

Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat Jakarta saat Jagad memacu motor bebek tuanya membelah kemacetan. Wajahnya kusam karena kebanyakan kena asap knalpot kendaraan service di bengkel, tapi dia tetap terlihat bahagia.
Sesekali tangannya meraba saku jaket parasut yang warnanya agak luntur. Di sana, ada sebuah kotak beludru merah kecil yang ia anggap puncak kesuksesannya sebagai pacar seorang wanita.
"Setahun. Akhirnya kebeli juga," gumamnya pelan sambil tersenyum lebar.
Di dalam kotak itu ada cincin emas murni seberat 2 gram. Harganya sekitar lima juta rupiah. Bagi orang kaya, uang segitu mungkin cuma buat makan siang sekali. Tapi bagi Jagad yang cuma montir bengkel, benda tersebut adalah hasil peras keringat dan ngirit makan tiap hari. Perbanyak mie instran dan nasi kucing.
Hari ini ulang tahun Siska, pacarnya yang paling cantik. Jagad ingin momen ini jadi lamaran tak resmi buat hubungan mereka.
Motor bututnya berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai yang catnya sudah mulai mengelupas. Itu adalah kost Siska di daerah pemukiman padat. Kost yang terkenal bebas, campur laki-laki dan perempuan tanpa penjagaan ketat. Jagad sudah biasa ke sana, jadi dia langsung saja melangkah masuk tanpa perlu lapor siapa pun.
Langkah kakinya terdengar menggema di lorong lantai dua yang sepi. Kamar Siska ada di paling pojok, area yang paling tenang sekaligus paling tertutup. Namun, semakin ia mendekat, ada suara yang membuat langkahnya melambat.
“Uuuh! Aduuh! Uh …! Aauuuhhh!”
Lalu ada suara ranjang berdecit seakan sedang dihentak dari atasnya. Krieeett … krieeett.
"Nggak mungkin, aku cuman mikir jelek saja!" bisiknya mencoba menenangkan diri sendiri, melawan pikiran mengerikan dalam hati.
Tapi suara itu semakin jelas. Suara desahan wanita yang sangat ia kenal, suara yang biasanya terdengar manja di telepon, kini terdengar sangat liar dan penuh gairah.
"Aduh, Vin ... lebih cepat, aduh terusin ... iiihhh ...."
Jagad merasa dunia kiamat seketika. Tangannya gemetar hebat saat memegang gagang pintu. Ia mencoba membukanya pelan, tapi ternyata dikunci dari dalam. Amarah yang meledak mendadak menutupi akal sehatnya.
GUBRAAAAAK!
Dengan satu tendangan maut, montir kurus itu menghantam pintu kayu sampai engselnya jebol dan terbuka lebar. Sempat kaget sendiri dengan kekuatannya tapi Jagad pikir memang pintu Siska sudah reyot saja sehingga gampang dijebol.
Pemandangan di dalam kamar benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan Jagad. Di atas ranjang berantakan itu, Siska sedang dalam posisi menungging tanpa sehelai benang pun. Dua bola kenyal bergelantungan bebas di udara seiring hentakan dari belakang menghunjam kuat.
Di belakang kekasihnya, seorang pria bertubuh atletis sedang melakukan gerakan keluar masuk dengan brutal. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kejantanan pria itu masuk sepenuhnya ke dalam lorong Siska yang seharusnya hanya milik Jagad.
"Bajingan!" teriak Jagad dengan suara menggelegar.
Siska dan Kevin tersentak kaget bukan main. Mereka berdua langsung meloncat dari ranjang.
Kalau Siska buru-buru menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih berkeringat, Kevin justru sok tenang dan segera memakai boxer serta celana jeans-nya.
"Jagad? Kamu ngapain di sini!" jerit Siska dengan wajah merah entah malu atau marah. “Kurang ajar kamu masuk nggak permisi!”
"Ngapain aku di sini? Aku mau kasih ini, Sis! Tapi ternyata aku malah lihat kamu jadi pelacur buat orang ini!" Jagad melempar kotak cincinnya ke lantai sampai isinya menggelinding ke arah kaki Siska.
Kevin yang sudah memakai celana tiba-tiba tertawa meremehkan. "Oh, jadi ini pacar montir yang sering kamu ceritakan itu, Sis? Tampangnya emang lebih mirip gembel daripada manusia."
Melihat cincin tipis yang Jagad banggakan, tawa Kevin makin nyaring. “Ah elaaah! Cincin begini kamu banggain? Aku tadi kasih Siska cincin berlian harga 25 juta! Cincinmu harga berapa?”
“Orang miskin gembel cuman montir nggak usah banyak gaya! Minta maaf sekarang!”
"Jaga mulutmu, Brengsek!" Jagad merangsek maju mau menghajar Kevin.
Sayangnya ….
Laki-laki kaya itu ternyata juga jago bela diri. Sebelum pukulan Jagad sampai, Kevin sudah melayangkan pukulan keras lebih dulu ke rahangnya.
GEDEBUG! GEDEBUG!
Jagad tersungkur ke lantai. Belum sempat ia bangun, Kevin menendang perutnya berkali-kali tanpa ampun. Darah mulai mengucur dari hidung dan mulut Jagad.
"Kamu pikir kamu siapa, hah?" maki Kevin sambil menginjak dada lawannya. "Kamu itu cuma sampah bengkel. Beraninya datang ke sini dan rusak suasana ulang tahun Siska!"
Kevin kemudian menginjak tangan Jagad hingga lecet berdarah. Terakhir dia kembali tendangi perut Jagad dan tulang kering sampai terasa sakit sekali.
Detik berikutnya Jagad tergeletak di atas lantai dengan napas ngos-ngosan, wajah babak belur, tangan luka, dan hati remuk redam.
Tawa Siska terdengar nyelekit di telinga Jagad. “Aku bilang juga apa? Dia ini sok keren banget emang! Padahal cuma montir gaji di bawah UMR! Sampah miskin!”
Siska menatap Jagad dengan tatapan yang sangat hina. "Dengar ya! Aku sudah bosan hidup miskin sama kamu!”
“Makan warteg, naik motor butut, kepanasan, kehujanan. Kevin bisa kasih aku apartemen, tas mewah, dan kehidupan yang kamu nggak akan pernah bisa kasih sampai tujuh turunan pun!"
"Tapi aku cinta sama kamu! Sis ... aku nabung setahun buat cincin itu!” Suara Jagad retak. Dia bicara sambil meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Cinta? Cinta nggak bisa buat bayar perawatan wajah aku! Cinta nggak bisa buat aku nongkrong di Starbock! Makan tuh cinta! Makanya jadi laki jangan miskin!”
“CUIH!”
Dengan teganya Siska meludah ke wajah mantan kekasihnya, kemudian langsung diusap oleh telapak tangan Jagad.
“Kita putus sekarang juga! Pergi kamu dari sini! Aku nggak sudi kenal sama montir miskin seperti kamu lagi! Bawa dia pergi dari sini, Vin!"
Kevin menyeret tubuh Jagad yang sudah babak belur keluar dari kamar. Ia menarik kerah baju Jagad dan melemparnya ke lorong kost seolah-olah Jagad adalah seonggok barang bekas tidak berguna.
"Jangan pernah berani muncul lagi, atau aku pastikan tangan kamu nggak bakal bisa buka baut sepeda motor lagi seumur hidup!" ancam Kevin sebelum membanting pintu kamar Siska.
Jagad tergeletak di lorong, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Dengan tertatih, ia berjalan keluar dari kostan itu. Tulang keringnya sakit, jalan terpincang sambil menunduk dan menahan malu.
Apes banget jadi Jagad hari ini.
Di luar hujan turun sangat deras. Dia menaiki motor dengan pandangan yang kabur karena darah dan air mata.
Bayangan Jagad melayang pada sekian tahun ke belakang. Dia anak yatim piatu. Dari kecil sampai SMA ditampung omnya yang sekarang sudah meninggal.
Jagad tidak pernah tahu siapa orang tuanya, hanya tahu omnya saja sebagai keluarga satu-satunya.
Kesialan belum berhenti, baru pergi beberapa kilometer, jalanan di depannya sudah terendam banjir setinggi betis orang dewasa. Motor bebek tuanya sontak terbatuk-batuk, mengeluarkan asap putih, lalu … mati total.
“Bajingaaaan!” desisnya menggeleng kesal setengah mati.
Ia terpaksa turun dan mendorong motor butut di tengah guyuran hujan lebat. Kaki dan tangannya perih kena hujan plus air banjir. Dengan pasrah terus mendorong motor itu sejauh lima kilometer sampai ke kostannya yang sempit dan pengap.
Sampai di kamar kost, Jagad langsung melepas pakaiannya yang basah kuyup. Ia tidak sanggup mandi, ia hanya menyeka darah di wajahnya dengan handuk dekil. Saat ia baru saja merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur tipis, mendadak ada suara ketukan di pintunya.
Tok! Tok! Tok!
Jagad mengerang kesal. "Siapa sih? Sudah malam juga ngeganggu aja!"
Ia bangkit dan membuka pintu. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya bergaya sangat rapi, mengenakan kemeja batik sutra terlihat sangat mahal. Di belakangnya ada dua orang berbadan besar seperti bodyguard.
"Selamat malam, Jagad Raya," ucap pria itu dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa, memanggil dengan nama lengkap.
Jagad mengerutkan kening, mencoba mengenali siapa orang ini. “Kok tahu namaku? Kamu siapa? Saya nggak punya hutang ke siapa pun lho ya! Kamu nggak nagih hutang kan?” desisnya masih bingung dan resah.
Pria itu tersenyum tipis. "Namaku Wijaya. Aku utusan dari keluarga Atmadja. Kami sudah mencari kamu sejak lama.”
“Kami membutuhkan bantuanmu, dan akan ada imbalan satu miliar rupiah kalau kamu bersedia."