Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Liar Sang Pemikat

Gairah Liar Sang Pemikat

Naga Hitam | Bersambung
Jumlah kata
59.3K
Popular
6.0K
Subscribe
403
Novel / Gairah Liar Sang Pemikat
Gairah Liar Sang Pemikat

Gairah Liar Sang Pemikat

Naga Hitam| Bersambung
Jumlah Kata
59.3K
Popular
6.0K
Subscribe
403
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremPertualangan
Eko Prayitno pemuda desa yang miskin dan menyedihkan. Namun hidupnya berubah di penuhi keberuntungan dengan wanita, setelah menjadi tumbal pesugihan.
Bab 1 - Tidak Sengaja Meremas

Pagi baru saja menyingsing di Desa Nongko, tetapi keringat sudah membasahi kaus lusuh Eko Prayitno.

Di usia yang seharusnya dihabiskan dengan buku dan pena, Eko justru menggenggam sapu lidi yang gagangnya mulai retak. Sejak kakeknya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—meninggal dunia, Eko terpaksa bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beruntung, Juragan Slamet mau menerimanya bekerja dengan upah Rp100.000 per hari. Bagi Eko, jumlah itu sangat berarti, meski ia harus mengerjakan apa saja: membersihkan kandang, mengangkut karung beras, hingga menyapu halaman rumah mewah milik sang juragan.

SREK... SREK... SREK...

Suara sapu lidi bergesekan dengan tanah kering. Eko sedang menyapu di dekat pagar ketika beberapa warga berhenti di seberang jalan.

"Lihat tuh si Eko," ujar salah seorang warga sambil tertawa kecil. "Kasihan sebenarnya. Sudah tidak punya siapa-siapa, sekolah juga tidak tamat. Paling nanti cuma jadi pesuruh Juragan Slamet."

"Iya," sahut yang lain sambil menghembuskan asap rokok. "Masa depannya sudah jelas. Tiap hari cuma nyapu dan bersih-bersih. Yang penting bisa makan saja sudah untung."

Tangan Eko terhenti. Dadanya terasa panas. Setiap perkataan mereka menusuk, seolah masa depannya sudah ditentukan.

Eko meremas gagang sapu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak membalas dan tidak menoleh.

Setelah menarik napas panjang, ia memikul keranjang sampah menuju tempat pembuangan di balik deretan pohon pisang, tidak jauh dari rumah Juragan Slamet. Baru saja mengosongkan keranjang, suara bel sepeda mengejutkannya.

Seorang gadis mengayuh sepeda mendekat. Wajahnya yang bersih dan manis langsung mengenalkan sosok itu: Yanti, teman masa kecilnya yang kini jadi salah satu gadis idaman di Desa Nongko.

Melihat seragam SMA yang dikenakan Yanti, Eko mendadak minder. Baju lusuhnya yang penuh keringat terasa berbanding terbalik dengan penampilan Yanti yang rapi.

Diliputi rasa malu, Eko buru-buru memutar badan dan melangkah pergi.

"Eko!" Panggilan nyaring Yanti menghentikan langkahnya seketika.

Eko menoleh pelan, berusaha menutupi rasa canggungnya. "Kenapa, Yan?"

Yanti menuntun sepedanya mendekat, menatap Eko dengan tatapan iba. "Aku... cuma mau bilang turut berduka cita ya, Ko, soal Kakekmu. Maaf baru sempat bilang sekarang."

"Iya, Yan. Terima kasih," balas Eko lirih, menunduk melihat tanah.

Suasana sempat hening sejenak sebelum Yanti kembali membuka suara dengan nada cemas. "Ko, apa benar kamu sekarang kerja di rumah Juragan Slamet?"

Eko mengangguk. "Iya, benar. Baru beberapa hari ini."

Raut wajah Yanti makin tegang. Ia melangkah lebih dekat dan memelankan suaranya. "Kalau bisa, berhenti aja, Ko. Mending cari kerjaan lain."

Eko mengerutkan dahi, bingung. "Kenapa memangnya?"

"Kamu enggak dengar kabar burung di desa?" Yanti celingukan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka. "Belakangan ini ada beberapa pekerja Juragan Slamet yang hilang tiba-tiba. Sampai sekarang enggak ada yang tahu mereka ke mana."

Mendengar itu, Eko justru mendengkus tipis. Ia menganggap peringatan Yanti berlebihan. "Alah, itu paling cuma desas-desus warga desa yang suka mengada-ada, Yan. Lagian aku butuh uangnya buat makan sehari-hari. Juragan Slamet mau bayar lancar, ya aku kerja."

Sedang asyik berbicara, suara langkah kaki tergesa-gesa memutus percakapan mereka.

Ibu Yanti yang kebetulan melintas di dekat sana mendadak berhenti. Matanya membelalak lebar melihat putrinya berdiri berdekatan dengan Eko yang berpenampilan kusam.

Tanpa menghiraukan tempat, wanita itu langsung menghampiri mereka dengan muka merah padam.

"Yanti! Ngapain kamu berdiri di sini sama dia?" bentaknya kasar, lalu mengalih pandangannya ke arah Eko dengan tatapan jijik. "Kamu itu sadar diri sedikit, Eko! Jangan coba-coba dekat sama anak saya. Sudahlah miskin, cuma pesuruh, mau ngerepotin anak saya juga?"

"Bu! Jangan begitu, Eko ini cuma..." Yanti berusaha memotong, wajahnya memerah karena malu dan tak enak hati.

"Kowe diam, Yanti!" potong ibunya cepat, memelototi sang putri. "Kamu itu sekolah yang bener biar punya masa depan, bukan malah keluyuran sama orang yang enggak jelas gini. Jangan pernah ketemu sama dia lagi!"

Kata-kata tajam itu menghujam dada Eko tanpa ampun. Tangan Eko mengepal kuat di samping pinggangnya, berusaha keras menahan panas di matanya. Rasa sakit hati yang luar biasa menjalar hingga ke tenggorokan.

"Saya permisi dulu, Bu... Yan," kata Eko lirih tanpa berani menatap mata mereka. Ia memutar badan dan melangkah pergi secepatnya, membawa luka baru di dadanya.

Sementara itu, Ibu Yanti memegang bahu putrinya dan mendorong sepedanya pelan. "Ayo cepat berangkat sekolah! Jangan buang-buang waktu mengurusi orang tidak berguna."

"Iya, Bu, iya... Yanti berangkat sekarang," sahut Yanti lirih sambil menunduk.

Begitu kembali ke area rumah mewah milik Juragan Slamet, langkah Eko terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang berdiri di teras samping.

Wanita itu adalah Desi, istri muda Juragan Slamet. Usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari Eko, tetapi pesonanya begitu memikat dengan lekuk tubuh yang terawat.

Desi Dialah yang dulu membujuk Juragan Slamet agar mau mempekerjakan Eko karena merasa iba saat kakek Eko meninggal dunia.

Mata Desi berbinar begitu melihat keberadaan Eko. "Eko! Sini sebentar," panggilnya seraya melambaikan tangan.

Eko mendekat pelan-pelan sambil menundukkan pandangan. "Iya, Mbak Desi? Ada apa?"

"Tolong periksa lampu di kamarku, ya. Semalam tidak mau menyala, sepertinya putus atau ada kabel yang longgar," ujar Desi halus.

Mendengar kata "kamar", raut wajah Eko mendadak cemas. Ia tidak berani bertindak sembarangan. "Juragan Slamet ada di dalam, Mbak? Saya takut nanti disalahartikan kalau masuk ke kamar."

Desi terkekeh pelan, matanya menatap Eko dengan pandangan menggoda. "Lho, memangnya kamu mau ngapain di kamarku kok takut disalahartikan? Mau macam-macam, ya?"

Wajah Eko seketika memerah menahan malu. "E-enggak, Mbak! Bukan begitu maksud saya..."

Melihat Eko yang salah tingkah, tawa Desi makin pecah. "Sudah, jangan tegang begitu. Juragan baru saja pergi pas kamu membuang sampah tadi. Rumah lagi sepi."

Eko mendesah lega setelah mendapat kepastian itu. Rasa khawatirnya menguap. "Ya sudah, Mbak. Saya periksa lampunya sekarang."

Setibanya di dalam, aroma harum yang lembut langsung menyambut hidung Eko. Di sudut ruangan, beberapa helai pakaian dalam tergeletak belum sempat dirapikan, sempat membuat pikiran Eko melayang membayangkan hal-hal liar.

Namun, Desi yang sadar langsung bergegas membereskannya sambil tersenyum tipis. "Lanjut diperiksa dulu lampunya, Ko."

Pikiran Eko belum sepenuhnya tenang, apalagi ketika matanya tak sengaja melirik lekuk tubuh Desi yang begitu memikat. Sempat terbesit niat nakal di kepalanya, tetapi Eko cepat-cepat menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran kotor itu jauh-jauh.

Eko lalu naik ke ujung ranjang untuk memeriksa saklar dan Bohlam. "Cuma putus ini, Mbak. Tinggal diganti bohlam baru."

"Sebentar, sepertinya masih ada stok lampu baru di lemari luar," ujar Desi. Tak lama kemudian, ia kembali membawa bohlam yang baru.

Eko menerima lampu tersebut dan memutarnya hingga terpasang rapi. "Coba nyalakan saklarnya, Mbak."

Desi menekan saklar di dekat pintu, dan seketika kamar itu terang benderang. "Wah, iya! Berhasil, Ko. Terima kasih ya," ucap Desi lega.

Namun, nasib naas menimpa Eko saat hendak turun dari ujung ranjang. Kakinya tersangkut seprei hingga ia kehilangan keseimbangan.

Eko jatuh melayang tepat ke arah Desi yang berdiri tidak jauh dari ranjang.

BRUUK!

Tubuh Eko menimpa tubuh montok Desi di atas lantai, membuat mereka berdua terjatuh dengan posisi Eko berada di atasnya.

Dalam kepanikan itu, kedua tangan Eko tanpa sengaja mendarat pas di dada lembut Desi, sementara salah satu lututnya agak menekan di area sensitif antara kedua paha wanita itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca