

Malam itu di wilayah Braling. Eyang Baskoro nampak duduk bersila dengan tenang, di atas balai bambu kamar tirakatnya.
Alur nafas dan gerakkan dadanya nampak panjang dan sangat pelan. Bahkan nyaris tak terdengar atau bergerak, sungguh layaknya makhluk tak bernyawa.
Ya, saat itu Eyang Baskoro memang tengah tenggelam dalam 'hening' di kamar khususnya. Namun...
Tess.. Tess..!
Menetes jatuh dua bulir airmata di pangkuan sepuh itu. Airmata yang mengalir begitu saja, dari sepasang sudut matanya yang masih terpejam itu.
Tapi yang aneh adalah, wajah Eyang sepuh itu nampak tenang dan cerah..! Tak nampak sedikitpun ekspresi sedih ataupun sesal, seperti layaknya orang yang tengah berduka. Aneh!
Padahal sejatinya, saat itu tengah terjadi bayangan kedukaan yang begitu mendalam di hati Eyang Baskoro.
Dan airmatanya itu pun menetes tanpa dia sendiri menyadarinya. Sebagai ungkapan rasa, atas suratan bathin yang dibeberkan dalam pandangan bathinnya. Kesadaran Bathin..!
'Ahh..! Andai bisa memilih. Aku lebih baik tak memiliki kemampuan ini. Daripada aku mengetahuinya, namun aku tak bisa dan dilarang berbuat apapun untuk merubahnya', keluh sesak bathin Eyang Baskoro.
Namun secepat itu pula Eyang Baskoro tersadar kembali.
'Aih..! Ampunilah hamba..! Duhai Yang Maha Kuasa..!' seru bathin Eyang Baskoro menyesali luapan emosinya, karena terbersit keinginannya untuk menolak takdir bagi putranya, Ranto!
Ya, dalam siratan heningnya tadi, tergambar dengan jelas suatu kejadian tragis yang akan menimpa Ranto.
Namun garis Yang Maha Kuasa, melarangnya untuk bertindak ataupun merubah garis bagi putra kesayangannya itu.
Sungguh berat memang beban dan ujian bagi orang-orang yang berilmu, seperti halnya Eyang Baskoro ini. Berat sangat..!
Padahal dengan 'kemampuannya', sangatlah mudah bagi Eyang Baskoro untuk mencegah hal tragis bagi putranya itu terjadi.
Itulah ujian teramat sulit bagi Eyang Baskoro. Seorang Sepuh yang selama ini selalu berusaha 'menyelaraskan' diri, dalam setiap laku dan lampahnya dengan garis kehendak-NYA..!
*
'Fiuhh..! Akhirnya selesai juga aku menyiapkan hal penting yang akan kubawa ke Braling', bathin Ranto lega.
Diliriknya putranya Teguh Pratama, yang kala itu masih asik membaca LKSnya di meja belajar ruang tengah.
"Tidurlah Teguh. Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah berada di terminal Campa. Agar kita tak ketinggalan bus pertama, yang akan berangkat ke Braling," ujar Ranto tersenyum.
"Baik Ayah, Teguh tidur dulu ya. " Teguh pun melangkah masuk ke kamarnya. Nampak LKSnya ikut dibawa masuk ke kamar.
Ranto mengangguk seraya memperhatikan anaknya itu. Hatinya merasa prihatin dengan nasib putranya itu, karena Teguh dipaksa menerima hidup tanpa belaian kasih seorang ibu sejak kecil.
'Teguh, ayah percaya kau akan menjadi lelaki tangguh dan sukses di kemudian hari. Jauh melampaui ayahmu ini, yang tak berguna dan tak bisa membahagiakanmu..!' bathin Ranto.
Tak terasa air mata menitik di sepasang sudut mata Ranto.
'Ahh..! Kenapa tiba-tiba jadi cengeng begini..!' sentak bathin Ranto, cepat dia menyeka matanya dengan lengan kaosnya.
Ranto pun duduk termenung di kursi sederhana ruang depan rumahnya. Matanya tak sadar tertuju pada buku tulis Teguh, yang dalam keadaan terbuka di halaman tengahnya.
Tampak deretan tulisan Teguh di situ. Hati Ranto pun tergelitik untuk membaca tulisan putranya itu.
'Horee..! Asikk..! Aku mau ke rumah Eyang besok pagi di...
Ehh..! Di mana ya alamat Eyang..? Teguh lupa.. '.
'Hahaa..! Kamu ini ada-ada saja Teguh', bathin Ranto gemas membaca tulisan putranya itu.
Melihat pena yang masih berada di bagian tengah buku itu, Ranto pun tergerak menuliskan sesuatu di bawah tulisan putranya itu.
'Teguh, Eyangmu Baskoro tinggal di Desa Godam, Wilayah Braling. Tinggal sebut saja nama Eyang, pasti banyak yang mengenalnya'.
Demikianlah isi tulisan Ranto, yang menjawab kebingungan putranya itu.
Setelah menuliskan alamat ayahnya itu, Ranto lalu beranjak ke kamar Teguh dan mematikan lampu kamar putranya itu.
Ya, Ranto sangat hapal dengan kebiasaan Teguh, yang sering terlupa mematikan lampu kamar. Karena Teguh memang selalu tertidur selagi membaca LKS, atau buku pelajaran lain di ranjangnya.
Namun entah kenapa, sepasang mata Ranto sulit sekali terpejam malam itu.
Dengan susah payah akhirnya Ranto pun tertidur, walau tidurnya tak nyenyak karena kerap ngelilir.
Jam dinding kamar Ranto menunjukkan pukul 4 dini hari, saat lamat-lamat dia mendengar ketukan di pintu rumahnya.
Tok, tok, tokk..!
"Permisi..!"
Terdengar suara seorang lelaki yang mengetuk pintu rumahnya itu.
'Siapa ya..? Perasaan aku belum memiliki seorang kenalan pun disini. Kecuali Pak RT dan sekretaris RT', bathin Ranto bingung.
Ranto segera beranjak bangun dari ranjangnya dan bergegas menuju pintu dengan hati bertanya-tanya.
Klekh..!
"Ya, ada apa Mas..?" tanya Ranto dengan tatapan menyelidik, ke arah tamu tak dikenal yang kini berada di hadapannya itu.
Lelaki berwajah kaku dan dingin itu nampak berusaha tersenyum, agar terlihat cukup wajar di mata Ranto.
Lelaki itu mengenakan kemeja panjang krem, dengan bawahan jeans hitam.
"Maaf Pak, jika saya mengganggu istirahatnya. Apakah benar ini rumahnya Pak Ranto?" tanya sopan lelaki itu.
Kesantunan tamu itu seketika menghilangkan kecurigaan di hati Ranto.
"Iya benar itu saya. Ada apa ya Mas..? Sebenarnya Mas ini siapa..?"
"Saya Jaya, Pak. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Bu Ratih. Bu Ratih saat ini berada di dekat Terminal Campa menunggu Pak Ranto," sahut Jaya tersenyum sopan.
"Hahh..! Ra-ratih datang ke Campa..?!" sentak kaget Ranto seolah tak percaya.
Sontak sepasang mata Ranto langsung menatap tajam, ke arah mobil yang terparkir di jalan depan rumahnya.
'Tak salah lagi! Itu benar mobil putih si Ratih', bathin Ranto mengakui. Karena dia memang hapal dengan mobil Ratih majikannya, yang selama 2 tahun lebih dikemudikannya.
Hati Ranto pun kini menjadi yakin, jika Jaya adalah orang suruhan Ratih.
"Benar Pak Ranto. Saya disuruh Bu Ratih menjemput Pak Ranto, karena ada hal sangat penting yang mau dibicarakan Bu Ratih dengan Bapak," ujar Jaya meyakinkan.
"Baik! Silahkan duduk dulu di teras, saya berganti pakaian dulu."
'Hmm. Sebaiknya Teguh tak kubangunkan, kasihan dia semalam tidurnya agak larut', bathin Ranto sambil berganti pakaian di kamarnya.
Usai ganti pakaian, Ranto pun langsung ikut masuk ke dalam mobil yang tak asing baginya itu. Setelah dia mengunci rumahnya dari luar.
'Hmm. Interiormu masih seperti dulu putih', bisik hati Ranto seraya menyebut panggilannya pada mobil itu.
"Maaf, apakah Mas Jaya adalah driver Ratih yang sekarang?" tanya Ranto menduga-duga.
"Bisa dikatakan begitu Pak Ranto. Bapak itu bekas driver Bu Ratih sebelum saya kan..?"
"Benar Mas Jaya. Tiga bulan yang lalu, saya masih menjadi driver Ratih," sahut jujur Ranto.
"Apakah menurut Pak Ranto, Bu Ratih orang yang baik dan royal sama drivernya? Soalnya saya memang belum terlalu mengenal pribadinya."
"Dia adalah Bos yang sangat baik dan royal Mas Jaya. Ehh..! Kenapa kita berbelok ke arah lapangan kosong Mas Jaya..?!" seru kaget Ranto.
Ya, Ranto tersadar jika mobil yang dikemudikan Jaya membelok masuk, ke sebuah tanah lapang yang dikelilingi semak di pinggir jalan.
Ciittt..! Slaakkh..!
Tanpa menyahuti Ranto, Jaya mengerem mendadak mobil itu hingga terhenti dengan suara mendecit keras.
Lalu secepat kilat tangan Jaya menarik double stick bajanya, dan langsung dilesatkannya ke arah kepala Ranto.
Weesshh..! Pyaarrsshk..!!
Tentu saja Ranto yang sudah curiga menjadi waspada. Secepat itu pula Ranto merunduk menghindari lesatan double stick Jaya yang mengancam kepalanya.
Dan serangan Jaya pun meleset dan menghantam ambyar kaca jendela mobil hingga pecah berkeping.
Klekh..! Sett..! Gluduk, gluduk..!
Ranto cepat membuka pintu mobil dan melompat bergulingan di tanah lapang itu.
Seth..! Taph..!
Sigap Ranto lentingkan tubuhnya ke atas lalu menjejak mantap di atas tanah. Karena dia merasa sudah berada pada jarak aman dari serangan Jaya.
"Brengsek! Apa maksudmu Jaya..?! Mana Ratih..?!" seru murka Ranto, dia merasa telah dijebak oleh Jaya.
Dan seketika tenaga dalam sejatinya pun bangkit dalam kondisi darurat seperti itu.
“Hahahaa..! Rupanya punya kebisaan juga kau Ranto! Tapi jangan harap kau bisa lepas dari mautmu Ranto!” seru Jaya tergelak, seraya turun dari mobil.
“Hahaha! Inikah yang namanya Ranto itu Jaya..?! Sepertinya akan lebih mudah jika dia bunuh diri saja sekarang!” terdengar seruan terbahak dari Rowan, yang muncul Bersama seorang lagi temannya.
“Hehe..! Sepertinya kali ini kau akan mati tanpa makam Ranto!” Krtk.. krtekk..! Wendi terkekeh menyeringai, seraya mengeraskan kepalan sepasang tangannya hingga berkeretekkan.
“Siapa kalian..?!” sentak Ranto. Tak nampak sama sekali kegentaran di wajahnya, walau dia tahu dirinya akan dikeroyok oleh ketiga orang yang tak dikenalnya itu.
Diam-diam Ranto sudah bisa meraba, siapa ‘dalang’ dibalik ketiga orang itu, Raditya!
Tentu saja karena mobil milik Ratih yang bisa dibawa oleh Jaya. Karena siapa lagi yang memiliki kuasa meminjamkan mobil itu selain Ratih, jika bukan suaminya sendiri, Raditya!
“Hahahaa! Baiklah Ranto! Lagipula kau akan mati malam ini! Kami adalah penguasa gank di wilayah Andalas Selatan! Puas..?! Sekarang bersiaplah menyambut mautmu..!” seru Rowan seraya beri aba-aba pada Wendi dan Jaya.
Seth..! Dambh..!
Ranto cepat melompat ke atas dan mendarat dengan hunjamkan sepasang kakinya kokoh ke bumi. Jurus pertama dari 7 jurus dasar Gerak Semesta ajaran ayahnya, yaitu ‘Tapak Poros Bumi’ telah disiagakan.
Ranto sadar dan maklum, jika ketiga lawannya saat itu bukanlah kelas preman biasa. Hal itu dilihatnya dari ketenangan wajah pada ketiga lawannya itu.
Hal yang menandakan ‘jam terbang’ ketiga lawannya itu sudah cukup tinggi dalam bertarung dan beraksi.
Dengan tenang Jaya dan Wendi melangkah ke sisi kiri dan kanan posisi Ranto, sementara Rowan berhadapan tepat di depan Ranto.
Slakh..! Wukh, wukk, wukhs..! Jaya dengan cepat dan mahir memainkan double sticknya, terdengar suara deruan angin yang cukup ngeri.
“Hiahh..!” Krtkh, krtksh..!