

Aroma oli mesin dan debu memenuhi gudang tua di ujung pelabuhan itu. Aksara Prasasti berdiri mematung sambil bertanya-tanya dalam hati tentang apa sebenarnya terjadi.
Ia menatap Hendra yang perlahan mundur ke balik bayangan tumpukan peti kayu. Di belakang lelaki itu, siluet enam lelaki berbadan tegap mulai menutup satu-satunya jalan keluar.
"Hen, sebenarnya di sini ada artefak nggak? Lu bilang ada prasasti perunggu peninggalan abad ke-14 di sini." Aksara menatap sahabatnya itu. Suaranya datar, namun ada sedikit getaran di ujung kalimatnya.
Hendra hanya menyeringai. "Artefak? Sebenarnya nggak ada artefak di sini. Lu yang akan jadi artefak setelah masuk ke kuburan."
Aksara tertegun, matanya menyisir lantai gudang yang retak. "Jadi semua ini ... cuma alasan untuk bawa gua ke sini?"
"Sorry ya, Sar. Bos Leonard menjanjikan posisi kepala kurator buat gua," sahut Hendra pelan. Dia memberi isyarat kecil dengan dagunya kepada para preman di sana. "Kalau lu masih ada, gua selamanya cuma jadi bayangan lu. Gua butuh uang buat pengobatan ibu gua, Sar.”
Aksara mundur satu langkah. Napasnya mulai memburu. "Jadi ini cuma karena jabatan? Cuma karena uang? Kita bisa bicarakan ini dulu, Hen."
"Sudah terlambat." Hendra membuang muka. "Maju semua!"
Salah satu lelaki bertubuh besar maju, memukulkan sebatang pipa besi ke telapak tangannya sendiri. Lelaki di depan Aksara mulai bergerak.
Sebuah pukulan melayang cepat. Aksara merunduk, insting bela diri dasar yang pernah ia pelajari muncul seketika. Ia menghantam ulu hati lelaki itu dengan sikutnya. Lelaki itu terbatuk, mundur dua langkah.
"Oh, kurator kita bisa melawan?" salah satu dari mereka tertawa sumbang.
Lima lelaki sisa menyerbu bersamaan. Aksara mencoba menangkis tendangan yang mengarah ke pinggangnya, namun sebuah balok kayu menghantam punggungnya dari belakang.
"Agh!" Aksara tersungkur. Lututnya menghantam semen keras.
"Berdiri!" salah satu dari mereka mencengkeram kerah baju Aksara, lalu melayangkan tinju berkali-kali ke wajahnya.
Aksara merasakan hangat darah mulai mengalir dari pelipisnya. Ia mencoba menendang tulang kering lawannya, membuat cengkeraman itu terlepas. Ia berdiri dengan limbung, menyeka darah yang masuk ke mata kirinya.
Pipa besi menghantam tulang rusuk Aksara. Bunyi keras terdengar saat Aksara jatuh terseret di lantai.
Kali ini, ia tidak bisa langsung bangun. Kepalanya berputar. Setiap kali ia mencoba mengangkat bahu, tendangan mendarat di perut dan punggungnya.
Aksara meringkuk, melindungi kepalanya.
Darah segar menetes dari luka di pelipisnya, jatuh tepat ke atas lantai semen yang retak. Di balik retakan itu, sebuah cincin perunggu kuno yang tertutup debu terkena tetesan darah tersebut. Seketika, logam tua itu berpendar redup.
Sebelum Aksara sempat meraba lantai, cincin itu bergetar hebat. Benda itu meluncur sendiri seolah memiliki nyawa, melompat dari lantai dan melingkar kuat di jari manis Aksara.
Logamnya terasa dingin namun menyengat, seolah sedang menguliti tuannya untuk menyatu dengan daging.
Sebuah sensasi panas membakar menjalar dari jarinya, naik ke lengan, lalu ke dadanya. Aksara tersentak. Rasa sakit di tulang rusuknya hilang, berganti dengan energi yang meluap-luap.
"Hei, dia kenapa?" salah satu lelaki berhenti menendang.
"Hajar lagi!"
Lelaki pemegang pipa besi mengayunkan senjatanya ke arah kepala Aksara. Pipa itu berhenti di udara. Seseorang berpakaian sutra hijau muncul dari kabut cahaya keemasan yang tiba-tiba memenuhi gudang.
"Siapa?" lelaki pemegang pipa itu melotot kaget melihat kemunculan yang tiba-tiba itu. Suaranya tercekat.
Sesosok perempuan berdiri di depan Aksara. Rambutnya hitam legam tergerai, dihiasi cunduk mentul emas yang gemerlap. Aura yang dipancarkannya begitu menekan.
"Siapa yang mengizinkan tangan kotor kalian menyentuh Tuanku?" suara perempuan itu rendah, namun membuat bulu kuduk semua lelaki di sana berdiri.
"Dari mana dia muncul?" Hendra berteriak dari balik peti, suaranya bergetar hebat.
Perempuan itu bergerak secepat kilat. Ia menangkap pergelangan tangan lelaki terdekat, memutarnya hingga bunyi tulang bergeser terdengar jelas. Lelaki itu menjerit, namun suaranya segera hilang saat perempuan itu menghantamkan telapak tangannya ke dada lawan. Lelaki itu terlempar sejauh tiga meter, menghantam tumpukan ban bekas hingga pingsan.
Dalam waktu kurang dari satu menit, enam lelaki bertubuh besar itu tergeletak di lantai. Ada yang memegangi lengan, ada yang mengerang kesakitan, dan sebagian besar tidak bergerak lagi.
Gudang itu mendadak sunyi. Perempuan itu berbalik, mendekati Aksara dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman hangat, seolah baru saja menyapa kawan lama dan bukannya menghajar preman.
Ia bersimpuh di depan Aksara, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Aksara terpaku. Seumur hidupnya, ia adalah orang yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan tumpukan buku tua dan artefak berdebu. Tak pernah sekalipun ia berani berdekatan, apalagi sedekat ini dengan perempuan. Baginya, kaum Siti Hawa adalah makhluk yang menyeramkan, karena kerap membuatnya tremor gara-gara grogi.
Tetapi, sosok di hadapannya ini berada di luar nalar. Wajahnya yang sempurna, dengan keanggunannya yang tak terbantahkan. Ia seperti ratu yang keluar dari lembaran sejarah yang paling agung.
Ada perasaan bahagia yang membuncah secara tiba-tiba di dada Aksara, sebuah perasaan asing yang membuatnya merasa seolah sedang melayang di awang-awang. Ia tidak percaya bahwa mata indah perempuan itu kini sedang menatap ke arahnya.
Aroma dupa cendana tiba-tiba menyapa indera penciumannya, Aksara menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sumber baunya.
Perempuan itu mendongak. Matanya yang tajam kini tampak lembut. "Nama hamba Rena, Gusti. Hamba adalah jiwa yang terikat pada cincin perunggu itu. Mulai detik ini, Gusti adalah pemilik hamba."
Aksara terdiam. Ia melihat cincin di jarinya. Tujuh permata kecil mengelilingi lingkarannya, dan satu di antaranya bersinar kuning keemasan.
"Hamba adalah bagian dari sumpah kuno yang tidak pernah lekang oleh waktu," ucap Rena dengan nada lembut dan tetap mempertahankan senyumannya. "Berabad-abad yang lalu, tujuh permaisuri dari kerajaan yang berbeda mengikat jiwa mereka ke dalam tujuh permata ini. Kami tidak mati. Kami hanya menunggu lelaki yang memiliki keselarasan jiwa yang sama dengan pencipta cincin ini untuk membangkitkan kembali".
"Kenapa harus di dalam cincin ini?" Suara Aksara sedikit parau.
"Untuk menjaga keseimbangan dunia yang mulai retak, Gusti," Rena berdiri, bayangannya memanjang di lantai gudang. "Cincin ini adalah wadah sekaligus penjara bagi kami. Hamba adalah permaisuri pertama yang terbangun karena tetesan darah Gusti menyentuh segel perunggu ini. Hamba ada di sini untuk menjadi perisai, karena mulai detik ini, takdir Gusti bukan lagi milik Gusti sendiri."
Aksara menelan ludah, menatap permata kuning yang bercahaya di jarinya. "Dunia saya hanya berisi buku dan artefak tua, Rena. Saya bukan seorang prajurit atau pejuang."
"Cincin ini tidak memilih prajurit atau pejuang, Gusti," sela Rena sambil terkekeh pelan dan memberikan senyuman manis. "Ia memilih lelaki yang memiliki adab dan ketulusan. Karena hanya jiwa seperti itu yang sanggup meredam kekuatan besar di dalam permata-permata ini tanpa menjadi tiran."
Aksara menatap Hendra yang kini bersembunyi di sudut gudang. Lelaki itu tampak seperti tikus yang terpojok.
"Aksara, maafin gua ... Gua butuh biaya operasi buat ibu." Suara Hendra terdengar mencicit.
Aksara diam sebentar. Ia menyeka sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan. "Hendra."
Hendra menengadah, wajahnya pucat pasi.
"Pergi. Jangan pernah muncul di hadapan gua lagi," kata Aksara.
Terdengar ada wibawa di suara Aksara yang membuat Hendra tidak berani membantah.
Hendra langsung bangkit dan berlari keluar gudang dengan terbirit-birit.
Aksara kembali menatap Rena. "Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapa lagi yang ada di dalam cincin ini?"
Rena menggeleng perlahan. "Hamba tidak tahu siapa saja yang terjebak di permata lainnya. Ingatan hamba terbatas hanya pada diri hamba sendiri. Namun, permata kedua sudah mulai bergetar."
Aksara menatap permata biru yang mulai berkedip pelan. Di kejauhan, lampu-lampu biru polisi mulai terlihat mendekat, diiringi suara sirene yang memecah malam.
"Mereka datang," bisik Aksara.
Rena berdiri tegak di sampingnya. "Ayo pergi, Gusti. Tempat ini sudah tidak aman."