Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tuah Keris Si Kuli Bangunan

Tuah Keris Si Kuli Bangunan

Jana Indria | Bersambung
Jumlah kata
35.2K
Popular
3.1K
Subscribe
483
Novel / Tuah Keris Si Kuli Bangunan
Tuah Keris Si Kuli Bangunan

Tuah Keris Si Kuli Bangunan

Jana Indria| Bersambung
Jumlah Kata
35.2K
Popular
3.1K
Subscribe
483
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia Masa DepanHaremUrban
Untuk 21++, bijak laaa dalam memilih bacaan, Iwan hanyalah "suami rasa babu" yang tak berdaya melihat istrinya, Inna, berzina di depan matanya sendiri. Namun, sebuah kecelakaan di proyek bangunan mengubah segalanya. Keris pusaka merasuk ke nadinya, menghancurkan kutukan impotensinya, dan memberinya sistem yang mengubah nasib. Saat Inna dan selingkuhannya mencoba mengusir Iwan, mereka justru terhempas oleh kenyataan bahwa rumah tersebut telah dibeli oleh Iwan melalui lelang bank. Berawal dari toko sembako kecil hingga menjadi penguasa *Synchro Corp*, Iwan tidak hanya membangun imperium bisnis, tapi juga mengumpulkan "aset" berupa wanita-wanita tercantik yang dulu mustahil ia gapai.
1. Suami rasa babu

"Woy, Wan! Gerak cepet dikit napa! Ke buru mandor dateng!" teriak Udin dari seberang tiang pancang, sambil menyulut rokok kreteknya.

Dia tidak sedang bekerja, hanya mengawasi dengan malas sambil duduk di atas tumpukan batako.

Iwan tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil, meletakkan sak semen itu dengan hati- hati, lalu menegakkan punggungnya.

Bunyi krek pelan terdengar dari tulang belakangnya. Namun Iwan tak peduli.

"Istirahat dulu lah, Wan. Udah jam dua belas," kata Tono, kuli yang usianya lebih muda itu menepuk bahu Iwan, pelan.

"Ayo makan, laper nih cacing di perut." Tono kembali berkata.

"Iya. Ayo turun."

Iwan menjawab, setelah sebelumnya menghela napas panjang.

Mereka berdua berjalan menuruni tangga darurat yang masih berupa semen kasar tanpa pegangan.

Suara langkah sepatu boot karet mereka menggema di lorong tangga yang gelap dan lembap.

Sesampainya di warteg semi permanen di samping lokasi proyek.

Berdiri sebuah tenda biru yang di dirikan asal- asalan dengan bangku kayu panjang yang reot, namun suasana sudah ramai.

Bau ikan asin goreng, sambal terasi, dan keringat laki- laki bercampur dan menyeruak di udara.

Iwan mengambil satu piring seng, kemudian menyendok nasi putih yang banyak, tempe orek, dan kuah sayur lodeh.

Tanpa lauk daging. Dia harus hemat. Uang mingguannya harus di setor ke Inna nanti malam, atau dia tidak akan di bukakan pintu.

Baru saja Iwan duduk di pojok, Udin datang membawa piring yang penuh dengan ayam goreng dan es teh manis.

Dia duduk tepat di depan Iwan, dengan senyum miring yang tersungging di bibirnya yang hitam karena rokok.

"Makan tempe lagi, Wan?" tanya Udin, suaranya sengaja di keraskan. Beberapa kuli lain menoleh.

"Yang penting kenyang, Din," jawab Iwan pelan, mulai menyuap nasi.

"Irit amat sih lu. Buat siapa duitnya? Buat bini lu yang cantik itu?"

Udin tertawa, kemudian menyenggol lengan Asep yang duduk di sebelahnya.

"Eh Sep, lu liat nggak kemaren?"

Iwan menghentikan kunyahannya sejenak, lalu melanjutkannya lagi dengan susah payah.

Dia hafal bakal ke mana arah pembicaraan ini.

Asep, pria bertubuh gempal yang sedang mengunyah kerupuk, menyeringai.

"Liat apaan, Din?"

"Itu looh, bininya si Iwan. Si Inna. Beh... gila. Kemaren gue lewat depan maal Grand Indonesia pas lagi nganter material, gue liat dia turun dari mobil. Bukan angkot kayak kita, Bos. Pajero item. Mengkilap!"

Suasana di meja itu mendadak hening. Semua mata tertuju pada Iwan yang masih menunduk menatap nasi berkuah lodehnya.

"Salah liat kali lu," gumam Iwan tanpa mengangkat kepala.

"Mata gue masih tajem, Wan!" sentak Udin, nada bicaranya meninggi, seolah tersinggung karena sudah di ragukan.

"Gue liat jelas. Itu bini lu. Pake baju merah yang potongannya rendah di sini nih..."

Udin kembali menjelaskan lengkap dengan menunjukkan garis dada di kaos kotornya sendiri.

"Rambutnya yang di blow kayak artis. Wangi pasti tuh."

"Terus, terus?"

Asep yang sok polos ikut penasaran, tidak peka, pada rahang Iwan yang mulai mengeras.

"Ya, dia nggak sendirian lah!" Udin menggebrak meja pelan, cukup untuk membuat gelas es teh di atasnya sedikit berguncang.

"Ada cowoknya juga, ganteng, rapi, pake jas, rambut kelimis. Tangan si Inna di gandeng, mesra bener. Ketawa -ketiwi berdua pas masuk lobi. Yang bukain pintu mobilnya aja satpam."

Udin mencondongkan tubuhnya ke arah Iwan, aroma rokok busuk menyembur ke wajah Iwan.

"Wan, gue mau tanya nih sebagai temen. Lu itu suaminya apa babunya?"

Ledakan tawa pecah di meja itu. Beberapa kuli dari meja sebelah bahkan ikut menoleh dan terkekeh.

"Jangan gitu lah, Din," kata Pak Yanto, kuli senior yang duduk agak jauh, mencoba menengahi tapi nadanya lemah.

"Namanya juga nasib orang."

"Bukan masalah nasib, Pak!" potong Udin berapi -api. Dia menunjuk Iwan dengan garpu.

"Ini masalah laki -laki. Liat tuh si Iwan. Badan gede, otot kawat, ngangkat semen kuat. Tapi jaga bini? Lembek!"

Iwan meletakkan sendoknya. Denting suara sendok beradu dengan piring seng terdengar nyaring.

Dia mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena debu dan amarah yang di tahan paksa.

"Dia kerja, Din. Itu bosnya," kata Iwan. Suaranya serak, tapi tegas.

"Kerja?"

Udin bertanya dengan sembari tertawa mengejek, kali ini lebih keras.

"Kerja apaan yang sampe main rangkul rangkul pinggangnya gitu? Kerja apaan yang pulangnya di anter sampe depan gang, jam dua pagi? Lu kira kita buta, Wan? Tetangga kontrakan gue juga sering liat kali, ada mobil mewah parkir depan rumah lu kalo lu lagi lembur."

Iwan diam. Kedua tangannya di bawah meja mengepal begitu kuat hingga terlihat kukunya memutih.

Dia tahu itu benar. Dia tahu tetangga bergunjing. Dia juga tahu Inna sering pulang larut dengan aroma parfum pria lain.

Dan di atas segalanya, dia masih mencintai wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya.

"Wan, Wan..."

Udin menggelengkan kepala, pura- pura prihatin. Dia mengambil sebatang rokok lagi.

"Gue kasih tau ya. Bini kayak Inna itu, ibarat burung merak. Nggak cocok di kandang ayam kayak rumah lu. Dia butuh emas, butuh AC, butuh ranjang empuk. Lu bisa kasih apa? Kasur kapuk yang udah kempes? Duit gajian yang cuma cukup buat beli beras raskin?"

"Cukup, Din," kata Iwan. Dia berdiri. Nasi di piringnya masih sisa setengah. Selera makannya hilang total.

"Eh, jangan ngambek dong. Gue kan ngomong fakta biar lu sadar!"

Udin mencoba menahan lengan Iwan.

"Lu itu di manfaatin doang. Lu cuma jadi bumper biar dia statusnya 'istri orang', tapi aslinya dia 'peliharaan' orang."

Kata -kata 'peliharaan' itu menghantam dada Iwan lebih keras dari palu godam mana pun.

"Lepas," desis Iwan.

Udin melepaskan tangannya sambil mengangkat bahu.

"Ya udah kalo nggak mau denger. Tapi Wan, kalo nanti malem lu denger suara aneh- aneh dari kamar bini lu, jangan pura- pura budek ya. Itu suara kenikmatan yang nggak bisa lu kasih."

Tawa kembali meledak. Kali ini lebih kejam. Lebih menusuk.

Iwan berbalik, meninggalkan warteg itu. Langkahnya berat. Di belakangnya, dia masih mendengar suara Udin yang belum puas.

"Kasihan ya. Badan doang laki, tapi bini sendiri di pake orang diem aja. Kalo gue jadi dia, udah gue bacok tuh laki."

"Ah, si Iwan mah beraninya sama semen doang. Sama bini takut dia. Takut di usir! Kan dia numpang!" sahut Asep.

"Iya bener, rumah warisan bini kan itu? Hahaha, pantesan jadi babu. Suami rasa babu!"

Iwan terus berjalan, melewati tumpukan besi ulir yang berkarat.

Panas matahari terasa membakar kulit lehernya. Dia berhenti di balik sebuah pilar beton besar, tempat yang sepi dan tersembunyi.

Dia menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang kasar. Napasnya tersengal-sengal menahan emosi.

Bayangan Inna yang tersenyum manis pada pria lain berputar di kepalanya seperti film rusak.

Suami rasa babu.

Ayah Inna, Pak Heru, adalah satu- satunya orang yang memanusiakan Iwan dulu.

Iwan memejamkan mata, air mata kemarahan itu menetes tanpa suara, membuat jalur bersih di pipinya yang berdebu.

"Belum waktunya Inna tahu kalau rumah itu adalah milikku, bukan miliknya lagi," bisik Iwan pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar.

"Sabar, Iwan. Sedikit lagi."

"Woy Wan! Ngelamun aja! Semen belom naik semua!" teriak Mandor dari kejauhan.

Iwan menghapus air matanya kasar dengan punggung tangan.

Wajahnya kembali datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Memaksa topeng 'si bodoh' kembali terpasang.

"Siap, Pak!" teriak Iwan.

Dia berjalan kembali ke tumpukan sak semen. Dia mengangkat satu sak lagi.

Beratnya lima puluh kilogram, tapi rasanya tidak seberat beban di dadanya. Setiap langkah menaiki tangga adalah satu langkah mendekati batas kesabarannya.

Dan ketika batas itu hancur nanti, Iwan bersumpah, bukan hanya semen yang akan dia hancurkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca