Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CHIKO GIVANON: PENERUS TAKHTA BAYANGAN

CHIKO GIVANON: PENERUS TAKHTA BAYANGAN

Rajo Agam | Bersambung
Jumlah kata
161.9K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / CHIKO GIVANON: PENERUS TAKHTA BAYANGAN
CHIKO GIVANON: PENERUS TAKHTA BAYANGAN

CHIKO GIVANON: PENERUS TAKHTA BAYANGAN

Rajo Agam| Bersambung
Jumlah Kata
161.9K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
18+FantasiIsekaiIdentitas RahasiaRomansa ManisSupernatural
Di Tiger Dungeon, sebuah rahasia besar akhirnya terungkap setelah bertahun-tahun tersembunyi. Dari hubungan yang selama ini dirahasiakan, lahirlah seorang anak bernama Chiko Givano. Demi melindunginya dari berbagai ancaman, identitasnya disembunyikan sejak kecil. Tumbuh dalam kesederhanaan, Chiko berkembang menjadi pemuda yang kuat, cerdas, dan berwibawa. Ketika berbagai kelompok berpengaruh mulai berebut kekuasaan di Tiger Dungeon, ia terpaksa menghadapi masa lalunya yang penuh misteri. Di tengah perjalanan tersebut, Sinta Felicia hadir sebagai sosok yang selalu mendukungnya. Bersama-sama mereka menghadapi pengkhianatan, intrik, dan berbagai tantangan yang menentukan masa depan Tiger Dungeon. Rahasia masa lalu, ambisi kekuasaan, dan perjuangan menuju puncak akan menguji Chiko Givano dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.
BAB 1: ANAK TANPA MASA DEPAN

Hujan turun tanpa henti di sudut Kota Selatan, salah satu kawasan termiskin di negara Tiger Dungeon.

Air mengalir melalui selokan yang hampir tersumbat. Jalanan berlubang berubah menjadi kubangan lumpur. Lampu-lampu jalan yang redup berkedip seperti akan mati kapan saja.

Di tengah lingkungan kumuh itu berdiri sebuah rumah kecil yang sudah termakan usia.

Di dalam rumah itulah tinggal seorang pemuda bernama Chiko Givano.

Usianya baru menginjak dua puluh tahun.

Meski hidup dalam kemiskinan, wajahnya selalu menunjukkan keteguhan yang jarang dimiliki orang seusianya. Tubuhnya tinggi dan atletis karena terbiasa bekerja sejak kecil.

Pagi itu, Chiko sedang mengangkat karung semen di sebuah proyek pembangunan.

"Kau terlambat lagi!" bentak mandor.

Chiko hanya mengangguk.

"Maaf, Pak."

"Kalau bukan karena tenaga kerjamu bagus, aku sudah memecatmu sejak lama."

Chiko kembali bekerja tanpa membalas.

Ia sudah terbiasa menerima hinaan.

Baginya, yang penting adalah mendapatkan upah untuk membeli makanan dan obat bagi ayah angkatnya.

Sejak kecil ia tidak pernah mengenal orang tua kandungnya.

Yang membesarkannya hanyalah seorang pria tua bernama Bima Givano.

Bima bukan orang kaya.

Bahkan mereka sering kesulitan membayar tagihan listrik.

Namun bagi Chiko, pria tua itu adalah ayah terbaik yang pernah ada.

Menjelang sore, pekerjaan selesai.

Chiko menerima upah harian yang jumlahnya bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seminggu.

Meski begitu, ia tetap bersyukur.

Saat berjalan pulang, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di pinggir jalan.

Mobil itu sangat mencolok di kawasan miskin tersebut.

Pintu belakang terbuka.

Seorang gadis cantik keluar.

Rambut panjangnya tergerai indah.

Pakaiannya menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan atas.

Penduduk sekitar langsung memperhatikannya.

Chiko sendiri tidak terlalu peduli.

Ia terus berjalan.

Namun tanpa sengaja, gadis itu menabraknya.

Bruk!

Tas mahal yang dibawanya jatuh ke tanah.

"Aduh!"

Chiko segera membantu mengambil tas itu.

"Maaf."

Gadis tersebut mengangkat wajah.

Untuk sesaat, mereka saling menatap.

Mata gadis itu berwarna cokelat terang.

Cantik.

Namun juga menunjukkan kesan tegas.

"Seharusnya aku yang minta maaf," kata gadis itu.

Chiko menyerahkan tas tersebut.

"Tidak apa-apa."

Sopir yang menunggu segera mendekat.

"Nona Sinta, kita harus pergi."

Chiko sedikit terkejut.

Jadi gadis itu bernama Sinta Felicia.

Nama keluarga Felicia sangat terkenal di Tiger Dungeon.

Mereka adalah salah satu keluarga konglomerat terbesar di negara itu.

Sinta tersenyum tipis.

"Terima kasih."

Kemudian ia masuk kembali ke mobil.

Beberapa detik kemudian kendaraan mewah itu menghilang di tikungan.

Chiko menggelengkan kepala.

Orang seperti dirinya dan gadis seperti itu hidup di dunia yang berbeda.

Kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Malam mulai tiba.

Chiko pulang ke rumah.

Seperti biasa, aroma sup sederhana menyambutnya.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Ayahnya tampak lebih pucat dari biasanya.

"Ayah?"

Bima tersenyum.

"Aku baik-baik saja."

"Tidak terlihat begitu."

"Hanya sedikit lelah."

Chiko duduk di sampingnya.

Belakangan ini kondisi kesehatan pria tua itu memang terus menurun.

Ia sering batuk dan kesulitan bernapas.

Namun selalu menolak pergi ke rumah sakit.

"Besok kita ke dokter."

"Tidak perlu."

"Perlu."

Bima tertawa kecil.

"Kau keras kepala."

"Aku belajar dari Ayah."

Mereka makan malam bersama.

Sederhana.

Namun hangat.

Bagi Chiko, momen seperti inilah yang membuatnya terus bertahan menjalani hidup.

Larut malam.

Ketika Chiko hendak tidur, ia mendengar suara batuk keras dari kamar ayahnya.

Ia segera berlari masuk.

Bima sedang duduk di tepi ranjang.

Tangan tuanya berlumuran darah.

Chiko langsung panik.

"Ayah!"

"Aku tidak apa-apa."

"Itu darah!"

Bima menghela napas panjang.

Seolah telah menerima sesuatu.

Kemudian ia menunjuk sebuah lemari tua di sudut ruangan.

"Bukalah laci paling bawah."

Chiko menurut.

Di dalam laci terdapat sebuah kotak kayu yang terlihat sangat tua.

Bahkan kayunya sudah mulai retak.

"Apa ini?"

"Simpan baik-baik."

"Milik Ayah?"

"Suatu hari nanti, kau akan mengerti."

Chiko semakin bingung.

Namun ia menerima kotak tersebut.

Bima menatapnya cukup lama.

Seolah ingin menghafal wajahnya.

"Chiko."

"Iya?"

"Apa kau bahagia?"

Pertanyaan itu membuat Chiko terdiam.

Meski hidup susah, ia tidak pernah membenci kehidupannya.

"Ya."

"Itu bagus."

"Ayah kenapa?"

"Tidak ada."

Namun untuk pertama kalinya, Chiko melihat kesedihan yang sangat dalam di mata pria tua itu.

Di tempat lain.

Di pusat kota Tiger Dungeon.

Sebuah gedung setinggi delapan puluh lantai menjulang megah.

Gedung itu merupakan markas utama Mahesa Corporation.

Salah satu perusahaan terbesar di negara tersebut.

Di lantai paling atas.

Seorang pria berjas mahal berdiri menghadap jendela.

Usianya sekitar lima puluh tahun.

Tatapannya tajam dan berwibawa.

"Sudah ditemukan?" tanyanya.

Seorang bawahan menundukkan kepala.

"Belum, Tuan."

Pria itu mengepalkan tangan.

"Dua puluh tahun."

Ruangan menjadi hening.

"Dua puluh tahun aku mencarinya."

"Maafkan kami."

Pria itu memejamkan mata.

Di atas mejanya terdapat sebuah foto lama.

Foto seorang bayi.

Di bagian belakang foto tertulis satu nama.

Chiko.

Keesokan paginya.

Chiko terbangun lebih awal.

Ia berniat bekerja seperti biasa.

Namun saat memasuki kamar ayahnya, tubuhnya langsung membeku.

Bima terbaring lemah.

Napasnya sangat berat.

"Ayah!"

Pria tua itu membuka mata perlahan.

"Chiko..."

"Kita ke rumah sakit sekarang."

"Tidak perlu."

"Jangan bicara seperti itu!"

Bima tersenyum.

Kemudian menggenggam tangan Chiko.

Ada banyak emosi di matanya.

Penyesalan.

Kasih sayang.

Dan kesedihan.

"Ada sesuatu yang harus kau ketahui."

Chiko menahan napas.

"Kau bukan anak kandungku."

Dunia seolah berhenti berputar.

"Apa?"

"Kau dititipkan kepadaku ketika masih bayi."

Chiko tidak mampu berkata-kata.

"Kau berasal dari keluarga yang sangat besar."

"Siapa mereka?"

"Aku tidak tahu semuanya."

"Katakan!"

Bima menggeleng.

"Aku hanya seorang penjaga."

Air mata mulai mengalir di sudut matanya.

"Tugasku hanya melindungimu."

Chiko merasa dadanya sesak.

Selama dua puluh tahun hidupnya, ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan.

"Siapa aku sebenarnya?"

Bima tersenyum lemah.

"Suatu hari nanti kau akan menemukan jawabannya."

"Itu tidak cukup!"

"Maafkan aku."

Genggaman tangannya mulai melemah.

"Jadilah kuat, Chiko."

"Itu bisa nanti! Kita ke rumah sakit dulu!"

"Maaf..."

Kalimat itu menjadi kata terakhir yang keluar dari mulutnya.

Tangan tua itu terlepas.

Dan tak bergerak lagi.

"Ayah?"

Tidak ada jawaban.

"Ayah!"

Keheningan memenuhi ruangan.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Chiko merasa benar-benar sendirian.

Tiga hari kemudian.

Pemakaman telah selesai.

Rumah kecil itu terasa jauh lebih kosong.

Chiko duduk sendirian.

Pandangannya tertuju pada kotak kayu yang diberikan Bima.

Perlahan ia membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah liontin emas berbentuk kepala harimau.

Sangat indah.

Sangat mahal.

Dan jelas bukan barang yang seharusnya dimiliki keluarga miskin seperti mereka.

Selain liontin itu, terdapat sepucuk surat.

Chiko membacanya perlahan.

Setiap kalimat membuat jantungnya berdegup semakin kencang.

Surat tersebut menjelaskan bahwa hidupnya selama ini penuh kebohongan.

Bahwa seseorang telah menyembunyikannya sejak bayi.

Bahwa ada orang-orang berkuasa yang menginginkan keberadaannya tetap menjadi rahasia.

Di bagian paling bawah surat terdapat sebuah alamat.

Mahesa Corporation.

Dan sebuah kalimat terakhir.

Jika suatu hari kau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, pergilah ke tempat ini.

Chiko memegang liontin itu erat-erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki petunjuk tentang masa lalunya.

Namun tepat ketika ia hendak menyimpan kembali surat tersebut—

BRAK!

Pintu rumah hancur.

Beberapa pria berpakaian hitam masuk secara paksa.

Tatapan mereka dingin.

Berbahaya.

Pemimpin kelompok itu tersenyum tipis.

"Akhirnya kami menemukanmu."

Chiko langsung berdiri.

"Siapa kalian?"

Pria itu menatap liontin di tangannya.

"Kami datang untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu."

Jantung Chiko berdegup kencang.

Instingnya mengatakan bahwa masalah besar baru saja dimulai.

Dan tanpa ia sadari...

Takdir yang selama dua puluh tahun tersembunyi akhirnya mulai bangkit.

Lanjut membaca
Lanjut membaca