Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
AYAHKU SEORANG TABIB HEBAT

AYAHKU SEORANG TABIB HEBAT

Purple Flow | Bersambung
Jumlah kata
233.5K
Popular
4.9K
Subscribe
329
Novel / AYAHKU SEORANG TABIB HEBAT
AYAHKU SEORANG TABIB HEBAT

AYAHKU SEORANG TABIB HEBAT

Purple Flow| Bersambung
Jumlah Kata
233.5K
Popular
4.9K
Subscribe
329
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremMiliarder
Arya hanyalah seorang duda miskin yang hidup sederhana bersama putrinya, Shifa. Setelah istrinya meninggalkan mereka demi lelaki kaya, Arya bekerja sebagai kuli panggul di pasar demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah kendi misterius. Sejak malam itu, hidup Arya berubah.
Bab 1 : Kuli panggul

"Risma, kamu mau kemana?" tanya Arya sedikit heran.

Risma tidak menjawab, dia hanya sibuk memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Risma mengambil pakaian dan juga beberapa barang berharga yang ia miliki.

"Aku sudah bosan hidup susah sama kamu, aku mau pergi aja," ucapannya dengan ketus.

Arya menarik tangan Risma dan menatapnya, "Risma aku mohon jangan kaya gini, aku ini suami kamu. Jadi please hargai aku sebagai kepala rumah tangga di rumah ini."

Risma menepis tangan Arya. "Apa! Kepala rumah tangga yang miskin dan nggak berguna," ucapnya dengan sinis. "Kamu masih minta di hargain, inget Mas... rumah tangga itu juga butuh uang bukan soal cinta dan setia aja."

Perkataan Risma sangat menusuk hati Arya, Arya hanya terdiam menatap istrinya itu.

Berberapa saat kemudian, Arya berkata dengan tegas. "Jadi kamu mau meninggalkan aku, karena aku miskin!"

Risma mantap Arya penuh emosi. "Iya!" bentak Risma. "Kamu tahu diri dikit dong, tiga tahun kamu ngajak aku hidup susah dan sekarang aku sadar... kamu nggak pantes jadi suami aku. Paham!"

Risma langsung menarik tasnya dan siap untuk pergi. Tapi lagi-lagi Arya menarik tanganya.

"Risma kamu nggak kasian sama Shifa, dia masih kecil. Dia masih butuh ibunya." Arya menunjuk kearah Shifa yang masih tertidur pulas.

Risma ikut menatap Shifa, tapi Risma tetap pada pendiriannya untuk pergi meninggalkan Arya dan Shifa demi membahagiakan dirinya sendiri.

"Baik... kalau kamu pergi dari rumah ini, aku anggap kita sudah cerai!" tegasnya penuh emosi.

Mata Arya sudah berkaca-kaca, ia sudah tidak kuat lagi dengan sikap Risma. Kata-kata yang selama ini ia jaga, akhirnya terucap juga dari mulutnya.

Risma menatap tajam ke arah Arya. "Baik Mas... memang itu yang aku harapkan."

Risma lalu membuka pintu dan menutupnya dengan kencang.

Brraakk!!

Flash back off

***

Satu tahun berlalu...

Di dalam kontrakan itu Arya masih menatap putrinya yang sedang tidur pulas di atas ranjang. Sementara di luar hujan lebat dan suara petir yang masih terdengar jelas.

“Shifa, maafkan Ayah... karena Ayah belum bisa membuatmu bahagia. Ayah janji, suatu saat nanti... ayah akan membuatmu bahagia.”

Ingatan Arya melayang pada sosok yang selalu Shifa tanyakan, yaitu Risma. Sudah satu tahun ini, Risma pergi dan tak kunjung pulang. Sepertinya benar kata para tetangga, Risma sudah menikah lagi dengan pria kaya.

Arya mulai merebahkan tubuhnya di samping Shifa, ia memejamkan matanya berusaha mengusir ingatan yang terus menghantuinya setiap saat.

***

Pagi hari telah tiba, Arya bersiap untuk pergi bekerja. Ia selalu membawa Shifa bersamanya dan menitipkannya di kios temannya selama Arya bekerja.

“Shifa, ayo habiskan dulu makanannya. Sebentar lagi kita berangkat,” ucap Arya dengan lembut.

Shifa mengangguk tanpa bersuara, sejak ibunya pergi anak kecil itu lebih banyak diam. Dan hanya sesekali berinteraksi dengan Arya, hal itu yang membuatnya semakin sedih.

Terlebih lagi usia Shifa terus bertambah, Arya terus memikirkan cara supaya Shifa bisa berkomunikasi dengan baik pada semua orang, termasuk dirinya.

Setelah sampai di pasar, Arya menuju kios milik Mirna dan disana sudah terlihat Mirna sedang merapihkan dagangannya. Begitu melihat Arya dan Shifa datang, Mirna langsung menyambutnya dengan senyuman.

"Hallo Shifa..." ucap Mirna dengan lembut sambil mengusap kepala anak itu.

“Mir, maaf ya aku selalu ngerepotin kamu,” ucap Arya sambil mendudukkan Shifa di atas kursi.

Mirna menatap Arya sambil tersenyum. “Santai aja Arya, kita kan temenan udah lama. Kamu fokus aja kerja, Shifa biar aku yang jagain.”

Arya tersenyum, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan teman sebaik Mirna. Arya berdiri di depan Shifa lalu berjongkok.

“Shifa, Ayah kerja dulu ya. Kamu tunggu disini sama tante Mirna,” ucapnya sambil memegang tangan putrinya itu.

Shifa hanya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah itu Arya lalu pergi, menuju mobil truk yang sedang terparkir. Arya kini sudah bergabung, bersama teman-teman nya.

“Untung kamu dateng, kalo nggak... kita berdua bisa encok, hahaha.” ucap Ucup sambil tertawa.

“Hahaha... ya udah yuk buruan beresin biar kita bisa cepet ngopi,” sahut Joko.

Arya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, begitu lah keseharian Arya bersama teman-temannya.

Di sudut lain, seorang gadis terus memperhatikan Arya yang sedang sibuk memanggul karung sayur. Hingga gadis itu tak sadar, Ayahnya sedang memperhatikannya dari dalam kios.

“Rasti! Ngapain kamu disitu? Pasti kamu liatin Arya kan!" ucapnya ketus. "Bapakkan sudah bilang, jangan pernah kamu memperhatikan dia. Bapak sudah menjodohkan kamu dengan anak pak kades," lanjutnya. "Sebaiknya sekarang kamu pulang!"

Ayahnya Rasti bernama Pak Usman dan dia adalah juragan beras di desa itu, ia cukup terkenal sombong karena kekayaannya.

“Tapi Rasti nggak mau di jodohkan pak, Rasti masih mau lanjut kuliah,” ucapnya.

Pak Usman berdiri dan langsung menghampirinya. “Sudah, sebaiknya kamu pulang. Jangan banyak membantah!" ucap Pak Usman sambil menatap tajam ke arah Rasti.

Rasti hanya menunduk dan tidak berani membantah, ia langsung pergi dari kios bapaknya.

Sementara Arya yang melihat sikap Pak Usman kepada anaknya hanya bisa menggelengkan kepala sambil fokus mengangkat karung sayur yang terakhir.

“Kasian ya si Rasti,” ujar Joko sambil duduk di dekat warung samping truk.

Arya menoleh sambil menata karung sayur yang baru saja ia turunkan. “Udah lah biarin aja. Kita nggak perlu ikut campur, ribet kalau punya urusan sama juragan.”

Joko dan Ucup hanya mengangguk, karena memang benar jika berurusan dengan pak Usman akan membuat mereka pusing sendiri.

Beberapa jam telah berlalu dan kini Arya sudah menerima upah. Ia segera menghampiri Shifa di kios Mirna.

“Mir makasih ya, udah jagain Shifa. Aku pamit pulang dulu,” ucapnya.

Mirna tersenyum sambil membungkuskan beberapa sayuran untuk di bawa pulang oleh Arya. “Santai aja, nih bawa buat kamu masak. Jangan nolak, bawa aja,” ucap Mirna sambil menyodorkan keresek yang berisi sayuran, dan itu pun harus sedikit memaksa karena Arya selalu menolak.

Arya menerimanya sambil tersenyum getir, ia tahu kehidupannya sulit. Tapi, ia tak mau terlalu merepotkan orang-orang di sekitarnya.

“Terimakasih ya, Mir.”

Kini Arya berjalan bersama Shifa menyusuri jalan menuju kontrakan sempit yang mereka tinggali. Di sepanjang jalan ia terus memikirkan cara supaya dia dan Shifa bisa hidup dengan layak dari hari ke hari.

Saat langkahnya melambat karena lelah, sebuah mobil hitam mengkilap tiba-tiba melesat kencang dari arah berlawanan. Menghantam kubangan air di tepi jalan.

Air kotor itu menyembur tinggi, dengan refleks Arya menarik tubuh Shifa ke dalam pelukannya. Cipratan air berlumpur itu pun menghantam punggung Arya dan wajahnya.

Tubuhnya langsung basah kuyup, rambutnya juga ikut basah. Sementara Shifa hanya terdiam menggenggam erat baju Ayahnya.

Mobil hitam itu mendadak menepi beberapa meter di depan mereka, seolah pengemudinya baru menyadari apa yang terjadi.

Arya menatap ke arah mobil dengan dada yang bergemuruh antara marah, lelah dan penuh rasa hina yang kembali mengendap di dadanya.

“Sayang kamu nggak apa-apa kan?” tanya Arya kepada Shifa.

Shifa hanya menggeleng pelan sambil menatap Arya. “Baju... A–yah... Basah,” ucapnya sedikit terbata.

Arya tersenyum mendengar anaknya mulai berbicara. Lalu ia mengusap kepala Shifa sambil berkata, “nggak apa-apa basah, yang penting Shifa baik-baik aja.”

Kemudian Arya berdiri menatap ke arah mobil hitam itu. Pintu kemudi mobil terbuka, keluar lah kaki seorang wanita... putih dan mulus.

Wanita itu berdiri dan mengenakan blazer merah, lalu ia menghampiri Arya sambil berkata. “Mas, maafkan saya, saya tidak sengaja. Tadi saya sedang buru-buru,” ucapnya dengan sopan.

Arya menghela napas sejenak. “Tidak apa-apa mbak, lain kali tolong hati-hati membawa mobilnya.”

Tidak banyak bicara lagi, Arya langsung pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.

"Siapa ya dia?" gumam wanita itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca