

Langit di atas Altar Pemilihan berwarna putih pucat, seolah dunia menahan napas.
Seratus lingkaran cahaya melayang di udara, masing-masing memancarkan simbol berbeda. Pedang, perisai, tongkat sihir, kitab suci, panah, mahkota. Setiap simbol berdenyut pelan, seperti jantung yang hidup.
Seratus nama dipanggil.
Sorak sorai menggema dari ribuan manusia yang berkumpul di alun-alun ibu kota. Tangis haru, doa, dan jeritan kegembiraan bercampur jadi satu. Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah Hari Pemilihan Pahlawan.
Hari ketika takdir seseorang diputuskan oleh para dewa.
Arka berdiri di barisan paling belakang.
Tidak ada yang memperhatikannya. Pakaian hitam lusuh, sepatu usang, dan tatapan mata yang terlalu tenang untuk seorang pemuda berusia sembilan belas tahun.
Tangannya mengepal pelan.
“Nomor sembilan puluh tujuh, Eron Valcrest!”
Sebuah cahaya emas turun dari langit, menyelimuti seorang pemuda berambut pirang di barisan depan. Simbol pedang bersinar terang di atas kepalanya.
“Pahlawan Pedang Cahaya!”
Sorak sorai kembali meledak.
Ibunda Eron menangis sambil berlutut, memeluk kaki seorang pendeta gereja. Ayahnya berdiri dengan dada membusung, seolah seluruh dunia kini milik putranya.
Arka tidak bereaksi.
Ia sudah melihat pemandangan seperti itu terlalu sering.
“Nomor sembilan puluh delapan, Mira Elond!”
Cahaya biru turun. Simbol tongkat sihir berputar anggun.
“Pahlawan Penyihir Cahaya!”
“Nomor sembilan puluh sembilan—”
Arka menegakkan tubuhnya sedikit.
Detak jantungnya bertambah cepat. Bukan karena harapan, tapi karena kebiasaan. Tubuhnya selalu bereaksi seperti itu, meski pikirannya sudah lama menyerah.
“Leonhart Argen!”
Cahaya turun.
Bukan padanya.
Sorak sorai.
“Nomor seratus, Siena Loryn!”
Lingkaran cahaya terakhir menyala.
Simbol salib bersinar lembut.
Seratus pahlawan telah terpilih.
Seratus nama.
Bukan namanya.
Pendeta agung menurunkan tongkat sucinya. Cahaya di langit perlahan memudar, digantikan awan abu-abu yang berat.
“Hari Pemilihan telah selesai,” ucapnya lantang.
“Mereka yang terpilih akan menjadi pelindung dunia. Mereka yang tidak…”
Ia berhenti sejenak.
Tatapan matanya menyapu barisan yang tersisa—ratusan pemuda dan pemudi yang berdiri kaku, wajah mereka kosong.
“…adalah yang gagal.”
Kata itu jatuh seperti palu.
Gagal.
Arka mengembuskan napas pelan.
Di dadanya tidak ada kemarahan. Tidak ada kesedihan. Hanya perasaan hampa yang sudah terlalu familiar.
Sejak kecil, ia selalu gagal.
Gagal dalam tes bakat sihir.
Gagal menjadi prajurit.
Gagal dilihat sebagai manusia yang berguna.
Dan sekarang—gagal dipilih oleh dewa.
“Semua yang tidak terpilih,” lanjut pendeta agung, “akan menjalani Penghapusan Takdir sesuai hukum dunia.”
Beberapa orang langsung jatuh terduduk.
“Apa… apa maksudnya?” terdengar suara gemetar.
Pendeta agung tersenyum tipis. Senyum yang suci. Senyum yang dingin.
“Dunia tidak membutuhkan mereka yang tidak dipilih.”
Pasukan gereja bergerak.
Ksatria berzirah putih mendekat dari segala arah, tombak mereka mengarah ke barisan yang gagal.
Tidak ada amarah di wajah mereka. Hanya kepatuhan.
Arka akhirnya mengangkat kepala.
Di kejauhan, ia melihat jurang hitam yang menganga di luar kota. Jurang Penghapusan. Tempat di mana mereka yang “tidak berguna” dikirim.
Tidak ada yang pernah kembali dari sana.
“Bergerak,” perintah seorang ksatria.
Dorongan keras mengenai punggung Arka.
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Di sekelilingnya, tangisan pecah. Doa dipanjatkan. Sumpah serapah dilemparkan ke langit.
“Kenapa aku?!”
“Aku sudah berdoa seumur hidup!”
“Dewa kejam!”
Arka diam.
Saat ia kecil, ia pernah bertanya pada seorang pendeta kenapa dewa tidak pernah menjawab doanya.
Pendeta itu tersenyum dan berkata, “Mungkin doamu tidak layak didengar.”
Kini, jawabannya terasa jelas.
Jurang itu semakin dekat.
Angin dingin berhembus dari kedalamannya, membawa bau darah dan sesuatu yang lebih busuk—keputusasaan yang mengendap terlalu lama.
“Berhenti.”
Suara pendeta agung terdengar lagi.
Arka dan yang lain berhenti tepat di tepi jurang.
Di bawah sana hanya kegelapan.
“Sebagai bentuk belas kasih,” ucap pendeta itu, “kalian akan diberi kesempatan terakhir.”
Beberapa kepala terangkat.
“Terjun,” lanjutnya, “atau dipaksa.”
Tidak ada pilihan.
Satu per satu, tubuh-tubuh jatuh ke kegelapan. Jeritan mereka terputus cepat, ditelan jurang.
Saat giliran Arka tiba, seorang ksatria mendorong bahunya lebih keras dari yang lain.
“Mati dengan tenang,” bisik ksatria itu.
Arka tersenyum tipis.
“Tenang?” gumamnya. “Kau lucu.”
Ia melangkah sendiri.
Tanpa dorongan.
Tanpa jeritan.
Saat tubuhnya jatuh, dunia di atas menjauh dengan cepat. Cahaya, suara, dan udara lenyap. Yang tersisa hanya angin menderu dan kegelapan yang menelan segalanya.
Rasa sakit datang saat tubuhnya menghantam dinding batu.
Tulang retak.
Darah mengalir.
Ia terjatuh lagi, berputar, menghantam, jatuh.
Akhirnya—diam.
Arka tergeletak di dasar jurang.
Matanya setengah terbuka. Penglihatannya buram. Setiap napas terasa seperti menghirup pecahan kaca.
“Jadi… begini akhirnya.”
Ia tertawa pelan, tapi yang keluar hanya darah.
Ia menatap langit yang kini hanya berupa garis tipis di atas sana.
Tidak ada cahaya turun menyelamatkannya.
Tidak ada keajaiban.
“Dewa…” bibirnya bergerak lemah.
“Kalau kalian ada… kalian benar-benar kejam.”
Kesadarannya mulai memudar.
Detak jantungnya melambat.
Darah hangat menggenang di bawah tubuhnya.
Dan tepat saat ia hampir mati—
Sebuah suara terdengar.
Bukan dari langit.
Bukan dari sekeliling.
Tapi dari dalam kepalanya.
[ Deteksi: Subjek berada di ambang kematian ]
Arka tersentak.
Matanya terbuka lebar.
“Apa…?”
[ Kondisi memenuhi syarat aktivasi ]
[ Sinkronisasi dimulai ]
Rasa dingin menjalar dari kepalanya ke seluruh tubuh, seperti tangan tak kasatmata yang meraih tulang dan dagingnya.
[ Selamat datang ]
Suara itu datar. Tidak hangat. Tidak ramah.
[ Sistem Dewa Terlupakan telah aktif ]
Arka terbatuk keras.
“Sistem…?”
Cahaya hitam muncul di hadapannya, membentuk panel transparan yang bergetar.
Nama : Arka
Status : Terbuang
Level : 0
Kondisi : Hampir Mati
Matanya membesar.
Ini bukan ilusi. Rasa sakitnya terlalu nyata.
“Apa… apa ini?” napasnya terengah.
[ Dunia telah menolakmu ]
[ Para dewa menghapus eksistensimu ]
Panel bergetar.
[ Oleh karena itu ]
[ Kamu layak menjadi wadah ]
“Kedengarannya… tidak seperti pujian,” gumam Arka.
[ Misi Darurat Aktif ]
Tulisan merah muncul, berdenyut keras.
MISI DARURAT: BERTAHAN HIDUP
Target:
• Hidup selama 10 menit
Hadiah:
• Skill Terlarang (Acak)
• 1 Poin Dewa
Gagal:
• Penghapusan eksistensi (Total)
Arka tertawa serak.
“Sepuluh menit?”
Ia menoleh ke luka-lukanya. “Kau terlalu optimis.”
[ Tidak ada alternatif ]
Rasa sakitnya tiba-tiba melonjak.
Arka menjerit, tubuhnya kejang. Tulang-tulang yang retak dipaksa menyatu kasar. Dagingnya terbakar dari dalam.
“AAAAARGH!”
[ Proses dipercepat ]
[ HP distabilkan secara paksa ]
Rasa sakit itu berhenti mendadak.
Arka terengah, keringat dingin membasahi wajahnya.
Ia masih hidup.
Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya. Kakinya gemetar, tapi menopang.
Di kegelapan jurang, ia mendengar suara lain.
Geraman.
Mata-mata merah menyala terbuka di sekelilingnya.
Makhluk-makhluk berkulit hitam merayap keluar dari celah batu. Gigi mereka tajam. Bau busuk mereka menusuk hidung.
Monster jurang.
Arka menelan ludah.
“Jadi ini maksudmu bertahan hidup.”
[ Ancaman terdeteksi ]
[ Skill awal diberikan ]
Panel baru muncul.
Skill Terbuka: Langkah Terakhir (F)
Efek:
• Teleportasi paksa sejauh 3 meter
• Aktif otomatis saat HP <10%
Efek Samping:
• Pendarahan internal
• Cooldown: 24 jam
Monster pertama menerjang.
Arka tidak punya waktu berpikir.
Cakar hampir menyentuh wajahnya—
Dunia berputar.
Tubuhnya berpindah.
Dalam sekejap, ia sudah berada tiga meter di samping, terhuyung.
Monster itu menghantam batu, meraung marah.
Arka terjatuh berlutut, darah menyembur dari mulutnya.
“Tch… jadi begini rasanya.”
[ Waktu tersisa: 9 menit 12 detik ]
Arka mengangkat kepala.
Di kegelapan jurang, dengan darah di wajah dan senyum tipis yang hampir gila, ia berdiri.
“Kalau dunia sudah membuangku,” katanya pelan,
“kalau dewa ingin aku mati…”
Ia menatap monster-monster itu.
“…maka aku akan hidup.”
Panel sistem bergetar.
[ Respon emosional terdeteksi ]
[ Sinkronisasi meningkat ]
Di dalam kegelapan, sesuatu tertawa pelan.
Bukan monster.
Bukan manusia.
Dan di atas sana, di altar suci, para dewa tidak tahu—
Mereka baru saja menciptakan kesalahan terbesar dalam sejarah dunia.