Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SULTAN

SULTAN

qalamnovel | Bersambung
Jumlah kata
339.7K
Popular
25.7K
Subscribe
1.3K
Novel / SULTAN
SULTAN

SULTAN

qalamnovel| Bersambung
Jumlah Kata
339.7K
Popular
25.7K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKonglomeratMiliarderIdentitas Tersembunyi
Orang-orang mengolok-oloknya karena dia bernama Sultan padahal ia hanya pemuda desa yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah. Suatu malam di kota, dalam keadaan lapar dan bingung mau tidur di mana, ia menolong seorang kakek yang sedang sekarat di dalam mobilnya. Siapa sangka, kakek tersebut rupanya salah satu orang terkaya di negeri itu, dan dia kelak mewariskan seluruh kekayaannya yang nilainya triliuan itu kepadanya. Hidup Sultan pun seketika berubah! Dia bukan hanya kaya-raya, tapi juga disegani dan ditakuti!
Bab 1. Nama Besar, Hidup Sederhana

Namanya Sultan. Tapi hidupnya tidak pernah menyerupai arti namanya. Tak ada istana, tak ada emas, tak ada kekuasaan.

Yang ada hanyalah rumah kayu sederhana di ujung desa, beratap seng yang berisik saat hujan turun deras. Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Sultan sudah berada di sawah bersama ayahnya.

Lumpur menempel di kakinya, bajunya basah oleh keringat, dan tangannya kasar oleh kerja yang tak pernah mengenal hari libur. “Ayah… pupuknya tinggal sedikit,” ucap Sultan pelan.

Ayahnya mengangguk tanpa menoleh. “Nanti kita beli kalau ada uang.” Kalimat itu sederhana, tapi Sultan tahu uang bukan sesuatu yang mudah bagi keluarga mereka.

Ia hanya lulusan SMA. Bukan karena tidak mampu kuliah, tapi karena tidak ada biaya. Setelah lulus, ia memilih membantu orang tuanya bertani.

Setiap pagi ke sawah, setiap sore membantu ibunya menyiangi hasil kebun untuk dijual ke pasar. Di desa itu, namanya sering jadi bahan ejekan. “Namanya Sultan, tapi hidupnya miskin.”

“Harusnya ganti nama jadi Buruh.” Tawa mereka terdengar keras, sementara Sultan hanya tersenyum tipis. Ia tidak marah, ia hanya diam.

Tapi dalam diamnya, ada sesuatu yang tidak pernah mereka pahami—harga diri yang tidak bisa dibeli.

Sore hari, setelah selesai bekerja, Sultan duduk di beranda rumahnya. Ia memandangi langit yang mulai menguning.

Ibunya keluar membawa teh hangat. “Kamu capek, Nak?” Sultan menggeleng pelan. “Tidak, Bu.”

Padahal tubuhnya terasa remuk, tapi ia tak ingin membuat ibunya khawatir. Ibunya menatapnya lama, seolah membaca isi hatinya.

“Kamu ingin kuliah, kan?” Sultan terdiam. Pertanyaan itu selalu menusuk.

Ia ingin. Sangat ingin. Ia ingin keluar dari desa dan membuktikan bahwa namanya bukan sekadar ejekan.

Tapi ia juga tidak tega meninggalkan orang tuanya sendirian. “Aku baik-baik saja di sini, Bu.”

Ibunya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Seorang ibu selalu tahu isi hati anaknya.

Malamnya, Sultan shalat di mushala kecil dekat rumahnya. Tak banyak orang yang datang, hanya beberapa lelaki tua dan anak-anak kecil.

Setelah shalat, Sultan duduk lebih lama. Tangannya terangkat, berdoa dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Ya Allah… jika Engkau takdirkan aku tetap di sini, aku terima. Tapi jika Engkau bukakan jalan, beri aku kekuatan.”

Doanya singkat, tapi tulus. Ia bukan tipe lelaki yang banyak mengeluh, dan bukan pula yang suka menyalahkan keadaan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada bara kecil yang terus menyala. Ia tidak ingin selamanya menjadi bahan hinaan.

Setelah sholat, Sultan duduk di teras rumahnya. Ia mendengar percakapan dua tetangganya yang sedang berteduh karena hujan tiba-tiba turun.

“Anak itu kasihan.”

“Kasihan apanya? Miskin ya miskin saja.”

“Namanya saja Sultan, tapi hidupnya tak lebih dari buruh tani.” Sultan mendengar semuanya dari balik pintu kayu rumahnya.

Wajahnya tenang, tatapannya dingin. Bukan karena sakit hati, tapi karena ia sedang berjanji pada dirinya sendiri.

Suatu hari… nama ini akan pantas. Dan ketika hari itu tiba, ia tidak akan lupa bagaimana rasanya diremehkan.

Di dalam kamar kecilnya, Sultan membuka buku tulis lama yang pernah ia pakai di SMA. Di halaman terakhir, ada tulisan yang ia buat tiga tahun lalu.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku akan mengubah hidup ini.”

Ia menatap kalimat itu lama. Tangannya mengepal pelan, sementara hujan di luar semakin deras.

Dan tanpa ia sadari… takdir besar sedang bergerak pelan menuju hidupnya.

Hujan belum juga reda. Sultan masih duduk di kamarnya ketika suara batuk keras terdengar dari ruang tengah.

Ia segera bangkit. Ayahnya duduk sambil memegang dada, wajah lelaki tua itu pucat.

“Yah?”

“Tidak apa-apa… cuma masuk angin,” jawab ayahnya memaksa tersenyum.

Tapi Sultan tahu itu bukan sekadar masuk angin. Sejak beberapa bulan terakhir, ayahnya sering batuk keras sepulang dari sawah.

Tenaga lelaki itu tak lagi sekuat dulu. Ibu Sultan datang membawa minyak kayu putih.

“Kita harus ke puskesmas besok,” katanya lirih. Ayahnya menggeleng. “Uang dari mana?”

Kalimat itu kembali menjadi tembok. Sultan berdiri diam, hatinya terasa seperti diremas.

Ia ingin marah pada keadaan, ingin berteriak. Tapi ia bukan tipe lelaki yang melampiaskan kemarahan dengan suara.

Ia menyimpannya. Dan kemarahan yang disimpan terlalu lama… bisa menjadi sesuatu yang besar.

Sultan menarik napas panjang. Angin malam desa terasa dingin setelah hujan turun.

Ia menatap jalan tanah yang membentang ke arah luar desa. Jalan yang sama yang dilalui truk-truk pengangkut hasil panen menuju kota.

Di ujung jalan itu ada dunia yang belum pernah ia lihat—kota. Tempat yang sering ia dengar dari cerita orang-orang desa.

Tempat orang mencari kehidupan baru. Tempat nasib bisa berubah… atau justru hancur.

Dari kejauhan terdengar suara motor melintas. Lampunya menembus gelap malam sebelum akhirnya menghilang di tikungan.

Sultan memandangi jalan itu lama. Pikirannya melayang, penuh pertanyaan.

Apakah ia juga harus pergi? Pertanyaan itu sudah sering muncul, tapi selalu ia singkirkan.

Karena jika ia pergi… siapa yang akan membantu ayahnya di sawah? Siapa yang akan menjaga ibunya?

Namun malam itu terasa berbeda. Batuk ayahnya masih terdengar dari dalam rumah.

Setiap kali suara itu muncul, dada Sultan terasa semakin berat. Ia tahu satu hal yang tidak ingin ia akui.

Ayahnya tidak akan bisa terus bekerja seperti ini. Dan jika suatu hari ayahnya benar-benar tidak mampu bekerja lagi…

maka seluruh beban keluarga akan jatuh kepadanya.

Sultan mengepalkan tangannya perlahan. Ia bukan takut bekerja keras.

Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan lumpur sawah, panas matahari, dan punggung yang pegal.

Yang ia takutkan adalah satu hal. Jika ia tetap di sini… hidup mereka tidak akan pernah berubah.

Di dalam rumah, ibunya keluar pelan. Wanita itu duduk di samping Sultan.

“Kamu belum tidur?”

“Belum, Bu.”

Ibunya memandang jalan desa yang gelap. “Kamu sedang memikirkan sesuatu.”

Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Seorang ibu selalu tahu.

Sultan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Bu… kalau aku pergi ke kota, bagaimana?”

Ibunya menoleh cepat. Untuk beberapa saat wanita itu tidak menjawab.

Hanya suara jangkrik malam yang terdengar.

“Kamu ingin merantau?” tanya ibunya akhirnya. Sultan menunduk sedikit.

“Aku hanya berpikir…” Ia berhenti sejenak. “…mungkin di sana aku bisa mencari pekerjaan.”

Ibunya memandang wajah anaknya lama. Ada kebanggaan di matanya, tapi juga ada kekhawatiran.

“Kota itu tidak mudah,” katanya pelan. Sultan mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi hidup di sini juga tidak mudah.” Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

Sultan langsung menunduk, takut ibunya tersinggung. Namun wanita itu justru tersenyum kecil.

“Kamu sudah besar sekarang.” Ibunya menepuk pelan bahu Sultan.

“Jika hatimu mengatakan kamu harus pergi… maka pergilah.”

Sultan menatap ibunya. “Benarkah?”

Ibunya mengangguk. “Tapi jangan pergi untuk melarikan diri dari kesulitan.” Wanita itu menatap lurus ke depan. “Pergilah untuk mengubahnya.”

Kalimat itu menancap dalam di hati Sultan. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi di dalam dadanya sesuatu mulai bergerak.

Sebuah keputusan.

Malam semakin larut. Hujan akhirnya berhenti. Langit desa dipenuhi bintang.

Sultan berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap jalan desa sekali lagi—jalan yang mungkin akan segera ia tinggalkan.

Ia masuk ke kamar kecilnya. Kamar itu sederhana, hanya ada kasur tipis, meja kayu tua, dan beberapa buku sekolah yang sudah usang. Di meja itu masih terbuka buku tulis yang tadi ia lihat. Tulisan di halaman terakhir masih sama.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku akan mengubah hidup ini.” Sultan menutup buku itu perlahan, lalu berbaring di kasur.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa sebuah jalan mulai terbuka.

Ia belum tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Ia belum tahu apa yang akan menunggunya di kota.

Tapi satu hal ia tahu dengan pasti—ia tidak akan selamanya menjadi Sultan yang hanya diejek orang desa.

Di luar rumah, angin malam berhembus pelan. Desa kecil itu masih terlelap dalam kesunyian.

Namun jauh di masa depan… nama yang dulu menjadi bahan ejekan itu akan berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda.

Dan tidak ada seorang pun di desa itu yang menyadari…

Lanjut membaca
Lanjut membaca