Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Kekayaan Nusantara

Sistem Kekayaan Nusantara

Nexus | Bersambung
Jumlah kata
70.5K
Popular
100
Subscribe
36
Novel / Sistem Kekayaan Nusantara
Sistem Kekayaan Nusantara

Sistem Kekayaan Nusantara

Nexus| Bersambung
Jumlah Kata
70.5K
Popular
100
Subscribe
36
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMengubah NasibSistemZero To Hero
Bayu Sulistiawan adalah pemuda 19 tahun dari desa kecil Karangjati. Sejak kecil, hidupnya tidak pernah lepas dari kemiskinan. Ayahnya meninggal karena kelelahan bekerja, ibunya menjadi buruh cuci, dan Bayu tumbuh dengan mimpi-mimpi yang perlahan mati karena realitas. Meski cerdas dan rajin, Bayu gagal melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Setelah lulus SMA, ia menjadi pengangguran yang setiap hari berkeliling melamar pekerjaan, hanya untuk terus ditolak. Di usia yang seharusnya menjadi awal masa depan, Bayu justru merasa hidupnya buntu dan tak berguna. Pada suatu malam hujan, di saat Bayu hampir menyerah pada hidupnya sendiri, takdir bergerak. Sebuah sistem misterius bernama Sistem Kekayaan Nusantara pun terbangun dalam dirinya. Sistem tersebut memberinya misi untuk membangun kekayaan melalui potensi Indonesia—mulai dari usaha kecil di desa, bisnis lokal, hingga investasi besar di kota. Setiap keberhasilan akan membuka peluang baru, kekayaan baru, dan juga mempertemukannya dengan berbagai wanita yang kehidupannya ikut berubah karena Bayu. Dari pemuda miskin tanpa masa depan, Bayu perlahan bangkit menjadi sosok pengusaha muda yang berpengaruh. Namun semakin tinggi ia melangkah, semakin besar pula ujian yang harus dihadapi: persaingan bisnis, konflik kekuasaan, masa lalu yang menghantuinya, dan perasaan rumit di antara para wanita yang mencintainya. Ini adalah kisah tentang kemiskinan, kesempatan, cinta, dan kekayaan—tentang seorang anak desa yang mencoba menaklukkan nasibnya sendiri dan membangun kejayaan di tanah Nusantara.
Bab 1. Anak Lereng Merapi

Kabut turun pelan di Desa Kaliadem.

Tidak seperti kabut dalam film-film romantis yang tampak indah dan menenangkan, kabut di desa ini justru terasa berat, dingin, dan membawa bau belerang yang samar tapi menusuk. Setiap sore menjelang malam, kabut selalu datang dari arah Gunung Merapi, menyelimuti rumah-rumah kayu dan seng tua yang berdiri rapat di lerengnya, seolah ingin menelan seluruh desa kembali ke dalam perut gunung.

Bagi orang luar, Kaliadem mungkin hanya titik kecil di peta. Desa miskin yang terkenal karena satu hal: berada terlalu dekat dengan Merapi, gunung yang bisa meledak kapan saja.

Bagi Bayu Sulistiawan, Kaliadem adalah seluruh dunianya.

Ia duduk di teras rumah, mengenakan seragam SMA yang warnanya sudah tidak lagi putih, melainkan abu-abu kekuningan. Kancing bajunya sudah mulai longgar, beberapa bagian kain menipis karena terlalu sering dicuci. Sepatu hitamnya tergeletak di samping, solnya sudah menganga, direkatkan berkali-kali dengan lem murahan.

Di pangkuannya, selembar kertas terlipat rapi.

Ijazah kelulusan.

Kertas yang selama dua belas tahun ia kejar dengan susah payah.

Kertas yang dulu ia bayangkan sebagai pintu menuju hidup yang lebih baik.

Namun sekarang, kertas itu terasa lebih seperti pengingat pahit bahwa hidup tidak selalu berubah hanya karena seseorang rajin dan berprestasi.

Bayu menatap kosong ke arah jalan desa yang sepi.

Tidak ada kendaraan. Tidak ada lampu terang. Hanya suara jangkrik dan sesekali batuk berat dari dalam rumah.

Batuk ayahnya.

Suara itu sudah menjadi bagian dari hidup Bayu sejak ia SMP. Batuk kering, dalam, seolah paru-paru itu sendiri sedang terkoyak dari dalam.

Ayahnya, Pak Surono, dulunya adalah relawan evakuasi saat erupsi besar Merapi lebih dari sepuluh tahun lalu. Ia membantu warga keluar dari zona bahaya, bolak-balik mengangkut orang, hewan, dan barang seadanya. Saat itu, semua orang memujinya sebagai pahlawan kecil desa.

Tapi tidak ada yang memikirkan akibat jangka panjang.

Debu vulkanik yang ia hirup selama berminggu-minggu merusak paru-parunya secara permanen. Sejak itu, ia tidak pernah benar-benar sembuh. Tidak bisa kerja berat. Tidak bisa jauh dari tabung oksigen kecil yang disewa dengan biaya bulanan.

Sekarang, di usia yang seharusnya masih produktif, ayah Bayu hanya bisa berbaring di kasur tipis di ruang tengah, menghabiskan hari dengan batuk dan menatap langit-langit rumah.

Bayu mengepalkan tangannya.

Ia benci suara batuk itu.

Bukan karena terganggu.

Tapi karena setiap batuk adalah pengingat bahwa ayahnya sakit karena berusaha menyelamatkan orang lain—dan keluarganya sendiri tidak pernah benar-benar diselamatkan oleh siapa pun.

“Ibu belum pulang?” tanya Bayu lirih.

Tidak ada jawaban.

Jam dinding tua di ruang tamu menunjukkan pukul enam sore. Seharusnya ibunya sudah pulang dari pasar satu jam lalu. Tapi akhir-akhir ini, ibunya sering pulang lebih malam.

Bukan karena dagangan laku.

Justru karena tidak laku.

Ibunya, Bu Sari, menjual sayur hasil beli dari pengepul. Kangkung, bayam, kol, cabai. Untungnya tipis. Kadang bahkan rugi. Tapi ia tetap pergi setiap hari, karena tidak ada pilihan lain.

Bayu berdiri, masuk ke dalam rumah. Lantai semen terasa dingin di telapak kakinya.

Ayahnya terbaring di kasur.

“Bayu…” suara ayahnya lemah. “Kamu belum ganti baju?”

Bayu tersenyum kecil. “Sebentar lagi, Yah.”

Ayahnya menatap wajah Bayu lama. Wajah yang mirip dengan dirinya waktu muda—kulit sawo matang, rahang tegas, mata tajam. Tapi tidak seperti dulu, mata itu sekarang lebih sering menyimpan kelelahan daripada harapan.

“Kamu… sudah cek pengumuman kampus?” tanya ayahnya pelan.

Bayu terdiam.

Tangannya mengencang di balik punggung.

“Iya, Yah.”

Ayahnya menelan ludah. “Lolos?”

Bayu tersenyum lagi. Tapi kali ini, senyumnya tidak sampai ke mata.

“Belum rezeki.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Tapi bagi Bayu, itu adalah kalimat terberat yang harus ia ucapkan hari itu.

Ayahnya memejamkan mata. Napasnya terdengar berat. Bayu tahu, ayahnya menyalahkan diri sendiri.

Selalu begitu. Merasa gagal sebagai kepala keluarga.

Merasa tidak mampu memberi masa depan yang layak bagi anaknya.

Padahal, kalau ada orang yang paling tidak pantas disalahkan di keluarga ini, itu justru ayahnya.

Bayu keluar lagi ke teras.

Ia mengeluarkan ponsel jadul dari saku. Layarnya retak di pojok kanan atas. Sinyal hanya satu bar.

Aplikasi yang terbuka masih menampilkan halaman dari universitas negeri yang ia impikan sejak SMA.

Tulisan merah itu masih ada.

Mohon maaf, Anda tidak lolos seleksi beasiswa KIP-K.

Bayu menatap layar itu lama.

Matanya panas.

Bukan karena ingin menangis.

Tapi karena ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari tangis.

Perasaan tidak berguna.

Di sekolah, Bayu selalu masuk tiga besar. Guru-gurunya sering memujinya.

“Bayu ini pintar, sayang ekonominya.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

Tapi bagi Bayu, itu seperti kutukan.

Seolah kepintaran tidak ada artinya jika lahir di keluarga miskin.

Seolah takdir sudah ditentukan sejak ia lahir di desa ini.

Ia mematikan ponsel.

Di kejauhan, siluet Gunung Merapi tampak samar di balik kabut. Gunung itu berdiri seperti raksasa diam yang mengawasi desa kecil di bawahnya. Indah, tapi juga mengerikan. Sumber kehidupan sekaligus sumber bencana.

Bayu menatapnya.

“Apa aku juga akan mati di sini, tanpa pernah benar-benar hidup?” gumamnya.

Angin malam berembus lebih kencang.

Dingin.

Menusuk sampai ke tulang.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Ibunya pulang.

Bu Sari berjalan pelan sambil mendorong gerobak kecil. Di dalamnya, masih banyak sayur yang tersisa.

Wajahnya tampak lelah, keriputnya semakin jelas di bawah cahaya lampu kuning redup.

“Bayu…” katanya sambil tersenyum tipis. “Kamu belum makan?”

Bayu langsung menghampiri. “Aku bantu, Bu.”

Mereka mendorong gerobak masuk ke halaman.

Bu Sari duduk di bangku kayu. Bahunya turun seolah semua beban dunia ada di sana.

“Dagangan sepi lagi?” tanya Bayu.

Ibunya tertawa kecil. “Pasar makin banyak pedagang. Pembeli makin sedikit.”

Bayu terdiam.

Di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang tidak pernah pergi. Ia merasa menjadi beban. Seorang anak yang seharusnya bisa mengangkat derajat keluarga, tapi bahkan tidak bisa membiayai kuliahnya sendiri.

Makan malam mereka sederhana.

Nasi, tempe goreng, sambal.

Tidak ada daging. Tidak ada lauk mewah.

Tapi Bayu tetap makan tanpa mengeluh. Ia tahu, ibunya sudah berusaha sekuat tenaga.

Setelah makan, ia masuk ke kamarnya.

Kamar itu kecil. Hanya cukup untuk satu kasur tipis, satu meja belajar, dan lemari kayu tua. Di dinding, masih tertempel poster universitas impiannya yang sudah mulai pudar warnanya.

Bayu duduk di kasur.

Ia menatap poster itu lama.

Dulu, setiap kali lelah belajar, ia melihat poster itu dan berkata dalam hati:

“Sedikit lagi. Aku pasti keluar dari desa ini.”

Sekarang, kalimat itu terasa seperti lelucon pahit.

Bayu merebahkan diri.

Langit-langit kamarnya retak di beberapa bagian. Dari celah kecil, ia bisa melihat bintang samar di balik kabut.

Pikirannya kacau.

Tentang uang.

Tentang ayah.

Tentang masa depan.

Tentang fakta bahwa besok ia harus mencari kerja apa pun yang bisa ia dapat—kuli bangunan, buruh, pelayan warung—apa saja, selama bisa membantu ibunya.

Tiba-tiba, ada perasaan aneh di dadanya.

Kosong.

Seperti tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Bayu bangkit dari kasur.

Ia keluar rumah tanpa pamit. Langkahnya membawa dia menuju jalan setapak ke arah bukit lava bekas erupsi. Tempat yang jarang didatangi orang karena dianggap berbahaya.

Malam semakin dingin.

Semakin sunyi.

Setiap langkah Bayu terasa berat, seolah kakinya sendiri tidak ingin melangkah lebih jauh. Tapi pikirannya sudah terlalu lelah untuk peduli.

Ia hanya ingin satu hal:

Diam.

Tenang.

Tanpa suara batuk ayah.

Tanpa wajah lelah ibu.

Tanpa poster impian yang terasa seperti ejekan.

Sampai akhirnya ia berdiri di tepi bukit.

Di bawahnya, jurang kecil menganga, gelap, ditelan kabut.

Bayu menutup mata.

Di dalam kepalanya, muncul satu kalimat yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut:

“Kalau aku hilang… apakah dunia akan berubah sedikit saja?”

Angin malam bertiup kencang.

Dan di kejauhan, Gunung Merapi berdiri diam.

Seolah sedang menunggu jawabannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca