Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SULTAN

SULTAN

qalamnovel | Bersambung
Jumlah kata
84.2K
Popular
6.3K
Subscribe
629
Novel / SULTAN
SULTAN

SULTAN

qalamnovel| Bersambung
Jumlah Kata
84.2K
Popular
6.3K
Subscribe
629
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKonglomeratMiliarderIdentitas Tersembunyi
Orang-orang mengolok-oloknya karena dia bernama Sultan padahal ia hanya pemuda desa yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah. Suatu malam di kota, dalam keadaan lapar dan bingung mau tidur di mana, ia menolong seorang kakek yang sedang sekarat di dalam mobilnya. Siapa sangka, kakek tersebut rupanya salah satu orang terkaya di negeri itu, dan dia kelak mewariskan seluruh kekayaannya yang nilainya triliuan itu kepadanya. Hidup Sultan pun seketika berubah! Dia bukan hanya kaya-raya, tapi juga disegani dan ditakuti!
Bab 1. Nama Besar, Hidup Sederhana

Namanya Sultan.

Tapi hidupnya tidak pernah menyerupai arti namanya.

Tak ada istana.

Tak ada emas.

Tak ada kekuasaan.

Yang ada hanyalah rumah kayu sederhana di ujung desa, beratap seng yang berisik saat hujan turun deras.

Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Sultan sudah berada di sawah bersama ayahnya.

Lumpur menempel di kakinya. Bajunya basah oleh keringat. Tangannya kasar oleh kerja yang tak pernah mengenal hari libur.

“Ayah… pupuknya tinggal sedikit,” ucap Sultan pelan.

Ayahnya mengangguk tanpa menoleh.

“Nanti kita beli kalau ada uang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Sultan tahu, uang bukan sesuatu yang mudah bagi keluarga mereka.

Ia hanya lulusan SMA.

Bukan karena tidak mampu kuliah.

Tapi karena tidak ada biaya.

Setelah lulus, ia memilih membantu orang tuanya bertani. Setiap pagi ke sawah. Setiap sore membantu ibunya menyiangi hasil kebun untuk dijual ke pasar.

Di desa itu, namanya sering jadi bahan ejekan.

“Namanya Sultan, tapi hidupnya miskin.”

“Harusnya ganti nama jadi Buruh.”

Tawa mereka terdengar keras. Sultan hanya tersenyum tipis.

Ia tidak marah.

Ia hanya diam.

Tapi dalam diamnya, ada sesuatu yang tidak pernah mereka pahami—

harga diri yang tidak bisa dibeli.

---

Sore hari, setelah selesai bekerja, Sultan duduk di beranda rumahnya.

Ia memandangi langit yang mulai menguning.

Ibunya keluar membawa teh hangat.

“Kamu capek, Nak?”

Sultan menggeleng pelan.

“Tidak, Bu.”

Padahal tubuhnya terasa remuk. Tapi ia tak ingin membuat ibunya khawatir.

Ibunya menatapnya lama.

“Kamu ingin kuliah, kan?”

Sultan terdiam.

Pertanyaan itu selalu menusuk.

Ia ingin.

Sangat ingin.

Ia ingin keluar dari desa. Ia ingin membuktikan bahwa namanya bukan sekadar ejekan.

Tapi ia juga tidak tega meninggalkan orang tuanya sendirian.

“Aku baik-baik saja di sini, Bu.”

Ibunya tersenyum, tapi mata wanita itu berkaca-kaca.

Seorang ibu selalu tahu isi hati anaknya.

---

Malamnya, Sultan shalat di mushala kecil dekat rumahnya.

Tak banyak orang yang datang. Hanya beberapa lelaki tua dan anak-anak kecil.

Setelah shalat, Sultan duduk lebih lama.

Tangannya terangkat.

“Ya Allah… jika Engkau takdirkan aku tetap di sini, aku terima. Tapi jika Engkau bukakan jalan, beri aku kekuatan.”

Doanya singkat.

Tapi tulus.

Ia bukan tipe lelaki yang banyak mengeluh.

Ia bukan pula yang suka menyalahkan keadaan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada bara kecil yang terus menyala.

Ia tidak ingin selamanya menjadi bahan hinaan.

---

Suatu malam, ketika hujan turun deras, Sultan mendengar percakapan dua tetangganya yang berteduh di depan rumahnya.

“Anak itu kasihan.”

“Kasihan apanya? Miskin ya miskin saja.”

“Namanya saja Sultan, tapi hidupnya tak lebih dari buruh tani.”

Sultan mendengar semuanya.

Ia berdiri di balik pintu kayu rumahnya.

Wajahnya tenang.

Tatapannya dingin.

Bukan karena sakit hati.

Tapi karena ia sedang berjanji pada dirinya sendiri.

Suatu hari… nama ini akan pantas.

Dan ketika hari itu tiba, ia tidak akan lupa bagaimana rasanya diremehkan.

---

Di dalam kamar kecilnya, Sultan membuka buku tulis lama yang pernah ia pakai di SMA.

Di halaman terakhir, ada tulisan yang ia buat tiga tahun lalu:

> “Aku tidak tahu bagaimana caranya.

Tapi aku akan mengubah hidup ini.”

Ia menatap kalimat itu lama.

Tangannya mengepal pelan.

Hujan di luar semakin deras.

Dan tanpa ia sadari…

Takdir besar sedang bergerak pelan menuju hidupnya.

--

Hujan belum juga reda.

Sultan masih duduk di kamarnya ketika suara batuk keras terdengar dari ruang tengah.

Ia segera bangkit.

Ayahnya duduk sambil memegang dada. Wajah lelaki tua itu pucat.

“Yah?”

“Tidak apa-apa… cuma masuk angin,” jawab ayahnya memaksa tersenyum.

Tapi Sultan tahu itu bukan sekadar masuk angin.

Sejak beberapa bulan terakhir, ayahnya sering batuk keras sepulang dari sawah. Tenaga lelaki itu tak lagi sekuat dulu.

Ibu Sultan datang membawa minyak kayu putih.

“Kita harus ke puskesmas besok,” katanya lirih.

Ayahnya menggeleng.

“Uang dari mana?”

Kalimat itu kembali menjadi tembok.

Sultan berdiri diam.

Hatinya terasa seperti diremas.

Ia ingin marah pada keadaan. Ingin berteriak. Tapi ia bukan tipe lelaki yang melampiaskan kemarahan dengan suara.

Ia menyimpannya.

Dan kemarahan yang disimpan terlalu lama… bisa menjadi sesuatu yang besar.

---

Malam itu Sultan tidak tidur.

Ia duduk di beranda, memandangi jalan desa yang gelap.

Lampu-lampu rumah tetangga satu per satu padam.

Desa itu kecil. Orang-orangnya saling kenal. Tapi juga saling menilai.

Ia teringat teman-teman SMA-nya yang kini sudah bekerja di kota. Ada yang jadi pegawai pabrik. Ada yang merantau ke Jakarta.

Sedangkan dirinya?

Masih di sini.

Masih menjadi bahan ejekan.

Tiba-tiba ia berdiri.

Keputusan itu muncul begitu saja.

Ia masuk ke rumah dan mengambil tas lamanya.

Ibunya yang belum tidur melihatnya.

“Kamu mau ke mana, Nak?”

Sultan menatap ibunya. Tatapannya tenang. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

“Aku mau merantau, Bu.”

Ibunya terdiam.

Hujan masih turun.

“Ayahmu bagaimana?”

“Aku akan kirim uang. Aku janji.”

Suasana hening beberapa saat.

Air mata ibunya jatuh pelan.

“Kamu yakin?”

Sultan mengangguk.

“Aku tidak mau selamanya kita begini.”

---

Pagi itu, setelah hujan berhenti, Sultan berdiri di depan rumahnya.

Tas kecil di bahu. Uang tabungan seadanya di saku.

Ayahnya berdiri sambil memegang tongkat kayu.

“Jangan pernah rendahkan dirimu,” kata ayahnya pelan.

Sultan mengangguk.

“Aku tidak akan, Yah.”

Ia mencium tangan kedua orang tuanya.

Lalu berjalan menyusuri jalan desa yang selama ini menjadi saksi hidupnya.

Beberapa tetangga melihatnya.

“Mau ke mana itu Sultan?”

“Paling juga balik lagi.”

Tawa kecil terdengar.

Sultan tidak menoleh.

Ia tidak membalas.

Tapi langkahnya mantap.

---

Bus tua yang membawanya ke kota terasa panas dan sesak.

Ia duduk di kursi paling belakang.

Sepanjang perjalanan, ia tidak berbicara dengan siapa pun.

Ia hanya memandangi jalan.

Di dalam hatinya, ia berdoa.

“Ya Allah… aku tidak tahu apa yang menungguku. Tapi aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong.”

---

Sore itu, bus berhenti di terminal kota.

Kota itu besar.

Ramai.

Bising.

Tidak seperti desanya.

Sultan turun dengan langkah hati-hati.

Ia tidak punya saudara di sini.

Tidak punya teman.

Tidak punya pekerjaan.

Hanya tekad.

Dan harga diri.

Ia berjalan menyusuri trotoar dengan tas kecil di punggungnya.

Beberapa orang menabraknya tanpa meminta maaf.

Ia hampir tertabrak motor.

Ia hampir kehilangan arah.

Tapi ia tidak panik.

Tatapannya tetap dingin.

Ia bukan orang yang mudah goyah.

---

Malam mulai turun.

Sultan belum mendapatkan tempat menginap.

Uang yang ia bawa terlalu sedikit untuk hotel.

Ia akhirnya duduk di bangku taman kota.

Perutnya lapar.

Angin malam terasa dingin.

Ia memandangi lampu-lampu gedung tinggi di kejauhan.

Kota ini indah.

Tapi tidak ramah.

Ia menarik napas panjang.

“Belum juga mulai… sudah begini.”

Namun Sultan tidak menyesal.

Karena jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu.

Seolah-olah…

Hidupnya memang harus melewati jalan ini terlebih dahulu.

Dan tanpa ia tahu…

Beberapa meter dari tempatnya duduk,

seorang lelaki tua sedang tergeletak di dalam mobil mewahnya.

Napasnya terputus-putus.

Dan takdir Sultan…

baru saja bergerak.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca