Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Perkasa Pewaris Manik Surgawi

Sang Perkasa Pewaris Manik Surgawi

Naga Hitam | Bersambung
Jumlah kata
48.9K
Popular
7.2K
Subscribe
781
Novel / Sang Perkasa Pewaris Manik Surgawi
Sang Perkasa Pewaris Manik Surgawi

Sang Perkasa Pewaris Manik Surgawi

Naga Hitam| Bersambung
Jumlah Kata
48.9K
Popular
7.2K
Subscribe
781
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPertualanganHaremDokter Genius
Johan di putus pacarnya karena impoten. Namun secara tak sengaja ia mendapatkan Manik Surgawi. Sejak saat itu impoten bawaan lahirnya sembuh dan tubuhnya menjadi kuat tak tertandingi. Tidak hanya itu, roh Sang Pertapa Agung muncul dan memberikan seluruh warisan ilmunya—mulai dari bela diri kuno, kemampuan pengobatan ajaib dan mata batin.
Bab 1 - Putus Karena Impoten

Malam itu, lampu temaram di kamar penginapan OYO memberikan kesan intim yang seharusnya sempurna bagi sepasang kekasih.

Diana menarik napas panjang, meyakinkan dirinya bahwa inilah saatnya. Setelah tiga tahun berpacaran, di malam perayaan kelulusan SMA ini, ia ingin memberikan segalanya kepada Johan—pria yang selama ini ia anggap sebagai pelabuhan terakhirnya.

Diana berdiri di depan Johan, perlahan ia menanggalkan pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.

"Buka pakaianmu, Jo," bisiknya menggoda. "Malam ini aku milikmu."

Namun, reaksi Johan di luar dugaan. Ia memalingkan wajah, tampak gelisah dan menjaga jarak di tepi tempat tidur. "Jangan sekarang, Na. Kita di sini hanya untuk menginap karena sudah malam. Aku... aku belum siap."

Diana mengernyit. "Belum siap? Kita sudah tiga tahun, Jo. Aku sudah merelakan diriku untukmu. Apa yang kau tunggu?"

Ketidakwajaran itu membuat Diana curiga. Ia merasa ada yang tidak beres.

Dengan dorongan rasa penasaran yang memuncak, Diana mendekat dan memaksa menarik kaos Johan. Ia bahkan dengan nekat meraba bagian sensitif di balik celana Johan untuk memastikan apa yang terjadi.

Matanya terbelalak. Di sana, meski secara fisik terlihat normal, organ vital Johan sama sekali tidak menunjukkan reaksi.

Lemas, dingin, dan seolah mati rasa, padahal di depannya ada wanita cantik yang sedang telanjang bulat.

"Ada apa denganmu?" tanya Diana, suaranya mulai meninggi karena malu dan heran.

Ia mencoba menyentuhnya, memberikan stimulasi dengan harapan ada keajaiban, namun tetap nihil. Tak ada darah yang mengalir ke sana.

"Kau... kau penyuka sesama jenis? Kau boti?" tuduh Diana dengan nada jijik karena merasa harga dirinya sebagai wanita jatuh sedalam-dalamnya.

"Bukan! Bukan itu, Diana!" Johan akhirnya berteriak pelan dengan mata berkaca-kaca.

Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan. "Maafkan aku... Sebenarnya ini impoten bawaan lahir. Sejak kecil, aku tidak pernah bisa merasakan 'bangun'. Aku sudah mencoba berbagai cara, tapi belum berhasil. Aku berjanji akan menyembuhkannya, aku akan berobat setelah ini..."

Diana terdiam, namun bukan karena simpati. Amarah dan rasa kecewa justru menguasai dirinya.

Baginya, hubungan tanpa nafsu biologis adalah hampa. "Sembuh? Kapan? Tiga tahun aku menunggumu, dan ternyata aku mencintai pria yang cacat secara fungsi?"

"Diana, tolong..."

"Cukup, Johan. Kita putus," ucap Diana dingin sambil memunguti pakaiannya. "Aku wanita normal. Aku butuh kepuasan, bukan janji-janji medis yang belum tentu nyata."

Tanpa memedulikan tangisan Johan, Diana keluar dari kamar itu. Ia menuju resepsionis, memesan satu kamar OYO lainnya di lantai berbeda, meninggalkan Johan meratapi nasibnya seorang diri di dalam kesunyian kamar yang dingin.

***

Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kamar OYO terasa menyakitkan bagi Johan. Cahaya itu seperti mengejek keadaannya.

Malam kelulusan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan justru berubah menjadi titik terendah dalam hidupnya.

Dengan langkah gontai dan hati yang remuk, ia mengemasi barang-barangnya. Setiap lipatan baju terasa berat, seolah mengingatkannya pada satu kenyataan pahit: ia baru saja kehilangan wanita yang ia cintai karena kecacatan yang tak pernah ia minta untuk dimiliki.

Di area parkiran, suasana tampak kontras dan menyakitkan untuk dipandang. Diana sudah berdiri di samping Rani, sahabatnya.

Rani tampak segar dan ceria. Ia terkekeh kecil sambil berbisik-bisik pada Diana, seolah membicarakan sesuatu yang menghibur. Diana sendiri berdiri dengan wajah dingin dan datar, nyaris tanpa ekspresi.

Tak jauh dari mereka, Sultan—pacar Rani—tampak sedang merapikan jaketnya sambil tersenyum lebar, penuh rasa puas dan kemenangan.

Begitu melihat Johan keluar dari penginapan, Diana langsung memalingkan wajah. Tanpa sepatah kata pun, ia membuka pintu mobil dan masuk.

Mesin dinyalakan, lalu mobil itu melaju pergi dengan cepat, meninggalkan debu tipis yang menyapu wajah Johan yang tertunduk lesu.

Sultan sempat melambaikan tangan ke arah pacarnya dengan gaya santai, lalu berbalik menatap Johan. Ia melangkah mendekat dengan langkah percaya diri, lalu menepuk pundak Johan cukup keras hingga tubuhnya sedikit terhuyung.

“Woi, Jo!” serunya sambil tertawa kecil.

“Gila, semalam bener-bener pengalaman nggak terlupakan, ya? Kelulusan paling mantap seumur hidup!” katanya dengan nada menyombongkan diri.

Ia menyeringai, matanya berbinar penuh kebanggaan.

“Kau pasti ngerasain hal yang sama kan sama Diana?” lanjutnya, lalu menatap wajah Johan yang pucat. “Eh, tapi kok tampangmu kusut amat? Harusnya seger dong habis ‘pesta’ semalam.”

Johan terdiam cukup lama. Pandangannya menempel pada aspal, rahangnya mengeras menahan emosi. Setelah menarik napas berat, ia akhirnya bersuara pelan.

“Kami… putus, Tan. Semalam,” jawabnya lirih, suaranya serak.

Sultan terdiam sesaat. Alisnya terangkat tinggi, ekspresinya berubah kaget.

“Hah? Putus?” tanyanya tak percaya. “Di malam kelulusan? Di kamar OYO?”

Ia terkekeh pendek. “Kau bercanda, kan? Apa kau kurang ‘mainnya’ atau gimana sampai dia minta putus mendadak begitu?”

Ucapan itu menusuk, namun Johan sudah terlalu lelah untuk menahan semuanya. Dengan dada sesak, ia akhirnya berkata jujur.

“Dia tahu semalam,” ucapnya pelan. “Aku punya masalah… dari lahir. Aku impoten, Tan. Punya aku nggak bisa berfungsi. Dia nggak terima… dan langsung ninggalin aku.”

Hening sejenak menyelimuti parkiran.

Namun keheningan itu pecah oleh suara tawa keras.

“Hahaha!” Sultan tiba-tiba terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

Tawanya menggema, terdengar kejam dan tanpa empati. “Serius, Jo? Jadi semalam kau cuma bengong doang depan Diana yang udah siap?”

Ia tertawa semakin keras, matanya menyipit penuh ejekan.

“Aduh, kasihan banget nasibmu! Badan doang laki, tapi isinya pajangan!” ejeknya sambil menggeleng-geleng. “Pantes aja Diana kabur. Mana ada cewek yang mau sama ‘barang mati’ kayak punyamu!”

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk bertubi-tubi ke dada Johan.

Ia tidak menjawab. Tangannya gemetar saat meraih kunci motor. Dengan wajah tertunduk dan rahang mengeras menahan rasa malu serta amarah, ia menyalakan mesin lalu pergi tanpa menoleh lagi.

***

Mobil putih milik Diana melaju membelah jalanan pagi yang masih lengang.

Di kursi penumpang, Rani tampak begitu ceria, sesekali merapikan rambutnya sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat momen bersama Sultan di kamar OYO semalam.

"Sumpah ya Na, semalam itu bener-bener gila. Sultan ternyata lebih agresif dari yang aku kira," Rani tertawa genit, menyikut lengan Diana. "Gimana sama Johan? Pasti kalian lebih parah kan? Secara, tiga tahun dipendam akhirnya meledak juga semalam."

Namun, bukannya menjawab, Diana justru mencengkeram kemudi dengan erat. Wajahnya yang cantik terlihat mendung dan ketus.

"Aku dan Johan putus semalam," jawab Diana singkat, suaranya dingin tanpa emosi.

Rani terperanjat sampai badannya condong ke arah Diana. "Hah?! Putus? Di malam kelulusan? Jangan bercanda deh! Kalian itu pasangan paling awet satu sekolah. Apa alasannya? Dia selingkuh?"

Diana menarik napas panjang, rasa malu kembali merayapi dadanya saat harus menceritakan detail memuakkan itu. "Dia... dia nggak bisa 'bangun', Ran. Impoten bawaan lahir. Bayangin, aku udah telanjang di depannya, dan punya dia cuma diam kayak benda mati. Aku nggak tahan."

Hening sesaat, lalu tawa Rani meledak. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai memukul-mukul dashboard mobil. "Hahaha! Serius, Di? Astaga, Johan si anak kampung itu ternyata 'burung'nya mati? Hahaha, malang banget nasibmu, Na!"

Rani kemudian mengubah raut wajahnya menjadi sinis, nada suaranya berubah menghakimi. "Tapi sejujurnya ya Na, ini berkah buatmu. Dari dulu kan aku udah bilang, ngapain sih kamu mertahanin cowok miskin kayak dia? Kau itu anak orang kaya, cantik, masa depanmu cerah. Selama tiga tahun ini kau nolak banyak cowok tajir di sekolah cuma demi ngebela cowok kampung yang nggak punya apa-apa."

Ia melanjutkan dengan gaya sok tahu, "Udah miskin, eh fungsinya nggak ada lagi. Benar-benar sia-sia kau jagain dia tiga tahun. Sekarang mumpung udah lulus, kau cari pria yang selevel. Yang kaya, yang bisa ngasih kamu kemewahan, dan yang pasti... yang itunya harus 'hidup'."

"Cukup, Ran! Jangan bahas itu lagi!" bentak Diana, matanya memerah menahan amarah dan malu.

Ia menginjak gas lebih dalam, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah ingin lari dari kenyataan pahit bahwa ia telah membuang waktu tiga tahun untuk pria yang kini ia anggap cacat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca