Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BURUNG AJAIB PENOLONGKU

BURUNG AJAIB PENOLONGKU

Laela Tungga Dewi | Bersambung
Jumlah kata
41.1K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / BURUNG AJAIB PENOLONGKU
BURUNG AJAIB PENOLONGKU

BURUNG AJAIB PENOLONGKU

Laela Tungga Dewi| Bersambung
Jumlah Kata
41.1K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperPria DominanHarem
Hendi hanyalah pemuda yatim piatu yang terbiasa dengan kesulitan. Namun, hidupnya berubah drastis ketika bertemu dengan wanita misterius yang memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan alam dan makhluk gaib dan mengenalkannya pada "Delapan Burung Ajaib" – makhluk gaib yang menjadi penjaga keseimbangan alam semesta dan membawa pesan tentang tugas besar yang harus diemban Hendi, yaitu dengan tujuan untuk melindungi dunia dari berbagai ancaman.
BAB 1: DI BALIK TIANG LISTRIK YANG SUNYI

Padalarang, musim kemarau tahun 2023. Udara sore yang masih menggigil menyambar wajah Hendi saat dia berdiri diam di bawah tiang listrik yang menjulang tinggi di pinggir kampungnya. Lumpur hitam yang menempel pada celananya sudah mengering membentuk kerak yang menggosok kulit setiap kali dia bergerak. Di tangannya, sebuah ember bekas berisi air keran yang dia pinjam dari mbak Yati, tetangga sebelah yang selalu ramah padanya. Tapi kali ini, ember itu terasa lebih berat dari biasanya.

“Hendri! Cupu! Kamu lagi ngeliatin apa sana? Embernya mau tumpah kan?”

Suara itu datang dari Kobar, pemuda kampung yang selalu suka mencari masalah padanya. Bersama tiga temannya, mereka berjalan menyergap Hendi dengan tatapan yang penuh sindiran. Hendi coba menoleh ke arah lain, berharap mereka akan pergi begitu saja, tapi seperti biasa, keinginannya tidak pernah terkabul.

“Lihat aja deh, baju bekas yang selalu bolong-bolong, sepatunya juga sobek di ujungnya. Kayak orang kampung yang tidak punya uang beli baju baru aja,” ujar salah satu teman Kobar sambil tertawa mengejek. Hendi menekan bibirnya agar tidak berkata apa-apa. Dia tahu bahwa jika dia membantah, hal itu hanya akan membuat situasi semakin buruk.

Ayahnya, Pak Soleh, adalah seorang petani jagung yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Ibunya sudah tidak ada sejak dia berusia sepuluh tahun, meninggal karena penyakit yang tidak bisa diobati karena kekurangan biaya. Hendi adalah anak tunggal, jadi semua beban hidup jatuh pada pundaknya. Dia sudah tiga kali gagal masuk kerja di pabrik-pabrik di sekitar kampung karena dianggap terlalu pemalu dan kurang mampu berkomunikasi. Setiap kali wawancara, lidahnya selalu seperti terikat, kata-katanya tidak keluar dengan jelas, dan mata dia tidak berani menatap mata pewawancara. Itulah mengapa orang-orang menyebutnya “cupu” – terlalu pemalu, tidak percaya diri, dan mudah ditekan.

“Hendi, kamu kan bilang mau pergi ke kota untuk mengadu nasib kan? Apa kamu berpikir orang di kota akan mau menerima seseorang yang kayak kamu? Hahaha! Kamu cuma akan jadi bahan ejekan aja di sana,” ujar Kobar sambil menepuk bahu Hendi dengan kekuatan yang cukup membuatnya sedikit terpental. Ember air yang dia pegang hampir terjatuh, tapi dia berhasil menahannya dengan cepat.

“Sudahlah Kobar, jangan begitu sama dia,” suara lembut datang dari arah rumah mbak Yati. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan cemas. “Hendi cuma mau bekerja keras aja.”

“Ah, mbak Yati lagi bela cowok cupu nih,” ejek salah satu teman Kobar. Mereka tertawa lagi lalu berjalan pergi meninggalkan Hendi yang masih berdiri dengan wajah merah karena malu dan marah. Dia ingin menangis, tapi dia menahan air matanya. Dia tidak ingin orang melihatnya lemah.

Setelah mengantar air ke rumahnya, Hendi masuk ke kamar kecil yang hanya berisi kasur lipat, meja kayu bekas, dan sebuah rak buku yang diisi dengan buku-buku bekas yang dia dapatkan dari teman-teman sekolah yang sudah tidak digunakan lagi. Dia membuka salah satu buku berjudul “Cara Sukses di Kota Besar” dan mulai membacanya dengan cermat. Meskipun kata-katanya sulit dimengerti, dia berusaha sekuat mungkin untuk memahaminya. Dia bermimpi bisa bekerja di kota, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan bisa merawat ayahnya dengan baik. Dia ingin membuktikan bahwa dia bukanlah orang yang tidak berguna seperti yang selalu dikatakan orang-orang di kampungnya.

Malam itu, dia berbicara dengan ayahnya yang sedang berbaring di kasur. Pak Soleh melihat wajah putranya yang penuh tekad dan hanya bisa menghela napas dalam-dalam. “Hendi, anakku, aku tahu kamu punya impian yang besar. Tapi kota itu bukan tempat yang mudah, kamu harus kuat hati dan tidak mudah menyerah,” ujar Pak Soleh dengan suara yang lemah.

“Iya, Ayah. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku tidak akan membuatmu kecewa,” jawab Hendi dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. Dia memeluk ayahnya dengan erat, berharap bisa memberikan rasa aman pada orang tua yang sudah mengorbankan banyak hal untuknya.

Keesokan paginya, Hendi memutuskan untuk mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke kota. Dia mengumpulkan semua uang yang dia punya – hasil dari membantu petani lain menyiangi sawah dan menjual sayuran yang dia tanam sendiri di belakang rumah. Total uangnya hanya lima puluh ribu rupiah, sangat sedikit untuk pergi ke kota dan memulai hidup baru. Tapi dia tidak peduli. Dia akan menemukan cara untuk bertahan hidup.

Saat dia sedang membersihkan kebun kecil di belakang rumahnya, dia mendengar suara burung yang teriak dengan suara nyaring dan terkesan kesakitan. Dia mencari sumber suara itu dan menemukan seekor burung dengan bulu berwarna hijau kehijauan dengan ujung ekor berwarna merah yang terjepit di antara ranting pohon pepaya yang tumbuh di sudut kebun. Burung itu terlihat kesakitan dan tidak bisa terbang.

Hendi dengan hati-hati mendekati burung itu. Dia tahu bahwa beberapa jenis burung adalah hewan yang dilindungi, jadi dia harus berhati-hati dalam menangannya. Dia perlahan-lahan membuka ranting yang menjepit kaki burung itu dan mengambilnya dengan lembut di telapak tangannya. Burung itu tidak bergerak banyak, hanya melihatnya dengan mata yang besar dan tampaknya penuh rasa syukur.

Dia membawa burung itu ke dalam rumah dan menempatkannya di atas meja kayu. Dia membersihkan luka di kaki burung itu dengan air hangat dan membungkusnya dengan kain bersih. Setelah itu, dia memberikan beberapa biji beras dan air untuk burung itu minum. Burung itu makan dan minum dengan lahap, seolah-olah sudah sangat lapar dan haus.

Selama tiga hari berikutnya, Hendi merawat burung itu dengan penuh perhatian. Setiap pagi dan sore, dia memberikan makanan dan air, serta membersihkan luka di kakinya. Burung itu tampaknya semakin sehat dan mulai bisa bergerak dengan lebih bebas. Pada hari keempat, saat Hendi sedang duduk di depan rumah sambil melihat burung itu yang sedang berjalan-jalan di atas meja, burung itu tiba-tiba mengeluarkan suara yang aneh dan tidak pernah dia dengar sebelumnya. Suaranya seperti suara musik yang indah dan memiliki kekuatan yang membuat Hendi merasa tenang dan damai.

Kemudian, burung itu menghadap Hendi dan mulai berbicara dengan suara yang lembut namun jelas terdengar. “Hendi, anak baik hati, aku berterima kasih padamu telah menyelamatkan hidupku. Aku adalah burung ajaib yang telah hidup selama berabad-abad dan memiliki kekuatan khusus. Karena kamu telah menolongku dengan tanpa pamrih, aku akan memberikanmu kekuatan khusus yang akan mengubah hidupmu selamanya.”

Hendi terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia berpikir dia sedang bermimpi atau salah melihat. Tapi burung itu benar-benar berbicara padanya.

“Jangan takut, Hendi. Kekuatan ini akan membuatmu menjadi lebih gagah berani, cerdas, dan mampu menghadapi segala rintangan yang datang dalam hidupmu. Tapi ingat, kekuatan ini harus digunakan dengan baik dan tidak untuk menyakiti orang lain. Jika kamu menggunakan kekuatan ini untuk hal yang salah, maka kekuatan itu akan hilang dan kamu akan kembali seperti sediakala.”

Setelah mengatakan itu, burung itu mengeluarkan secercah cahaya keemasan dari mulutnya yang masuk ke dalam tubuh Hendi. Hendi merasakan sensasi yang aneh di dalam tubuhnya – seolah-olah ada energi yang mengalir ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa lebih kuat dan penuh semangat. Kemudian, burung itu mengibaskan sayapnya dan terbang ke arah langit, meninggalkan Hendi yang masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Hendi berdiri dan merasakan tubuhnya. Ada sesuatu yang berbeda padanya. Dia merasa lebih percaya diri, pikirannya menjadi lebih jernih, dan dia merasa seolah-olah bisa melakukan segala sesuatu yang dia inginkan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia tahu bahwa hidupnya akan mulai berubah. Dan dia siap menghadapi segala tantangan yang akan datang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca