Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Sepak Bola: Si Ulin Soccer

Sistem Sepak Bola: Si Ulin Soccer

Yuan_bee | Bersambung
Jumlah kata
69.0K
Popular
1.9K
Subscribe
132
Novel / Sistem Sepak Bola: Si Ulin Soccer
Sistem Sepak Bola: Si Ulin Soccer

Sistem Sepak Bola: Si Ulin Soccer

Yuan_bee| Bersambung
Jumlah Kata
69.0K
Popular
1.9K
Subscribe
132
Sinopsis
PerkotaanSekolahSistemGameUrban
Ulin Nuha bermimpi menjadi pesepakbola profesional yang dikenal seluruh Dunia. Namun, saat pertandingan final antar SMP, ia mengalami cedera parah, membuat dirinya tak mungkin bisa bermain bola lagi.Tiba-tiba, ia bertemu dengan seorang pria misterius yang katanya datang dari masa depan, memberikannya sistem. Sistem pertama: Golden Training, efeknya setelah menyelesaikan misi, kemampuannya akan meningkat permanen. Sistem kedua: Stadion Whisper, aktif jika Ulin mengijakkan kaki di stadion atau lapangan. Namun, setiap rumput memiliki efek berbeda, mengharuskan Ulin mencari strategi yang tepat untuk meraih kemenangan. Lantas, akankah Ulin mampu mengejar mimpinya? Dan kenapa ia terpilih untuk mendapatkan sistem?
Bab 1 Tekel Keras

Final turnamen sepak bola tingkat SMP selalu jadi ajang paling ditunggu, dan kali ini semua mata tertuju pada satu anak, si jagoan kecil yang selalu bermain dengan hati, bukan hanya kekuatan saja, dialah Ulin nomor punggung 8. Gelandang serang kreatif andalan SMP Batavia.

Bola memantul cepat di kakinya, mengalir seirama dengan degup jantungnya. Pemain lawan maju, berusaha merebut bola.

"Lin, oper sini! "

Ulin mengoper ke rekan setimnya. Cecep menerima bola dengan baik, lalu menggiringnya. Sementara itu, Ulin berlari maju mencari ruang kosong.

Melihat Ulin akan masuk ke area penalti lawan, Cecep langsung memberi umpan akurat padanya. Ulin menerima bola, lalu menggiring ke depan, memotong di antara dua bek lawan. Mencari ruang ideal untuk mencetak gol.

“Masukkan bolanya!” teriak Cecep, napasnya memburu.

Ulin mengangguk, menoleh sekilas ke arah gawang, melihat posisi kiper yang agak maju. Ia tahu, kesempatan tak datang dua kali, ia harus mencetak gol untuk memecah kebuntuan.

"Baik, sudut kanan atas," gumamnya.

Suara penonton semakin mengencang, menunggu gol tercipta. Namun, tepat ketika Ulin siap melepaskan tembakan, sebuah bayangan besar melesat dari belakang.

“Braak!”

Tubuh Ulin terjatuh ke depan dengan keras. Debu berhamburan sebelum akhirnya ia melihat wajah pelakunya, dia Bobby, pemain lawan yang terkenal kasar.

“Main yang bener dong!” teriak Cecep marah sambil berlari mendekat ke arah Bobby.

Sementara Ulin yang sudah terkapar mengerang kesakitan. Rasa sakit menjalar cepat. Pada area lututnya babak belur dan mengeluarkan darah, sementara tulang keringnya memar seketika dan pergelangan kakinya susah digerakkan.

Sorak-sorai penonton masih terdengar di telinga Ulin, meski pandangannya mulai mengabur oleh rasa sakit. Di atasnya, berdiri Bobby dengan dada membusung dan tatapan merendahkan.

“Makanya jangan sok jago!” Bobby mengumpat kasar, meludah ke tanah dekat kaki Ulin. “Keluar aja sana! Jangan main bola lagi kalau cuma bisa bikin repot!”

Cecep langsung maju mendorong tubuh Bobby, wajahnya memerah karena marah “Jaga mulutmu! Kau sendiri yang main kasar! "

"Terserah aku mau main kaya gimana!"

Peluit ditiup, menghentikan permainan untuk sementara. Wasit berlari mendekat, wajahnya dingin seperti tak peduli apa yang baru terjadi. Ia hanya mengangkat kartu kuning ke arah Bobby. Sekadar formalitas, seolah tekel brutal itu hanyalah pelanggaran kecil.

“Cuma kuning?!” Cecep berteriak. “Sit, itu tekel dari belakang! Dia niat ngerusak kaki lawannya! Masa nggak dapat kartu merah?! Cek VAR sit! Cek VAR! "

Wasit menatap Cecep dengan sorot mengancam. “Kalau kamu protes, aku kasih kartu merah sekalian. Ayo kembali main!”

Cecep terdiam, mengepal tangan, giginya bergemeletuk menahan emosi. Ia ingin sekali memaki, tapi ia tahu jika dia dikeluarkan, tim mereka benar-benar habis. Wasit itu terlihat memihak tim lawan, meski sudah disediakan VAR, tapi ia tak menggunakannya.

“Ini memang tidak adil …,” gumamnya, suara hampir patah.

Sementara itu, dua petugas lapangan sudah berlutut di samping Ulin. Mereka perlahan mengangkat tubuhnya ke atas tandu. Begitu lututnya digerakkan sedikit saja, rasa sakit yang tajam menyambar sampai ke ulu hatinya.

“Lin, sabar ya,” kata Cecep sambil memegangi bahu temannya, suaranya serak oleh kekhawatiran.

Ulin hanya bisa mengangguk pelan. Sorot matanya kosong menembus langit sore, mencoba memahami kenyataan pahit yang baru menimpa hidupnya. Tepuk tangan penonton, komentar kasihan, bahkan ejekan dari tim lawan terdengar seperti gema jauh di balik kabut.

Tandu mulai bergerak keluar dari lapangan. Di setiap langkah yang menjauh dari lapangan, perasaan takut, kecewa, dan kehilangan perlahan menggerogoti hati Ulin, seolah seluruh mimpinya di dunia sepak bola sedang diangkat pergi bersamaan dengan dirinya.

Di pinggir lapangan, ia menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia mendapat tekel yang begitu brutal.

Sirene ambulans meraung pelan saat membawa Ulin menuju IGD. Getaran ringan mobil membuat rasa sakit di lututnya makin menusuk, membuatnya meringis, meski sudah diberi obat pengurang nyeri.

Sesampainya di ruang gawat darurat, dokter dan perawat langsung bergerak cepat. Lampu-lampu putih menyorot tajam di atas kepala Ulin, membuat dunia terasa dingin dan asing. Rontgen dilakukan, pemeriksaan demi pemeriksaan dijalani, dan akhirnya dokter berdiri di sisi ranjang, membawa hasil yang tampak begitu berat.

Dokter itu menghela napas, menatapnya dengan wajah penuh empati. “Ada tulang yang retak dan pembengkakan serius pada sendi ankle. Kerusakan itu parah dan sulit disembuhkan meski dilakukan operasi. Maka dari itu, kamu sebaiknya jangan bermain sepak bola lagi mulai hari ini."

Ucapan itu seperti pisau tumpul yang tetap berhasil menembus ulu hatinya. Kalimat itu menggema di kepala Ulin, seperti ancaman.

Dunia seolah berhenti. Ia tak bisa membayangkan hidup tanpa sepak bola. Olahraga itu bukan sekadar hobi, tapi mimpinya. Impiannya menjadi pemain bola profesional yang diakui oleh dunia.

'Aku mencintai sepak bola. Mau tidak mau, aku harus sembuh. Sialan kau, Bobby! Kalau bertemu lagi, aku akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari ini,' gerutunya dalam hati.

Dokter akhirnya menyuntikkan obat pereda nyeri dan pergi bersama perawatnya, meninggalkan Ulin seorang diri di sana.

Ia menghela napas, “apa benar kata dokter, aku harus mengubur mimpiku?” gumamnya.

Tepat saat ia menghela napas, pintu ruang pemeriksaan berderit pelan, lalu pintu itu terbuka. Suara langkah seseorang masuk, bukan suara ibunya, juga bukan suara dokter atau pun seseorang yang ia kenal.

Ulin membuka mata perlahan, melihat sosok itu berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot yang sulit ia artikan. Ia mengenakan jas hitam seperti seorang detektif. Tatapannya begitu tenang, tak ada ekspresi.

“Ulin,” suara orang itu rendah, hampir berbisik. “Kau belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan tadi.”

Seketika, jantung Ulin berhenti berdetak sejenak. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tekel brutal, yaitu sesuatu yang selama ini tersembunyi, dan bagaimana bisa, orang misterius itu tahu namanya?

“Siapa kamu?”

Pria tadi hanya tersenyum tipis. “Kelihatannya cederamu sangat parah.”

Ulin pun terdiam, mengerutkan keningnya dan memfokuskan pandangan pada orang tadi. Namun, wajah orang itu memang tak dikenal olehnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi di lapangan?” tanya Ulin penasaran.

“Apa kau tak tahu, dia sengaja mencederaimu agar karir sepak bolamu hancur.”

“Maksudmu, Bobby?”

Pria itu hanya mengangguk ringan, melangkah pelan hingga pada akhirnya, berdiri di samping ranjang Ulin dengan jarak cukup dekat.

Ulin menatapnya curiga. “Kau siapa? Dan apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau tak perlu tahu identitasku sebenarnya, aku hanya orang yang datang dari masa depan untuk menyelamatkan karir sepak bolamu.”

“Aku nggak percaya.”

“Tidak apa-apa,” jawab pria itu tenang. “Yang penting kamu masih mau kembali ke lapangan dan masih punya tekad bermain sepak bola."

Ulin terdiam. “Mau gimana lagi? Dokter mengatakan, kondisiku tak mungkin bisa main bola!"

Pria itu mengangguk pelan. “Jadi, kau lebih percaya diagnosa medis dari pada dirimu sendiri?”

“Maksudmu apa?”

“Kau masih tak paham juga?” ucap pria tadi, merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah benda aneh berwarna biru berkilau.

Ulin pun terbelalak kaget, “apa yang kau mau dariku?”

“Aku cuma mau memberimu hadiah spesial."

Ulin mengerutkan keningnya, lalu bertanya dengan penasaran, "hadiah apa?"

"Aku akan memberimu sistem ...."

Lanjut membaca
Lanjut membaca