

Hujan turun dengan curah yang mengerikan, menciptakan tirai air yang membatasi jarak pandang hanya sejauh dua meter. Di depan sebuah bangunan tua semi-permanen , Marwan ( 24 tahun) berdiri dengan napas tersengal. Tubuhnya yang kurus dibalut kaos oblong kumal yang sudah basah kuyup, menempel erat di kulitnya yang kecokelatan.
Di sampingnya, sebuah motor bebek tua keluaran tahun sembilan puluhan tampak seperti rongsokan yang ingin berteriak , jangan paksa lagi bekerja. Marwan berkali-kali mengayunkan kakinya, menghentak engkol dengan sekuat tenaga.
"Ayo, Mbah... jangan mogok, " bisik Marwan pelan, memohon pada mesin tua itu.
Mesin motor Marwan hanya terbatuk, mengeluarkan asap tipis yang langsung hilang disapu air hujan, lalu mati total.
"Sial!!''Marwan menyeka wajahnya yang basah kuyup terkena air hujan bercampur dengan keringat. Di belakang motornya, tiga galon air pesanan pelanggan sudah menanti untuk diantar.
Jika ia tidak berangkat sekarang, Narto, pemilik kios isi ulang tempatnya bekerja pasti akan mengamuk. Bisa jadi dirinya dipecat.
Dengan sisa harapan, ia mencoba sekali lagi. Hentakan kaki yang begitu kuat hingga otot betisnya menegang. Namun, hasilnya tetap nihil. Mesin itu tetap membisu.
Dengan embusan napas yang kasar, Marwan akhirnya menyerah. Ia tidak punya pilihan selain mendorong motor berat itu menuju rumah Pak Harun yang berjarak tiga gang dari tempatnya berteduh.
Marwan perlahan mendorong motornya dan menjaga keseimbangan agar tidak jatuh. Setelah melewati tanjakan dan genangan air mulai setinggi mata kaki, jarak rumah Pak Harun sudah dekat.
Marwan berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu kembali mendorong motornya.
Dari arah belakang, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap terus membunyikan klakson dengan berulang kali.
Suaranya memekakkan telinga di tengah deru hujan. Marwan berusaha menepi ke sisi jalan yang becek dan penuh lumpur, namun beban tiga galon air membuat keseimbangannya goyah. Marwan berusaha mendirikan motornya, setelah itu mengangkat kembali galon air, untungnya tidak pecah. Ia lalu mendorong motornya kembali menuju rumah Pak Harun.
Akhir Marwan sampai di depan rumah Pak Harun, Yeni yang bertugas sebagai ART di rumah itu tampak cemberut.
"Mas, kenapa lama sekali?"
"Maaf Yeni, motor saya mogok," jawab Marwan sambil menurunkan galon dari keranjang motornya.
"Maaf, maaf, kamu tahu tidak saya di marahi Bos gara-gara kamu. Kalau kerja yang benar dong!"umpat Yeni sambil menggeser galon masuk kedalam rumah.
Marwan hanya bisa meminta maaf, selanjutnya ia kembali harus mendorong motor sejauh dua kilo meter menuju kios.
Dengan sisa tenaga dan rasa lapar yang sudah sangat menyiksa, ia terus melangkahkan kakinya di bawah guyuran hujan deras.
Tiba di kios, Marwan sudah ditunggu oleh bosnya. Narto, pria bertubuh tambun dengan kumis melintang yang selalu tampak berminyak, sudah berdiri di depan dengan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam.
"Dari mana saja kamu, Marwan? Jam berapa ini? Pelanggan sudah telepon berkali-kali!" bentak Narto tanpa memberi kesempatan Marwan untuk bernapas.
"Maaf, Bos... motornya mogok tadi di jalan. Saya harus dorong..."
"Alasan! Kamu itu memang bisa beralasan! Mana ada motor mogok tiba-tiba, baru tiga hari yang lalu di service ?'"Narto merebut kunci motor dari tangan Marwan yang dingin. Ia mencoba menyalakan motor itu.
Hanya dalam sekali hentakan kaki Narto yang besar, mesin motor itu langsung menderu.
Breng... breng!
Narto menatap Marwan dengan tatapan seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Mogok katamu? Ini hidup! Kamu mau membohongi saya supaya bisa santai-santai, hah? Saya sudah dimaki orang!"
Marwan tertegun. Ia tidak mengerti mengapa motor itu mendadak hidup. "Tapi tadi benar-benar mati, Pak..."
"Sudah! Jangan banyak mulut! Sekarang juga antar ini ke rumah Bu Susanti di Komplek Permata. Dia sudah mengamuk dari tadi. Kalau sampai dia membatalkan langganan, gajimu saya potong!"
Marwan segera menaikan dua galon keatas motor. Badannya mulai menggigil, tapi ia tidak punya waktu untuk mengeringkan diri.
Rumah Susanti terletak di sebuah komplek menengah tidak terlalu jauh dari kios. Marwan kembali menerobos derasnya hujan.
Sekitar lima menit Marwan sudah sampai di rumah Susanti, yang besar bergaya minimalis. Ia disambut oleh seorang wanita cantik dengan daster sutra yang tampak mahal.
Begitu Marwan meletakkan galon di teras, Susanti langsung menutup hidungnya dengan tisu.
"Hey, kenapa lama sekali! Kamu tahu tidak, saya sudah telpon dari siang! Jam berapa ini?!" cecar wanita itu.
"Maaf, Bu... tadi hujan deras dan motor..."
"Halah! Alasan saja kamu! " potong Susanti.
"Kamu bau sekali! Sudah berapa hari tidak mandi! Jangan sampai bau badanmu itu meresap ke dalam air galon. Jijik saya lihat kamu. Cepat letakkan di sana dan langsung pergi! Jangan lama-lama di sini, nanti lantai saya kotor semua!" Susanti menyodorkan beberapa lembar uang, seraya menjauh dari Marwan.
Marwan meletakkan galon itu dengan tangan lemas. Tidak ada ucapan terima kasih. Susanti justru segera menyemprotkan pengharum ruangan ke arah tempat Marwan berdiri tadi sebelum membanting pintu dengan kuat.
Marwan menatap pintu yang tertutup rapat itu. Ia merasa bukan seperti manusia, melainkan seperti hama yang kehadirannya sangat menjijikkan.
Malam mulai merayap. Marwan kembali ke kios dengan perasaan hancur. Namun, ia harus bertahan.
Malam ini ada jadwal kuliah yang sangat penting. Ia sudah semester lima di sebuah universitas swasta, yang berada di seberang komplek Susanti. Ia mengambil kelas malam.
"Pak Bos," panggil Marwan hati-hati saat melihat majikannya sedang menghitung uang di meja kayu. "Boleh saya izin, malam ini ada kuliah di kampus."
Narto mendongak. Bukannya memberikan izin, ia justru tertawa mengejek. "Kuliah? Kamu itu kuli galon, miskin. Harus tahu diri, buat makan saja susah masih memikirkan kuliah."
"Ini untuk masa depan saya, Bos."
"Cuih, masa depan apa?!" Narto tiba-tiba berdiri, emosinya meledak. "Tadi kamu sudah terlambat, bikin pelanggan saya marah, sekarang mau kabur? Kamu pikir saya gaji kamu dari mana?"
"Saya mohon Bos, izinkan saya pergi!"
"Hah, terserahlah! Dan jangan harap kamu boleh bawa motor ke kampus!"
Marwan merangkak bangun, lalu berjalan menuju kamar mandi sempit di belakang kios. Ia mengganti kaos basahnya dengan kemeja satu-satunya yang ia bawa di dalam ransel lusuhnya. Saat keluar, ia mencoba memberanikan diri meminta meminjam motor lagi karena jarak kampus cukup jauh dan sekarang pasti sudah terlambat.
"Bos, tolong... sekali ini saja saya pinjam motornya. Saya janji akan langsung balik setelah ujian."
Sudrajat, seorang tetangga kios yang sedang duduk minum kopi bersama Narto, ikut menimpali sambil tertawa sinis.
"Sudahlah, Wan. Sadar diri. Kuli angkut air kok mau jadi sarjana. Orang kecil kayak kita ini, mikirnya yang pasti-pasti saja. Sudah, jalan kaki saja sana, biar sehat!"kekeh Sudrajat penuh cibiran kepada kuli angkut air itu.
Marwan tidak menghiraukan. Ia memanggul ransel yang sudah mulai kusam, lalu melangkah keluar dari kios. Pemuda itu memutuskan untuk berjalan kaki, mengambil jalan pintas melewati jalan kampung yang kini becek dan berlumpur.
Di tengah perjalanan, saat kakinya terperosok ke dalam lumpur sedalam mata kaki, ponsel tuanya bergetar di saku. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari Kaprodi kampusnya.
"Saudara Marwan, kami mengingatkan bahwa tunggakan SPP Anda sudah mencapai dua semester. Jika besok tidak dilunasi dengan berat hati Saudara dengan otomatis Drop Out (DO).Tidak ada kompensasi lagi."
DEG!
Marwan berhenti melangkah. Dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya hari itu. Padahal, minggu lalu ia baru saja menjual harta terakhir peninggalan kakeknya, sebuah sepeda ontel tua yang sangat ia sayangi. Namun, uang hasil penjualan itu ternyata hanya cukup untuk membayar tagihan listrik dan mencicil hutang di warung. Ia tidak punya apa-apa lagi sekarang.
Setelah mencuci sepatu di air tergenang, Ia terus berjalan dan tidak terasa sudah sampai di gerbang kampus dengan kondisi mengenaskan. Sepatu kainnya berubah warna menjadi cokelat, celananya basah di bagian bawah, dan kemejanya terkena percikan tanah. Penampilannya benar-benar kacau.
Saat ia masuk ke ruang kelas K 210 di lantai dua, semua mata tertuju padanya. Teman-teman sekelasnya yang sebagian besar adalah pekerja kantoran dengan pakaian rapi segera menjauhkan kursi mereka.
"Hai, bau apa ini?" ucap Vina, seorang mahasiswi sambil menutup hidung.
"Eh, lihat tuh si Marwan. Habis membajak sawah ya?" seloroh yang lain.
"Wan, mending keluar deh. Kotor semua tuh lantai kena sepatu kamu," teriak Fajar , merupakan sepupu Marwan juga kuliah di kampus itu.
Walaupun masih saudara, Fajar sering menghina Marwan saat berada di kampus dan tidak mengakuinya sebagai saudara.
"Iya, kamu keluar saja, Wan!" sahut Vina.
Sepanjang perkuliahan, ia tidak bisa fokus. Kata-kata Drop Out, mrnghatui pikirannya.
Kuliah berakhir pukul sepuluh malam. Marwan melangkah gontai menuju rumah peninggalan kakeknya, sebuah rumah petak kecil berdinding papan yang sudah lapuk.
Sementara perutnya benar-benar terasa melilit. Sejak pagi ia hanya makan sepotong roti sisa kemarin.
Ia mampir ke warung Bu Ida, tempat ia biasanya berhutang. Namun, saat ia mendekat, Bu Ida sudah menggelengkan kepala sebelum Marwan sempat bicara.
"Jangan ngutang lagi ya, Wan. Catatanmu sudah dua lembar. Suamiku sudah marah-marah," kata Bu Ida dengan nada ketus.
Marwan merogoh sakunya. Ia hanya menemukan uang lima ribu rupiah, satu-satunya harta yang ia miliki malam itu. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan uang itu.
"Beli mi instan satu saja, Bu. Hutangnya nanti saya cicil Bu,''
"Kamu jangan cuma janji-janji saja, Wan!"
Ia pulang dengan sebungkus mi instan di tangan. Sesampainya di rumah yang gelap karena lampu depan sudah mati, ia segera masuk menuju dapur kecilnya. Ia ingin sekali makan sesuatu yang hangat untuk mengusir dingin yang sudah merasuk ke tulangnya.
Setelah mi itu habis, ia meraih teko berisi air putih dan meminumnya sebanyak-banyaknya untuk menelan rasa perih dan memenuhi lambungnya yang kosong.
Marwan kemudian berjalan menuju amben kayu tempatnya tidur. Di bawah remang lampu lima watt. Tubuhnya terasa pegal, perutnya kembung karena air, namun semangat Marwan untuk melanjutkan pendidikan dan merubah nasib begitu kuat.
Hawa dingin, semakin menyiksa Marwan bangkit dan berjalan menuju kamar kakeknya untuk mencari selembar kain untuk selimut.
Marwan membuka lemari tua milik mendiang kakeknya, ia mengobrak abrik isi lemari mencari kain yang bisa dijadikan selimut.
"Untung ada sarung ini"
Saat menarik sarung berwarna merah itu, mata Marwan menangkap sebuah bungkusan putih.
"Apa ini?" Marwan meraihnya dan segera membuka. Di dalam bungkusan itu ada kertas putih dan sebuah kalung perak.
Di kertas itu ada tulisan tangan berbunyi: Marwan Kakek yakin satu hari nanti kamu akan menemukan kalung perak ini, pakailah. Kalung ini adalah warisan suci leluhur kita, setelah memakainya kamu akan mendapat keberuntungan, cucuku.
"Keberuntungan?"
Tanpa berpikir panjang Marwan mengenakan kalung itu.
"Wan!, Marwan!" terdengar suara memanggil Marwan dari luar.
"Iya, sebentar." Marwan berjalan menuju pintu.
"Pak RT, ada apa malam-malam datang ke sini?"
"Wan, ini ada nasi buat kamu. Tadi saya ikut acara di rumah Pak Nana, saya dapat dua bok," ucap Pak RT menyodorkan satu kresek berisi nasi kotak.
Marwan menerimanya, "Terima kasih, Pak, masuk dulu nanti saya buatkan kopi,"
"Terimakasih , saya mau pulang cepat. Sebentar lagi akan menonton liga Italia. Wan, menurut kamu Lazio lawan Juventus, tim mana yang menang?"
"Juventus, Pak RT,"
"Kamu yakin Wan, soalnya saya lagi taruhan dengan juragan Heri?" Pak RT membuka layar ponselnya.
"Iya, yakin, Pak," jawab Marwan yakin.
"Baik , kalau begitu saya pulang dulu ya, Wan. Nasinya jangan lupa dimakan ya." Pak RT bergegas pergi meninggalkan rumah Marwan.
"Kalau kamu belum mau tidur nanti datang saja ke rumah saya, nanti kita nobar seperti biasa," sambung Pak RT.
"Terimakasih, Pak RT, hari ini saya lelah sekali mau langsung istirahat saja,"
"Iya sudah kamu istirahat saja." Pak RT bergegas meninggalkan rumah Marwan.
Sementara itu Marwan masuk, ia segera membuka kotak berisi nasi dan memakannya. Ia sangat bersyukur, akhirnya malam ini bisa makan nasi juga.
Kini lambungnya tidak sesak oleh air lagi, Marwan bisa tidur dengan nyenyak tanpa menahan lapar.