
Kotak Warisan Kultivator Nakal
King Night|Bersambung
- Jumlah kata
- 168.7K
- Popular
- 24.2K
- Subscribe
- 1.4K
- Jumlah kata
- 168.7K
- Popular
- 24.2K
- Subscribe
- 1.4K
Sinopsis
Roy mengira seumur hidupnya hanya akan mencangkul ladang orang untuk bertahan hidup, namun ketika tak sengaja menemukan kotak kayu misterius, hidupnya jadi punya harapan baru! Kotak itu adalah warisan dari seorang kultivator yang memberinya kekuatan, dan cara mempelajari kemampuan bela diri. Harta, Wanita dan bahkan Tahta kini semua berada di telapak tangannya.
Ulasan
1 ulasan
Mang Avs Bengras
21 jam yang lalu
lama banget updet nyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Bab 1 Harapan
"Aduhhh... Roy, jangan keras-keras, ahh... kamu semangat banget sih."
"Nyonya, gimana aku gak bersemangat, sudah lama sekali aku ingin melakukan ini sama Nyonya, Em... ahh... akhirnya bisa terlaksana juga."
Di hutan rindang, terlihat seorang pemuda bertampang biasa saja dan seorang wanita dewasa cantik sedang terjerat dalam hasrat. Wanita dewasa tersebut berbaring dengan beralaskan pakaian, sementara pemuda itu menggempurnya dengan keras dari atas. Keduanya polos, tanpa ada satu helai pakaian pun yang menempel di tubuh mereka.
"Roy, ahh... aku mau keluar, ahh..." teriak wanita itu dengan tubuh yang mulai menegang.
"Aku juga, aku juga mau keluar!" balas pemuda itu sambil meningkatkan intensitas gempurannya.
Saat puncak kenikmatan hampir di capai oleh keduanya, tiba-tiba suara keras ayam berkokok menghancurkan pemandangan itu.
Seorang pemuda tersentak bangun dari tidurnya. Dia segera bangkit lalu duduk sambil mengatur napasnya.
"Ayam sialan! Mengganggu mimpi indah ku saja," gerutu pemuda itu sambil memasang ekspresi kecewa.
Pemuda itu bernama Roy, pemuda yang sama dengan pemuda yang ada di mimpi sebelumnya.
Roy melirik ke bagian bawah tubuhnya yang kini terlihat menonjol ~ menopang celananya. Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hasratnya yang sedang bergejolak itu.
"Kalau mimpi tadi bisa jadi kenyataan, pasti sangat bagus," gumam Roy.
Namun, sesaat kemudian, dia buru-buru menggelengkan kepalanya untuk mengusir khayalannya itu.
"Roy... Roy, sadarlah. Jangan bermimpi terlalu tinggi! Kau hanya orang miskin, penampilan pun pas-pasan, mana mungkin ada wanita cantik yang mau," ucapnya menasihati dirinya sendiri.
Dia perlahan menoleh ke arah jendela. Saat melihat hari sudah sangat terang, Roy terperanjat.
"Aduhhh... ternyata sudah siang! Aku kan harus mencangkul ladang Nyonya Diana," ucap Roy sambil buru-buru turun dari tempat tidur reyot itu.
Dia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, dia mengenakan pakaian lusuh, mengambil cangkulnya, lalu bergegas keluar dari rumah dengan langkah cepat.
===
Setelah berjalan beberapa menit menyusuri perkampungan, langkah Roy terhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar.
Roy mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.
Tok... Tok... Tok
"Permisi..." Roy memanggil.
"Tunggu sebentar!" terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Di baliknya, terlihat sosok wanita dewasa cantik. Karena pakaian wanita itu sangat ketat, sehingga lekuk tubuhnya terpampang dengan jelas. Setiap lekukan tubuhnya itu, membuat pria mana pun pasti enggan untuk berpaling. Apalagi, kalau melirik dadanya yang tampak sangat menjulang tinggi.
Di tambah aura dewasanya, wanita itu semakin memikat hati. Rambut wanita itu di sanggul tinggi, yang membuat aura dewasanya terpancar semakin kuat.
Hanya dengan melihatnya, gairah Roy dengan cepat terpicu.
"Tubuh Nyonya Diana memang sangat menyegarkan," gumam Roy di dalam hatinya.
"Roy, kenapa kamu baru datang? Kemarin aku kan sudah bilang, kamu harus datang agak pagi," ucap Nyonya Diana dengan nada sedikit ketus.
"Maaf Nyonya, aku bangun kesiangan. Nyonya tenang saja, aku pasti tambah jam kerjaku!"
Wanita itu menghela nafas. "Ya sudah."
"Ladang yang mana yang mau di cangkul?" tanya Roy sambil melirik sedikit ke area bawah pusar wanita itu, lalu buru-buru menarik kembali pandangannya itu.
"Ladang baru ku. Tempatnya ada di sebelah ladang Nyonya Sandra yang di tanami semangka, kamu pasti tahu kan?"
"Iya, aku tahu. Kalau gitu, aku pergi!" ucap Roy.
"Sebentar! Ini bawa buat makan siang, sama upah kamu. Aku ada urusan, jadi gak bisa pergi mengantarkan ke ladang," ucap Nyonya Diana buru-buru, sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, dia kembali. Dia memberikan satu kantong besar berisi makanan berat, makanan ringan, rokok, dan air minum.
"Ini upahnya!" ucap Nyonya Diana sambil menyodorkan uang 100 ribu.
Roy mengambil uang tersebut, lalu memasukkannya ke dalam kantung celana. "Makasih Nyonya. Saya pergi dulu," ucapnya, lalu dia melangkah pergi.
===
Sampai di ladang, ekspresi Roy sangat jelek saat melihat kondisi tanah ladang di sana.
"Kering banget! Huh... pasti keras. Gak ada air lagi," gerutu Roy.
Meski menggerutu Roy tetap memulai pekerjaannya. Dia pergi ke area paling depan, lalu mulai mencangkul di sana.
BUGHH! BUGHH!
Cangkulan demi cangkulan Roy lakukan. Meski tanah di sana keras, tapi di bawah cangkul Roy tanah itu bisa terangkat dengan mudah.
Namun, setelah beberapa meter mencangkul, tanah di sana semakin keras. "Sialan! Kok keras banget sih, apa di bawahnya ada akar pohon?" ujar Roy dengan ekspresi jelek.
Roy mencoba menghantamkan cangkulnya lebih kuat lagi.
BUGHH!
Namun, tetap saja tanah di sana hanya sedikit terkoyak.
"Huh... Huh..." nafas Roy tersengal-sengal, dia tampak sangat kelelahan.
Sesaat kemudian, Roy perlahan bangkit. "Terpaksa harus pakai air," ucapnya, lalu dia melangkah pergi.
Tak lama kemudian, dia kembali membawa dua ember besar berisi air. Dia menyiramkan dua ember air itu, di tanah yang keras tersebut. Setelah itu, dia kembali mencangkul.
Namun, tetap saja, tanah itu sangat keras.
"Sialan, gak masuk akal banget! Ini jelas tanah biasa, kok keras banget! Kalau tanah padas masuk akal. Huh... coba aku ambil alat garpu di rumah dulu," Roy kemudian pulang ke rumahnya terlebih dahulu ~ mengambil alat berbentuk seperti garpu.
"Hmmm... kalau pakai alat ini masih gak bisa, aku nyerah!" ucap Roy.
Sampai di ladang, dia langsung mulai menggali lagi. Garpu di tancapkan ke tanah yang sudah basah kuyup itu. Alhasil, garpu itu berhasil menancap beberapa sensi.
"Hahaha, akhirnya bisa!" Roy tampak gembira.
Dia mencungkil tanah itu dan terlihatlah tekstur tanah bagian dalamnya yang tampak sangat padat. Bahkan air yang di siramkan tadi, tidak merembes ke bagian dalamnya.
Setelah menggali beberapa senti lebih dalam, Roy menemukan sesuatu.
"Ehh... ada kotak kayu," ucap Roy sambil mencoba menghantam kayu itu dengan garpunya.
DUMM!
Suara dentuman terdengar dari benturan itu.
Roy mengerutkan keningnya, "Mungkin kah? Ini... harta karun? Kalau benar... hahaha... aku pasti akan kaya!"
Tak membuang waktu lagi, Roy langsung menggali tanah di sekitarnya dengan penuh semangat. Semakin lebar yang di gali, semakin jelas bentuk kayu itu.
Setelah hampir satu jam berusaha menggali tanah keras itu, akhirnya Roy berhasil mengeluarkan kotak itu dari tanah.
Kotak itu hanya sedikit lebih besar dari buku. Namun, kotak kayu itu tampak sangat kokoh. Terlihat ada ukiran-ukiran kuno di permukaan kotak itu.
Roy mencoba membuka kotak tersebut, namun kotak tersebut sangat sulit di buka. Pada akhirnya, Roy memutuskan untuk membukanya di rumah saja, apalagi dia khawatir ada orang lain yang datang dan melihatnya.
Setelah itu, dia kembali mencangkul ladang. Karena bagaimanapun itu sudah jadi tugasnya ~ yang tidak mungkin di tinggal begitu saja.
Dan saat matahari mulai terbenam, jam pekerjaan Roy baru selesai. Dia melangkah pulang ke rumahnya dengan langkah yang sangat tergesa-gesa. Setibanya di rumah, Roy menyimpan cangkul dan peralatan lainnya, lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Dia mengeluarkan kotak itu, lalu menyimpannya di lantai. Setelah itu, dia pergi mengambil sesuatu di belakang rumah. Tak lama kemudian, dia kembali ~ membawa sebuah besi tebal yang ujungnya sangat tipis.
"Pasti ada harta karun di dalamnya, pasti... sangat pasti!" ucap Roy dengan wajah berseri-seri.
Roy duduk bersila, meraih kotak itu, lalu menancapkan ujung besi itu ke celah kotak. Setelah itu, dia mengeluarkan semua tenaganya untuk mencungkil kotak itu.
"Arghhh..." Roy meraung keras, sampai urat-urat di dahinya dan di tangannya menonjol jelas.
Penutup kotak itu, masih tidak terbuka.
"Susah banget! Arghhh..." Roy tidak patah semangat, dia terus menuangkan tenaganya untuk mencungkil kotak tersebut.
KRAKKK!
Setelah perjuangan yang sangat sengit, akhirnya penutup kotak itu terbuka.
Saat melihat isi di dalamnya, mata Roy melebar, "Apa-apaan ini!"
Daftar bab
159 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
159 bab








