tadi?"

"Aku juga enggak tahu. Ada yang membawanya ke sini, karena seragam yang ia pakai."

"Oh."

Suara-suara itu seperti sebuah ketukan di alam mimpi. Alan merasa mendengar semua dengan sangat jelas. Suara-suara itu seperti hanya terhalang oleh sebuah pintu atau tembok tipis. Ia tak tahu ada di mana dirinya. Surga? Atau, neraka? Tapi kenapa neraka punya udara yang terasa sejuk?

Alan belum membuka mata saat ia coba gerakkan kedua tangan dan kaki. Semua tampak biasa. Ia yakin ia mati. Tak mungkin tabrakan tadi tak menyisakan luka atau sakit apa-apa. Ketika benar-benar membuka mata, Alan sangat kaget. Ia sangat kenal tempat ini.

"UKS di sekolah?! Yang benar saja!"

Alan sontak mendudukkan diri, memandangi tubuhnya yang utuh dengan gusar. Ia tepuk-tepuk pipinya. Ia cubit lengannya sendiri. Ia tak tahu bagaimana mungkin ini terjadi. Kecelakaan hebat tadi harusnya membunuhnya. Tapi ia malah terbangun di sini.

Belum sempat memproses semua itu, Alan dikagetkan lagi dengan kemunculan sebuah layar hologram aneh di depan wajahnya. Sebuah layar sebesar TV 24 inci.

Bunyi 'bip' keras seperti suara mesin dari masa depan terdengar sebelum muncul sebaris tulisan di layar:

[Mau kesempatan kedua? Kamu akan didampingi sebuah sistem yang sangat canggih. Sistem khusus yang dirancang untuk orang-orang terpilih!]

[Sistem yang akan memberimu banyak sekali kekuatan. Kekuatan macam apa itu? Hmm, lihat saja nanti. Jika bersedia, segera kau ambil dan jalani kehidupan barumu!]

Alan membaca kalimat itu dengan tergesa-gesa dan shock.

Bunyi 'bip' kedua terdengar sebelum tulisan tadi hilang berganti tulisan yang lain:

[Pilihan ada di tanganmu, Kawan. Kau terima tawaran yang sangat spesial ini, maka sistem akan otomatis aktif.]

[Dan jika saja kau dengan yakin menolak, maka kau akan kembali ke situasi sebelumnya–dan mati. Tubuhmu hancur. Nyawamu melayang!]

[Segera putuskan! Pilihan ada di tanganmu, Kawan!]

Lanjut membaca
Lanjut membaca