Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Penguasa Monster Legendaris

Penguasa Monster Legendaris

lee lenia | Bersambung
Jumlah kata
57.6K
Popular
872
Subscribe
101
Novel / Penguasa Monster Legendaris
Penguasa Monster Legendaris

Penguasa Monster Legendaris

lee lenia| Bersambung
Jumlah Kata
57.6K
Popular
872
Subscribe
101
Sinopsis
FantasiIsekaiMonsterPertualanganBalas DendamMengubah Nasib
Ryu Valtor, cucu angkat dari pelayan tua tanpa latar belakang jelas, membangkitkan kemampuan langka, yakni memanggil makhluk. Tapi makhluk yang dipanggilnya hanyalah monster terlemah, yakni Slime level F. Membuat semua orang menertawakannya. Pelayan memang hanyalah pelayan, seorang pelayan tidak akan pernah bisa melampaui tuannya sendiri. Tapi bagi Ryu sudah cukup, setidaknya dia tidak akan menjadi pelayan rendahan yang mungkin harus bekerja seumur hidupnya pada klan Veil. Tapi beberapa pertanyaan muncul pada beberapa orang. Bagaimana bisa seorang pelayan memiliki potensi sebagai pemanggil? Mengingat di Eldoria seorang pemanggil sangatlah langka. Tapi, selangka apa pun, kenyataan Ryu memanggil makhluk terlemah tidak bisa dibantah. Dia tetaplah pelayan tidak berguna. Tapi mereka semua tidak pernah tahu apa pun, segala hal yang tersembunyi dan segala rahasia yang diam-diam menunggu terbongkar dari kegelapan. Lalu, pertanyaannya Siapakah Ryu sebenarnya? Pertanyaan itu akan merayap perlahan dalam pikiran setiap orang, merasakan beberapa misteri tak terungkap dalam diri Ryu.
1. Keterampilan Langka

Di dunia yang dipenuhi oleh mana dan sihir, membuat seluruh manusia yang mencapai usia 15 tahun bisa mengikuti ritual kebangkitan kemampuan, yang akan mengubah nasib dan masa depan semua orang.

Ryu Valtor, salah satu pemuda di sana ikut dalam upacara itu. Dia bukanlah seseorang dari klan mana pun, dia sama sekali tidak memiliki latar belakang. Dia hanyalah cucu angkat pelayan tua klan Veil, yang setiap harinya bekerja dalam menjaga tanaman.

"Baiklah, dengan ini upacara kebangkitan dimulai!" kepala klan akhirnya memulai ritual kebangkitan tersebut, lalu mundur untuk duduk di kursi utama. Menonton keterampilan apa yang akan dibangkitkan anggota klannya.

Beruntungnya setiap anak pelayan klan bangsawan tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti upacara. Hari ini, tepat saat umur Ryu menginjak 15 tahun, dia akan mengikuti upacara kebangkitan.

Dia berjalan ke aula bersama anak pelayan lainnya dengan gugup, jemarinya terus menggenggam leontin giok yang menggantung di lehernya, menggantungkan takdirnya pada sebuah harapan akan kebangkitan keterampilan untuk bisa mengubah takdirnya sebagai pelayan.

Semua orang berkumpul di aula yang luas, di depan merasa altar batu yang luas, dengan pilar batu berukiran rumit, memiliki sejarah yang panjang di dunia ini.

Pertama, kepala klan Veil menerangkan tentang beberapa keterampilan, seperti penyihir, pendekar, dll. Dia juga memberikan pengumuman bagus untuk seluruh anak pelayan yang hadir di sana, memberikan mereka harapan akan kenaikan status dari pelayan.

"Nona Lyra Veil, silahkan maju pertama!"

Seorang tetua memanggil anak bungsu dari klan Veil. Gadis cantik itu segera berjalan pelan ke depan, lantas menyentuh pilar batu tersebut. Sesaat kemudian, cahaya menyilaukan keluar dari gambar gambar di sekitar pilar, cahaya itu melonjak ke atas, memberikan sensasi kagum pada setiap orang yang menonton.

"Dia memang layak sebagai Nona Veil!" puji semua orang, tidak lagi heran jika putri kepala klan akan membangkitkan keterampilan bagus.

Sesaat kemudian cahaya itu perlahan meredup, diikuti oleh sensasi dingin seperti turun salju secara misterius dan pilar menampilkan sebuah tulisan, 'penyihir es level A'. Itu artinya Lyra Veil telah membangkitkan keterampilan penyihir es level A.

"Penyihir es level A! Pantas saja udara jadi dingin," ucap beberapa orang sambil mengelus tubuhnya sendiri, mencoba melawan udara dingin.

Lyra tersenyum lebar, dia puas dengan hasil ini. Setidaknya dengan menjadi penyihir es level A cukup membuatnya disebut sebagai jenius di klan Veil, ditambah klan Veil terkenal dengan penyihir nya.

"Bagus, bagus, dia memang putriku!" ucap kepala klan mengangguk anggukan kepalanya bangga melihat putrinya. Pujian dari segala arah langsung menghujani nya. Cukup untuk membuatnya menyombongkan diri.

Sedangkan Ryu, dia tampak semakin gugup.

Bagaimana jika dia tidak membangkitkan apa pun? Apakah seumur hidup dia hanya akan menjadi pelayan? Dia tidak mau! Dia membatin seorang diri, melihat satu persatu anak klan Veil membangkitkan kekuatan mereka, yang kebanyakan merupakan penyihir elemen. Hanya sedikit yang membangkitkan keterampilan pendekar dan sebagainya.

"Kenapa? Gugup?"

Ryu terperanjat pelan, dia menoleh pada sosok cantik yang mendekat. Dia sama sepertinya, seorang pelayan, sekaligus kakak angkatnya. Namanya Seras, tahun ini dia berumur 20 tahun, membuat wajah cantiknya terlihat menggoda untuk beberapa pria pencinta kecantikan.

Orang tua Seras merupakan pendekar, namun mereka meninggal saat mengawal anggota klan Veil untuk berbisnis ke luar kota, dan bertemu bandit di jalan. Saat itu Seras baru 5 tahun, sekaligus pertemuan pertamanya dengan Ryu.

"Kak Seras, kau datang," ungkap Ryu menatap Seras.

Gadis itu tertawa pelan, lantas menepuk pundak Ryu. "Aku ingin melihat apakah adikku cukup beruntung," katanya menenangkan kegugupan Ryu.

Ryu mengangguk, melepaskan tangannya dari liontin yang menggantung di lehernya. "Aku mengerti, Kak. Tenang saja, aku akan menerima apa pun yang akan terjadi nanti."

Seras mengangguk anggukan kepalanya, sambil mengusak rambut hitam kebiruan Ryu dengan gemas.

Kini satu persatu anak pelayan maju untuk melakukan kebangkitan, namun sebagian besar tidak membangkitkan apa pun. Wajah mereka suram meratapi nasib yang akan mengikat mereka menjadi pelayan di klan Veil.

"Ryu Valtor!"

Akhirnya, namanya dipanggil. Ryu menoleh pada Seras sejenak, mencari keberanian pada gadis itu. Seras tersenyum, menepuk pelan pundak Ryu, lalu mendorongnya ke depan. "Semangat," katanya pelan.

Ryu tersenyum kecil, dia melangkah ke depan, dan berdiri di depan pilar batu yang besar dan tinggi, memiliki sejarah panjang di dunia ini. Dia menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian mengulurkan lengannya ke depan, menyentuh pilar batu itu.

Kedua matanya terpejam, Ryu merasakan aliran hangat dalam tubuhnya, mengalir dengan lembut entah apa itu, keluar dari tubuh dan menyerap ke dalam pilar batu tersebut. Kemudian dengan perlahan pilar batu tampak bercahaya, pelan pelan terus melonjak ke atas menyilaukan siapa pun yang melihatnya.

Semua orang tercengang, termasuk klan Veil itu sendiri. Kemampuan apa yang dibangkitkan Ryu dengan lonjakan energi sekuat itu, sehingga memiliki sedikit tekanan yang terasa samar. Semua orang menarik napas pelan, sampai cahaya itu perlahan memudar, kembali pada pilar batu.

Kata demi kata mulai bersinar pada pilar, menciptakan kalimat yang merupakan keterampilan itu sendiri.

'Pemanggil Makhluk'

Semua orang tercengang melihat tulisan itu. Keterampilan itu termasuk langka di Eldoria, nyaris tidak ada yang memiliki keterampilan tersebut di masa ini.

Ryu mengernyit saat membaca keterampilannya. Dia bingung, dan belum benar-benar mengerti, apalagi seorang pelayan tidak pernah mendapatkan pelajaran apa pun, yang membuatnya cukup memiliki pengetahuan.

"Ryu, coba perlihatkan kemampuanmu! Panggil makhluk kontrakmu!" ucap kepala klan dengan penasaran.

Ryu patuh, dia mengangguk, walaupun belum sepenuhnya mengerti.

Ryu mencoba mengangkat tangannya ke udara, seketika gelombang biru muncul di udara, dekat dengan tangannya yang diangkat. Detik berikutnya sesuatu muncul di sana, kilauan cahaya biru, sebiru air yang nyaris jernih itu berbentuk bulat namun aneh.

Ryu mengernyit, sampai akhirnya wujud monster yang dipanggilnya terlihat jelas.

Tubuhnya nyaris bulat dan berlendir, tapi tidak memiliki wujud tetap.

Slime Rank F!

Benar, itu adalah slime. Monster terlemah, karena mudah dihancurkan.

Gelak tawa langsung menggelegar di aula. Mereka menertawakan Ryu yang malah memanggil monster terlemah.

"Ternyata memang benar sekalinya pelayan, tetap seorang pelayan. Mana mungkin orang sepertinya bisa memanggil makhluk kuat."

"Monster itu terlihat sama dengannya. Sama-sama lemah. Hahaha."

Ryu diam, dengan wajah menunduk, membiarkan gelak tawa penuh ledekan itu menghujani telinganya.

Kepala klan sendiri tampak menghela napas panjang, seolah harapannya raib.

"Kembalilah!" katanya menyuruh Ryu untuk turun, agar anak lainnya maju melakukan kebangkitan.

Ryu kembali menghampiri Seras yang masih saja tersenyum padanya, dan justru merangkul pundak Ryu. "Itu hebat! Kau tahu keterampilan pemanggil sangat langka di Eldoria!"

Percuma! Ryu tidak terhibur. Selangka apa pun keterampilan itu di wilayah Eldoria, dia hanyalah memanggil monster terlemah yang paling mudah dihancurkan.

Tapi Seras, bahkan dia sama sekali tidak menertawakannya, justru memuji Ryu.

"Baiklah, jangan murung. Ayo kita tunjukan slime lucu itu pada kakek!" Tanpa menunggu persetujuan, Seras langsung menarik Ryu, menyeretnya meninggalkan aula, membawanya kembali ke gubuk reyot tempat mereka tinggal.

Di sana terdapat pria yang semakin hari semakin tua, duduk di depan rumah dengan tatapan nanar. Namanya Yami, sosok tua yang menyelamatkan Ryu dari hutan, memberinya kehidupan meski dalam keadaan susah dan serba kurang.

Pria tua itu tersenyum lembut melihat mereka pulang. "Ryu, apakah kau gagal? Lihatlah wajahmu sangat jelek jika murung seperti itu," ucap Yami dengan lembut, dia menghampiri Ryu dan membelai wajahnya, menatap mata biru Ryu yang tampak sendu.

"Tidak apa, Nak. Kau tetap akan menjadi cucuku." Ryu tersenyum kecil mendengarnya.

"Kakek! Coba lihat Ryu akan menunjukan sesuatu untukmu. Ayo Ryu, tunjukan pada Kakek!" Seras terlalu ceria untuk Ryu yang kini masih terlihat murung.

Ryu kembali mengangkat tangannya, sebuah lingkaran bulat muncul di sana, dan dari lingkaran itu monster slime muncul kembali. Dia berloncatan di telapak tangan Ryu.

Namun, Yami justru terlihat terkejut melihat kemampuan Ryu, "I-ini…Ryu apakah kamu membangkitkan keterampilan langka sebagai pemanggil makhluk?"

Melihat wajah Yami yang terlihat terkejut, Saras dan Ryu saling memandang satu sama lain, merasa bingung.

Ryu kemudian mengangguk kecil.

"Ayo kita masuk, ada yang perlu kakek ceritakan padamu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca