Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arjuna dan Cincin Pesona Delima

Arjuna dan Cincin Pesona Delima

Red Panda | Bersambung
Jumlah kata
178.3K
Popular
115.7K
Subscribe
4.9K
Novel / Arjuna dan Cincin Pesona Delima
Arjuna dan Cincin Pesona Delima

Arjuna dan Cincin Pesona Delima

Red Panda| Bersambung
Jumlah Kata
178.3K
Popular
115.7K
Subscribe
4.9K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMengubah NasibUrbanHarem
WARNING! Bacaan 21+ Arjuna Satria, 20 tahun, hanyalah seorang kuli panggul miskin yang diputusin pacar karena ketahuan berbohong soal pekerjaan. Hari itu seharusnya menjadi hari tersial dalam hidupnya, sampai seorang kakek misterius bernama Ki Suryo memaksanya menerima sebuah cincin dengan batu merah sebagai ganti sebungkus nasi. "Cincin Pesona Delima sudah memilihmu. Cincin ini akan menjadikanmu pria sukses di masa depan." Juna tidak percaya. Tapi keesokan harinya, bentuk tubuhnya tiba-tiba berubah tanpa ia sadari, wajahnya memancarkan aura yang membuat setiap wanita terpesona, dan keberuntungan terus berdatangan tanpa henti. Janda cantik pemilik warung, istri juragan ayam yang kesepian, dan sahabat masa kecil yang menyimpan perasaan. Satu per satu wanita masuk ke dalam hidup Arjuna yang dulu tidak pernah dilirik siapapun. Bisakah Arjuna meraih impiannya menjadi pria sukses dengan bantuan Cincin Pesona Delima? Dan bagaimana ia menghadapi para wanita yang haus akan sentuhannya?
Bab 1. Hari Tersial Arjuna

Siang itu matahari bersinar cerah di atas Pasar Sidorame. Hiruk pikuk pedagang dan pembeli memenuhi setiap sudut.

Di antara keramaian itu, seorang pemuda bertubuh kurus sedang mengangkut karung beras seberat 25 kilogram di pundaknya.

Namanya Arjuna Satria, masih berusia 20 tahun, bekerja sebagai kuli panggul. Tapi kalau yang bertanya kekasihnya, Juminten, ia mengaku sebagai satpam Bank Daerah dengan gaji UMR.

Kebohongan itu sudah berlangsung 3 tahun, sama tuanya dengan hubungan mereka.

"Juna! makan dulu, kamu sudah angkut tujuh karung dari tadi!" teriak Sutarno yang duduk di atas bangku panjang, melepas lelah.

Juna menurunkan karung terakhir ke gudang Juragan Bedjo lalu menghampiri sahabatnya.

"Tarno, hari ini aku mau melamar Juminten," kata Juna sambil duduk di sampingnya.

"Kamu serius? Bukannya dia masih mengira kamu satpam?"

"Makanya aku mau jujur hari ini, sekalian melamar."

"Juna, kamu yakin? Juminten itu orangnya..." Sutarno menggantung kalimatnya.

"Orangnya apa?"

Sutarno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sudahlah. Semoga lancar!"

Juna menepuk tas pinggang kulit sintetisnya. Di dalam sana tersimpan uang hasil kerja kerasnya selama tiga bulan. Cukup untuk membeli cincin emas satu setengah gram di toko emas depan pasar sebagai pembuktian keseriusannya.

Sore hari setelah Juragan Bedjo membagikan upah, Juna berjalan menuju toko emas.

Di toko itu Juna memilih cincin emas dengan harga yang pas di kantongnya. Penjaga toko membungkusnya dalam kotak merah beludru kecil. Juna tersenyum puas memandangi kotak itu.

Baru selangkah keluar dari toko, matanya menangkap sosok kakek tua duduk di trotoar. Di hadapannya tergelar kain lusuh berisi beberapa cincin dan keris berkarat. Penampilannya kumal, seperti gembel. Juna memperhatikan kakek itu memegangi perutnya yang berbunyi.

"Kakek belum makan?" tanya Juna menghampiri.

Kakek itu mendongak. Matanya tajam menusuk. "Belum ada yang laku, gimana mau makan"

Tanpa banyak bicara, Juna berlari ke warung terdekat dan membeli sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng. Ia kembali dan menyodorkannya pada si kakek.

"Ini, Kek. Dimakan dulu!"

Reaksi yang Juna terima jauh dari ekspektasi. Kakek itu berdiri, tubuhnya yang tadi tampak ringkih mendadak tegap.

"Kamu pikir aku pengemis, hah?!" bentaknya. "Aku ini Ki Suryo! Keturunan ningrat! Bukan gelandangan yang butuh belas kasihanmu!"

Juna bengong. "Ma-maaf, Kek. Aku kira Kakek lapar..."

"Lapar bukan berarti miskin! Aku sedang berpuasa mutih, tahu!" Ki Suryo berkacak pinggang. "Tapi karena kamu sudah terlanjur beli, aku tidak bisa menolak rezeki. Sebagai gantinya, ambil satu cincin dari sini!"

Juna memandang deretan cincin di kain lusuh itu. Sebagian besar sudah berkarat dan kusam. "Nggak usah, Kek. Anggap saja sedekah!"

"Sedekah katamu?!" Ki Suryo melotot. "Aku bukan penerima sedekah! Cepat ambil satu atau aku kutuk kamu jadi kodok!"

Demi menghindari keributan, Juna berjongkok dan mengambil asal sebuah cincin dengan batu berwarna merah. Belum sempat ia berdiri, tangan keriput Ki Suryo mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

"Kamu tahu apa yang kamu ambil?"

Juna menelan ludah. "Kalau kemahalan, Juna kembalikan saja, Kek."

Ki Suryo melepaskan cengkeramannya. Tawa serak keluar dari mulutnya. "Nggak perlu! Cincin Pesona Delima sudah memilihmu. Dia akan menjadikanmu pria sukses di masa depan."

"Kalau benar bisa bikin sukses, kenapa Kakek nggak pakai sendiri?"

Wajah Ki Suryo berubah masam. "Dasar miskin! Sudah sana pergi! Aku malas bicara dengan orang bodoh!"

Juna tidak perlu disuruh dua kali. Ia memasukkan cincin pesona delima ke dalam tas pinggangnya dan bergegas pergi meninggalkan kakek sinting itu.

Tujuan utamanya hari ini bukan berdebat dengan orang gila, melainkan melamar Juminten.

***

Salon Cantik terletak di pinggir jalan utama kampung Cipta Asih.

Juna merapikan rambutnya sebelum membuka pintu kaca salon.

Akan tetapi pemandangan di dalam membuat jantungnya berhenti berdetak selama tiga detik.

Juminten kekasihnya sedang duduk di pangkuan seorang pria botak berperut buncit. Wawan, juragan ayam terkaya di kampung, yang sudah punya empat istri tapi masih hobi menggaet perempuan muda.

"Juminten?!"

Juminten mendorong Wawan dan berdiri. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Oh, kamu. Mau apa ke sini?"

"Mau apa?! Aku yang harusnya tanya kamu sedang apa dengan laki-laki itu!"

Pak Wawan tertawa mengejek. "Kamu tuh ngapain ngejar-ngejar cewek sekelas Juminten? Kamu kan cuma kuli panggul beras!"

"Itu bukan urusanmu!" bentak Juna dengan wajah merah padam. "Pergi dan jangan ganggu Juminten lagi!"

"Kamu yang harusnya pergi, Juna!" Suara Juminten meninggi. "Ngakunya satpam di Bank Daerah, taunya kuli panggul dekil! Kalau nggak dikasih tahu Mas Wawan, mana aku tahu dibodohin selama ini!"

"Aku memang berniat jujur hari ini!" Juna mengeluarkan kotak beludru merah dari sakunya. "Aku mau melamarmu, Jum. Menikahlah denganku!"

Juminten membuka kotak itu, mengeluarkan cincin emas satu setengah gram, lalu meletakkannya di telapak tangan. Dengan satu tiupan, cincin itu melayang jatuh ke lantai keramik.

 "Apaan nih? Enteng banget kayak kapas!"

Juminten tertawa mengejek. "Ambil cincinmu dan pergi dari sini! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"

Juna memungut cincinnya dengan tangan gemetar, hatinya sakit bukan main. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.

Di depan salon, ia bertemu sosok perempuan bertubuh ramping bersandar di sepeda motornya. Kartika, sahabatnya sejak SMP, dengan rambut pendek dan senyum jahilnya yang khas.

"Wah, wajahmu kusut sekali, Juna. Kalah main lotre?"

Juna menghela napas. "Aku diputusin Juminten, Tik."

Kartika bukannya iba malah tertawa. "Makanya jangan ngadi-ngadi! Emang apa salahnya ngaku kuli panggul? Kerjaan halal kok. Juminten-mu aja yang nggak pernah bersyukur!"

Juna tidak menanggapi.

"Juna," Kartika memegang pundaknya. "Kamu udah banyak berkorban buat dia. Tahu nggak, selain Juminten, ada perempuan yang bener-bener sayang sama kamu, yang nerima kamu apa adanya."

"Aku pulang dulu, Tika." Juna balik badan dan berlalu meninggalkan Kartika.

*Seandainya kamu tahu, akulah perempuan itu, Juna!* Kartika menggigit bibir, menatap punggung Juna yang menjauh.

***

Rumah Juna terletak agak jauh dari pemukiman penduduk. Bangunan sederhana peninggalan almarhum ibunya. Di sanalah ia tinggal seorang diri selama tiga tahun terakhir.

Begitu sampai, Juna langsung masuk ke kamar mandi. Air dingin dari bak mandi disiramkannya ke seluruh tubuh.

Selesai mandi, Sutarno ternyata sudah duduk di teras rumahnya. Di tangannya ada bungkusan gorengan dan dua gelas kopi.

"Bagaimana lamarannya?" tanya Sutarno.

Juna duduk di sampingnya dan mengambil pisang goreng. "Diputusin, No!"

"Kok kamu nggak kelihatan sedih?"

"Sedih buat apa? Aku pernah ngalamin yang lebih menyedihkan dari ini," Juna menggigit pisang gorengnya. "Waktu aku nggak punya uang buat bawa Ibu ke rumah sakit untuk mengobati penyakit bronkitisnya. Itu baru menyakitkan."

"Makanya, No, soal Juminten ini bukan apa-apa." Juna tertawa lepas. "Dibanding kehilangan Ibu, putus sama Juminten cuma kayak kehilangan sandal jepit!"

Tarno ikut tertawa. "Bisa aja kamu!"

"Mulai besok, aku fokus kerja. Nabung. Jadi orang sukses!"

Tarno mengacungkan jempol. "Bener tuh! Semangatmu jangan kendor cuma karena perempuan macam Juminten!"

Setelah Sutarno pulang, Juna masuk ke dalam rumah. Matanya menangkap sesuatu yang aneh dari tas pinggangnya yang tergeletak di meja. Cahaya merah redup menyembul dari sana.

Dengan penasaran, Juna membuka tas itu dan mengeluarkan cincin pemberian Ki Suryo. Cahayanya langsung padam begitu menyentuh tangannya.

Ia mengamati cincin itu dengan seksama, memutar-mutarnya, bahkan mencoba menggigitnya. Tidak ada yang istimewa. Hanya cincin biasa dengan batu merah yang tampak murahan.

"Cincin sukses apanya?" Juna mencibir.

Tangannya sudah terayun untuk membuang cincin itu ke luar jendela, tapi gerakannya terhenti. Bagaimanapun juga, ini pemberian orang. Tidak sopan membuangnya begitu saja.

Dengan setengah hati, Juna menyematkan cincin itu di jari manisnya, lalu merebahkan diri di kasur tipisnya. Matanya terpejam, kelelahan segera menyeretnya ke alam mimpi.

Tanpa Juna sadari, cincin di jarinya melekat kuat dan mulai bercahaya. Pelan-pelan, cahayanya semakin terang hingga melingkupi seluruh tubuh pemuda itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca