

Udara pagi di kampung Batu Melintang terasa segar dan penuh dengan aroma daun-daunan segar yang bercampur dengan wangian akar-akaran obat yang biasa digunakan oleh penduduk pedalaman Kalimantan. Di tengah halaman rumah panggung yang berdiri kokoh di atas tiang-tiang kayu ulin, seorang pemuda berusia 23 tahun berdiri tegak dengan sikap yang gagah. Rambut hitam tebalnya diikat rapi dengan kain batik motif belang elang, sementara tubuh atletisnya terbungkus dalam baju adat Dayak yang dihiasi dengan ukiran kayu dan manik-manik warna-warni. Ia adalah Kale Anggara, putra satu-satunya dari pasangan Anggara Ulugani dan Dewi Namoya yang telah meninggal dunia 12 tahun yang lalu.
Kale merenung ke arah hutan hijau yang luas yang membentang sejauh mata memandang—tempat di mana ia tumbuh besar dan belajar segala sesuatu tentang kehidupan dari kakeknya, Martinus Ulugani. Hingga dua tahun yang lalu, kakeknya yang berusia 110 tahun masih berdampingan dengannya, mengajarkan ilmu pengobatan tradisional Dayak, teknik bela diri yang telah diwariskan selama berabad-abad, dan cerita-cerita leluhur yang penuh dengan keajaiban. Martinus bukan hanya seorang kakek bagi Kale, melainkan juga seorang guru, pelindung, dan satu-satunya keluarga yang pernah ia miliki sejak kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan di Jakarta ketika ia masih berusia 10 tahun.
“Sang Elang telah siap terbang keluar dari sarangnya, cucu,” ujar suara lembut dari belakangnya.
Kale menoleh dengan cepat, wajahnya langsung menunjukkan rasa hormat ketika melihat beberapa tetua adat yang telah berkumpul di halaman rumahnya. “Tatang Jaya (paman Jaya) mengapa semua orang berkumpul di sini? Saya kira hanya akan berangkat sendirian saja,” ujar Kale sambil membungkuk hormat kepada para tetua.
Di tengah mereka berdiri Tatang Jaya, salah satu murid terbaik kakeknya yang kini menjadi pemimpin sementara kampung setelah wafatnya Martinus. Ia mendekat dengan langkah pelan, tangan kanannya memegang sebuah kotak kayu kecil yang diukir dengan gambar elang yang sedang menyebarkan sayapnya lebar-lebar. “Kamu adalah putra terbaik kampung ini, Kale. Bagaimana mungkin kami tidak mengantarmu?”
“Saya hanya ingin membawa kebahagiaan bagi nama keluarga dan kampung,” jawab Kale dengan suara tegas. “Apalagi janji saya pada Kakek sebelum ia pergi harus saya tepati.”
Tatang Jaya mengangguk perlahan, matanya penuh dengan makna. “Kakekmu tahu betul apa yang kamu bisa lakukan. Ia menyimpan ini untukmu hingga saat yang tepat tiba.” Ia mengulurkan tangan dan menyerahkan kotak kayu tersebut.
Kale menerima kotak dengan hati yang penuh rasa hormat, jari-jarinya menyentuh ukiran halus pada permukaannya. Ketika ia membukanya perlahan, ia menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk cakar elang yang terbuat dari batu giok hijau pekat. Permukaan batu itu memancarkan kilauan samar yang seolah-olah menyimpan energi tersendiri. “Ini… ini sangat cantik, Tatang Jaya. Apa makna dari kalung ini?”
“Kakek berkata, kalung ini hanya akan menunjukkan kekuatannya ketika kamu benar-benar membutuhkannya,” lanjut Bapak Jaya sambil menatap Kale dengan mata yang penuh harapan. “Ia juga menyuruh kami untuk memberikan restu penuh kepadamu sebelum kamu berangkat ke Jakarta. Misi yang kamu emban bukanlah hal yang mudah.”
“Kamu harus berhati-hati di sana, anak,” ujar Tatang Amon Guru (Paman Amon Guru), salah satu tetua adat yang sudah berusia lanjut, mendekat dan menyentuh pundak Kale. “Jakarta bukan seperti hutan kita yang bisa kamu baca dengan mudah. Orang-orang di sana memiliki banyak rahasia dan niat yang tidak selalu terlihat.”
“Saya mengerti, Tatang Amon Guru. Saya akan selalu mengingat ajaran Kakek dan semua yang telah diajarkan oleh para tetua,” balas Kale dengan sungguh-sungguh.
Ingatan tentang kematian orangtuanya kembali menghantui pikiran Kale. Pada saat itu, kabar yang diterima oleh kampung adalah bahwa kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil di jalan raya menuju Bandara Soekarno-Hatta. Namun, sebelum wafatnya, kakeknya telah mengungkapkan sebuah rahasia yang membuat Kale terkejut.
“Cucu,” ucap Martinus kala itu, dengan suara yang lemah namun tetap tegas, saat ia berbaring di atas ranjang bambu. “Ayahmu bukan hanya seorang pedagang kayu seperti yang kamu kira. Ia memiliki perusahaan teknologi yang sedang berkembang. Harta yang seharusnya menjadi milikmu telah diambil alih oleh Timothy Angkasa, rekan bisnisnya.”
“Kenapa tidak kamu katakan ini lebih awal, Kakek?” tanya Kale dengan suara gemetar.
“Saya menunggu kamu siap, cucu. Selain itu, saya merasa kematian orangtuamu bukanlah kecelakaan. Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Cari tahu kebenarannya…”
Setelah kematian orangtuanya, Kale diangkat dan diasuh oleh kakeknya dengan penuh kasih sayang. Martinus melihat potensi luar biasa dalam dirinya, terutama ketika menemukan bahwa Kale mewarisi darah khusus dari leluhur mereka yang dikenal sebagai “Panglima Elang”.
“Kamu harus belajar mengendalikan kekuatan itu, cucu,” ajar Martinus pada suatu hari ketika mereka sedang berlatih bela diri di tengah hutan. “Para Panglima Elang adalah penjaga hutan Kalimantan yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam dan menghadapi musuh dengan kekuatan luar biasa. Tapi ingat—kekuatan ini hanya akan muncul pada saat terdesak dan harus digunakan dengan bijak.”
“Bagaimana saya bisa mengendalikannya, Kakek?” tanya Kale saat itu.
“Dengan kesabaran dan hati yang bersih, cucu. Jangan biarkan amarah membutakan mu.”
Sebelum meninggalkan kampung, Kale telah menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Teknologi Informasi di Malaysia dengan beasiswa penuh. Kemahirannya dalam dunia siber menjadi salah satu bekal penting yang ia bawa untuk menghadapi tantangan di ibu kota. Selain itu, keahlian bela dirinya yang unik—perpaduan antara teknik tempur tradisional Dayak dengan strategi yang ia pelajari dari buku-buku dan sumber daring—telah membuatnya mampu melatih beberapa pemuda kampung sebelum memutuskan untuk merantau.
“Kak Kale, nanti jangan lupa kami ya!” teriak salah satu muridnya yang masih muda, ketika melihat Kale sedang menyiapkan barang-barangnya.
“Tetap latihan dengan giat ya, Jido. Nanti kalau saya kembali, saya akan uji kemampuan kalian semua,” jawab Kale dengan senyum hangat. “Jangan lupa juga untuk membantu orang tua dan tetua adat di kampung ya.”
Pada hari keberangkatan, seluruh penduduk kampung berkumpul di pelabuhan sungai untuk mengantar Kale. Perahu mesin yang akan membawanya ke kota terdekat sudah siap menunggu di tepian air yang keruh. Sambil menggendong tas ransel yang berisi barang-barang penting dan beberapa ramuan obat tradisional yang diberikan oleh tetua adat, Kale berjalan perlahan melewati kerumunan yang sedang menyanyikan lagu adat sebagai doa perlindungan.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi mu, Kale!” teriak salah satu ibu kampung sambil mengangkat tangan untuk mengucapkan selamat jalan.
“Terima kasih semua! Saya akan kembali dengan membawa kebenaran dan kemuliaan bagi kampung kita!” seru Kale dengan suara yang kuat hingga terdengar di atas suara mesin perahu dan aliran sungai. Di dalam hatinya, ia bertekad untuk tidak mengecewakan harapan kakeknya dan seluruh penduduk kampung.
“Saya akan menemukan kebenaran, Kakek,” bisik Kale sambil menatap ke arah rumah panggung yang semakin jauh seiring dengan gerakan perahu yang melaju menyusuri sungai. Udara di sekitarnya mulai berubah, dari kesunyian pedalaman berganti dengan suara mesin dan aktivitas manusia yang semakin banyak seiring dengan kedekatannya pada pemukiman yang lebih besar. Di kejauhan, siluet gedung-gedung tinggi mulai terlihat jelas—tanda bahwa ia telah memasuki babak baru dalam hidupnya.
***