Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!

Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!

Nafayr | Bersambung
Jumlah kata
25.8K
Popular
312
Subscribe
46
Novel / Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!
Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!

Reinkarnasi: Naik Level Lewat Mimpi!

Nafayr| Bersambung
Jumlah Kata
25.8K
Popular
312
Subscribe
46
Sinopsis
FantasiIsekaiReinkarnasiDewa PerangDunia Masa Depan
Perjalanan seorang reinkarnator yang memperoleh Sistem dan akses ke Alam Mimpi, memanfaatkan pengetahuan 10.000 tahun masa depan untuk mengubah nasibnya dan dunia.
Bab 1: Bangunlah, dasar idiot!

"Kalau begini akhirnya, aku harusnya ikut mereka aja, kan?"

Pria dengan seragam militer compang-camping itu duduk tegak di tengah hamparan mayat yang membentang tanpa ujung hingga cakrawala.

Darah segar terus mengalir deras dari dadanya yang koyak dalam, bahkan tulang rusuknya sampai berkilauan di bawah cahaya langit!

Meski begitu, di sela jemarinya yang sudah kehilangan kekuatan, terselip sebatang cerutu yang belum sempat ia nyalakan.

Elias memandangi cerutu itu cukup lama.

Sudut bibirnya perlahan terangkat, entah ingin tertawa atau justru mengutuk nasib.

Bukankah benda kecil itu seharusnya dibakar saat kemenangan?

Ironisnya, yang lebih dulu hangus justru seluruh pasukannya.

Ingatannya kembali pada hari ketika pasukan terakhir berangkat menuju garis depan medan perang, yang semua orang pun tahu itu adalah liang lahat.

Di sanalah, sang jenderal diam-diam menyodorkan sebuah kotak kayu kecil berukir indah seraya berkata,

"Sersan Elias, katanya ini cerutu paling mahal yang pernah dibuat. Sudah lebih dari dua puluh tahun aku menyimpannya.

Kalau kita menang nanti, mari bakar bersama sambil tertawa untuk mengenang segala kegilaan ini, ya? Hahaha!"

"Hmph! Apanya yang mengenang, dasar orang tua," gumam Elias kini dengan suara yang nyaris hilang.

Dengan tangan yang masih berlumuran darah kental rekan-rekannya, ia menyulut cerutu itu dan mengisapnya dalam-dalam.

"Apanya yang cerutu paling mahal di dunia, rasanya sama aja seperti rokok murahan yang biasa kami, anak-anak Legiun Bintang Jatuh nikmati di parit-parit—?!"

Belum sempat diisap hingga habis, benda itu malah tercebur ke genangan darah.

Elias sendiri nyaris menyusul. Namun, harga dirinya sebagai seorang prajurit tak mengizinkan hal itu.

Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia memaksa tubuhnya tetap tegak sebelum mendongakkan kepala.

Langit di atas sana tampak retak seperti kaca yang dihantam palu godam.

Sementara sepasang mata merah sebesar benua menatapnya dari celah itu.

Dengan napas yang bercampur darah, Elias memaksa dadanya yang nyaris hancur tetap dibusungkan sebelum ia berseru,

"Sersan Elias Haven, Legiun Bintang Jatuh Negara Garuda, melapor!"

Seolah seluruh bumi sedang berkabung bersama jutaan jasad yang terbaring di bawah kakinya, angin pun hanya sanggup membawa abu cerutu menuju cakrawala.

***

'Jadi beginikah rasanya mati? Ngomong-ngomong ini tempat apa?' Elias membatin heran.

Ada sesuatu yang aneh. Tidak ada angin, tidak ada suara, bahkan waktu seolah berhenti mengalir.

Rasa sakit yang semula menggerogoti seluruh tubuhnya pun lenyap begitu saja.

Elias tak lagi bisa merasakan tangan, kaki, bahkan detak jantungnya sendiri.

Tersisa kesadaran yang terus melayang di dalam kehampaan tanpa ujung.

'Jadi orang mati memang berakhir di tempat segelap ini? Atau mungkin aku sedang dihukum karena terlalu sering mengutuk pak tua itu?!

Jenderal, maafkan saya, oke? Saya janji tidak akan menjuluki Anda pak tua lagi! Jadi tolong jangan biarkan bawahanmu masuk neraka begini dong!'

"… Hei, bangunlah, Elias Haven!"

'Huh? Apa orang tua itu benar-benar akan menemuiku?!'

Bentakan keras yang penuh kekesalan itu seketika membuat Elias tersentak.

Posisi kepalanya yang semula tertelungkup di atas meja kayu, langsung diangkatnya begitu saja.

"Ada apa ini? Aku di mana?" gumam pemuda dengan rambut hitam itu sambil mengedipkan matanya berulang kali.

Perlahan, ketika penglihatannya mulai jernih, ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah kelas yang sedang berlangsung.

Cahaya jingga menyusup melalui jendela ruangan itu, menerangi deretan meja penuh goresan dan papan tulis yang dipenuhi rumus.

Di saat yang sama, puluhan pasang mata justru sibuk memperhatikannya yang baru saja terbangun dengan tatapan geli.

Ini jelas bukan medan perang. Tidak ada bau anyir darah, tidak ada langit yang retak, dan tentu saja bukan Era Kehancuran!

"Hei, Elias. Apa kamu ini begadang semalaman untuk menggali makam kakekmu?! Kamu sudah tidur seharian penuh di kelas!" bentak seseorang yang tampaknya adalah guru.

Elias kembali berkedip berulang kali, berusaha mencerna situasi yang membingungkan ini saat tiba-tiba, rasa sakit luar biasa meledak di kepalanya.

'… Apa-apaan ini?! Sekarang masih tahun 2020? Jangan bilang aku bereinkarnasi ke masa lalu?!'

Arus informasi tiba-tiba membanjiri jiwa Elias bagai besi cair, memicu denyutan hebat yang mengaburkan penglihatannya.

Sementara di sekitarnya, teman-teman sekelas pemuda itu sudah meledak dalam tawa.

"Hei, lihat tuh si Elias, ketahuan tidur lagi! Pasti bakal jadi juara tidur di kelas, nih!" seru seorang siswa sambil menepuk mejanya keras-keras.

"Dia tidur setiap hari, bro. Otaknya pasti lagi libur permanen," timpal yang lain sambil terkekeh.

Mendengar suasana makin ribut, guru di depan kelas langsung mengertakkan gigi, suaranya naik satu oktaf saat berkata,

"Ujian akhir tinggal beberapa bulan lagi. Tapi apa yang kamu tahu itu cuma mendengkur di atas meja, Elias?!

Kalau terus begini, meski ingin jadi kuli bangunan, bapak yakin tak ada yang mau mempekerjakanmu.

Kamu tahu berapa standar minimal tingkat Energi Vital dalam darah untuk pekerja konstruksi biasa?!"

Masih pusing, Elias menjawab dengan ragu-ragu, "Nol koma delapan, Pak."

"Hmph!" Guru itu mendengus keras. "Lalu, apakah kamu sudah mencapai ambang batas itu, wahai Tuan Jenius?!"

"Pak Guru, sudah deh … biarin Elias tidur aja," seloroh seorang siswa dari belakang dengan nada malas. "Toh, nggak akan ada pengaruhnya juga dia itu buat dunia."

"Hahaha! Benar! Tingkat Energi Vital dalam darahnya cuma 0,7. Apalagi yang bisa dia buat selain tidur dan jadi beban?" ejek yang lain tanpa ampun.

'Apa?!' Elias meraung dalam hati.

Akan tetapi, menyadari situasinya sekarang terlalu membingungkan, ia memilih untuk terus mengamati.

"Huft … dia sama sekali tidak mau berusaha. Baiklah, kelas dibubarkan hari ini." Sang guru hanya bisa mendesah pasrah sambil menepuk jidatnya.

Para siswa pun mulai ramai merapikan barang, suara kursi digeser dan obrolan ringan memenuhi ruangan.

Setelah suasana sudah sepi, seorang pemuda gemuk yang duduk di bangku depan Elias menoleh ke belakang lalu berkata dengan khawatir,

"Hei, Elias, kau bermimpi buruk lagi, ya? Wajahmu pucat sekali, jelas kayak habis dikerjar setan, lho."

'Dia Miko, teman dekat pemilik tubuh yang sebelumnya,’ batin Elias sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut.

Tak mau dicurigai, ia berusaha menjawab senormal mungkin, "Ya, akhir-akhir ini aku emang sering mimpi buruk.

Kondisi mentalku sampai jatuh. Bahkan sebenarnya, tingkat Enerigi Vital dalam tubuhku turun drastis jadi 0,2."

"Udah deh, nggak ada gunanya mikirkan itu terlalu dalam," sahut Miko sambil menepuk bahu Elias dengan penuh perhatian. "Kondisi kesehatanmu bahkan lebih rendah dari milikku.

Kita ini cuma manusia biasa, kawan. Tugas menjadi pahlawan penyelamat dunia, serahin aja deh pada para jenius.

Daripada murung terus, ayo kita main game! Aku traktir minuman sama sewa PC-nya hari ini, gimana?"

"Ehh? Nggak dulu kayaknya, aku mau pulang aja dan melanjutkan tidur di rumah," tolak Elias sambil menggelengkan kepalanya.

"Hei, Miko! Kamu ikut nggak?" panggil seseorang dari luar kelas.

"Iya, iya. Aku ikut!" Miko menjawab lantang, lalu kembali menatap Elias. "Aku pergi dulu. Tapi janji, lain kali kita main bareng, oke?"

"Hmm … iya deh," jawab Elias sambil mengangkat tangan untuk melambai, senyum tipis yang dipaksakan tersungging di bibirnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca