Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Iblis yang Terbuang

Iblis yang Terbuang

Best Siallagan | Bersambung
Jumlah kata
24.9K
Popular
100
Subscribe
16
Novel / Iblis yang Terbuang
Iblis yang Terbuang

Iblis yang Terbuang

Best Siallagan| Bersambung
Jumlah Kata
24.9K
Popular
100
Subscribe
16
Sinopsis
18+FantasiIsekaiDewaKekuatan SuperKultivator
"Bimo Arya, kau bajingan tak tahu malu! Kau tidak hanya mencuri kitab kanuragan dan pusaka milikku, kau bahkan merebut tunanganku! Urusan kita belum selesai!" "Dia adalah noda dalam dunia persilatan, benalu bagi umat manusia. Benar-benar sampah tak bermoral!" "Tidak ada kejahatan yang tidak dia lakukan. Alih-alih membantu orang tua menyeberang jalan, dia bahkan tega mencuri mainan dari tangan balita!" "Dia pembuat onar di mana-mana. Semua jenius dari keluarga besar pernah dia pecundangi. Kini, baik manusia maupun dewata pun sudah tidak sudi menerimanya!" Ribuan pendekar sakti dari Jagad Nusantara membenci Bimo Arya hingga ke sumsum tulang. Mereka gatal ingin mencabik-cabiknya menjadi serpihan. Lalu, bagaimana dengan Bimo? Menghadapi kebencian lautan manusia, dia justru dengan tenang membuka antarmuka "Sistem Kebencian Agung" miliknya. Sambil mengelus dagu, dia menatap daftar harta karun di sana dengan santai. "Wah, Poin Kebencianku sudah menumpuk sebanyak ini. Apa yang harus aku tukar sekarang ya?" "Pil Pusaka tingkat Suci? Atau mungkin Pil Purba yang melegenda itu? Jurus silat tiada tanding, Telapak Tangan Budha, sepertinya menarik. Tapi ada juga senjata dewa, Kuali Alam Semesta. Duh, sulit sekali memilih kalau sudah jadi 'Iblis' sehebat ini!"
Jagad Nusantara

Jagad Nusantara, Wilayah Jawadwipa, Kota Tirtahening. SMA Negeri 95, Kelas 12-36.

Seorang remaja laki-laki berpakaian putih duduk di kursi paling belakang. Matanya menatap kosong ke buku sejarah di hadapannya. Mulutnya komat-kamit, “Apakah aku, Bimo Arya, benar-benar orang Bumi? Ataukah aku penduduk asli Jagad Nusantara? Apakah semua ini hanya mimpi?”

Kebingungan terpancar jelas di matanya.

Bimo Arya hanyalah murid biasa di Jagad Nusantara, tak ada bedanya dengan remaja lain. Namun, tiga hari lalu, sebuah sambaran kilat ungu menghantam dari langit dan membuatnya pingsan seketika.

Saat terbangun, dia terkejut menemukan ingatan asing namun terasa sangat akrab di kepalanya. Dalam ingatan itu, dia adalah seorang pria dari Bumi. Dia ingat masa sekolahnya, jatuh cinta, bekerja, hingga berkeluarga, sebelum akhirnya tewas dalam kecelakaan tragis di usia 30-an.

Selama tiga hari ini, ingatan dari Bumi dan ingatan aslinya sebagai penduduk Jagad Nusantara bertabrakan, membuat kepalanya serasa pecah. Dia linglung, bahkan sering melamun di tengah pelajaran.

Namun, penyatuan ingatan ini bukan tanpa manfaat. Otaknya menjadi lebih encer, daya ingatnya tajam, dan dia bisa memahami hal-hal sulit dengan jauh lebih cepat dari sebelumnya.

“Kalian dengar itu? Lima bulan! Kalian hanya punya waktu lima bulan lagi!”

Seorang wanita muda berdiri di podium kelas. Ia mengenakan setelan kantor yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya cantik, dengan kacamata berbingkai hitam yang menambah kesan intelektual sekaligus berwibawa.

Dia adalah wali kelas Bimo, Ibu Ratna, yang memiliki ilmu kanuragan yang sulit diukur.

“Lima bulan lagi adalah ujian masuk perguruan tinggi. Itu adalah garis penentu nasib kalian.”

Ibu Ratna menatap murid-muridnya dengan tajam. “Apakah kalian ingin lanjut berjuang di universitas atau langsung bekerja untuk menyambung hidup, kalian harus memutuskannya sekarang. Saya akan membagikan kuesioner rencana masa depan. Jangan mengisinya asal-asalan, paham?”

“Bu, tingkatan kanuragan saya baru di tahap Murid Bela Diri tingkat 3. Apakah sulit bagi saya untuk masuk universitas?” seorang siswi bertanya dengan nada cemas.

“Itu nilai yang sangat standar,” Ibu Ratna mengangguk jujur. “Kalau mau masuk universitas kelas atas, itu mustahil. Tapi universitas kelas tiga mungkin masih bisa dicoba. Atau, kalian bisa langsung bekerja. Sekarang banyak perusahaan yang butuh tenaga kerja. Dari gaji itu, kalian bisa membeli daging monster atau Jamu Pusaka untuk meningkatkan tenaga dalam pelan-pelan. Siapa tahu, suatu hari nanti kalian bisa jadi pendekar sungguhan dengan penghasilan belasan juta per bulan.”

Jika Bimo hanya orang Bumi biasa, dia pasti bingung dengan istilah-istilah itu. Namun, karena dia telah menyatu dengan ingatan Jagad Nusantara, dia paham bahwa dunia ini adalah perpaduan antara teknologi canggih dan ilmu persilatan.

Dulu, Jagad Nusantara mirip dengan Bumi, namun luasnya seratus kali lipat. Perubahan besar terjadi seribu tahun lalu saat sebuah lubang hitam muncul di langit, menyemburkan gas hitam yang menyelimuti planet ini.

“Gas hitam itu mengandung virus mengerikan,” gumam Bimo sambil membaca buku sejarahnya.

Dunia jatuh ke dalam kiamat. Separuh populasi manusia tewas. Hewan dan tumbuhan bermutasi menjadi monster ganas yang kebal peluru dan meriam. Masa itu disebut sebagai Era Goro-Goro Besar.

Namun, virus itu juga membawa berkah. Manusia yang bertahan mengalami evolusi tubuh. Ditambah lagi dengan munculnya situs-situs purbakala yang menyimpan kitab kanuragan kuno. Jurus-jurus seperti Pukulan Sakti Seratus Langkah, kemampuan berjalan di udara, hingga menghancurkan gunung dengan tinju pun menjadi nyata. Manusia kembali menjadi penguasa planet ini dan mendirikan Pemerintah Federasi.

Kini, ilmu bela diri adalah segalanya. Tanpa kekuatan, kau hanyalah sampah masyarakat.

“Huff!” Bimo menghela napas panjang. Matanya kini terlihat mantap. “Tak peduli aku Bimo dari Bumi atau Bimo dari Nusantara, aku tetaplah aku. Di dunia mana pun aku berada, aku harus hidup dengan luar biasa!”

Seketika, rasa sakit di kepalanya hilang. Ingatannya menyatu sempurna.

Tepat saat itu, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di dalam kepalanya.

[Ding! Penyatuan Jiwa selesai. Sistem Kebencian Agung terikat pada Inang.]

Bimo mengerjap. “Sistem Kebencian Agung?!”

[Inang, Sistem ini khusus untuk menarik kebencian. Selama Inang bisa memancing kemarahan orang lain, Inang akan mendapatkan Poin Kebencian. Poin itu bisa ditukar dengan Jamu Pusaka, Mustika Alam, hingga Kitab Kanuragan Tiada Tanding di Toko Sistem.]

“Maksudmu aku harus cari musuh?!” Bimo tertegun. Jika dia terus-menerus memancing kebencian, bukankah dia akan menjadi musuh masyarakat? Tapi godaan hadiahnya sangat menggiurkan.

Di depan kelas, Ibu Ratna masih memberikan nasihat. Ia menyadari Bimo sedang melamun. “Bimo Arya! Coba berdiri. Beritahu saya, apa rencanamu untuk masa depan?”

Bimo berdiri. Awalnya dia ingin menjawab ingin masuk universitas biasa saja agar tidak mencolok. Tapi, ini adalah kesempatan bagus untuk menguji apakah Sistem Kebencian itu nyata atau tidak.

Bimo menarik napas dalam dan berseru dengan lantang, “Saya ingin masuk ke Universitas Gadjah Nusantara!”

Hening. Seisi kelas melongo.

Universitas Gadjah Nusantara adalah universitas terbaik di seluruh jagad. Hanya para jenius pilihan yang bisa masuk ke sana. Di SMA 95 saja, mungkin belum tentu ada satu murid pun yang diterima setiap tahunnya.

Sedangkan Bimo? Dia hanya murid kelas bawah dengan tingkat kanuragan yang memprihatinkan.

“Bimo... kamu serius?” Ibu Ratna sampai tidak jadi marah karena terlalu kaget.

Bimo mengangguk mantap. “Benar, Bu. Lima bulan lagi saya akan masuk ke sana, jadi pendekar sakti, punya penghasilan ratusan miliar, menikahi wanita cantik nan kaya, dan mencapai puncak kehidupan!”

“Puncak matamu! Dengan kekuatan segitu, masuk sekolah pinggiran saja syukur!” ejek seorang siswa.

“Jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit!” sahut yang lain.

Bimo tidak goyah. Dia menatap salah satu siswa yang paling keras mengejeknya. “Sodik, hanya karena kau 'lemah' bukan berarti orang lain juga begitu. Lagipula, ada beberapa pria yang memang terlahir 'lemah syahwat' dan tak bisa disembuhkan, kan?”

“Bimo Arya!” wajah Sodik memerah karena marah. Dia tahu Bimo sedang menghina martabatnya sebagai lelaki.

“Hahaha! Bener tuh Dik, mending periksa ke dokter!” seorang pemuda gemuk di pojok kelas tertawa terpingkal-pingkal.

Bimo melirik si gendut itu dengan malas. “Gendut, kau tidak usah tertawa. Kau juga sama saja. Burungmu bahkan tidak kelihatan karena tertutup perut.”

Seketika, wajah si gendut berubah hijau. Dia berdiri sambil menggebrak meja, ingin rasa-rasanya menelan Bimo hidup-hidup.

Seisi kelas terperangah. Bimo yang biasanya pendiam hari ini seperti sedang memegang meriam, semua orang ditembaki tanpa ampun!

“Cukup!” Ibu Ratna membentak. Matanya melotot ke arah Bimo. “Bimo, apa-apaan kamu? Kenapa menghina fisik temanmu? Kamu tidak boleh sembarangan bicara seperti itu!”

Bimo mengangguk sopan. “Ibu benar. Saya akan introspeksi diri.”

“Huaaa! Bu, dia mem-bully saya!” Sodik, yang merasa martabatnya hancur langsung menangis sesenggukan. Dia menendang kursinya dan lari keluar kelas sambil meratap.

Ibu Ratna tersipu malu karena suasana kelas jadi kacau. “Bimo! Ini semua gara-gara kamu!”

Bimo merentangkan tangan dengan wajah tak berdosa. “Saya tidak menyangka mentalnya selemah itu.”

“Keluar! Keluar sekarang juga dan renungkan kesalahanmu di koridor!” tunjuk Ibu Ratna dengan murka.

Bimo tidak keberatan. Sambil berjalan keluar, sebuah suara manis terdengar di kepalanya:

[Poin Kebencian +1, Poin Kebencian +1, Poin Kebencian +1...]

Lanjut membaca
Lanjut membaca