Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
GELANG KASIH SEKAMPUNG

GELANG KASIH SEKAMPUNG

Rony Aprasila | Bersambung
Jumlah kata
212.7K
Popular
11.9K
Subscribe
728
Novel / GELANG KASIH SEKAMPUNG
GELANG KASIH SEKAMPUNG

GELANG KASIH SEKAMPUNG

Rony Aprasila| Bersambung
Jumlah Kata
212.7K
Popular
11.9K
Subscribe
728
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinPewaris21+Harem
Bambang Surono, pemuda miskin yang sejak kecil ditinggalkan orang tuanya, hanya bisa menjalani hidup sederhana bersama sang kakek. Namun, tepat di usia 20 tahun, sebuah gelang pusaka mengubah hidupnya dan membangkitkan "aura pemikat level dewa". Sejak saat itu, pesona Bambang mulai menarik perhatian para wanita dewasa di sekitarnya, dari wanita matang yang kesepian hingga perempuan berkelas yang sebelumnya tak pernah melirik pemuda sepertinya. Kehidupan Bambang yang dulu sunyi pun berubah menjadi perjalanan penuh godaan, kedekatan, dan penaklukan hati para wanita dewasa.
BAB 1. KESABARAN

Fajar baru saja menyingsing di sebuah desa terpencil yang dikelilingi hamparan sawah dan perbukitan hijau.

Di ujung desa berdiri sebuah rumah kayu tua yang hampir roboh..Atapnya ditambal dengan seng bekas, sementara dindingnya dipenuhi celah yang membuat angin mudah masuk pada malam hari.

Di rumah sederhana itulah Bambang Surono tinggal bersama kakeknya, Pak Wiryo.

Sejak kecil, kehidupan Bambang tidak pernah mudah…Setelah kedua orang tuanya bercerai, ayahnya pergi meninggalkan desa dan tidak pernah kembali.

Ibunya pun memilih memulai kehidupan baru di kota lain..Sejak saat itu, Bambang diasuh oleh sang kakek yang hidup dari hasil berkebun dan mencari kayu bakar.

Meski hidup serba kekurangan, Bambang tidak pernah mengeluh.

Setiap pagi ia membantu kakeknya menyiram kebun, memperbaiki pagar bambu, lalu berangkat bekerja serabutan demi menambah penghasilan.

Namun, kemiskinan sering kali membuatnya menjadi sasaran ejekan.

Suatu pagi, ketika Bambang berjalan melewati warung desa dengan mengenakan baju yang sudah pudar warnanya, beberapa pemuda mulai berbisik.

"Lihat, Bambang datang lagi."

"Hahaha... Taruhan yuk…Ada yang mau gak sama Bambang?"

"Jodoh ada jalanya sendiri..Tapi nanti di umur lima puluh"

Mereka tertawa keras.

Seorang pria lain menambahkan,

"Rumahnya saja hampir roboh, masih berani lewat depan warung seperti orang kaya."

"Hahaha..."

Bambang hanya tersenyum tipis.

Ia tidak menjawab sepatah kata pun.

Melihat Bambang diam, salah seorang pemuda kembali mengejek.

"Hei Bambang!"

"Jadi tukang pijit aja..Sehari bisa masuk tiga ratus ribu minimal?"

"Atau jadi gigolo..Wajahmu kan tampan?"

Tawa kembali pecah.

Bambang hanya menganggukkan kepala kecil.

"Semoga kalian sehat selalu."

Jawaban itu justru membuat mereka semakin bingung.

"Bukannya marah, dia malah mendoakan."

"Dasar aneh."

Bambang melanjutkan langkahnya tanpa sedikit pun menyimpan dendam.

Di perjalanan menuju kebun, Bambang melihat seorang nenek kesulitan mengangkat karung berisi hasil panen.

"Nek, biar saya bantu."

Nenek itu tersenyum lega.

"Terima kasih, Bambang."

"Kalau bukan kamu, entah siapa lagi yang mau membantu nenek."

Bambang memanggul karung itu hingga ke rumah sang nenek.

Sesampainya di sana, nenek tersebut mencoba memberikan beberapa lembar uang.

"Ini buat kamu."

Bambang langsung menggeleng.

"Tidak usah, Nek."

"Saya ikhlas membantu."

Nenek itu tersenyum haru.

"Kamu memang anak baik."

Siang harinya, Bambang kembali membantu memperbaiki atap rumah tetangganya yang bocor akibat hujan semalam.

"Terima kasih, Bambang."

"Kalau bukan kamu, aku pasti harus memanggil tukang."

Bambang hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa, Pak."

"Selama saya bisa membantu."

“Ini buat beli rokok”..Bapak itu memberikan uang pecahan sepuluh ribu dua lembar

Karena sifatnya yang jujur dan ringan tangan, banyak orang tua di desa sebenarnya menyukai Bambang.

Hanya sebagian pemuda yang gemar meremehkannya karena kemiskinannya.

Menjelang sore, Bambang pulang ke rumah.

Pak Wiryo sedang duduk di kursi bambu tua sambil menyeruput teh hangat.

"Kau sudah pulang?"

"Iya, Kek."

"Kemarilah."

Bambang duduk di samping kakeknya.

Pak Wiryo memperhatikan wajah cucunya.

"Kau diejek lagi?"

Bambang tersenyum kecil.

"Sedikit."

"Kau marah?"

Bambang menggeleng.

"Untuk apa?"

"Mereka hanya melihat kondisi luar kita."

"Mereka tidak tahu isi hati seseorang."

Pak Wiryo mengangguk pelan.

"Itulah yang membuat Kakek bangga kepadamu."

Bambang menatap wajah tua yang mulai dipenuhi keriput itu.

"Tapi kadang aku sedih, Kek."

"Kenapa?"

"Kenapa orang lebih mudah menilai dari pakaian luar daripada dari perbuatan?"

Pak Wiryo tersenyum bijaksana.

"Itu memang sifat sebagian manusia."

"Mereka hanya melihat apa yang tampak."

"Lalu kapan mereka akan mengerti?"

Pak Wiryo menepuk bahu Bambang.

"Dengarkan baik-baik."

"Boleh saja orang meremehkanmu hari ini."

"Boleh saja mereka menertawakan kemiskinan kita."

"Tetapi jangan pernah membalas dengan kebencian."

Bambang mengangguk perlahan.

Pak Wiryo melanjutkan,

"Kesabaran bukan berarti lemah."

"Kesabaran adalah kekuatan."

"Suatu hari nanti..."

"...orang-orang yang hari ini menghina dan meremehkanmu akan datang dengan kepala tertunduk."

"Mereka akan menghormatimu bukan karena pakaianmu."

"Bukan pula karena hartamu."

"Melainkan karena akhlak dan perjuanganmu."

Bambang memandang kakeknya dengan mata berkaca-kaca.

"Apa Kakek benar-benar yakin?"

Pak Wiryo tersenyum.

"Sangat yakin."

"Orang baik mungkin sering diuji."

"Tapi Tuhan tidak pernah menutup jalan bagi orang yang terus berbuat baik."

Bambang menggenggam tangan kakeknya.

"Aku akan mengingat nasihat itu."

Pak Wiryo tersenyum bangga.

"Itulah cucu Kakek."

Malam mulai turun.

Setelah makan malam sederhana dengan sayur dan ikan asin, Bambang duduk di teras rumah bersama kakeknya.

Angin malam berembus pelan.

Di kejauhan terdengar suara jangkrik.

Pak Wiryo tiba-tiba menghela napas panjang.

Bambang menyadarinya.

"Kakek sedang memikirkan sesuatu?"

Pak Wiryo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata,

"Kakek hanya teringat anak-anak Kakek."

Bambang memahami maksudnya.

Sejak kecil ia mengetahui bahwa ayahnya, pamannya, dan bibinya pernah hidup berkecukupan.

Namun semuanya berubah ketika buyut Bambang meninggal dunia.

Harta keluarga menjadi sumber pertengkaran.

Ayah Bambang, kedua pamannya, dan bibinya saling berebut warisan.

Tidak ada yang mau mengalah.

Masing-masing hanya memikirkan bagian mereka sendiri.

Dalam pertengkaran itu, tidak seorang pun memikirkan nasib Pak Wiryo.

Setelah harta dibagi, mereka pergi membawa bagian masing-masing.

Mereka hidup di kota.

Sebagian berhasil menjadi orang berada.

Namun tidak satu pun bersedia membawa Pak Wiryo tinggal bersama mereka.

Alasannya selalu sama.

"Tidak ada tempat."

"Masih sibuk."

"Belum punya waktu."

Padahal mereka hidup berkecukupan.

Bambang mengepalkan tangan.

"Jadi... Ayah juga meninggalkan Kakek karena harta?"

Pak Wiryo tersenyum pahit.

"Bukan hanya ayahmu."

"Paman dan bibimu juga."

"Mereka lebih memilih mengejar kekayaan daripada merawat orang tuanya sendiri."

Bambang menundukkan kepala.

Baru kali ini ia benar-benar memahami luka yang selama ini disimpan sang kakek.

Pak Wiryo tidak pernah membenci anak-anaknya.

Yang membuatnya kecewa adalah kenyataan bahwa harta mampu memutuskan ikatan keluarga yang seharusnya dijaga.

"Kek..."

"Ya?"

"Aku mungkin tidak punya banyak uang."

"Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan Kakek."

Pak Wiryo memandang cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ia mengusap kepala Bambang dengan penuh kasih sayang.

"Itulah harta terbesar yang Kakek miliki."

“Kamu jangan khawatir..Tetap menjadi orang baik dan rendah hati..Tidak lama lagi”

“Tidak lama lagi apa kek?”

Kakeknya hanya menatap Bambang hangat dan senyum yang penuh misteri tanpa menjawab

Malam semakin larut…Di rumah tua yang sederhana itu, dua generasi duduk berdampingan dalam keheningan.

Bambang semakin mengerti bahwa kemiskinan bukanlah aib yang sesungguhnya.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika seseorang memiliki segalanya, tetapi kehilangan hati nurani.

Sejak malam itu, Bambang bertekad untuk terus menjaga nilai-nilai yang diajarkan kakeknya, karena ia percaya bahwa suatu hari nanti, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri.

“Kakek istirahat dulu ya Bang..Jangan lupa periksa kompor dan lain lain dan jangan lupa untuk meditasi sebelum tidur agar pikiranmu jernih esok harinya”ucap Kakeknya lalu berdiri dengan bantuan tanganya menopang lantai kayu

“Baik kek”ucap Bambang

Setelah kakeknya masuk..Bambang menatap langit dari teras rumahnya di temani suara jangkrik dan kodok

Lanjut membaca
Lanjut membaca