Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANTANA SANG LEGENDA

SANTANA SANG LEGENDA

Arjunandar | Tamat
Jumlah kata
102.5K
Popular
343
Subscribe
75
Novel / SANTANA SANG LEGENDA
SANTANA SANG LEGENDA

SANTANA SANG LEGENDA

Arjunandar| Tamat
Jumlah Kata
102.5K
Popular
343
Subscribe
75
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatPendekarPertualangan
Santana, pendekar terhebat dari golongan putih, tewas dalam pertarungan hebat melawan Gobarja, dedengkot tersakti dari golongan hitam. Namun, takdir memiliki rencana lain. Roh/sukma Santana terlahir kembali (reinkarnasi), menitis pada jabang bayi calon anaknya Gobarja, membuat Santana menjadi anak kandung musuh bebuyutannya sendiri. Gobarja, yang tidak mengetahui bahwa Santana telah terlahir kembali, sangat mengagumi lawan terkuatnya memutuskan untuk memberi nama anaknya dengan nama Santana. Gobarja berharap anaknya dapat mewarisi kekuatan dan kemampuan Santana, namun tidak menyadari bahwa roh Santana telah menitis pada anaknya sendiri. Bagaimana kisah Santana selanjutnya?
Bab 001

Senja Merah di Lembah Kematian.

Langit di atas Pulau Jawa Kuno telah kehilangan cahaya keemasan.

Senja itu bukan merah saga yang damai, melainkan jingga darah yang pekat, menaungi lembah sunyi yang sejak fajar berubah menjadi arena kematian —Lembah Candi Arak-Arak.

Di jantung lembah yang diselimuti kabut tipis itu, dua sosok berdiri berhadapan. Mereka adalah representasi paling murni dari dua kutub kekuatan yang telah lama berseteru.

Di satu sisi, tegap berdiri Santana, Pendekar Agung dari Aliran Putih.

Tubuhnya tinggi dan kokoh, diselimuti jubah putih kebiruan yang kini compang-camping dan berlumuran darah.

Wajahnya —seharusnya wajah seorang guru yang tenang— telah memancarkan keteguhan keras seorang pejuang yang siap mengorbankan segalanya.

Tangannya yang memegang pedang pusaka Naga Suci bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang luar biasa.

Di hadapannya, mencakar tanah, adalah Gobarja, Dedengkot tersakti dari Aliran Hitam.

Sosoknya besar, dengan otot yang menyembul di balik baju kulit hitamnya yang tebal.

Wajahnya dipenuhi goresan luka lama dan kekejaman yang tak tersembunyikan.

Matanya merah menyala, memancarkan nafsu untuk menuntaskan dendam yang telah ia pendam selama puluhan purnama.

Di sekeliling mereka, ratusan pasang mata menyaksikan dengan napas tertahan.

Di lereng timur, para pendekar berpakaian cerah dari golongan putih, kawan-kawan setia Santana, berdiri dalam formasi pertahanan yang rapuh.

Mereka semua terluka, wajah mereka dihiasi keputusasaan.

"Anda harus menang, Paman Santana" bisik seorang pendekar muda bernama Sagara, suaranya parau, air mata menetes.

Seorang pendekar agak senior, Wiro, yang tangannya terluka parah, menggeleng lemah. "Kekuatan Gobarja terlalu besar, Sagara. Ia telah mengerahkan seluruh daya sihir hitamnya."

Sementara itu, di lereng barat, pengikut Gobarja —kelompok pendekar bertopeng dengan pakaian serba gelap— bersorak liar, memenuhi lembah dengan tawa kejam dan teriakan penyemangat bagi pemimpin mereka.

Mereka adalah roh-roh jahat yang haus akan kehancuran.

Gobarja melangkah maju, menciptakan retakan di tanah basah. Aura hitam pekat menguar dari tubuhnya, membentuk pusaran yang menghisap cahaya senja di sekitarnya.

"Santana!" raung Gobarja, suaranya bergetar seperti gempa bumi. "Sudahilah kepahlawananmu yang tolol itu! Kau telah bertahan lebih lama daripada yang kukira, tetapi ini adalah akhir dari Aliran Putihmu!"

Santana mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah ke leher Gobarja. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi terakhir yang tersisa di Dantiannya.

Energi murni berwarna keemasan memancar samar dari tubuhnya, melawan aura hitam Gobarja.

"Gobarja," jawab Santana, suaranya tenang dan tegas, meski nadanya dipenuhi kelelahan yang mendalam. "Selama nadi keadilan masih berdenyut di tanah Jawa ini, Aliran Putih takkan pernah mati. Jika aku harus menjadi korban terakhir, maka biarlah takdir ini terpenuhi."

"Omong kosong!" Gobarja meludah ke samping. "Kematianmu adalah kematian harapan!"

Tanpa basa-basi lagi, Gobarja melepaskan rentetan serangan mematikan.

Ia menerjang maju, menggunakan teknik tinju yang ia sebut Tinju Neraka Tujuh Alam.

Setiap pukulan membawa daya hantam yang mampu meratakan bukit.

BUM! BUM! BUM!

Santana menangkis dengan pedangnya. Setiap benturan menghasilkan dentuman logam yang memekakkan telinga, disusul percikan api yang menyala-nyala di udara lembah.

Santana bergerak lincah, menggunakan jurus Langkah Seribu Bayangan untuk menghindari serangan frontal. Namun, energi hitam Gobarja terlalu dominan.

Setiap tangkisan membebani lengannya dengan tekanan luar biasa, membuat lututnya hampir roboh.

"Tangkisanmu semakin lemah, Santana!" ejek Gobarja.

Santana mundur beberapa langkah, membersihkan darah dari bibirnya. Ia tahu, pertarungan ini tidak bisa diakhiri dengan pertahanan. Ia harus menyerang titik vital Gobarja.

Dengan tekad bulat, Santana melonjak tinggi, memusatkan Hawa Sakti murninya pada pedang Naga Suci. Pedang itu bersinar terang, mengeluarkan bayangan naga yang agung.

"Terimalah jurus terakhirku! Sabetan Naga Mengamuk!" teriak Santana.

Pedang itu menyabet ke arah jantung Gobarja dengan kecepatan kilat.

Namun, Gobarja telah mengantisipasi. Saat pedang hanya berjarak sejengkal dari dadanya, Gobarja menyilangkan kedua lengan kekarnya.

Membiarkan energi hitamnya menebal menjadi perisai pejal —Perisai Bayangan Pelenyap.

KRING!

Dampak benturan itu sangat mengerikan. Pedang Santana terbentur mundur, dan gelombang kejut yang dihasilkan memusnahkan pepohonan di radius puluhan meter.

Santana terlempar ke belakang, terbatuk darah. Ia sadar, Naga Suci tidak mampu menembus pertahanan Gobarja.

Gobarja berdiri tegak di tengah kepulan debu. Ia tersenyum kejam, tatapannya dipenuhi kepuasan.

"Cukup sudah permainan anak-anak ini, Santana," kata Gobarja dengan suara rendah yang mengancam. "Kau adalah lawan yang patut dihormati, tetapi engkau telah memaksaku untuk menggunakan jurus terlarang. Jurus yang akan menghancurkan ragamu dan memenjarakan sukmamu."

Para pendekar Aliran Putih di kejauhan mulai berteriak panik.

"Jangan, Ki Santana! Jangan terima jurusnya!"

Pengikut Aliran Hitam terdiam, bahkan mereka tahu betapa berbahayanya jurus yang akan digunakan Gobarja.

Gobarja mengangkat kedua tangannya ke langit. Senja yang gelap seolah tersedot ke telapak tangannya.

Hawa Sakti hitam yang ia kumpulkan bukanlah energi fisik biasa, melainkan energi murni dari kebencian dan kejahatan —Pukulan Sukma Hitam.

"Sagara! Wiro! Mundur!" teriak Santana. Ia tahu, energi ini akan melenyapkan segalanya dalam jarak seratus langkah.

Santana memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa Hawa Sakti murninya untuk menghadapi serangan terakhir ini.

Ia tidak bisa lari. Jika ia menghindar, energi itu akan menghancurkan para pendekar golongan putih.

"Terimalah kematian terhormatmu, Santana! Pukulan Sukma Hitam!"

Gobarja mendorong telapak tangannya ke depan. Gelombang cahaya hitam pekat berbentuk bola cahaya gelap meluncur bagai komet ke arah Santana.

Bola itu memancarkan panas dan kehancuran, menghancurkan batu dan tanah di jalurnya.

Santana tidak bergerak. Ia berdiri tegak, memancarkan Hawa Sakti emasnya untuk menciptakan perisai pertahanan terakhir. Ia menghela napas, menerima takdirnya.

BBOOOOOOMMMMMMM!!!

Dampaknya menciptakan kilatan cahaya yang jauh lebih terang daripada seribu petir. Lembah itu bergetar hebat.

Teriakan dan ratapan terdengar dari kedua kubu. Energi hitam mendominasi segalanya, menyelimuti tempat Santana berdiri.

Ketika kabut ledakan mulai mereda, yang tersisa hanyalah asap tebal dan bau mesiu.

Gobarja berdiri terengah-engah, tubuhnya gemetar karena kelelahan, tetapi ia tidak terluka. Ia tersenyum menang.

Di hadapannya, Santana telah tumbang. Tubuhnya hancur. Perisai Hawa Sakti murninya telah pecah.

Pukulan Sukma Hitam telah menghancurkan setiap tulangnya dan melenyapkan energi kehidupannya.

Pedang Naga Suci terlepas dari genggamannya, teronggok patah di tanah.

Tangisan pilu pecah dari lereng timur. Para murid Aliran Putih meraung, berusaha berlari maju, tetapi mereka segera diserbu oleh pengikut Gobarja yang telah mendapatkan kembali kekuatan mereka setelah kemenangan sang dedengkot.

"Ki Santana! Pendekar Santana!" teriak Sagara sambil dipegangi oleh dua pendekar hitam.

Gobarja tertawa, tawa yang terdengar mengerikan dan histeris, menandakan kemenangan mutlak.

"Lihat! Lihatlah baik-baik! Santana yang terhebat dari aliran putih telah takluk di tanganku! Tak ada lagi yang mampu menghalangi kita!" teriak Gobarja kepada pengikutnya.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca