Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kode Dewa: Dari Mahasiswa Berhutang Jadi Triliuner Penguasa Harem

Kode Dewa: Dari Mahasiswa Berhutang Jadi Triliuner Penguasa Harem

makanbang4 | Bersambung
Jumlah kata
58.9K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Kode Dewa: Dari Mahasiswa Berhutang Jadi Triliuner Penguasa Harem
Kode Dewa: Dari Mahasiswa Berhutang Jadi Triliuner Penguasa Harem

Kode Dewa: Dari Mahasiswa Berhutang Jadi Triliuner Penguasa Harem

makanbang4| Bersambung
Jumlah Kata
58.9K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+FantasiIsekaiMiliarderPria MiskinHarem
Hidup Arga hancur hanya karena satu kesalahan kecil: tertidur di kelas. Dipermalukan di depan petinggi industri oleh dosen pembimbingnya sendiri, Profesor Baskoro, Arga tidak hanya ditendang dan di-DO (Drop Out) dari kampus tepat sehari sebelum wisudanya. Ia juga dijebak dengan tuduhan plagiarisme palsu dan dibebani hutang ganti rugi beasiswa sebesar Rp3,6 Miliar dengan bunga rentenir 15%! Ditinggalkan teman-temannya, karir masa depannya cacat, dan keluarganya terancam kebangkrutan mutlak. Di titik terendah keputusasaannya, sebuah objek misterius dari luar angkasa menembus atap rumahnya dan menyatu dengan otaknya. [SISTEM ASIMILASI SELESAI... KELAS: AHLI RUNE (RUNEMASTER) AKTIF] Karena tubuh manusia belum siap untuk sihir murni, Sistem memberinya akses teknologi dari masa depan abad ke-22 dan kemampuan memanipulasi Rune (Aksara Kuno) untuk membengkokkan hukum teknologi. Dengan program peretasan absolut BugZapper di tangannya, Arga meretas keamanan tingkat dewa milik Universitas Nusantara, Facebook, hingga Google. Mengubah dirinya dari mahasiswa miskin yang terbuang menjadi miliarder anonim penguasa siber yang ditakuti dunia. Di saat yang sama, pesonanya yang baru bangkit menarik perhatian para wanita luar biasa: Aira si malaikat polos yang selalu setia, Karina si administrator seksi yang menggoda, Rin si jenius tsundere yang gengsi tapi peduli, hingga Mira sang hacker kuudere yang dingin. Ini bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup. Ini adalah kisah balas dendam paling brutal dan elegan. Profesor Baskoro dan para elit yang meremehkannya akan segera belajar satu fakta mematikan: Jangan pernah membangunkan naga yang sedang tertidur, apalagi memberinya keyboard dan kekuatan Sistem Dewa.
bab 1 kesalahan fatal di mimbar presentasi

Hidup adalah rentetan momen di mana kita melakukan kesalahan fatal, dan inilah momenku.

Tidurku hancur berantakan. Sebuah suara menggema keras dari pelantang suara, memaksa mataku terbuka lebar.

Gemerlap lampu auditorium menyilaukan pandangan. Namun, yang membuat jantungku nyaris copot adalah layar raksasa di belakang mimbar. Layar itu sedang menyiarkan wajahku yang tertidur pulas dengan ukuran raksasa.

Kepanikan langsung mencekik leherku.

Di sebelahku, Aira—gadis berambut panjang kecokelatan yang selalu setia menjadi rekan belajarku—meremas pahaku dengan gemetar. Tangannya yang lembut terasa dingin karena gugup. Aroma parfum vanilanya yang manis samar-samar tercium saat ia mencondongkan tubuh, napasnya yang hangat menggelitik telingaku.

"Arga, bangun. Kau dalam masalah besar," bisik Aira dengan bibir bergetar, raut wajah cantiknya dipenuhi kekhawatiran. Matanya yang bulat menatapku dengan sorot memohon.

Butuh beberapa detik bagi otakku untuk melakukan kalibrasi ulang. Disorientasi perlahan menghilang.

Hari ini adalah presentasi tesis akhir. Pria yang berdiri di atas panggung itu adalah profesor pembimbingku. Dan sepertinya, dia sangat murka karena seseorang berani tertidur di tengah momen bersejarahnya. Padahal, auditorium ini dipenuhi oleh profesor terhormat dan petinggi industri teknologi.

Profesor Baskoro Danuarta menatapku tajam. Aku hafal betul tatapan itu. Itu adalah tatapan predator yang ingin mempermalukan mangsanya hingga hancur berkeping-keping.

Benar saja. Beberapa detik kemudian, suaranya yang berat membelah keheningan ruangan.

"Saudara Arga. Karena Anda mampu tertidur nyenyak, itu berarti Anda sudah sangat menguasai topik ini dan tidak perlu mendengarkan saya."

Senyum sinis mengembang di bibirnya. "Jadi, mengapa Anda tidak maju dan menjelaskan bagian ini kepada kami semua?"

Tamatlah riwayatku. Itulah kalimat pertama yang melintas di kepalaku. Keringat dingin mulai merembes di punggungku. Namun, karena tidak ada jalan untuk melarikan diri, aku harus memutar otak untuk bertahan hidup. Toh, aku sudah hancur, jadi apa lagi yang harus ditakutkan?

Di atas mimbar, Profesor Baskoro benar-benar mendidih karena marah.

Hari ini seharusnya menjadi hari di mana ia menorehkan tinta emas dalam sejarah industri teknologi. Namun, seorang mahasiswa rendahan berani merusak momennya.

Ia ingat siapa pemuda itu. Salah satu mahasiswa miskin yang ia terima di kelasnya hanya sekadar untuk pencitraan dan menaikkan reputasi baiknya.

Ia memutuskan untuk memberi pelajaran telak. Menunjukkan di mana kasta pemuda itu sebenarnya. Ia yakin hal ini tidak akan merusak reputasinya. Bukankah wajar menghukum pemalas di acara sepenting ini?

"Bisa Anda berdiri... ya, Anda yang tadi tidur... Berdiri!" perintahnya lantang.

Baskoro sengaja menekankan fakta bahwa mahasiswanya itu tertidur. Jika suatu saat nanti sejarah mencatat momen ini, orang-orang akan berpihak padanya. Masyarakat selalu memuja orang sukses. Reputasinya justru akan naik sebagai akademisi yang tegas dan membenci kemalasan.

Sambil menatap mahasiswanya yang masih tampak linglung, Profesor Baskoro memutuskan untuk menambah penderitaan pemuda itu. Ia menunjuk bagian paling rumit dari tesis yang tertampil di layar.

"Jelaskan bagian ini," tantangnya dengan angkuh. Ia bahkan tidak peduli untuk memanggil nama mahasiswanya lagi.

Baskoro bersedekap, menunggu mahasiswanya mempermalukan diri sendiri dengan gagap. Namun, kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu di luar dugaannya.

"Ada kesalahan di bagian itu."

"APA?!"

Mata Baskoro terbelalak kaget. Ruangan auditorium tiba-tiba sunyi senyap. Namun, Baskoro segera menenangkan diri. Ia teringat bahwa yang bicara hanyalah seorang mahasiswa ingusan yang baru saja bangun tidur.

"Sepertinya Anda masih mengigau. Duduklah," perintah Baskoro cepat. Ia ingin segera memutus omong kosong ini agar momen bersejarahnya tidak ternoda.

Namun, Arga menolak untuk duduk. Pemuda itu justru menatap lurus ke arah mimbar.

"Tidak, Pak. Benar-benar ada kesalahan logika di sana..."

Arga mulai berbicara, mengalirkan rentetan penjelasan yang menjabarkan di mana letak kelemahan fatal algoritma tersebut. Suaranya lantang dan jernih, menggema ke seluruh sudut auditorium.

Wajah Profesor Baskoro berubah seputih kapas. Horor menyergap jantungnya. Ia bisa melihat reputasinya hancur detik demi detik. Kesalahan yang ditunjukkan Arga sebenarnya cukup jelas, tetapi para ahli di ruangan ini melewatkannya karena mereka terlalu silau oleh nama besar sang profesor.

"SERET DIA KELUAR!"

Baskoro berteriak panik, memerintahkan petugas keamanan untuk menyingkirkan Arga dari konferensi.

Bukannya meredakan suasana, teriakan itu justru memicu keributan besar. Para petinggi industri mulai berbisik-bisik, tak menyangka kesalahan sebodoh itu bisa lolos dari tinjauan hingga berani dipresentasikan.

Kesalahan itu bisa lolos semata-mata karena keluarga Baskoro sangat berkuasa di universitas ini. Nama lengkapnya memiliki klan konglomerat yang tak tersentuh, tetapi sayangnya, aku tidak mengetahui hal itu saat itu.

Aku belum sepenuhnya sadar dari sisa kantukku, terus mengoceh tanpa henti. Aku sama sekali tidak sadar bahwa kehidupan normalku telah berakhir tepat di detik aku membuka mulut.

Ocehanku terhenti saat beberapa satpam bertubuh kekar menerjangku. Aku diangkat paksa dan diseret keluar dari auditorium bak kriminal.

Tatapan cemas Aira yang berusaha menembus kerumunan satpam adalah hal terakhir yang kulihat.

Saat itulah aku benar-benar sadar. Aku telah menggali kuburanku sendiri.

Dua minggu berlalu sejak insiden mengerikan itu.

Profesor Baskoro mengambil cuti sebulan penuh dengan alasan pemulihan emosional dari stres. Tentu saja, privilese seperti itu tidak berlaku untukku.

Aku hanyalah mahasiswa tingkat akhir biasa yang memiliki sisa waktu tiga minggu menuju kelulusan. Hari ini, aku datang ke kampus untuk menyerahkan naskah tesis akhirku. Semua ujian telah selesai dan hasilnya sudah keluar.

Satu-satunya tembok pemisah antara diriku dan gelar sarjana hanyalah penyerahan berkas ini.

Setelah menyerahkan dokumen tebal itu di loket tata usaha, aku langsung pulang. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu proses peninjauan selesai dan mendapatkan jadwal sidang pertahanan tesisku.

Satu minggu kemudian, sebuah email masuk dari universitas.

Awalnya, kupikir itu adalah jadwal sidangku. Namun, saat kubuka, isi pesan itu bagaikan palu godam yang menghantam kepalaku.

[Subjek: Undangan Sidang Komite Disiplin - Tuduhan Pencurian & Plagiarisme Tesis]

Saudara Arga,

Kami menulis surat ini untuk menginformasikan bahwa sidang komite disiplin telah dijadwalkan untuk membahas tuduhan serius terkait pencurian tesis yang diarahkan kepada Anda. Sidang akan dilaksanakan pada 12 Mei, pukul 10:45 di Gedung Fakultas Teknik.

Tuduhan pencurian adalah masalah yang sangat fatal. Sebagai anggota komunitas akademik kami, Anda diharapkan menjaga standar integritas tertinggi. Jika Anda gagal menghadiri sidang ini, keputusan sepihak akan tetap diambil berdasarkan bukti yang ada.

Salam hormat,

Juliano Leni

Komite Disiplin Universitas Nusantara

Aku tidak terkejut. Aku ketakutan setengah mati.

Ini pasti fitnah. Aku telah menjalankan naskahku melalui lima program pengecek plagiarisme berbeda, dan tidak ada satu pun yang menemukan kemiripan. Ini adalah konspirasi kotor untuk menghancurkanku.

Aku segera membalas email itu, menyatakan bahwa pasti ada kesalahan. Namun, tidak ada itikad baik dari mereka. Mau tidak mau, aku harus menyiapkan mental untuk sidang disiplin empat hari lagi.

Hari penentuan itu pun tiba.

Aku melangkah masuk ke ruang sidang yang dingin dan redup. Empat profesor dengan wajah kaku telah menungguku di balik meja panjang. Segera setelah aku duduk, mereka langsung mencecarku.

Arah sidang ini sangat timpang. Segala bukti dan pembelaan yang kuucapkan bagaikan masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Mereka sama sekali tidak berniat mendengarkanku.

Hanya dalam waktu empat puluh lima menit, jelas sudah bahwa hasil sidang ini telah ditentukan bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di ruangan ini.

Yang paling tidak masuk akal adalah "bukti" yang mereka bawa. Mereka menyodorkan tesis-tesis usang dari tujuh tahun lalu, dan beberapa jurnal terbaru, menuduhku mencuri ide dari sana.

Padahal aku berani bersumpah, tesis-tesis itu tidak pernah eksis di database kampus hingga beberapa hari yang lalu!

Bagaimana mungkin mereka menemukan bukti plagiarisme dari dokumen yang baru saja diciptakan dari udara kosong? Seseorang yang sangat berkuasa jelas telah menargetkanku. Aku punya kecurigaan kuat, tetapi tanpa bukti, aku tidak bisa melawan.

Di akhir sidang, mereka menginformasikan bahwa keputusan final akan diumumkan dalam tiga hari.

Aku berjalan kembali ke asrama dengan langkah gontai. Dada ini sesak oleh keputusasaan dan rasa tidak adil.

Hari itu adalah hari musim semi yang hangat. Kampus Universitas Nusantara dipenuhi oleh tawa dan kebahagiaan. Keluarga dan sahabat berkumpul, merayakan kelulusan angkatan tahun ini.

Namun, di tengah lautan toga dan topi wisuda itu, berdiri seorang pemuda yang menyimpan amarah, kesedihan, dan kekecewaan yang mendidih.

Arga.

Aku menatap teman-temanku yang tertawa bahagia dalam balutan toga mereka. Pikiranku melayang pada perjuangan empat tahun terakhir. Empat tahun penuh darah dan keringat demi mengubah nasib keluargaku.

Dan kini, di sinilah aku. Berdiri di ambang babak baru kehidupanku, memegang surat pengusiran mutlak di tanganku, siap dilempar ke dunia nyata yang kejam.

Tubuhku gemetar karena amarah setiap kali mengingat bagaimana kelulusanku ditahan dan ditunda-tunda, hingga tepat sehari sebelum acara wisuda.

Baru kemarin malam aku menerima keputusan akhir dari kelicikan mereka.

Dan keputusannya sangat bajingan. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat seseorang di-DO (Drop Out) hanya melalui selembar email!

APA-APAAN INI?! EMAIL?!

Alasan yang mereka berikan adalah plagiarisme tingkat berat tanpa mencantumkan sumber asli. Bualan macam apa itu? Bagaimana aku bisa tahu aku menjiplak sesuatu yang bahkan tidak pernah ada di lima program pengecek plagiarisme paling canggih sekalipun?!

Dunia benar-benar tidak masuk akal. Semua informasi palsu itu muncul entah dari mana dalam waktu yang sangat singkat. Jelas ada sosok raksasa di balik layar yang ingin melumat kehidupan miskinku hingga tak tersisa.

Tapi siapa? Siapa bajingan yang begitu dendam padaku?

Lanjut membaca
Lanjut membaca