Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM UNDIAN

SISTEM UNDIAN

adicipto6 | Bersambung
Jumlah kata
67.7K
Popular
4.2K
Subscribe
378
Novel / SISTEM UNDIAN
SISTEM UNDIAN

SISTEM UNDIAN

adicipto6| Bersambung
Jumlah Kata
67.7K
Popular
4.2K
Subscribe
378
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMisteriMiliarderSistem
Setelah lulus kuliah, Herman tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan, dia ingin sekali membantu adik nya yang juga hampir lulus SMK dan ingin kuliah. Pada akhirnya, dia di terima bekerja sebagai pengantar paket dengan gaji kecil, hingga suatu hari, Herman di jebak oleh pacarnya bersama kekasih selingkuhannya. Dengan menggunakan orang lain yang memesan makanan, Herman tiba-tiba saja di kepung di sebuah gang sempit oleh belasan pemuda, yang ternyata, dalang dari semuanya adalah kekasihnya dengan selingkuhannya. Herman di pukuli sampai babak belur, kemudian di tinggalkan begitu saja oleh mereka semua, beruntung nya ada orang yang menemukan Herman dan membawa nya ke rumah sakit. Namun saat Herman tersadar dan merasakan sakit serta sedih atas pengkhianatan kekasihnya, tiba-tiba saja, sebuah layar hologram muncul, dan memperkenalkan diri sebagai Sistem Undian. Sejak saat itu, kehidupan Herman berubah, dan dia juga bertekad akan membalas perbuatan kekasihnya dimasa depan!
Munculnya Sistem

​"Ayo hajar sampai mampus! Jangan kasih ampun!"

​Suara teriakan itu membelah kesunyian gang sempit yang gelap, pengap, dan berbau busuk sampah yang menyengat.

Buk! Buk! Buk!

Suara kayu dan hantaman ujung sepatu yang keras menghujam daging terdengar beruntun tanpa jeda sedikit pun.

Herman tersungkur di atas aspal yang becek oleh sisa air hujan. Dia meringkuk, mencoba melindungi kepala dengan kedua tangannya yang sudah gemetar hebat.

Rasa amis darah mulai memenuhi rongga mulutnya, membuatnya tersedak.

​"Hahaha! Rasakan itu, Herman! Salah kamu sendiri tidak tahu diri. Sudah miskin, masih saja ngotot tidak mau putus denganku," suara melengking itu milik Mulan.

Kata-katanya meluncur penuh racun di sela erangan Herman yang semakin lirih.

​Herman, pemuda berusia 21 tahun itu, hanya bisa mengerang pasrah di bawah hujan pukulan. Sebagai lulusan baru yang sulit mendapat kerja kantoran, dia rela memeras keringat menjadi kurir pengantar makanan siang dan malam.

Di bawah terik matahari yang menyengat dan guyuran hujan badai, dia terus memacu motor tuanya. Semua upah yang ia kumpulkan setiap bulan selalu ia sisihkan demi satu tujuan: membantu biaya kuliah adik perempuannya yang sebentar lagi lulus SMK.

Herman bahkan rela hanya makan mie instan satu kali sehari agar adiknya bisa memiliki sepatu baru dan buku pelajaran yang layak.

​Namun malam ini, perempuan yang selama ini ia puja dan ia perjuangkan justru menusuknya tepat di jantung. Mulan menjebaknya dengan sangat rapi.

Menggunakan nomor asing untuk memesan makanan, memancing Herman masuk ke gang buntu ini, di mana belasan preman bayaran sudah bersiap menghancurkan hidupnya.

​"Mu... lan... kenapa? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" Herman mendongak dengan sisa tenaganya. Wajahnya sudah hancur, darah kental mengalir dari pelipis, mengaburkan pandangannya yang mulai meredup dan berbayang.

​"Kenapa? Kamu masih berani bertanya kenapa?" Mulan melangkah maju. Ujung sepatu hak tingginya yang tajam menekan luka terbuka di pipi Herman dengan tekanan yang disengaja. Herman mengerang kesakitan, tapi Mulan justru tersenyum puas melihat penderitaannya.

​"Ngaca, Herman! Lihat dirimu di cermin. Kamu itu cuma kurir miskin yang baunya seperti keringat dan aspal jalanan. Aku ini anak Manajer Hotel Bintang Lestari. Aku jelas lebih pantas dengan Lucas, anak Manajer PT Cakra Witama. Bukan dengan sampah kurir pengantar paket seperti kamu!"

​Lucas yang berdiri di samping Mulan tertawa puas sambil merangkul pinggang perempuan itu dengan posesif. "Tahu diri dikit, Herman. Di dunia ini, uang itu segalanya. Jabatan itu harga diri. Kamu itu cuma kerikil kecil yang tidak sengaja terinjak oleh kami. Minggir atau hancur, itu pilihannya."

​Lucas kemudian memberikan isyarat dingin kepada salah satu preman bertubuh besar di belakang Herman. Sebuah balok kayu diayunkan dengan kekuatan penuh ke tengkuk pemuda itu.

​Brak!

​Pandangan Herman seketika berputar. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh saraf tubuhnya, seolah tulang-tulangnya remuk menjadi debu sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar hilang. Dia ambruk di atas genangan air yang kini berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri.

​"Ayo sayang, kita pergi. Biarkan saja dia di sini. Mungkin besok pagi jasadnya sudah diseret anjing liar ke tempat sampah," ucap Mulan tanpa sedikit pun rasa iba. Mereka semua pergi sambil tertawa keras, meninggalkan Herman yang terkapar sendirian di kegelapan gang yang semakin dingin.

​Beberapa jam kemudian, dua orang warga yang tidak sengaja melintas untuk membuang sampah dikejutkan oleh tubuh Herman yang sudah pucat pasi. Dalam kondisi sekarat dan napas yang tinggal satu-satu, mereka segera melarikannya ke Rumah Sakit Medika.

​Di ruang IGD, suasana mendadak sangat tegang. Perawat bergerak cepat memasang berbagai selang ke hidung dan mulut Herman. Mesin monitor jantung mengeluarkan bunyi bip yang putus-putus dan tidak teratur, menunjukkan garis yang semakin mendatar di layar digital. Nyawa pemuda itu benar-benar berada di ujung tanduk, hampir melintasi garis kematian.

​Namun, saat monitor jantung menunjukkan garis lurus panjang dan suara denging panjang terdengar, sebuah fenomena aneh terjadi. Lampu di seluruh koridor rumah sakit mendadak berkedip hebat. Arus listrik di gedung itu seolah tersedot ke satu titik, yaitu tubuh Herman yang terbaring kaku. Suasana menjadi mencekam saat percikan listrik biru kecil merayap di kulit Herman yang dingin.

​"Apa yang terjadi dengan listriknya? Cek genset sekarang!" teriak seorang perawat panik saat semua monitor mendadak mati sesaat sebelum kembali menyala dengan cahaya biru yang sangat menyilaukan mata.

​Tanpa ada yang menyadari, di dalam alam bawah sadar Herman yang gelap gulita, sebuah cahaya biru neon muncul secara tiba-tiba. Sebuah suara mekanis yang dingin, berat, dan tanpa emosi bergema langsung di dalam jiwanya, mengguncang seluruh kesadarannya yang hampir padam.

​[MENYAMBUNGKAN KE INANG...]

[INTEGRASI JIWA BERHASIL]

[MENGUNDUH PROTOKOL KEBERUNTUNGAN...]

[SISTEM UNDIAN PERBELANJAAN TELAH DIAKTIFKAN]

​Herman terbangun dalam keadaan linglung. Atap putih bersih dan bau karbol yang menyengat menyambut indra penciumannya saat ia membuka mata pelan-pelan. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah baru saja tertimbun reruntuhan bangunan.

​"Di mana aku? Rumah sakit?" gumamnya lirih dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan perih.

​Begitu kesadarannya pulih seutuhnya, ingatan tentang kejadian di gang itu kembali menghujam seperti ribuan pisau. Rasa sakit karena dikhianati oleh Mulan jauh lebih menyiksa daripada luka fisik yang ia rasakan sekarang.

​"Mulan... Lucas... kalian benar-benar binatang berbaju manusia. Aku bersumpah, kalau aku hidup, aku akan membuat kalian membayar semua penghinaan ini dengan bunga yang sangat besar!" batin Herman dengan kebencian yang meluap-luap.

​Tiba-tiba, sebuah layar transparan berwarna biru neon muncul tepat di depan matanya. Layar itu melayang diam, mengikuti ke mana pun arah pandangannya bergerak, seolah-olah tertanam langsung di kornea matanya.

​[SELAMAT DATANG, TUAN. ANDA ADALAH PEMILIK TUNGGAL SISTEM UNDIAN]

​Herman terbelalak. Dia mencoba mengucek mata berkali-kali dengan tangan yang masih terpasang jarum infus, mengira ini adalah efek samping dari benturan hebat di kepalanya. Namun, layar itu tetap tegak di sana, menampilkan kode-kode rumit yang perlahan berubah menjadi bahasa yang bisa ia mengerti.

​[SISTEM INI DIRANCANG UNTUK MENGUBAH TAKDIR. SETIAP TRANSAKSI PERBELANJAAN YANG TUAN LAKUKAN AKAN MENGHASILKAN POIN UNDIAN. SETIAP 100.000 RUPIAH SETARA DENGAN 10 POIN KEBERUNTUNGAN]

​Layar itu kemudian beralih, menampilkan grafik ribuan hadiah yang berputar cepat. Ada kategori Biasa, Perak, Emas, hingga Legendaris. Isinya mulai dari tumpukan emas batangan, kendaraan super mewah, kepemilikan aset properti, hingga barang-barang ajaib yang tidak masuk akal bagi nalar manusia biasa.

​[KARENA INI ADALAH PROSES PENGIKATAN AWAL, TUAN MENDAPATKAN HADIAH SELAMAT DATANG SEBESAR 10 POIN GRATIS. APAKAH TUAN INGIN MENGGUNAKANNYA SEKARANG?]

​Herman menarik napas panjang. Dia tidak akan ragu sedetik pun. Apa pun ini, dia harus mengambil kesempatan itu. "Putar!" perintahnya tegas dalam hati.

​Layar itu bergerak dengan kecepatan cahaya, berubah menjadi kilatan putih yang menyilaukan sebelum akhirnya berhenti pada sebuah ikon berbentuk kapsul putih yang memancarkan cahaya terang.

​[SELAMAT! TUAN MENDAPATKAN HADIAH UTAMA PEMULA: 1.000 KAPSUL PENYEMBUH MISTIS]

​Sebuah kapsul kecil tiba-tiba muncul di telapak tangan Herman, seolah keluar dari udara kosong begitu saja. Benda itu terasa padat dan hangat, dengan aroma herbal yang sangat kuat hingga menembus masker oksigen di wajahnya.

​Herman menatapnya sejenak. Logikanya menolak, tapi rasa sakit di tubuhnya menuntut pertolongan. Ia melepas masker oksigen dengan kasar, lalu langsung menelan kapsul itu bulat-bulat.

​Begitu kapsul itu turun ke kerongkongan, rasa hangat segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Sensasinya sangat aneh, seperti ada aliran energi hidup yang bergerak cepat di dalam dirinya. Luka lebam di wajahnya perlahan memudar, sementara nyeri di dadanya hilang satu per satu. Tulang rusuknya yang retak terasa bergeser, lalu menyatu kembali dengan bunyi klik halus yang hanya bisa ia dengar sendiri.

​Herman menahan napas. Rasa sakit yang tadi memenuhi tubuhnya kini lenyap tanpa sisa, digantikan oleh energi yang terasa padat dan penuh. Ia membuka mata perlahan, lalu duduk tegak di atas ranjang. Tangannya bergerak ke arah selang infus, dan tanpa ragu ia mencabutnya paksa. Tidak ada rasa sakit, bahkan tidak ada setetes darah pun yang keluar dari bekas tusukan jarum itu.

​Herman berdiri. Langkahnya sangat stabil, bahkan jauh lebih kuat dari biasanya. Ia berjalan ke arah cermin di sudut ruangan dan berhenti tepat di depannya. Wajah yang menatap balik kini bersih total. Tanpa luka, tanpa lebam, bahkan kulitnya terlihat lebih sehat dari sebelumnya.

​Herman mengepalkan tangan. Otot-ototnya terasa lebih padat, seolah ada tenaga baru yang mengisi setiap jengkal tubuhnya. "Ini bukan mimpi…" gumamnya pelan.

​Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Seorang perawat masuk sambil membawa nampan makanan, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Herman sudah berdiri.

​"Pak…?" suaranya bergetar. Tatapannya beralih ke kasur. Selang oksigen dan infus sudah tergeletak begitu saja. "Bapak kok sudah bangun?! Tadi kondisi Bapak sangat kritis, detak jantung sempat hilang!"

​Herman menoleh dengan tenang. "Saya sudah tidak apa-apa, Suster. Lihatlah, saya sehat."

​Perawat itu mendekat cepat, matanya menelusuri wajah Herman dengan penuh keraguan. "Tadi luka di wajah Bapak sangat parah… saya sendiri yang membersihkan darahnya…" Ia terdiam seketika. Tidak ada bekas luka sedikit pun. Wajah pemuda di depannya mulus total. "Ini… bagaimana mungkin…"

​Herman hanya tersenyum tipis. "Mungkin saya memang belum waktunya mati."

​Tak lama kemudian, seorang dokter datang dan langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ia mengecek detak jantung, pernapasan, hingga refleks saraf Herman dengan wajah yang semakin lama semakin bingung.

​"Sejujurnya, ini di luar logika medis," kata dokter itu akhirnya sambil meletakkan stetoskopnya. "Cedera parah seperti yang kamu alami tadi tidak mungkin pulih secepat ini. Bahkan bekasnya pun hilang."

​Herman hanya mengangkat bahu ringan. "Yang penting saya sudah sembuh, Dok. Apakah saya bisa pulang?"

​Dokter itu menatapnya beberapa detik, seolah ingin membedah tubuh Herman untuk mencari tahu rahasianya, lalu mengangguk pelan. "Ya. Secara klinis kamu sehat total. Kamu bisa pulang setelah urusan administrasi selesai."

​Beberapa waktu kemudian, setelah semua biaya administrasi tertutup oleh asuransi kecelakaan kerja dari kantor kurirnya, Herman melangkah keluar dari rumah sakit. Pintu kaca otomatis terbuka, dan udara malam yang dingin langsung menyambutnya.

​Herman berhenti sejenak di halaman rumah sakit, menatap telapak tangannya yang kini bersih dan kuat. Perlahan, ia mengepalkan tangan itu. Tenaga yang tadi ia rasakan masih ada di sana, nyata dan berdenyut. Herman meludah ke aspal, membuang sisa rasa amis darah yang tertinggal di mulutnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca