Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tangan Ajaib Sang Penakluk

Tangan Ajaib Sang Penakluk

Chris Jun | Bersambung
Jumlah kata
71.1K
Popular
4.8K
Subscribe
660
Novel / Tangan Ajaib Sang Penakluk
Tangan Ajaib Sang Penakluk

Tangan Ajaib Sang Penakluk

Chris Jun| Bersambung
Jumlah Kata
71.1K
Popular
4.8K
Subscribe
660
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinHaremSupernatural
Warning 21+ ...! Sebuah bola misterius membuat Indra bisa melakukan apa saja dengan tangannya. Hidup Indra pun berubah drastis, dari si pecundang jadi si pemenang, dari orang yang semula dipandang rendah jadi sang penakluk. Indra menjadi kaya-raya, dihormati, dan digilai wanita-wanita cantik dan seksi di desanya!
1 - Bola Misterius di Ladang

Di Desa Sumber Kencana ....

Indra, pengangguran berusia dua puluh tahun, sibuk menyiapkan sebuah baskom di dapur yang temboknya terbuat dari anyaman bambu.

Di sudut dapur, di atas sebuah tungku tua yang menyala, terlihat dandang yang terisi penuh oleh umbi-umbian. Kepulan asap meninggi dari umbi yang dikukus. Aroma harum khas umbi matang kini terendus.

"Moga aja kali ini Rina sudi menerima," gumam Indra, mengeluarkan umbi-umbian yang terdiri dari ketela dan singkong itu dari dalam dandang.

"Peduli setan aku sama makan malamku sendiri nanti. Semua ini buat Rina. Siapa tahu, kali ini, dia mau kuajak kencan!"

Indra dengan penuh semangat memindah-mindahkan umbi-umbian itu ke baskom sembari membayangkan wajah Rina yang cantik dan tubuhnya yang bahenol.

Setelah mandi dan mengenakan baju paling bersih yang dia punya, Indra berangkat ke rumah Rina. Setibanya di rumah Rina, dilihatnya gadis pujaannya itu sedang duduk di teras.

Setelah mengatur napas dan menelan ludahnya sendiri, Indra mendekat.

"Hai, Rina. Apa kabar?" sapa Indra.

Rina cuma melengos sesaat, melirik Indra dengan ketus. Ia tak membalas sapaan itu. Seolah menganggap pemuda miskin di hadapannya cuma angin kentut.

"Rina, nih aku bawain ketela sama singkong kukus. Coba, deh. Aku jamin kamu pasti suka," bujuk Indra seraya kian mendekat lagi.

Di titik ini jarak mereka hanya selangkah saja. Itu membikin jantung Indra terpacu tak keruan. Butiran keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di jidatnya. Apalagi Rina cuma memakai baju yang menonjolkan belahan dadanya.

Rina memasang raut kesal. "Pergi sana! Aku enggak mau makananmu!" katanya kasar.

"Ta-tapi, Rina ... umbi-umbian ini yang paling bagus loh. Jarang banget di ladangku hasilnya begini. Kamu cobain dulu, deh," bujuk Indra lagi dengan wajah memelas bagai pengemis.

"Kamu tahu arti kata 'enggak', hah?! Sana! Pergi!"

"Rin ... aku cuma mau ... ajakin kamu kencan."

"Apa?! Heh, enggak salah dengar aku?! Mau ajakin aku kencan?! Ngaca!"

Tanpa ampun, Rina berdiri dan merampas baskom berisi ketela dan singkong kukus itu, dan dengan geram ia lempar baskomnya ke wajah Indra.

Duak!

Indra terdiam mematung. Singkong dan ketela kukus yang ia persiapkan untuk RIna itu kini berceceran di tanah yang becek!

"Makanan beginian cuma pantas diberi ke pengemis atau gelandangan!" sembur Rina dengan mata menyorot jijik. "Lain kali ngaca! Kamu tuh miskin, enggak selevel sama aku!"

"Rin, aku ... aku ...."

"Sudah, deh! Mending berhenti cari-cari perhatian sama aku! Soalnya aku sudah terima pinangan anak perangkat desa!"

"A-apa?"

"Pergi sana! Orang miskin enggak usah banyak gaya!"

Lontaran kata-kata tajam dari Rina itu benar-benar telak menonjok hati Indra. 

Dia memang miskin. Tinggal seorang diri dan menganggur, Indra bergantung pada ladang di pekarangan rumahnya untuk memenuhi kebutuhan pangannya–itu pun sering kali tak cukup.

Dan dalam situasi sulitnya itu dia memaksakan diri untuk memberikan umbi-umbian terbaiknya ke Rina sebagai hadiah. Tapi malah ini yang dia terima.

Rina menatapnya seperti menatap sampah. Dia ingin sekali mengatakan sesuatu, tapi hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat.

Akhirnya Indra pun balik badan dan pergi. Langkah-langkahnya cepat.

Sesampai di rumahnya, Indra langsung meluncur ke ladang. Di sana ia duduk, menenangkan diri.

'Siapa juga yang mau jadi miskin! Tapi, memang beginilah nasibku! Cuma rumah kumuh dan ladang yang kecil ini peninggalan Bapak dan Ibu!' keluhnya.

Indra menunduk. Dia teringat bapaknya yang meninggal lima tahun lalu karena kanker. Dia juga teringat ibunya yang hingga kini tak jelas kabarnya. 

Beberapa tahun, sama seperti banyak wanita lainnya di desa ini, ibunya itu pergi ke Arab Saudi menjadi TKW. Sempat ibunya itu mengirim uang, namun pada akhirnya kiriman itu berhenti begitu saja. Tanpa penjelasan apa pun.

'Huft… begini banget nasibku,' keluh Indra lagi, menunduk lebih rendah.

Brum!

Brum!

Brum!

Tiba-tiba, dari arah jalan desa, terdengar deru mesin motor yang khas.

Indra sontak menoleh. Itu motor Nirmala, teman masa kecilnya, anak seorang saudagar di kampung ini.

Indra menghela napas, menghalau lamunannya saat gadis itu turun dari motor dan mendekatinya.

"Indra, nih aku bawain makanan," kata Nirmala seraya menyodorkan setumpuk rantang.

"Waduh, Nir. Kamu sering banget bawain makanan buatku begini. Jadi merepotkan."

Indra menerima rantang itu. Terhirup aroma masakan yang lezat dari celah rantangnya.

"Enggak apa-apa, lah. Lagian aku senang motoran ke sini." Nirmala tersenyum hangat.

Tak terhitung sudah Nirmala ke sini dengan tiba-tiba cuma buat membawakan makanan. Indra sampai merasa sungkan sendiri.

Namun, di sisi lain, Indra juga tak bisa menolak itu. Kebutuhan makan sehari-hari sering tak bisa terpenuhi bila sekadar menggantungkan ke ladang.

Nirmala duduk bersila di samping Indra yang kembali tertunduk lesu. Mereka menghadap ke ladang selagi sorot cahaya terik siang bolong merayapi daun-daun di ladang.

"Kamu ngapain, sih? Kok kayak sedih banget gitu?" tanya Nirmala dengan senyum yang tak pudar dari wajah manisnya.

"Oh? Enggak apa-apa, kok, Nir," sahut Indra seraya terkekeh pilu. "Tadi aku barusan dari rumahnya Rina. Maksudku, mau ngasih umbi-umbian favoritku."

"Lalu?"

"Yah, dia lempar semua itu ke tanah. Padahal ... kukira, dia mau kuajak kencan setelahnya," jelas Indra dengan murung seraya memungut sebutir kerikil dari atas tanah, lalu ia lempar kerikil itu dengan lesu ke arah ladangnya.

"Oh, gitu." Nirmala cuma ber-oh pelan sambil sedikit menunduk menatap umbi-umbian yang belum saatnya dipanen.

Sesungguhnya, diam-diam gadis ini sedari lama sudah naksir Indra. Hanya saja si pemuda tidak pernah menyadari.

Dengan suara riang yang tulus, Nirmala kembali berujar, "Hei, gimana kalau kita motoran? Jalan-jalan keliling ke kampung sebelah? Biar kamu enggak sedih lagi, Indra!"

"Hmm? Enggak, deh. Aku mau di sini saja, Nir," kata Indra tampak tak tertarik. Wajahnya masih murung.

Nirmala terlihat kecewa, tapi ia sembunyikan dengan rapat perasaan itu. "Begitu, ya."

Untuk beberapa saat keduanya sama-sama diam. Akhirnya Nirmala kembali berdiri.

"Sudah jam segini, nih. Aku balik, ya?" kata gadis itu, dengan senyuman hangat yang tak surut.

"Ya, Nir. Makasih makanannya. Aku sungguh ngerepotin."

"Enggak apa, lah. Hehehe."

Nirmala menunggangi lagi motor itu, melaju menjauh meninggalkan Indra.

"Ah, daripada bengong enggak jelas," gumam Indra sambil berdiri, "mending kugali lagi tanah. Besok mau kutanami sesuatu di situ!"

Indra lekas mengambil cangkul. Ia pun menggali seperti biasa. Secangkul, dua cangkul, tiga cangkul ... semula Indra tak menemukan sesuatu yang aneh.

Namun, di cangkulan yang keempat, ujung benda tajam itu menyentuh sesuatu yang keras di dalam tanah.

Duk!

"Heh, apaan itu?"

Indra berjongok seraya menaruh cangkulnya. Ia menundukkan kepala ke bawah sambil memicingkan mata.

"Ada bola? Kok bisa ada bola di dalam tanah ladangku?" gumam Indra.

Yang mengherankan lagi adalah, bola itu berwarna putih terang dan sangat bersih, sekalipun tanah ladang sedikit basah.

Indra pun dengan hati-hati menggali sisa tanah yang melingkupi bola misterius itu. Lalu, setelah semua tanah tersingkir, ia angkat bola itu dengan penuh rasa heran.

"Ini ... bola apa, ya? Mulus banget, putih bersih lagi!"

Indra dengan rasa heran dan penasaran yang semakin meningkat, berdiri untuk memeriksa bola itu lebih jelas. Ia pun mengangkat bola tersebut ke udara dengan tujuan menyinarinya dengan cahaya siang.

Hanya saja, tiba-tiba, begitu bola misterius itu diangkat ke atas tinggi-tinggi, bola tersebut pecah!

Duar!

Air panas dari dalam bola keluar, menyembur, mengalir ke kedua tangan Indra! Sontak ia berteriak kesakitan.

"Aarrrgh!"

Indra membungkuk, jatuh tersimpuh di tanah, memegangi kedua tangannya yang seperti dibakar!

Akan tetapi, sakit itu sekejap saja lenyap ....

"Apa-apaan ini?! Bola macam apa tadi!"

Belum sempat terpikirkan apa pun, tiba-tiba Indra melihat kedua telapak tangannya bercahaya!

"Hah?! Apa lagi ini?! Ke-kenapa dengan tanganku?!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca