

Mahesa mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Debu menempel di keringat tipis yang muncul karena AC ruangan sudah mati sejak sore. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat. Ia seharusnya sudah selesai dua jam lalu. Pak Darmo yang biasanya mengunci pintu tepat jam tujuh, hari ini tidak masuk hari ini karena cucunya sakit. Tanggung jawab kunci dialihkan ke Mahesa tanpa peringatan, hanya pesan singkat di grup WhatsApp.
"Mas Hesa, tolong kunci ya nanti. Kuncinya di laci meja saya. Makasih banyak."
Mahesa membalas dengan emoticon jempol lalu menyesali keputusannya. Sekarang ia harus menyelesaikan katalogisasi tumpukan dokumen lama yang bahkan Pak Darmo sendiri tidak ingat kapan terakhir kali dibuka.
Kertas-kertas itu berbau lembap bercampur aroma tembakau kretek dari era yang sudah lewat puluhan tahun. Beberapa dokumen masih memakai kertas karbon, tulisan tangan pudar, dan stempel dengan tinta merah yang sudah memucat jadi oranye kusam.
Ruang arsip ini terletak di lantai dua gedung kampus, bagian yang jarang dikunjungi mahasiswa karena lokasinya terpisah dari bangunan utama. Gedung ini dulunya kantor administratif era kolonial dengan langit-langit tinggi, jendela-jendela besar yang cat hijaunya mengelupas, dan lantai ubin bermotif bunga-bunga geometris yang sebagian sudah retak. Mahesa sering merasa seperti bekerja di museum yang lupa dipelihara.
Listrik tiba-tiba mati.
Mahesa berhenti mengetik di laptop. Layar itu menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang gelap total. Baterainya tinggal dua puluh persen. Ia menunggu beberapa detik, berharap listrik kembali seperti biasa setelah gangguan singkat. Tidak ada. Kegelapan bertahan. Dari luar jendela, seluruh area kampus juga gelap. Pemadaman bergilir mungkin, atau ada masalah di gardu.
Mahesa menghela napas panjang. Ia bisa pulang meninggalkan pekerjaan ini sampai besok. Tapi besok ada ujian tengah semester dan ia belum sempat belajar sama sekali. Uang dari pekerjaan paruh waktu ini cukup untuk bayar kosan dan makan sebulan kalau dihemat. Kehilangan pekerjaan ini berarti kembali meminjam uang dari kakaknya di Semarang. Wajar saja, orang tua mereka sudah meninggal sejak Mahesa berumur 10 tahun.
Ia bangkit dan meraba-raba jalan menuju meja Pak Darmo. Ponselnya dipakai sebagai senter, cahayanya lemah tapi cukup untuk menemukan laci. Di dalam laci ada kotak korek api dan sebuah lampu minyak kecil berbahan kuningan. Mahesa tersenyum tipis. Pak Darmo memang orang yang selalu siap untuk situasi seperti ini.
Sumbu lampu sudah agak pendek tapi masih bisa dipakai. Mahesa menyalakan korek, api kecil menjilat sumbu hingga muncul nyala kuning yang stabil. Cahayanya tidak begitu terang, hanya cukup untuk menerangi meja kerjanya. Ia membawa lampu itu, menaruhnya di samping laptop yang ditutup untuk menghemat baterai.
Bayangan dari nyala lampu menari-nari di dinding, memanjang dan memendek mengikuti kedipan api. Rak-rak arsip yang tinggi menciptakan siluet seperti menara-menara gelap. Mahesa mencoba fokus pada berkas-berkas di hadapannya, menulis nomor inventaris secara manual di buku catatan. Tapi perhatiannya terus terganggu oleh bayangan yang bergerak.
Ada yang aneh.
Bayangan salah satu rak seperti tidak sinkron dengan rak aslinya. Saat nyala lampu bergerak, bayangan rak itu bergeser terlalu lambat, seperti tertinggal seperempat detik. Mahesa memutar kursinya, mengamati langsung ke arah rak tersebut. Rak itu seharusnya kosong. Ia ingat karena minggu lalu membantu Pak Darmo memindahkan isinya ke rak lain yang lebih kering.
Tapi sekarang ada sesuatu di sana.
Ada sebuah buku di rak paling atas, di pojok yang sulit dijangkau tanpa tangga. Mahesa berdiri mendekat membawa lampu minyak. Tangga lipat tergeletak di sudut ruangan. Ia menyeretnya, menaikinya pelan-pelan karena tangga itu sudah berkarat dan sering bunyi kerik-kerik menakutkan saat dibebani.
Buku itu ada di sana, nyata, meski Mahesa yakin seratus persen rak ini kosong beberapa hari lalu.
Sampulnya polos, tanpa judul, tanpa nama pengarang. Warna cokelat muda yang sudah kusam seperti kulit yang lama tidak dirawat. Tidak ada label perpustakaan, tidak ada nomor inventaris, tidak ada stempel arsip. Mahesa mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh punggung buku.
Hangat.
Bukan hangat seperti benda yang terkena sinar matahari. Hangat seperti sesuatu yang hidup. Mahesa menarik tangannya refleks, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menatap buku itu beberapa detik, menimbang-nimbang. Mungkin hanya sugesti. Mungkin tangannya yang berkeringat. Ia mengulurkan tangan lagi, kali ini langsung mengambil buku itu.
Hangat. Pasti.
Mahesa turun dari tangga dengan hati-hati membawa kitab dan lampu minyak kembali ke meja. Ia meletakkan buku itu di bawah cahaya lampu, mengamatinya dari berbagai sudut. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Tebal sekitar dua sentimeter, dijilid sederhana dengan benang yang terlihat tua. Tidak ada yang rusak atau robek.
Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua. Kosong juga.
Mahesa membalik beberapa halaman sekaligus. Semuanya kosong, kertas putih kekuningan tanpa satu goresan pun. Ia merasa sedikit kecewa sekaligus lega. Mungkin ini memang buku latihan lama yang belum sempat dipakai, entah bagaimana tertinggal di rak kosong.
Tapi kenapa hangat?
Mahesa menutup buku itu, bersiap mengembalikannya ke rak. Tapi tangannya berhenti di tengah gerakan. Ia melirik bayangan buku di atas meja. Ada yang salah dengan bayangannya. Bayangan halaman-halaman malah terlihat... penuh. Seperti ada tulisan. Tidak mungkin ada tulisan dalam bayangan buku.
Ia membuka buku itu lagi, kali ini memperhatikan tidak langsung ke halaman, tapi ke bayangan yang jatuh di permukaan meja. Dan ia melihatnya, tulisan dalam bayangan, huruf-huruf yang terbentuk dari kegelapan yang lebih pekat dalam bayangan kertas.
Mahesa menggeser lampu minyak lebih dekat. Tulisan di bayangan menjadi lebih jelas, huruf Jawa kuno yang mengalir seperti air, bergerak pelan membentuk kata-kata. Ia tidak terlalu lancar membaca aksara Jawa, hanya memahami beberapa kata dasar. Ia pernah belajar di SMA, dipaksa guru bahasa daerah yang keras kepala.
"Nalika wulan purnama kaping telu..." (Ketika bulan purnama ketiga…)
Mahesa berkedip. Tulisan itu seperti ditarik dari kegelapan, muncul perlahan lalu menghilang, digantikan kalimat berikutnya. Bukan seperti membaca buku biasa di mana semua tulisan sudah ada di halaman. Ini seperti menonton tulisan sedang ditulis oleh tangan yang tidak terlihat.
Kisahnya tentang sebuah desa. Nama desanya tidak jelas, atau mungkin Mahesa tidak mengenalinya. Tapi detailnya sangat spesifik tentang konflik air antara dua kelompok keluarga, tentang sumur yang tiba-tiba kering di musim kemarau, tentang seseorang bernama Kertabumi yang dituduh melakukan sihir untuk mengalihkan mata air.
Mahesa membaca terus hingga lupa waktu. Kisahnya tidak seperti legenda atau dongeng. Tidak ada unsur mistis, tidak ada makhluk gaib atau kutukan. Hanya cerita manusia biasa yang berselisih karena hal-hal duniawi seperti air, tanah, dan kehormatan. Tapi cara penulisannya terasa sangat intim, seperti ditulis oleh orang yang benar-benar menyaksikan kejadian itu.
Lalu tulisan berhenti di tengah kalimat.
Mahesa menunggu, tidak ada kelanjutan. Ia membalik halaman. Halaman berikutnya kosong, bayangannya juga kosong. Ia kembali ke halaman sebelumnya, tulisan yang tadi dibaca sudah menghilang. Bayangan halaman kembali polos seperti tidak pernah ada apa-apa.
"Apa...?"
Mahesa menutupnya dengan cepat, jantungnya berdegup keras. Ia menatap buku itu seperti menatap hewan yang bisa menyerang kapan saja. Tangannya bergetar sedikit. Ini tidak masuk akal. Tulisan tidak mungkin hanya muncul di bayangan. Tidak mungkin bergerak dan menghilang begitu saja.
Ia memeriksa ponselnya. Pukul sebelas lewat. Listrik masih mati. Kampus sudah pasti sepi. Mahesa mengambil keputusan impulsif yaitu akan membawa buku ini pulang. Bukan mencuri, hanya meminjam. Besok akan dikembalikan setelah ia cari tahu apa sebenarnya buku ini.
Ia mematikan lampu minyak, mengemas barang-barangnya dalam kegelapan dengan bantuan cahaya ponsel. Buku itu dimasukkan ke dalam tas ransel, di antara buku catatan dan laptop. Saat menyentuhnya lagi, buku itu masih terasa hangat.
Perjalanan pulang ke kosan terasa lebih panjang dari biasanya. Jalanan sepi, beberapa motor lewat. Lampu jalan menyala normal, pemadaman hanya terjadi di area sekitar kampus rupanya. Mahesa mengayuh sepeda dengan santai, mencoba tidak terlalu memikirkan apa yang baru saja ia baca. Mungkin terlalu lelah. Mungkin matanya bermasalah. Mungkin cahaya lampu minyak menciptakan ilusi optik.
Tapi ia tahu semua alasan itu hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
—
Kosan Mahesa ada di gang kecil dekat Jalan Kaliurang, bangunan dua lantai yang cat temboknya sudah banyak mengelupas. Pemilik kosan adalah seorang ibu paruh baya yang jarang keluar dari rumah utamanya di depan. Mahesa menempati kamar nomor lima di lantai dua, kamar pojok dengan jendela kayu yang agak susah ditutup rapat.
Ia memarkir sepeda di bawah tangga, naik ke lantai dua dengan langkah pelan karena anak tangga selalu berbunyi keras kalau diinjak. Kebiasaan pulang malam membuatnya hafal tangga mana yang harus dihindari kalau tidak mau membangunkan penghuni lain.
Kamarnya kecil, cukup untuk kasur, meja belajar, lemari kecil, dan rak buku yang mulai penuh. Mahesa menyalakan lampu, ruangan langsung terang dengan cahaya putih dari lampu LED. Ia melempar tas ke kasur, mengeluarkan buku dari dalamnya.
Di bawah cahaya lampu LED, buku itu terlihat sangat biasa. Sampul cokelat kusam, tidak ada keistimewaan. Mahesa membukanya, membalik halaman demi halaman. Semuanya kosong. Tidak ada tulisan, tidak ada bayangan aneh. Hanya kertas kosong yang menguning.
Ia mencoba mengingat apa yang dibaca tadi. Kertabumi, konflik air, sumur kering. Semakin diingat, semakin detail itu terasa kabur, seperti mencoba mengingat mimpi yang sudah mulai menguap begitu bangun tidur.
Mahesa meletakkan buku itu di meja belajar, membuka laptop, mulai mencari informasi tentang Kertabumi. Google tidak memberi hasil yang relevan. Ia coba cari di database arsip digital kampus. Tidak ada. Ia coba kombinasi kata kunci lain yaitu sumur kering, konflik air, desa di Jawa abad ke-17 atau 18. Masih tidak ada yang cocok.
Mungkin memang cuma khayalan.
Mahesa tidak bisa menerima penjelasan itu sepenuhnya. Ia terlalu rasional untuk percaya pada halusinasi begitu saja. Tulisan itu terasa sangat nyata, terlalu detail untuk disebut ilusi optik.
Ia melirik buku yang tergeletak di meja. Lalu ia ingat kalau tulisan itu hanya muncul di bawah cahaya lampu minyak. Bukan lampu listrik. Bukan cahaya ponsel. Lampu minyak.
Mahesa bangkit, membuka laci meja. Ia ingat pernah membeli lilin aromaterapi dari pasar minggu lalu karena sering ada pemadaman listrik. Lilin itu masih ada, setengah terbakar. Ia tidak punya lampu minyak di kosan, tapi lilin seharusnya cukup. Sama-sama api, sama-sama cahaya yang bergerak.
Ia mematikan lampu LED, ruangan menjadi gelap. Lalu menyalakan lilin, menaruhnya di meja dekat buku. Cahaya kuning lembut menyebar, menciptakan bayangan yang mirip di ruang arsip tadi.
Mahesa membuka buku itu. Halaman pertama. Kosong. Ia menggeser lilin lebih dekat, mengamati bayangan halaman di permukaan meja kayu.
Perlahan, tulisan muncul.
Tidak sama dengan yang tadi. Ini halaman berbeda, ceritanya juga berbeda. Mahesa membaca dengan seksama, kali ini lebih lambat, mencoba mengingat setiap detail.
"Sarwa ingkang kasusun wonten ing kitab punika, sanes saking tangan manungsa..." (Segala yang tertulis dalam kitab ini, bukan dari tangan manusia…)
Mahesa berhenti membaca. Jantungnya berdegup keras lagi. Ini bukan cerita tentang desa atau konflik air. Ini... penjelasan tentang buku itu sendiri. Lebih tepatnya kitab ini.
Tulisan melanjutkan, menjelaskan bahwa kitab ini ditulis dengan memori dan ingatan orang-orang yang sudah lama pergi, kisah-kisah yang tidak sempat dicatat dalam sejarah, kejadian-kejadian kecil yang terlalu remeh untuk dicatat namun terlalu penting untuk dilupakan.
"Cahaya membawa bayangan, dan bayangan membawa ingatan."
Mahesa membaca kalimat itu berulang-ulang. Ia tidak sepenuhnya mengerti, mencoba memahami pola dasarnya. Kitab ini merespons cahaya api, bukan cahaya listrik. Dan yang muncul bukan tulisan biasa, namun semacam rekaman dari masa lalu.
Tapi siapa yang membuat kitab ini? Kapan? Untuk apa?
Tulisan di bayangan mulai bergeser, berganti halaman tanpa Mahesa menyentuh kertas. Cerita baru muncul. Kali ini tentang seorang pandai besi di sebuah kota pelabuhan. Nama kotanya tidak disebutkan, hanya ada detail tentang kapal-kapal besar dari seberang lautan, tentang pedagang yang membawa kain dan rempah-rempah.
Mahesa mengambil buku catatan, mulai menulis poin-poin penting. Nama, tempat, peristiwa. Ia tidak tahu kenapa melakukan ini, instingnya sebagai mahasiswa sejarah mengatakan ini penting. Bahkan jika ini semua hanya halusinasi atau tipuan, ini adalah halusinasi yang sangat detail dan konsisten.
Cerita tentang pandai besi berakhir dengan kematian anak laki-lakinya dalam kecelakaan kerja di bengkel. Tidak ada dramatisasi, tidak ada tangisan berlebihan. Hanya kalimat sederhana, "Anak lanang kang paling disenengi, sirna nalika geni murub." (Anak laki-laki yang paling disayang, hilang ketika api membara.)
Mahesa merasakan sesak di dada. Cara kisah itu diceritakan sangat personal, sangat dekat, membuatnya merasa seperti mendengar langsung dari orang yang mengalaminya. Ia seperti membaca kesaksian.
Tulisan berhenti. Mahesa menunggu beberapa menit, tidak ada kelanjutan. Ia membalik halaman, mencari cerita lain. Tapi bayangan halaman berikutnya kosong. Ia kembali ke halaman sebelumnya, tulisan yang tadi dibaca sudah menghilang lagi.
Pola yang sama seperti di ruang arsip.
Mahesa menutup kitab, meniup lilin hingga padam. Asap tipis mengepul dari sumbu yang membara. Ia duduk dalam kegelapan, ditemani cahaya samar dari lampu jalan yang masuk lewat celah jendela.
Ini nyata. Entah bagaimana, ini nyata.
Tapi apa yang harus dilakukan dengan kitab ini?
Mahesa tidak tidur malam itu. Ia terus mencoba membuka kitab dengan berbagai cara di bawah cahaya lilin, di bawah cahaya ponsel, bahkan di bawah cahaya laptop. Hanya api yang bekerja. Setiap kali menyalakan lilin, cerita baru muncul di bayangan halaman. Tidak ada urutan yang jelas, tidak ada indeks atau daftar isi. Ceritanya acak, melompat dari satu periode ke periode lain, dari satu tempat ke tempat lain.
Ada cerita tentang pedagang di pasar yang kehilangan semua dagangannya karena banjir. Ada cerita tentang juru tulis kerajaan yang dipaksa memalsukan dokumen pajak. Ada cerita tentang perempuan muda yang melarikan diri dari pernikahan paksa. Semua cerita itu kecil, tidak heroik, tidak dramatis dalam skala besar. Tapi semua terasa sangat nyata.
Mahesa mencatat semuanya. Buku catatannya penuh dengan nama-nama, tempat-tempat, peristiwa-peristiwa yang tidak pernah tercatat di mana pun. Ia merasa seperti sedang mengumpulkan potongan-potongan puzzle yang tidak punya gambar lengkap.
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyusup lewat celah jendela. Mahesa tersadar bahwa ia belum tidur sama sekali. Ujian hari ini pun dilupakan. Ia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Ujian dimulai jam sembilan.
Ia menutup kitab itu dan menyembunyikannya di bawah bantal. Lalu mandi cepat, ganti baju, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Di perjalanan ke kampus, otaknya terus memutar pertanyaan yang sama.
Siapa yang membuat kitab itu? Kenapa ada di ruang arsip? Kenapa tidak ada catatan tentangnya?
Dan pertanyaan paling mengganggu, kenapa ia yang menemukannya?
Ujian berlangsung seperti kabut. Mahesa mengisi lembar jawaban dengan otomatis, otaknya tidak benar-benar fokus. Hanya berharap nilainya tidak terlalu jelek. Setelah ujian selesai, ia kembali ke ruang arsip.
Pak Darmo sudah ada di sana, duduk di kursi kayunya yang bunyi krek setiap kali bergerak. Pria tua itu tersenyum melihat Mahesa masuk.
"Mas Hesa, makasih ya kemarin. Cucuku sudah mendingan."
"Sama-sama, Pak. Eh, Pak Darmo, saya mau tanya sesuatu."
"Apa?"
Mahesa ragu sebentar. "Rak di pojok sana, yang kemarin kita kosongkan, itu... ada yang menaruh buku di sana lagi?"
Pak Darmo mengernyit. "Mana? Yang deket jendela?"
"Iya."
"Enggak, Mas. Rak itu sudah saya tandai mau diperbaiki. Kayu bawahnya sudah lapuk. Kenapa?"
"Enggak, cuma... saya pikir kemarin sempat lihat buku di sana."
Pak Darmo menggeleng. "Tidak ada, Mas. Rak itu kosong. Mungkin Mas Hesa kelamaan kerja, capek jadi salah lihat." Ia tersenyum, setengah bercanda.
Mahesa memaksa dirinya tersenyum balik. "Iya mungkin. Makasih, Pak."
Ia kembali ke kosannya dengan perasaan campur aduk. Kitab itu tidak seharusnya ada di sana. Tidak ada yang tahu tentangnya. Tidak tercatat, tidak pernah dilihat oleh orang lain.
Di kamarnya, ia mengeluarkan kitab dari bawah bantal. Di bawah cahaya siang yang terang, kitab itu terlihat sangat biasa. Mahesa tahu sekarang bahwa penampilan itu menipu.
Ia menyalakan lilin lagi meski masih siang. Membuka kitab, membiarkan bayangan halaman jatuh di meja.
Tulisan muncul lagi. Kali ini lebih lambat, seolah ragu. Aksaranya tidak sejelas sebelumnya, lebih pudar.
"Sinten ingkang maos, sinten ingkang ngudi..." (Siapa yang membaca, siapa yang mencari…)
Mahesa menelan ludah. Tulisan itu seperti bertanya langsung padanya. Tidak lagi menceritakan kisah orang lain, tapi berbicara tentang pembacanya.
"Yen sira milih nerasaken, sira bakal ndeleng apa sing ora nate katon. Nanging sira uga bakal nanggung apa sing kudu ditanggung." (Jika kamu memilih melanjutkan, kamu akan melihat apa yang tak pernah terlihat. Namun kamu juga akan menanggung apa yang harus ditanggung.)
Tulisan berhenti. Tidak ada lagi. Mahesa menunggu lama, tidak ada kelanjutan.
Ia menutup kitab perlahan. Jari-jarinya masih merasakan kehangatan aneh dari sampul itu.
Apa yang harus ditanggung?
Mahesa tidak tahu. Tapi ia tahu satu hal, ia tidak akan bisa meninggalkan kitab ini begitu saja. Entah karena rasa ingin tahu, atau karena sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa ini penting. Bahwa kisah-kisah kecil yang tersembunyi di bayangan halaman ini perlu diketahui, perlu didengar.
Ia membuka laptop, mulai mencari informasi lebih lanjut tentang manuskrip Nusantara, tentang kitab-kitab mistis, tentang apa pun yang mungkin berhubungan. Tapi semakin banyak membaca, semakin ia sadar bahwa tidak ada yang persis seperti kitab ini.
Tidak pernah ada catatan tentang tulisan yang hanya muncul di bayangan. Memang seharusnya tidak mungkin ada. Tidak ada legenda tentang kitab yang menyimpan memori manusia. Ini sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mungkin hanya ia yang tahu.
Dan itu membuat Mahesa takut sekaligus tidak bisa berhenti penasaran.