

Namanya Wijaya Natal Nael, ia biasa di panggil Nael. Siang itu di kantor tempatnya bekerja. Hujan mengguyur membasahi jendela kantor di depannya.
Di pojok ruangan tempatnya bekerja, Nael duduk di balik meją kerjanya yang berantakan.
Matanya menatap layar komputer dengan datar. Excel spreadsheet terbuka, penuh angka yang tak begitu berarti baginya.
"Nael, tolong jangan tidur di kantor deh kalau nggak punya kerjaan, mending pulang aja!"
suara itu datang dari Gracia rekan kerjanya yang terkenal paling cantik dan sangat mempesona, yang selalu menjadi pusat perhatian.
la adalah salah satu primadona di kantor yang sering dikejar oleh banyak pria. Namun, Gracia memiliki lidah yang tajam. Tampak Nael mengangkat alisnya
"Gue nggak tidur, Grac..Lagi mikir." Jawab Nael
"Mikir? Lu mikir apaan? Cara biar bisa naik gaji tanpa kerja?" Tawa meledak dari beberapa rekan mereka yang duduk tak jauh darinya. Nael hanya bisa menghela napas kesal.
la sudah biasa diremehkan. Di kantor itu dia dianggap bodoh, pemalas, dan tidak punya masa depan.
"Udahlah, bro.. Lu tuh nggak cocok kerja kantoran. Coba deh buka warung kopi atau jualan online. Siapa tahu lebih hoki." Timpal Rian, teman sekantornya yang lain
Nael berusaha menahan diri "Gue tahu kemampuan gue," ucapnya pelan
"Iya, iya. Kemampuan mimpi di siang bolong."
Mendadak ponsel Nael bergetar. Sebuah notifikasi dari Instagram muncul. DM dari Clarissa, pacarnya.
"Kita perlu bicara." Jantung Nael berdegup kencang
Clarissa pacarnya, yang selama tiga tahun terakhir menjalin asmara dengannya. Nael menggeser notifikasi dan membuka pesan itu dengan cemas.
"Gue minta maaf, Nael. Tapi kita nggak bisa lanjut. Gue udah capek. Gue juga udah bareng orang lain. Gue harap lo bisa ngerti." Tangan Nael tremor gemetar.
"Nael?" panggil Rian. "Lu pucat amat? Jangan bilang Clarissa akhirnya sadar juga dan putusin lu ya? Hahaha.."
"Putus?" sambung Gracia cepat. "Wah, gue kira dia bakal sabar nunggu lo sukses. Ternyata dia lebih realistis ya."
Nael berdiri tak menjawab. la berjalan cepat ke luar kantor walau hujan masih deras. la tak peduli. Bajunya basah kuyup dalam hitungan detik, tapi pikirannya jauh lebih kacau dari pada tubuhnya yang menggigil.
"Kenapa sekarang? Kenapa semuanya harus terjadi sekarang?" gumamnya,
la duduk di halte seberang gedung kantor. Matanya kosong, memandang jalanan yang di penuhi genangan air hujan.
Lalu, sesuatu terjadi....
Dalam sepersekian detik, matanya terasa panas. Dunia di sekelilingnya seperti melambat. Suara hujan, deru mobil, bahkan langkah kaki orang-orang semuanya jadi pelan.
Dan kemudian, muncul sebuah angka melayang-layang di udara, tepat di hadapan wajahnya.
BTC/USDT: Long. Entry 26.314. Exit 27.893. Time frame: 12 hours. Accuracy: 99.97%
Ia mengedipkan mata. "Apa ini...?"
Saat angka itu menghilang, dunia kembali normal. Hujan tetap turun, dan lalu lintas terus bergerak. Nael memandang tangannya. Apakah dia baru saja... melihat masa depan?
***
Keesokan paginya, Nael datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Bajunya rapi, rambut disisir ke belakang, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, wajahnya menunjukkan semacam tekad.
la tak bisa melupakan apa yang dilihatnya semalam. Angka itu... prediksi itu. Pagi tadi, sebelum berangkat, ia mengecek harga Bitcoin. BTC: $27,893. Sama persis seperti yang tertulis di penglihatannya.
"Enggak mungkin kebetulan," gumamnya.
Tapi pikirannya belum sempat mencerna lebih jauh ketika suara berat menggema di ruang kantor.
"Nael, Masuk ke ruangan saya sekarang." Manajer operasional, berdiri di depan pintu ruangannya dengan tangan menyilang. Nael hanya bisa mengangguk meneguk ludah dan berdiri mengikutinya berjalan dari belakang.
Semua mata menatapnya, beberapa rekannya menatap dengan rasa kasihan, sebagian lagi dengan antusiasme seolah menonton drama favorit mereka.
Saat pintu tertutup di belakangnya, manager itu langsung duduk dan menatap tajam.
"Saya sudah dapat laporan dari HR dan rekan-rekan kamu."
"Laporan soal apa, Pak?"
"Performa kamu. Attitude kamu. Ketidakhadiran kamu yang berulang. Dan kemarin kamu pulang tanpa izin."
Nael menggeleng. "Tapi saya cuma keluar sebentar, Pak"
"Kamu sering begini, Nael. Kami udah sabar. Tapi kantor ini butuh orang yang kompeten dan bisa di andalkan. Bukan yang datang hanya buat numpang duduk dan main hp
"Saya enggak main hape, Pak. Saya kerja." Nael berusaha membela diri
Atasannya itu bersandar dan melempar map ke meja.
"Kerja? Kamu bilang kerja? Nih liat! Target kamu dua bulan terakhir nol besar. Bahkan intern baru lebih berkontribusi dari kamu."
Nael menahan nafasnya. Kata-kata itu sangat tajam bagai Ulti Dyroth yang tepat menusuk perasaannya.
"Saya ngerti kondisi kamu, Tapi dunia kerja enggak nunggu orang yang tersesat buat nemu arah seperti kamu ini." Tegas atasannya itu. "Mulai hari ini kami putuskan kamu untuk diberhentikan. Gaji terakhir dan surat referensi bakal dikirim via email."
"Pak...! Tapi Pak.."
"Jangan bikin makin sulit. Saya doain kamu bisa sukses di tempat lain."
Dengan berat hati Nael beranjak berdiri dan melangkah keluar. Ruang kantor hening sejenak, lalu bisik-bişik mulai terdengar.
Tampak Gracia berbisik ke Rian, cukup keras untuk sengaja di dengar.
"Akhirnya ya, satu beban mental berkurang."
Nael tidak menoleh. la berjalan menuju lift dengan wajah datar. Namun di dalam dadanya amarah mulai tumbuh. Amarah, dan rasa lapar untuk membuktikan bahwa mereka semua salah menilai dirinya.
Di kafe kecil dekat kantor, Nael duduk dengan kopi yang sudah dingin. Ponselnya terbuka pada aplikasi trading crypto. Tangannya gemetar saat dia mengetuk layar.
Leverage: 50x. Aset: $500 (uang terakhir di tabungannya). Arah: Long. Pasangan: ETH/USDT. Entry: 1.738. Prediksi yang muncul di penglihatannya Exit di 1.881. Akurasi: 98.41%
"Kalau ini salah... gue bangkrut dan jadi gembel" gumamnya..
la tekan tombol Confirm Trade. Tiga jam berlalu..
la tak bergerak dari kursinya. Matanya terus menatap layar ponsel yang kini menunjukkan grafik candlestick yang terus naik. ETH perlahan tapi pasti melewati angka demi angka.
1.760... 1.775... 1.800..."Naik terus...," bisiknya.
Kopi di mejanya sudah lama tidak tersentuh. Pelayan sudah dua kali datang menawarkan refill, tapi ia hanya menggeleng. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya.Tangannya gemetar setiap kali candlestick membentuk higher high.
1.850...
Satu lonjakan lagi. Jantungnya berdetak cepat, seperti genderang perang sedang tertabuh di dadanya.
Lalu...1.881. Aplikasi trading mengeluarkan suara notifikasi.
"Position Closed - Target Price Hit"
Profit: Rp 102.834.000
Nael menutup mulutnya sendiri, Nafasnya tercekat. Matanya tak bisa percaya dengan angka yang tertulis di layar.
"Seratus... juta...?" bisiknya.
Dia berdiri mendadak. Kursi di belakangnya terjatuh dan beberapa orang menoleh. Tapi ia tak peduli. Tangannya masih gemetar. la mengecek ulang.
Modal: $500. Profit bersih: lebih dari 100 juta rupiah. Dalam waktu tiga jam, la tertawa kecil. Bukan karena senang. Tapi karena otaknya belum bisa menerima kenyataan.
"Apa ini mimpi?" la mencubit tangannya sendiri. Sakit.
Tiba-tiba, bayangan angka muncul lagi di depan matanya. Kali ini lebih cepat, lebih padat:
BTC/USDT: Short. Entry 28.005. Exit 26.322. Timeframe: 7 hours. Accuracy: 99.91%
"Ini bukan kebetulan...Ini kekuatan."
Nael membuka posisi lagi, kali ini lebih besar. Lebih berani...Aset yang di gunakan Rp 50 JT. Leverage 75x arah short. Btc
Tangannya lebih stabil sekarang seolah ia tahu jika ia tak akan kalah.