

Sebuah kota kecil namun dipenuhi dengan gelak tawa dan kedamaian yang terletak di sudut sebuah negara. Kota itu memilki penduduk yang terbatas dan minimalis. Setiap kelahiran kehidupan baru akan selalu menjadi berkah bagi mereka.
Wilayah kecil yang dimiliki kota tersebut memilki efek yang indah. Yakni, ikatan antar penduduk yang lebih erat, lebih matang dan lebih dalam. Bukan hanya karena saling membutuhkan satu sama lain tapi juga karena ingin saling menguatkan satu sama lain.
Kota kecil nan indah itu disebut dan dinamai dengan...Sentra Jaya. Kota yang terlahir dan ditakdirkan memiliki kedamaian dan ketenangan yang menjadi semua impian penduduk di semua wilayah.
Sampai suatu masa....
Berita tentang bencana alam terekspos tanpa aba-aba maupun dugaan. Begitu tiba-tiba, begitu cepat dan begitu tak disangka. Dalam kabar berita tersebut tertulis bahwasannya akan ada hujan meteor yang mungkin akan menimpa negara Nyx Calder.
Dan lebih tidak disangkanya lagi negara tersebut adalah negara tempat dimana kota Sentra Jaya menjadi bagiannya. Semua penduduk kota Sentra Jaya kalang kabut. Mereka mencari keamanan, dan mencari keselamatan. Pengungsian dilakukan, pemerintah menyediakan akses dan fasilitas yang mumpuni untuk semua penduduknya. Seolah setiap hembusan adalah tanggung jawab milik pemerintah.
Pengungsian itu terjadi selama 1 hari, 2 hari, bahkan hingga 1 bulan. Namun, nyatanya apa? Tidak ada bencana maupun gencatan meteor yang menimpa kota kecil tersebut. Tidak ada tanda-tanda bencana yang menyeramkan yang telah dikabarkan disetiap saluran TV.
Asumsi-asumsi liar mulai berhamburan. Penduduk – penduduk kota Sentra Jaya adalah manusia yang tentu dikaruniai akal dan pemikiran yang matang. Mereka mulai berasumsi...
“Apakah ini kontroversi pemerintah?”
“Benar, aku mulai curiga kalau pemetintah sengaja membuay kita terus-terusan jauh dari kota kebanggan kita agar mereka bisa mengambil alih kota kecil tersebut.”
“Iya kan? Jika memang berita ini benar seharusnya meteor itu sudah jatuh sejak jauh hari”
“Ternyata rumor bahwa pemerintah iri dengan kemajuan kota sepertinya bukan hanya bualan”
Semua perkataan dari penduduk tersebut bukanlah tanpa landasan. Jauh – jauh dari tahun sebelum ini. Kota kecil mereka memang sering dikagumi, disanjung, dan bahkan diandalkan. Para pekerja maupun pelajar kota Sentra Jaya adalah salah satu penopang masa depan negara Nyx Calder.
Para detektif kota tersebut begitu cakap. Kasus – kasus terlaksana dengan begitu cepat, rapi dan tertata. Tak pernah sekalipun ada kasus yang terlewati maupun tak terpecahkan ditangan para detektif maupun polisi kota Sentra Jaya. Begitu juga dengan para pelajar kota Sentra Jaya yang begitu terlatih, terdisiplin dan termaju diantara yang lain. Meski bisa dibilang bangunan sekolah maupun pendidikan di kota itu yang semegah milik kota besar namun, hasil anak didik mereka sangat berguna bagi pemerintah dan negara. Banyak lulusan dari penduduk dari kota Sentra Jaya yang tembus sampai luar negeri. Dan berhasil membanggakan nama Negara.
Nyaris sempurna..seolah tuhan tak pernah libur untuk memberikan kesempurnaan, keberkahan maupun kedamaian pada kota tersebut.
Jadi tak ayal jika asumsi – asumsi tersebut mulai tersebar dengan liar dan ganas.
Para penduduk akhirnya memilih untuk kembali ke kota kecil mereka tanpa izin dari pemerintah. Mereka sudah terlalu rindu dengan suasana, nuansa dan aura dari kota kecil mereka. Negara maupun pemetintah tak bisa mencegah maupun menghadang mereka.
Adrian Vale adalah remaja yang menginjak usia 28 tahun. Ia adalah bagian dari penduduk kota Sentra Jaya. Namun, tak pernah sekalipun dirinya merasa bahwa ia adalah bagian dari anugerah yang ada dalam kota tersebut. Sejak kecil dirinya ditinggalkan, dibuang dan tak dirawat oleh kedua orang tuanya. Ia hanya bisa bertahan hidup di salah satu panti asuhan yang ada didalam kota tersebut. Apakah ia marah pada kedua orang tuanya yang telah membuangnya? Tidak pria tersebut bahkan tak mengerti bagaimana caranya marah maupun mengutuk pada kedua orang tuanya. Ia bukan murni lahir dari penduduk kota tersebut, mungkin itulah yang menjadi salah satu penyebab dirinya menjadi salah satu pelajar yang tak terlalu pandai dan lihai diantara yang lain.
Namun tak pernah sekalipun dalam hidupnya mendapat bullyan ataupun remehan dari penduduk warga Sentra Jaya. Mereka mungkin hanya akan memberikan tatapan penuh selidik dan sendu. Seolah salah satu diantara mereka mempertanyakan asal – usulnya dan yang lainnya hanya bisa menatapnya dengan prihatin yang tinggi. Justru hal itulah yang membuat Adrian Vale semakin dilanda rasa bersalah dan terpuruk. Tapi apalah daya, faktanya memang benar..ia adalah pria yang pantas di pertanyakan identitasnya dan juga dikasihani jalan hidupnya.
Dalam benaknya ia mulai putus asa. Mulai merasa bahwa sepertinya sebuah kematian yang paling ditakuti manusia dan dihindari manusia itu mungkin tak akan ia hindari sebaliknya, mungkin kematian adalah anugrah baginya. Setidaknya dengan kematianlah ia akan dibebaskan dari tatapan tak nyaman dari setiap penduduk kota tersebut.
Bumi telah mengalami rotasi. Matahari telah tersisingkan dan berpindah tempat. Kini sinarnya digantikan oleh sosok indah yang sering manusia sebut dengan bulan.
Pada akhirnya para warga penduduk Sentra Jaya telah kembali ke kota kebanggaan mereka. Begitu pula dengan Adrian Vale, Lelaki itu kembali bukan untuk meluapkan rasa rindunya pada kota seperti halnya penduduk lain. Ia kembali ke kota kecil tersebut karena merasa tidak yakin jika dirinya akan terus diterima ditempat pengungsian. Mengingat dirinya tak punya banyak kelebihan yang mungkin dapat membantu para penduduk disana.
Lelaki itu kembali ke rumah panti asuhan yang telah ia singgahi sejak ia dilahirkan. Jujur saja rasa malu tetap ada dalam hatinya. Malu karena diusianya yang terbilang tidak muda lagi ia masih tetap berada di panti asuhan tersebut. Namun, tuhan seakan tak pernah memberinya jatah kelebihan..selalu kekurangan lah yang ia dapatkan. Berusaha mencari pekerjaan di restoran makan namun, ujung-ujungnya malah memecahkan gelas 3 kali selama satu hari penuh. Tak ada hari tenang dalam hidupnya, selalu saja gebrakan akan menjadi makanan sehari-harinya. Maka dari itu pekerjaan yang paling aman untuknya saat ini hanyalah bernafas.
Untuk malam ini ia tidur dengan tenang diatas kasurnya yang ia namai dengan Beta. Ya, bahkan dengan kasur pun ia akan sangat menghargai keberadaannya. Kasur itu sudah menjadi teman perjalanan hidupnya selama ini. Setiap keluhan, rintihan dan omelan hanya kasur itulah yang senantiasa hadir dan mendengarkan tanpa kebosanan.
“Apa kabar Beta? Aku merindukanmu, pasti kau juga merindukanku kan?” Ucapnya seraya menepuk-nepuk dan mengelus kasur yang hampir lapuk tersebut. Meskipun tak ada jawaban tapi herannya lelaki tersebut tetap tersenyum bangga dan sumringah seolah-olah ia benar-benar baru saja bertemu temannya setelah sekian lama berpisah.
Setelah itu ia mulai merebahkan tubuhnya ke kasur tercitanya. Aroma dari kasur tersebut selalu berhasil membuatnya terlelap dalam mimpi dengan cepat. Mata lelaki tersebut mulai terpejam dengan damai menyusuri mimpi indahnya.
***