

“Ibu, operasi Jessica butuh lima puluh juta... Bisakah ibu pinjamkan sedikit uang...?”
Jason yang berpakaian lusuh menundukkan kepala, berdiri di hadapan seorang wanita paruh baya yang tampak mewah namun wajahnya penuh rasa tidak sabar.
Penampilannya yang elegan dan anggun sangat berbeda dengan kesederhanaan Jason.
Waktu masih SMP, ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus dirawat di rumah sakit. Saat itu, wanita ini mengambil seluruh tabungan keluarga, memaksa ayahnya bercerai, lalu pergi begitu saja.
Ayahnya pun meninggal dunia di rumah sakit tanpa sempat mendapat perawatan yang layak.
Sepuluh tahun telah berlalu, dan selama itu, dia sama sekali tidak pernah peduli pada Jason dan adik perempuannya. Tidak pernah menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Beberapa waktu lalu, sang adik, Jessica Alvaro, didiagnosis menderita gagal ginjal parah. Biaya pengobatannya saja mencapai setidaknya lima puluh juta.
Demi mengumpulkan uang, Jason sudah berjuang mati-matian.
Ia meminjam sana-sini, mengajukan pinjaman online, bekerja paruh waktu... semua cara sudah dicoba...
Kalau bukan karena benar-benar kepepet, ia tak akan pernah datang mencari ibunya yang tidak berhati ini.
Namun Lina, sang ibu, bahkan tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat.
“Tidak ada uang! Seribu pun tidak ada!”
“Bawa pergi juga barang ini! Ayahmu yang sudah mati itu, sok bilang ini harta warisan keluarga! Kamu juga, jangan pernah datang lagi! Mati pun jangan di dekat-dekat aku, sialan!”
Brak!
Pintu rumah ditutup keras tanpa belas kasihan.
Angin malam berembus tajam, menggigit tulang!
Sebuah liontin bertali merah terguling sampai ke kakinya. Dengan tangan gemetar, Jason memungut liontin itu dan menggenggamnya erat-erat.
Ia terduduk lemas di lantai, menatap langit kelabu di atas sana. Perasaan putus asa perlahan-lahan memenuhi dadanya.
Bayangan adiknya yang terbaring sakit, menahan rasa nyeri selama perawatan, kembali terlintas di benaknya.
Saat itu, hatinya terasa seperti disayat-sayat.
Ayahnya sudah tiada. Ia tidak bisa, tidak boleh, kehilangan adik satu-satunya yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga baginya.
Apa pun caranya, ia harus menyelamatkan Jessica!
Tak ada pilihan lain. Ia harus mencari Thalia Ivanka.
Satu nama terlintas di benaknya.
Thalia adalah mantan pacarnya.
Mereka pernah hidup bersama selama tiga tahun—tiga tahun yang menjadi masa paling membahagiakan dalam hidup Jason.
Mereka bekerja di tempat hiburan “Peach Blossom Entertainment” untuk mencari uang bersama-sama.
Jason punya mimpi indah: setelah mereka menabung cukup, ia akan membeli rumah dan menikahinya.
Namun semua impian itu hancur karena wanita yang sangat ia cintai.
Di salah satu ruang VIP tempat mereka bekerja, ia menyaksikan sendiri Thalia berselingkuh dengan manajer klub, Hansen Sanjiwa!
Setelah kepergok, Thalia malah memilih putus darinya tanpa penyesalan sedikit pun.
Parahnya lagi, uang tabungan yang telah ia kumpulkan selama tiga tahun untuk pernikahan, masih tersimpan di rekening Thalia.
Itu adalah uang yang bisa menyelamatkan nyawa sang adik. Uang itu harus diambil kembali—bagaimanapun caranya.
Setengah jam kemudian...
Di depan Peach Blossom Entertainment Club
Jason berdiri terpaku di depan pintu, hatinya campur aduk.
Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekad, lalu menunduk dan melangkah masuk.
“Wah, bukankah ini si Jason?”
“Eh, itu adik cewekmu yang katanya keterima di Universitas Ibukota, masih hidup nggak?”
Begitu masuk, dua pegawai—yang satu gemuk, yang satu kurus—langsung menghadangnya sambil menyeringai sinis.
“Aku mau cari Thalia,” ucap Jason pelan, menundukkan kepala, enggan melihat wajah mereka yang penuh ejekan.
Menghadapi cemoohan mereka, Jason hanya bisa menahan diri.
Demi keselamatan adiknya, ia tidak punya harga diri, apalagi keberanian untuk meladeni mereka.
“Nama bos besar juga kamu berani sebut?”
Plak!
Si gendut menampar bagian belakang kepala Jason.
Jason terhuyung lalu jatuh berlutut. Tubuhnya lemah karena sudah tiga hari berturut-turut menjual darah demi biaya rawat inap sang adik.
Si kurus mengejek, “Heh, Kak Jason, dulu waktu jadi kepala tim di sini kamu jago berantem, kan? Kok sekarang jadi lemah begini?”
“Kak Jason apaan, sekarang dia cuma jadi banci kampungan!”
Si gendut menarik kerah baju Jason dan mulai menyeretnya ke luar. “Tempat semewah ini bukan buat orang kayak kamu! Pergii!”
“Tunggu, biarkan dia masuk.”
Suara seseorang terdengar tiba-tiba.
“Baik, Tuan Hansen.”
Si gendut langsung melepaskan Jason.
Mendengar suara itu, Jason mengepalkan tinju, tapi detik berikutnya, ia hanya bisa pasrah.
“Jason, ngapain kamu ke sini?”
Manajer klub, Hansen, muncul dengan tangan melingkari pinggang seorang wanita berpakaian mencolok.
Make-up-nya tebal, rok ketatnya menonjolkan lekuk tubuh yang menonjol. Sorot matanya menggoda, memikat, namun penuh kesombongan.
Jason mengangkat kepala, menatap Thalia.
Itu bukan lagi wanita polos dan baik hati yang dulu ia cintai.
Aura polos itu telah lenyap, tergantikan oleh kesan dingin dan keangkuhan.
“Thalia, aku ke sini karena ada urusan,” kata Jason sambil menarik napas dan memaksakan senyum.
Thalia mendengus meremehkan, “Gak bisa bantu. Datang-datang pasti minta tolong lagi.”
Begitu kejam dan tanpa rasa!
“Hahaha! Datang buat pinjam uang, ya? Jason, soal adikmu aku juga dengar, sungguh kasihan!”
Hansen tertawa terbahak-bahak sambil tangannya mulai meraba-raba tubuh Thalia di depan Jason, seolah sengaja memamerkannya.
Thalia bahkan tidak menolak—malah makin menempel manja pada Hansen.
“Kamu jahat banget sih, masih mikirin adiknya dia?” godanya.
“Ehehe, adiknya sih sakit-sakitan, aku gak sudi. Tapi kamu, waktu pertama kali—gila, bikin kaget!”
Hansen mencolek dagu Thalia lalu kembali memandang Jason dengan ekspresi menyindir.
“Idih, genit banget!”
Thalia manja, lalu berbalik dan mencibir Jason, “Tempat kayak gini bukan buat kamu, jangan bikin kotor pemandangan. Pergi!”
Seluruh tubuh Jason bergetar. Wanita ini benar-benar telah mengajarinya arti dari pepatah: manusia bisa lebih kejam dari iblis.
“Aku ke sini untuk mengambil kembali uangku! Gaji selama tiga tahun, dua ratus juta, semuanya masih kamu simpan!”
“Wah, dua ratus juta? Banyak juga! Hahaha!” Hansen tertawa keras.
“Hah! Dua ratus juta? Mau diambil kembali? Huh, selama tiga tahun aku tinggal sama kamu di kontrakan bau kayak kandang babi, makan masakanmu yang lebih mirip makanan ternak... Tiga tahun masa mudaku sia-sia, jadi uang itu anggap aja kompensasi! Mau ambil kembali? Mimpi!”
Thalia mendengus, lalu merangkul lengan Hansen, hendak pergi. “Sayang, gak usah buang waktu, usir aja dia.”
“Jangan dong, Sayang. Bagaimanapun, dia yang ‘nganterin’ kamu ke pelukanku. Sekali ini, kasihani dia lah.” Hansen justru menghentikan langkahnya.
“Kasihani dia?” Thalia bingung.
Tak lama, Hansen pergi sebentar ke toilet, lalu kembali dengan segelas cairan kekuningan dan selembar cek senilai seratus juta.
“Minum ini, dan uang ini jadi milikmu! Hahaha!”
Hansen menyeringai geli.
“Itu... itu air kencing! Kau sudah keterlaluan!”
Jason murka, menendang gelas itu hingga terlempar, lalu menerjang ke arah Hansen.
Aksi nekat Jason mengejutkan semua orang.
“Kalian tunggu apa lagi?!”
Beberapa orang langsung mengeroyok Jason yang terjatuh dan meringkuk di lantai, dihujani tendangan dan pukulan.
Kesadarannya mulai kabur. Samar-samar, ia masih bisa mendengar suara makian Hansen.
Apa aku akan mati di sini?
Lalu bagaimana dengan adikku?
Apa aku tadi terlalu gegabah...?
Tak lama, tubuh Jason tergeletak tidak bergerak. Ia pingsan.
“Jangan-jangan dia mati beneran?” Thalia memandang wajah Jason yang babak belur, lalu menelan ludah, panik.
“Tenang aja, nggak mati kok. Masih bernapas. Kalian berdua, seret dia keluar dari sini!”
Hansen memerintah dengan suara dingin, penuh penghinaan.
Tak ada yang menyadari, liontin bertali merah di leher Jason tiba-tiba memancarkan cahaya aneh, lalu menyatu ke dalam tubuhnya dan lenyap begitu saja.
---
“Aku adalah Dewa Pengobatan Langit Abadi. Kau telah menerima warisan ilmu pengobatan abadi dariku. Tugasmu adalah mengobati yang sakit, menyelamatkan nyawa... hingga kelak memperoleh pahala dan menapaki jalan keabadian.”
Dalam ruang hampa tak berbatas, suara bisikan itu menggema.
Sejumlah besar informasi tiba-tiba membanjiri pikiran Jason—tentang metode kultivasi, Gulungan Pengobatan Abadi, Teknik Pemurnian Dan Peracikan Obat, dan lainnya...