

Bulan Mei di kota NY sudah mulai terasa gerah. Terlebih lagi bagi siswa kelas tiga SMA yang akan segera lulus, suasananya begitu menekan hingga membuat orang sulit bernapas.
Di depan kelas, tepat di samping podium, Adrian Ardiansyah berdiri sambil terengah-engah. Napasnya berat, keringat membasahi kaus putihnya. Pakaian yang memang sudah kusut itu kini terlihat semakin berantakan.
Kedua tangannya mencengkeram ujung baju dengan erat, sementara matanya dipenuhi rasa takut dan gelisah.
“Haha! Dasar gendut sialan, pencuri lagi! Masih mimpi mau masuk universitas? Itu sih cuma khayalan orang bodoh!” suara ejekan terdengar nyaring dan menusuk telinga.
“Trian, bagaimanapun juga kalian masih sepupu, ngomong begitu nggak keterlaluan?” kata seorang siswa berambut cepak.
Siswa yang dipanggil Trian itu tampak rapi dan penuh gaya. Dari atas sampai bawah ia mengenakan merek Armani, lengkap dengan kacamata berbingkai emas.
“Anton, kentut boleh sembarangan, tapi jangan asal ngomong,” katanya dingin sambil mendorong kacamatanya.
“Sepupu? Aku sudah bilang sejak lama, bukan sembarang orang bisa mengaku Keluarga Ardiansyah. Kakek memang sudah tua, tapi otaknya masih waras.”
“Benar tuh kata Tuan Trian,” sahut Anton.
“Orang ini sudah mencuri dua juta uang kas kelas. Cuma pencuri, mana mungkin bagian dari Keluarga Ardiansyah.”
Murid-murid lain pun ikut berbisik dan menunjuk-nunjuk.
“Aku tidak mencuri!” teriak Adrian keras.
“Ck...ck...ck, si gendut ini masih berani membela diri? Lucu sekali.” Trian mencibir.
“Semua orang tahu keluargamu miskin sampai hampir tidak bisa makan. Ibumu sakit butuh biaya. Pasti kamu yang mencuri uang kas itu.”
Adrian mengepalkan tinjunya erat-erat hingga terdengar bunyi. Amarah memenuhi matanya yang siap mengamuk.
“Trian, kau boleh menghina aku,” katanya pelan tapi tegas, “tapi aku peringatkan, jangan pernah menghina ibuku.”
Setiap orang punya batasnya.
Dan bagi Adrian, ibunya adalah segalanya, harga diri yang tak boleh diinjak siapa pun.
“Oh? Menarik sekali,” Trian tertawa sinis.
“Si pengecut ini ternyata bisa melawan juga. Aku akan tetap bilang, ibumu itu cuma wanita yang asal mengaku Keluarga Ardiansyah, mau numpang naik status. Memalukan sekali!”
Seluruh kelas pun meledak dalam tawa.
Adrian melangkah maju satu langkah dan berteriak, “Diam kau!”
Seketika, seluruh kelas terdiam.
Semua orang tercengang.
Selama ini, Adrian dikenal sebagai pengecut. Bahkan berjalan pun ia selalu hati-hati agar tidak menarik perhatian. Bicara keras saja hampir tidak pernah.
Hari ini, kenapa dia seperti orang yang berbeda?
Trian juga sempat tertegun, tapi segera mencibir lagi.
“Dasar pengecut. Berapa banyak nyali yang kau punya?” katanya sambil menjulurkan wajahnya ke depan.
“Ayo, pukul aku kalau berani. Sini, pukul di sini!”
Ia bahkan menepuk-nepuk pipinya sendiri, yakin Adrian tak akan berani melakukan apa pun.
“Cukup, Trian! Adrian bukan orang seperti itu!”
Tiba-tiba, ketua kelas, Alisa Winata maju membela.
Wajahnya manis, tubuhnya menawan, dan suaranya lembut, cukup membuat siapa pun terpesona. Ia bukan hanya ketua kelas, tapi juga bunga kelas, bahkan masuk tiga besar siswi tercantik di SMA 1 kota NY.
“Alisa, aku sudah mengejarmu sekian lama dan kau selalu cuek. Sekarang malah memarahiku karena seorang pencuri?” Trian kesal.
Ia melewati Alisa dan kembali berdiri di depan Adrian, bahkan mendekatkan lehernya lebih jauh.
“Dasar sampah. Sekarang sampai harus dilindungi ketua kelas, ya? Hebat juga.”
“Tapi ingat, pengecut tetap pengecut. Seumur hidup pun tidak akan berubah!”
Plak!
Suara tamparan keras menggema di kelas.
Mereka menoleh ke arah suara, dan melihat lima bekas jari merah tercetak jelas di wajah Trian.
Trian...ditampar?
Dan yang menamparnya…adalah Adrian?!
Semua orang terpana. Bahkan Trian sendiri tak percaya, orang yang biasanya penurut dan lemah itu benar-benar berani memukulnya.
Adrian yang berdiri di depan mereka sekarang, bukan lagi pengecut, tapi pria dengan keberanian.
“Dia… berubah?” gumam Alisa, masih tak percaya.
“Tuan Trian! Tuan Trian! Kau tidak apa-apa?” Anton baru tersadar.
Wajah Trian terasa panas seperti terbakar. Sebagai anak orang kaya, ia selalu dihormati ke mana pun pergi. Sekarang, ditampar oleh siswa terburuk di kelas, ini benar-benar mempermalukan dirinya.
“Adrian! Aku akan membunuhmu!”
Namun yang membuatnya semakin kesal, Adrian sudah kabur lebih dulu, menghilang secepat kilat.
___
Adrian memiliki tinggi sekitar 172 cm, tapi berat badannya lebih dari 90 kilogram. Padahal dulu ia tidak rakus makan. Tubuhnya dulu normal, bahkan cukup bugar. Nilainya juga selalu berada di peringkat atas.
Namun enam bulan lalu, semuanya berubah.
Ia mengalami kecelakaan mobil.
Karena harus mengonsumsi obat-obatan tinggi hormon, berat badannya melonjak drastis. Tidak hanya itu, benturan di kepala membuat daya ingatnya menurun, sulit berkonsentrasi, dan prestasinya anjlok hingga menjadi yang terburuk di kelas.
Ia pun menjadi bahan ejekan.
Ibunya, Lina Kumala, adalah wanita yang kuat dan penuh harga diri. Ia membesarkan Adrian sendirian, bekerja serabutan tanpa pernah meminta bantuan siapa pun.
Namun setelah kecelakaan itu, melihat putranya hampir sekarat, ia terpaksa membawa Adrian ke Keluarga Ardiansyah untuk mengakui hubungan darah.
Hasilnya, mereka diusir… dan dihina habis-habisan.
Untungnya, dengan bantuan orang baik, mereka akhirnya mendapatkan biaya pengobatan dan Adrian selamat dari maut.
Selama setengah tahun terakhir, ia hidup dalam hinaan.
Langit tiba-tiba menggelap.
Guntur menggelegar, kilat menyambar.
Tanpa sadar, Adrian berlari hingga ke tepi sungai. Ia menatap kejauhan dan berteriak dengan putus asa.
“Bu… kau bekerja sampai sakit parah, terbaring di rumah sakit, tapi aku tak bisa menolongmu…”
“Bu… kau selalu bilang ayah pergi untuk urusan penting… tapi dia sudah pergi empat belas tahun…”
“Bu… aku sudah dipermalukan seperti ini… kasih sayangmu hanya bisa kubalas di kehidupan berikutnya…”
“Adikku… kau sampai putus sekolah demi membiayai kakak… maafkan aku…”
Setelah mengatakan itu, ia menutup mata perlahan dan melompat ke sungai.
Byur!
Kesadarannya mulai kabur. Ia mencoba bernapas, tapi air masuk ke hidung dan mulutnya. Tubuhnya semakin tenggelam.
Ngingg....
Saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, sebuah petir menyambar dari langit, menembus permukaan sungai dan masuk ke dalam pikirannya.
Ding...
Sistem Pria Sempurna mengunci host.
Memulai proses pencocokan…
Pencocokan berhasil. Tingkat kecocokan 100%.
Hubungan dengan host berhasil dibangun.
Sistem sedang melakukan restart…
Host: Adrian Ardiansyah
Kondisi fisik: 2 poin (maksimal 100)
“Apa… ini sebenarnya…”
Kesadaran Adrian masih kacau.
Entah berapa lama kemudian, ia akhirnya perlahan tersadar.
Apa yang… sebenarnya terjadi?
Saat Adrian kembali membuka mata, ia mendapati dirinya tergeletak di tepi sungai. Matahari yang terik menyengat kulitnya hingga terasa perih, membuat tubuhnya lemas.
Ia mencubit dirinya keras-keras.
Sakit.... berarti dia belum mati.
“Selamat, Tuan sudah sadar.”
Suara dingin tiba-tiba terdengar.
Adrian langsung tersentak. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tak ada siapa pun di sekitar. Ia bahkan menggelengkan kepala, mengira dirinya berhalusinasi.
“Aku ada di dalam pikiranmu.”
Suara itu kembali terdengar.
“Hiss…”
Kulit kepala Adrian langsung merinding. Ini bukan mimpi, suara itu benar-benar nyata. Dan karena tak ada orang di sekitar, kemungkinan besar, suara itu memang berasal dari dalam kepalanya.
“K-kamu… siapa sebenarnya?” tanyanya, berusaha tetap tenang.
“Jangan melawan secara sadar. Aku akan membawamu masuk.”
Begitu suara itu selesai berbicara, Adrian mencoba menenangkan diri. Seketika kepalanya berdengung, tubuhnya membeku dan kesadarannya seperti ditarik ke ruang lain.