
Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!
Nafayr|Bersambung
- Jumlah kata
- 145.0K
- Popular
- 21.3K
- Subscribe
- 447
- Jumlah kata
- 145.0K
- Popular
- 21.3K
- Subscribe
- 447
Sinopsis
Perjalanan seorang reinkarnator yang memperoleh Sistem dan akses ke Alam Mimpi untuk mengubah nasib dan dunianya.
Ulasan
10 ulasan
Yao Zun
25/8/26 12:53
padahal saya cuman berniat singgah bentar, membaca beberapa bab lalu pergi melanjutkan pengembaraan.. namun ternyata cerita ini memiliki daya tarik yang cukup merepotkan bagi seorang kultivator seperti diriku. sekarang setiap selesai satu bab tangan ini malah refleks mencari tombol lanjut, sayangnya tombol lanjutannya tidak selalu muncul🗿 author, diriku tidak ingin ikut campur urusan dunia fana, tapi kalau sehari diberi dua bab, mungkin perjalanan kultivasiku akan menjadi lebih lancar. kalau sampai tiga bab.. hmmm, mungkin sudah waktunya Yaozun memberikan sedikit keberuntungan kepada sang author. tidak ada paksaan tentunya, hanya sedikit sugesti dari seorang Yaozun yang kebetulan terlalu penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
PILIHAN
Bab 1: Kembali dari Masa Depan
Pesisir Samudra Naga tak lagi menyerupai daratan.
Bumi di sana telah remuk, meninggalkan luka-luka menganga berupa kawah hantaman yang tak terhitung jumlahnya.
Genangan darah kental yang mengering berbaur dengan jelaga dan debu, membentang bagai permadani kelam sejauh mata memandang.
Jika kitab-kitab kuno pernah menceritakan tentang Kiamat Para Dewa, inilah wujud nyatanya. Bahkan jauh lebih mengerikan, karena yang tersisa hanyalah kesunyian mati.
Dunia telah lama tenggelam dalam Era Kehancuran. Semuanya bermula saat cakrawala merekah retak, memuntahkan arus Energi Vital yang liar ke muka bumi.
Makhluk-makhluk asing berdatangan dari celah dimensi, sementara para manusia yang menyerap energi itu pun ikut mengalami perubahan gen.
Peradaban runtuh, bangsa-bangsa bertikai dalam prasangka, hingga akhirnya sisa-sisa pahlawan bumi bersatu di bawah Asosiasi Seni Bela Diri Dunia.
Jutaan prajurit dikerahkan, ribuan master menyusul ke garis depan. Semua orang percaya persatuan itu adalah jawaban. Tapi nyatanya, itu hanya ilusi konyol.
"Kalau tahu bakalan sejeblok ini, harusnya aku mati duluan bersama mereka," racau seorang pria berseragam militer yang sudah koyak tak berbentuk.
Dadanya menganga lebar hingga tulang rusuknya memantulkan rona langit yang memerah kelam.
Di jemarinya yang gemetar dan kehilangan tenaga, terselip sebatang cerutu kering yang belum sempat tersulut.
Elias Haven menatapnya lama, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir.
Entah ingin menertawakan takdir atau mengutuk ketidakberdayaan mereka sendiri.
Bukankah cerutu mahal itu disiapkan untuk merayakan kemenangan?
Namun ironisnya, yang lebih dulu menjadi abu justru seluruh pasukan mereka.
Ingatan Elias terlempar ke hari keberangkatan, yang semua orang tahu, itu jalan merupakan satu arah menuju liang lahat.
Saat itu, sang jenderal menyodorkan kotak kayu berukir itu seraya berbisik pelan,
"Sersan Elias Haven. Ini cerutu terbaik yang pernah saya temukan. Dua puluh tahun saya simpan cuma untuk momen ini.
Nanti, kalau kita berhasil menang, kita bakar bersama sambil menertawakan seluruh kegilaan ini. Bagaimana?"
"Kegilaan apa yang perlu dikenang? Hmph! Dasar tua bangka sinting," bisik Elias serak, suaranya hampir habis ditelan angin.
Tangannya yang bersimbah darah kental milik rekan-rekannya menyulut cerutu itu.
Diisapnya dalam-dalam, tapi rasanya tak ada beda dengan tembakau murah yang biasa dinikmati saat bertugas.
Belum sempat kenikmatan itu tuntas, cerutu tersebut terlepas dari cengkeramannya, jatuh terbenam dalam genangan darah kental.
Elias hampir ikut roboh, namun sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang prajurit menolak untuk mati dalam posisi tersungkur.
Dengan seluruh sisa kekuatan yang ada, ia memaksa kakinya berdiri tegak, lalu mendongak.
Di atas sana, langit terlihat sudah hancur berkeping-keping, layaknya kaca yang dihantam palu godam.
Sepasang mata merah raksasa seukuran benua menatap balik dari balik celah dimensi.
Napas Elias berbaur dengan darah yang menyembur dari tenggorokan, dadanya yang hancur dibusungkan, menyuarakan penghormatan terakhirnya pada takdir,
"Aku, Sersan Elias Haven, Legiun Bintang Jatuh Negara Garuda, melapor!"
Angin membawa abu cerutu itu terbang menuju cakrawala, seolah seluruh alam semesta ikut mengheningkan cipta bagi jutaan jasad yang terbaring kaku.
***
'Jadi beginikah rasanya mati? Ngomong-ngomong, ini tempat apa?' Elias membatin heran.
Rasanya hampa, tak ada angin, tak ada deru pertempuran, tak ada rasa sakit yang merobek dada.
Waktu seolah membeku, kesadaran Elias mengambang tanpa arah di tengah samudera kegelapan tanpa batas itu.
Apakah neraka sepucat ini, atau ini hukuman karena ia terus-terusan mengutuki sang jenderal?
'Jenderal, maafkan saya. Saya janji tidak akan memanggil Anda tua bangka lagi. Jadi tolong, jangan biarkan saya membusuk di tempat seperti ini!' mohon Elias panik.
"... Bangunlah, Elias Haven!"
Bentakan nyaring itu menghantam kesadarannya bagai cambuk.
Kepalanya yang terkulai di atas meja kayu tersentak bangkit secara refleks.
"Apa … apa yang terjadi?" gumamnya serak, mata pemuda berambut hitam itu berkedip-kedip cepat, mencoba menembus kabut halus yang menghalangi penglihatannya.
Perlahan, pandangannya memusat. Elias kini tak lagi berdiri di atas tanah bersimbah darah, ia sedang duduk di dalam sebuah ruang kelas!
Cahaya jingga sore menerobos dari sela jendela, jatuh di atas deretan meja kayu dan papan tulis yang tertutup rumus-rumus rumit.
Sementara itu, puluhan pasang mata anak muda menatapnya dengan raut menggelikan.
"Elias! Kamu habis menggali kuburan semalaman, kah?! Kamu tidur seharian di jam pelajaran saya!" teriak pria paruh baya di depan kelas, sosok yang bertindak sebagai guru.
Sebelum Elias sempat mencerna realitas yang terhampar di depan, rasa nyeri tiba-tiba meledak di dalam kepalanya.
'Tahun 2020?! Jangan bilang … aku terlempar sepuluh ribu tahun ke masa lalu?!'
Memori asing membanjiri benaknya bagai lelehan besi panas, memaksa jiwanya menyatu dengan ingatan baru yang mendesak masuk.
Saat itu juga, gelak tawa riuh pecah di sekelilingnya.
"Lihat tuh! Elias kena omel lagi! Dia pantes dapet gelar Juara Tidur Seangkatan!" seru seorang murid sambil menggebrak mejanya.
"Tiap hari kerjaannya cuma tidur. Otaknya mungkin udah mati suri!" timpal yang lain tanpa belas kasihan.
Sang guru mengepalkan tangan, suaranya naik satu oktaf saat melanjutkan,
"Tolong dengar nasehat bapak ini. Ujian akhir tinggal hitungan bulan, Elias Haven. Tapi coba lihat, yang kamu lakukan cuma mendengkur di meja seharian.
Kalau begini terus, jadi kuli bangunan pun tidak akan ada yang mau terima! Kamu tahu berapa standar minimal Energi Vital untuk buruh kasar?"
Dengan kepala yang masih berdenyut hebat, Elias refleks menjawab,
"Itu … nol koma delapan, Pak Guru."
"Hmph!" Guru itu mendengus sinis. "Lalu, apa kamu sudah mencapai angka itu, Tuan Jenius?"
"Sudahlah, Pak Guru, tidak usah dipedulikan," sela seorang murid di bangku belakang. "Toh, dunia juga tidak akan berubah, entah dia bangun atau mati."
"Benar banget! Energi Vital dalam darahnya cuma 0,7! Mau berharap apa lagi dari sampah yang cuma bisa jadi beban?" ejek murid lain diiringi derai tawa.
Elias memilih bungkam, tapi matanya mengamati sekeliling dengan kecermatan seorang veteran perang yang terjebak di wilayah asing.
"Baiklah, dia memang sudah tidak punya harapan. Kelas hari ini selesai!" desah sang guru seraya membereskan buku-bukunya dengan raut pasrah.
Suara gesekan kaki kursi dan riuh obrolan ringan memenuhi ruangan tatkala siswa-siswi mulai berhamburan keluar.
Seorang pemuda bertubuh tambun yang duduk di depan perlahan memutar tubuh, menatap Elias dengan raut cemas sebelum bertanya,
"Hei, Elias. Kau mimpi buruk lagi? Wajahmu kelihatan pucat sekali, seperti baru ketemu setan, kau tahu?"
'Ahh?! Dia sepertinya Miko. Sahabat pemilik tubuh ini. Aku jawab saja dengan normal.'
Elias mengatur napas, kemudian membalas lirih,
"Ya. Mimpi buruk yang sangat panjang. Sampai-sampai, fokus mentalku anjlok. Energi Vital milikku sepertinya juga merosot."
"Huft …" Miko menghela napas, menepuk bahu Elias dengan prihatin. "Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan.
Kondisimu bisa makin parah nanti. Tapi ya mau bagaimana lagi? Kita ini cuma rakyat jelata, Elias.
Urusan menyelamatkan dunia itu tugas para jenius di luar sana. Oh iya, aku ada usul.
Daripada stres, ayo kita ke warnet saja. Hari ini, aku yang bayar sewa komputer sama minumannya."
"Hmm … lain kali aja deh. Aku ingin pulang, aku butuh tidur lebih, Miko," tolak Elias seraya menggeleng halus.
"Miko! Jadi ikut ke warnet tidak?!" teriak seorang murid dari ambang pintu.
"Iya, tunggu!" Miko lalu menoleh kembali ke Elias. "Aku duluan, ya? Ingat, utang main gim kita minggu depan!"
"Baiklah," jawab Elias singkat, senyum tipis terukir kaku di bibirnya saat menatap kepergian Miko.
Daftar bab
138 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
138 bab








