

Langit di atas cakrawala Dwipantara malam itu tidak berwarna hitam, melainkan merah tembaga—warna darah yang mengering di atas tungku perapian. Istana Mahameru, simbol keabadian Maharaja Bara Genta, kini berubah menjadi oven raksasa yang memanggang sejarah seribu tahun.
Asap hitam pekat bergulung-gulung menembus awan, membawa abu dari panji-panji kebesaran yang selama ini tak pernah sekalipun menyentuh tanah.
Di tengah aula utama yang pilar-pilar marmernya mulai retak akibat panas yang ekstrem, seorang pria duduk dengan tegak di atas takhta emasnya.
Bara Genta. Pria yang gelarnya membuat para raja di tujuh benua bersujud hanya dengan mendengar derap langkah kudanya. Jubah hitamnya yang dihiasi sulaman benang prana tampak berkilau terkena pantulan api, namun matanya—mata yang biasanya berkilat tajam seperti bilah pedang—kini tampak redup, dipenuhi semacam ketenangan yang mengerikan.
Detasemen. Ia seolah-olah sudah tidak lagi berada di sana, meskipun raganya masih menduduki singgasana. Ia sedang mengamati partikel debu yang menari di antara kobaran api, menyadari betapa ringkihnya imperium yang ia bangun dengan tetesan darah dan air mata. Seribu tahun ia bertahta, memastikan tak ada tangis kelaparan di pelosok negeri, namun di akhir hayatnya, ia justru dikepung oleh orang-orang yang paling sering ia beri makan.
Di depannya, dua sosok berdiri dengan senjata terhunus.
Darman, panglima tertinggi sekaligus saudara angkat yang telah berbagi punggung dengannya di ribuan medan laga, kini menggenggam pedang pusaka yang dulu dianugerahkan Bara sendiri. Di sampingnya berdiri Laras, sang permaisuri, wanita yang cintanya diklaim sebagai satu-satunya kelemahan sang Maharaja.
"Kau tidak akan meminum anggurmu, Bara?" suara Laras memecah keheningan, halus namun tajam seperti sembilu yang menyayat sutra. "Aku telah mencampurnya dengan air mata rakyat yang kau klaim kau lindungi. Terasa pahit, bukan?"
Bara Genta tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu gerbang istana yang mulai rubuh. Struktur kayu jati berumur ratusan tahun itu berderak, seolah ikut meratapi kejatuhan tuannya.
"Laras... aku selalu tahu racun apa yang kau tanam di taman belakang istana. Aku tahu setiap tetes Arsenic Merah yang kau campurkan ke dalam bak mandiku selama satu dekade terakhir. Tapi aku tidak pernah menyangka kau akan menanam racun yang lebih pekat di dalam hatimu sendiri."
Laras tertawa, sebuah tawa yang terdengar sumbang di tengah deru api. Ia melangkah mendekat, langkahnya anggun namun setiap pijakannya terasa seperti injakan kuku iblis di atas ubin suci. Ia membelai pipi Bara dengan jemarinya yang dingin, jemari yang dulu sering membelai rambutnya saat ia kelelahan memerintah.
"Hati? Kau bicara tentang hati setelah kau menjadikan aku sekadar hiasan di samping takhtamu? Kau terlalu besar, Bara. Kau adalah matahari yang membakar siapa pun yang mencoba mendekat. Menjadi istrimu bukan berarti menjadi ratu, tapi menjadi bayang-bayang yang perlahan mati karena silau kekuasaanmu. Aku bosan menjadi simbol kecantikan. Aku ingin menjadi pemegang kendali," bisik Laras tepat di telinga Bara, aromanya yang biasanya harum melati kini tercium seperti bau belerang yang menusuk.
"Dan kau, Darman?" Bara akhirnya mengalihkan pandangannya pada pria yang ia anggap sebagai belahan jiwanya di medan perang. "Apa alasannya? Takhta ini terlalu sempit untuk diduduki dua orang, atau kau hanya bosan hidup sebagai 'Tangan Kanan' dan mulai mendambakan mahkota yang sebenarnya?"
Darman mengencangkan genggamannya pada hulu pedang hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajahnya yang penuh bekas luka perang—luka yang ia dapatkan saat melindungi punggung Bara—tampak berkedut menahan luapan emosi yang tertahan selama berabad-abad.
"Kau terlalu sempurna, Bara. Itulah masalahmu. Kau memerintah dengan logika yang tidak terjangkau manusia. Kau membangun kedamaian yang mencekik. Rakyat tidak butuh dewa yang tidak bisa salah; mereka butuh pemimpin yang bisa mereka benci dan cintai sebagai manusia. Mereka butuh drama, mereka butuh kesalahan, dan kau... kau tidak memberikan celah bagi mereka untuk merasa setara. Hidup di sampingmu membuatku merasa seperti serangga yang hanya hidup karena kemurahan hatimu. Aku muak menjadi hamba yang setia."
Inilah pengkhianatan yang sesungguhnya. Bukan bilah logam yang akan menembus jantungnya, melainkan pembunuhan karakter yang sistematis.
Bara menyadari bahwa Darman telah merancang ini selama ratusan tahun. Di luar istana, propaganda telah disebarkan. Para juru tulis telah dibayar. Rakyat yang tadinya memujanya kini sedang berteriak di jalanan, menuntut kepala sang "Tiran" yang mereka anggap telah kehilangan akal budi.
"Kalian bicara tentang narasi, tentang sejarah, tentang rakyat..." Bara berdiri perlahan. Meski racun pemutus meridian yang dimasukkan Laras ke dalam makanannya semalam mulai melumpuhkan sirkuit prananya, membuat setiap inci ototnya terasa seperti ditarik oleh ribuan kait besi, ia tetap berdiri dengan keagungan yang tak tergoyahkan. "Tapi kalian lupa satu hal. Sejarah mungkin ditulis oleh pemenang, tapi kebenaran... kebenaran akan selalu mencari jalannya untuk bangkit dari abu. Kau bisa menghapus namaku dari prasasti, Darman. Kau bisa membakar setiap kitab yang memuji keadilanku, Laras. Tapi kau tidak bisa menghapus getaran yang aku tinggalkan di tanah Dwipantara ini."
"Cukup omong kosongmu! Kematianmu adalah satu-satunya kebenaran yang dibutuhkan dunia hari ini!" raung Darman. Ia menerjang maju dengan teknik Pedang Pemecah Surga—teknik yang sebenarnya diajarkan oleh Bara sendiri.
Slash!
Pedang itu menembus dada Bara Genta, menembus jubah hitam dan menembus jantung yang telah berdetak selama satu milenium.
Namun, tak ada teriakan kesakitan. Tak ada erangan lemah. Bara justru memegang bilah pedang itu dengan tangan kosong, membiarkan darah emasnya—darah seorang Maharaja yang telah mencapai puncak kultivasi—mengalir membasahi logam dingin tersebut.
Darah itu mengeluarkan uap panas. Darman gemetar. Ia melihat mata Bara yang kini berubah menjadi ungu pekat.
"Kau memegang pedangku, Darman. Tapi kau tidak pernah memegang semangatnya. Kau mengambil ragaku, tapi kau tidak akan pernah bisa menyentuh takhtaku yang sesungguhnya," bisik Bara dengan suara yang mengguncang fondasi aula.
Laras mendekat dengan mata yang berkilat penuh dendam. Ia mengeluarkan sebuah belati kecil yang diukir dengan mantra Jiwa Terbelenggu—belati terlarang yang dirancang untuk menghancurkan jiwa hingga ke tingkat atomik, memastikan korban tidak bisa berinkarnasi, tidak bisa kembali, dan akan terjebak dalam ketiadaan selamanya.
"Tidurlah dalam kehampaan, suamiku tercinta. Di dalam api ini, tidak akan ada yang mengingat namamu kecuali sebagai debu yang mengotori sejarah Dwipantara. Aku akan memastikan setiap bayi yang lahir akan meludahi namamu," Laras menghujamkan belati itu tepat ke ulu hati Bara, memutar bilahnya untuk memastikan inti prana
Bara hancur total.
Pada saat itu, seluruh Istana Mahameru seolah meledak dalam keheningan. Atap aula yang megah runtuh, menjatuhkan ribuan keping kristal dan balok kayu yang membara. Api yang tadinya berwarna merah berubah menjadi ungu pekat—reaksi dari prana Nihilum milik Bara yang meledak secara internal karena ditekan secara paksa.
Bara Genta merasakan jiwanya mulai terobek.
Rasa sakitnya melampaui deskripsi fisik; itu adalah rasa sakit eksistensial, seolah-olah ingatannya, kekuatannya, dan jati dirinya sedang diparut oleh gigi-gigi waktu. Namun, di detik-detik terakhir sebelum pandangannya menjadi putih total, ia melihat wajah Darman dan Laras. Mereka tidak tampak seperti pemenang; mereka tampak seperti anak kecil yang ketakutan di tengah badai yang mereka ciptakan sendiri.
“Kalian pikir ini adalah akhir?” suara batin Bara bergema, bergetar di sela-sela kehancuran. “Aku adalah Bara. Api tidak akan pernah mati hanya karena kau menutupinya dengan abu. Jika langit membuangku, aku akan merangkak dari neraka.
Jika bumi menolakku, aku akan membelahnya.
Aku akan kembali. Mungkin tidak sebagai raja yang adil, tapi sebagai bencana yang akan menuntut setiap tetes darah yang kalian curi dariku hari ini.”
Api ungu itu tiba-tiba menyusut menjadi satu titik kecil di dada Bara, lalu meledak dalam satu gelombang kejut Nihilum yang meratakan sisa-sisa istana dalam radius satu mil. Seluruh bukti kemegahan Mahameru lenyap dalam sekejap, menyisakan kawah hitam yang berasap.
Darman dan Laras terlempar keluar oleh sisa energi tersebut. Mereka berdiri di tepi kawah, pakaian mereka hangus, napas mereka memburu.
Mereka selamat, tapi mulai saat itu, tidur mereka tak akan pernah nyenyak. Ada sesuatu yang hilang dari udara—sebuah otoritas yang kini tergantikan oleh rasa dingin yang mencekam.
Di dalam api yang melumat segalanya, raga Bara Genta telah menjadi abu. Namun, hukum alam memiliki celah bagi mereka yang memiliki dendam sebesar gunung. Di suatu tempat, seribu tahun di masa depan, di sebuah sudut kumuh yang bau kotoran kuda dan jerami basah, seorang pemuda bernama Genta yang baru saja mati karena dipukuli, tiba-tiba menarik napas panjang.
Mata pemuda itu terbuka. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Yang ada hanyalah warna ungu pekat yang dingin, menatap dunia yang kini telah melupakannya.
Sejarah baru saja dimulai kembali.