Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tukang Pijat Penakluk Wanita

Tukang Pijat Penakluk Wanita

Joy Boy | Bersambung
Jumlah kata
129.2K
Popular
66.0K
Subscribe
3.8K
Novel / Tukang Pijat Penakluk Wanita
Tukang Pijat Penakluk Wanita

Tukang Pijat Penakluk Wanita

Joy Boy| Bersambung
Jumlah Kata
129.2K
Popular
66.0K
Subscribe
3.8K
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperHarem21+
Johan bukan saja bisa memijat, dia juga bisa membuat wanita-wanita terpuaskan oleh pijatannya. Ini adalah kekuatan yang diperolehnya setelah dia bertemu sesosok kucing misterius. Dan bukan hanya itu, si kucing misterius juga memberinya kekuatan-kekuatan lain. Johan, yang semula dipandang rendah dan dihina-hina, berubah jadi sosok yang dihormati dan ditakuti. Dan wanita-wanita cantik nan seksi bertekuk lutut di hadapannya.
Dikhianati Pacar

Langkah kaki Johan terhenti di ambang pintu ruang kuliah 304. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya berantakan. Dia tak mau membuat Kezia sang kekasih pujaan hari terlalu lama menunggu.

Ia terlambat sepuluh menit dari yang dijanjikan, tapi setidaknya dia sudah menyelesaikan tugas kuliah Kezia yang ia kerjakan sejak semalam hingga pukul tiga pagi. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang lelah, membayangkan betapa senangnya pacarnya nanti.

Tapi senyum itu langsung lenyap ketika matanya menangkap pemandangan di dalam ruangan.

Matanya membelalak, jantungnya berdebar kencang dan otot-ototnya menegang seolah hendak meledak. Di sana, di meja dan kursi paling belakang, Kezia, sang pacar yang sangat ia cintai itu tengah berciuman panas dengan Gary, si anak orang kaya yang selalu meremehkannya.

Tangan Gary melingkar posesif di pinggang Kezia, sementara tangan Kezia meremas rambut pria itu dengan penuh gairah. Bibir mereka bertemu dengan sangat intens, yang membuat perut Johan mual. Betapa memuakkan pemandangan itu. Selama ini, ia bahkan tak pernah berciuman dengan Kezia sampai seperti itu.

Tas ransel Johan yang penuh dengan buku kuliah dan cetakan tugas untuk Kezia jatuh ke lantai dengan bunyi debam keras yang menggema di lorong sepi.

Kezia dan Gary tersentak, saling melepaskan diri dengan tergesa. Lipstik Kezia luntur, kemeja Gary kusut. Wajah Kezia memerah, tapi bukan karena malu; melainkan karena kesal tertangkap basah. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di matanya.

"Kezia... apa-apaan ini?" suara Johan bergetar, campuran antara kemarahan, kebingungan, dan luka yang mendalam. "Kenapa? Kenapa kamu lakuin ini ke aku?"

Gary menyeringai lebar, merapikan kemejanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan memasang ekspresi mengejek. "Oh, lihat siapa yang datang. Si bocah miskin pecundang! Kenapa, kaget lihat pacarmu sama aku? Hehehe!”

Darah Johan mendidih. Penglihatannya berubah merah. Selama ini, Gary dan teman-teman gengnya selalu merundungnya. Hampir setiap hari mereka mencari masalah dengannya, mencoba mempermalukannya dan memancing amarahnya. Dan di tiga bulan terakhir, Gary terang-terangan mencoba merebut Kezia darinya.

Maka kini ketika melihat Gary dan Kezia berciuman dengan penuh gairah, amarah Johan pada Gary pun meledak. Tanpa berpikir panjang, dia melesat ke depan, melayangkan tinjunya ke wajah Gary.

Tapi sebelum pukulannya sampai, Kezia melompat di antara mereka berdua dengan gesit, membuat Johan menghentikan tinjunya. Tapi Kezia tak hanya menghalangi.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Johan. Kepalanya terhentak ke samping, telinganya berdengung nyaring. Rasa perih menyebar dari pipinya hingga ke mata.

"Jangan berani-berani lo pukul dia!" bentak Kezia, matanya menyala penuh kebencian yang selama ini disembunyikannya. "Lo pikir lo ini siapa, hah? Pacar gue? Jangan mimpi lo!"

Johan memegangi pipinya yang panas dan berdenyut, menatap Kezia dengan pandangan tak percaya. Wanita yang selama ini dia cintai, yang dia kira mencintainya juga, kini menatapnya seperti menatap serangga menjijikkan. "Apa... apa maksudmu, sayang? Kita kan…"

"Dengarin baik-baik, Johan," Kezia melangkah lebih dekat, jari telunjuknya menusuk dada Johan dengan keras, berkali-kali. "Selama ini gue berpura-pura jadi pacar lo cuma untuk satu hal; supaya lo mau ngerjain semua tugas kuliah gue. Otak lo doang satu-satunya yang berguna. Cuma itu. Sisanya? Sampah."

Setiap kata Kezia seperti pisau yang menusuk jantung Johan berulang kali. Tapi dia belum selesai. Wanita itu bahkan tersenyum kejam.

"Lo pikir gue bisa suka sama orang macam lu? Tahu diri lah. Lo itu cuma tukang pijat yang pulang kuliah langsung ke tempat pijat kumuh itu? Setiap kali lo cerita soal pekerjaan lu dengan bangga, gue jijik, tahu nggak? Jijik! Gue harus berpura-pura tertarik, padahal rasanya mau muntah setiap kali deket sama lo. Bau minyak urut itu selalu nempel di badan lo, di baju, bahkan di rambut. Bikin gue mual setiap kali lo deket-deket ke gue!"

Gary tertawa keras di belakang Kezia, suaranya bergema di ruang kuliah kosong. Tangannya melingkar lagi di pinggang Kezia dengan posesif, "Dengar tuh, tukang pijat. Lo cuma dimanfaatin. Kasian banget sih. Udah miskin, dibodohin pula. Bego! Hahaha!"

Sesuatu di dalam diri Johan patah. Bukan hanya hatinya, tapi juga kendali emosinya yang selama ini dijaga. Dengan gerakan tiba-tiba yang penuh kemarahan, dia menyingkirkan Kezia ke samping tapi tidak kasar karena sebagian dari dirinya masih tidak bisa menyakiti wanita itu. Ia kemudian melayangkan pukulan keras ke rahang Gary dengan seluruh kekuatannya.

BUGH!

Gary terhuyung, punggungnya membentur meja. Darah segar merembes dari sudut bibirnya. Ekspresinya berubah dari mengejek menjadi murka.

"BRENGSEK!" raung Gary, meraih ponsel dari sakunya dan menempelkannya ke telinganya. “Kalian cepat ke sini! Sekarang!”

Ya, Gary baru saja menelepon salah satu teman gengnya. Teman-teman gengnya sedang berkumpul di dekat situ, di ruang kuliah lain.

"Putus! Kita putus, Johan! Jangan pernah deketin gue lagi!" teriak Kezia sambil menunjuk Johan dengan jari gemetar karena marah.

Johan hanya menatapnya kosong. Dunianya runtuh. Hampir setahun pacaran, ratusan jam mengerjakan tugas, ribuan pesan manis; semuanya palsu. Semuanya kebohongan. Belum lagi, ia berjuang keras menabung demi bisa membelikan Kezia hadiah.

Tidak sampai lima menit kemudian, empat orang pria bertubuh besar menyerbu masuk ke ruang kuliah dengan wajah garang.

“Hajar dia! Seret dia keluar!” perintah Gary, menunjuk ke arah Johan.

Teman-teman geng Gary itu langsung mengeroyok Johan dan menghajarnya dengan brutal.

Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!

Johan sebenarnya mencoba melawan, tapi kalah jumlah. Mereka pun akhirnya menyeretnya keluar dari gedung kuliah menuju halaman belakang yang sepi, jauh dari pandangan orang.

Pukulan dan tendangan bertubi-tubi kembali menghujani tubuh Johan. Dia mencoba melawan, tangannya melayang memukul siapa saja yang bisa dijangkau, tapi satu lawan lima adalah pertarungan yang tak seimbang.

Hidungnya pecah dengan bunyi keretakan yang mengerikan, darah mengalir deras dari pelipisnya, rusuk-rusuknya terasa retak setiap kali tendangan keras mendarat di tubuhnya.

Johan terkulai. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi.

Gary berjongkok di hadapannya, mencengkeram rambut Johan dengan kasar dan memaksa kepalanya mendongak. Matanya yang dingin menatap Johan dengan kebencian.

"Dengerin gue baik-baik, tukang pijat murahan. Lo itu sampah. Dan tau nggak? Nyokap lo yang kerja di tukang cuci piring itu juga sampah. Gue doain tuh nyokap lo yang sakit-sakitan itu cepet mati aja biar lo sendirian kayak anjing jalanan."

Mata Johan yang sudah setengah tertutup karena bengkak tiba-tiba terbuka lebar. Amarah baru menyala di dadanyal; amarah yang jauh lebih besar, lebih hitam, lebih membara dari sebelumnya. Ibunya yang sedang sakit adalah satu-satunya alasan dia masih hidup, satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap.

"Jangan... pernah lo sebut-sebut nyokap gue, atau gue robek mulut lo nanti," gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar. Darah mengalir dari mulutnya.

Gary tertawa sinis, suaranya dingin. "Oh, sekarang lo berani ngancem? Berani ngancem gue? Hajar lagi dia, tapi kali ini pastiin dia nggak bisa bangun lagi! Bunuh kalau perlu!"

Pukulan dan tendangan kembali menghujani Johan dengan intensitas yang lebih brutal, lebih sadis. Tidak ada belas kasihan. Dia merasakan tulang rusuknya benar-benar patah; bunyi retakannya terdengar jelas, rahangnya bergeser, penglihatannya mengabur menjadi kabut merah. Dunia berputar dan perlahan menjadi gelap, menariknya ke dalam kekosongan.

Ketika mereka yakin Johan sudah tidak sadarkan diri, atau mungkin sudah mati, dan itu yang membuat mereka cukup panik, mereka segera membawa Johan ke parkiran, lalu memasukkannya ke mobil. Mereka membawa tubuh Johan yang babak belur, penuh darah dan luka, ke pinggiran kota. Di bawah jembatan tua yang jarang dilalui orang, di mana hanya ada suara angin dan sampah berserakan, mereka membuang Johan begitu saja di atas tumpukan sampah dan rumput liar yang berbau busuk.

"Udah, cabut. Biar tuh bangkai dimakan tikus. Besok jadi berita orang mati kecelakaan," kata salah satu dari mereka sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor dan berdarah.

Mereka pun pergi; melajukan mobil dengan sangat cepat, meninggalkan tempat itu.

Johan tergeletak tak bergerak di antara sampah. Darah menggenang di bawah tubuhnya, merembes ke tanah. Napasnya sangat lemah, hampir tak terdengar, seperti hanya desahan tipis yang muncul sesekali. Dia sudah sekarat.

Seekor kucing belang tiga warna muncul dari balik semak-semak yang bergoyang tertiup angin. Matanya bersinar kuning terang di kegelapan, tidak wajar, terlalu terang untuk seekor kucing biasa. Dengan langkah perlahan dan tenang, kucing itu mendekat, mengendus-endus tubuh Johan. Hidungnya yang basah menyentuh tangan Johan yang penuh darah.

Lalu, sesuatu yang mustahil terjadi.

"Aku bisa melihat amarah dan dendam di jiwamu. Aku bisa merasakan keinginanmu untuk bangkit dan membalas mereka yang telah menghancurkanmu.”

Johan, yang seharusnya sudah tidak sadar, entah bagaimana bisa mendengar suara itu menembus kabut kesadarannya. Dia mencari-cari siapa yang barusan bicara, tapi hanya ada kucing itu di dekatnya.

"Aku akan memberimu kekuatan. Kekuatan yang melampaui batas manusia biasa. Aku juga akan memberi kekayaan yang tak terbatas. Kehidupan baru yang akan mengubah segalanya. Kau akan selamat, bangkit dari keterpurukan, bahkan kau kelak bisa menguasai dunia ini jika kau mau."

Mata kucing itu tiba-tiba bersinar terang. Pijaran cahayanya merambat, merasuk ke tubuh Johan, terasa seperti aliran listrik yang membakar, menusuk, menghancurkan, dan membangun kembali setiap sel dalam tubuhnya.

“AAAARGHHHH!!!”

Johan pun pingsan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca