

Hujan turun deras malam itu. Jalanan kota penuh lampu kuning yang memantul di genangan air, tapi aku tidak peduli. Ziyan, pria biasa berusia 27 tahun, berdiri di depan jendela apartemen kecilku, menatap derasnya hujan dengan perasaan hampa. Hidupku—tenang, monoton, tanpa masalah berarti—tiba-tiba terasa kosong. Aku tak pernah menyangka malam ini akan mengubah segalanya.
Aku baru saja pulang dari kantor. Pekerjaan di startup teknologi itu melelahkan, tapi lumayan untuk hidup sendiri di kota yang tidak pernah tidur. Aku memang pria sederhana: tenang, pendiam, tidak agresif. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang membuat wanita-wanita sering memperhatikanku. Biasanya aku mengabaikannya. Tapi malam ini, hujan membuat segalanya terasa berbeda.
Langkah kaki di lorong apartemen terdengar samar, tetapi cukup untuk membuatku sadar ada yang mendekat. Aku menoleh, dan… dia berdiri di depan pintu. Seorang wanita muda, rambut hitam basah, mata yang menatap tajam, tapi ada kesan takut terselip di sana.
“Maaf… boleh masuk?” suaranya lembut tapi bergetar.
Aku terkejut. Tidak ada yang mengetuk apartemenku malam-malam seperti ini, apalagi hujan deras. Instingku mengatakan sesuatu yang aneh akan terjadi. Tapi tanpa sadar, aku mengangguk dan mempersilakan dia masuk.
Dia masuk, dan aroma parfum lembutnya langsung memenuhi ruangan. Basah kuyup, dia menunduk, menahan tubuhnya yang gemetar. Aku menutup pintu dan mendekat, memperhatikannya dengan seksama. Ada aura… berbeda. Tidak seperti biasanya. Tidak hanya kehadirannya yang mencuri perhatian, tapi entah bagaimana, aku merasakan sesuatu yang aneh dari dalam diriku sendiri—seolah energi di sekitarku berubah.
“Aku… aku tidak tahu harus ke mana,” katanya sambil menggenggam lengan bajunya, menahan gemetar.
Aku mencoba tenang, tapi hatiku berdetak lebih cepat. Ini bukan rasa takut biasa. Ini… sesuatu yang asing tapi kuat. Aku menepuk bahunya dengan lembut. “Tenang. Kamu aman di sini. Ceritakan padaku apa yang terjadi.”
Dia menghela napas panjang, menatap mataku dengan mata yang bercahaya sedikit aneh. “Aku… aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi sejak beberapa hari lalu, aku merasa… tertarik pada seseorang… dan orang itu… kamu.”
Aku terdiam. Kata-kata itu terdengar mustahil. Tertarik padaku? Secara tiba-tiba? Aku mencoba menertawakan diriku sendiri dalam hati. Tapi ada getaran aneh yang menembus jantungku. Aura dari wanita itu… nyata.
Sebelum sempat aku berkata apa-apa, tiba-tiba langit di luar apartemen pecah dengan kilatan cahaya biru dan ungu yang menyilaukan. Ruangan berguncang, lampu berkedip, dan suara gemuruh membuat jantungku hampir copot. Aku merasakan sesuatu menyeret tubuhku—tidak sakit, tapi seperti tarikan magnet kuat.
Aku menatap wanita itu. Matanya kini menyala, menatapku dengan campuran takut dan kagum. “Ini… terjadi!” katanya.
Dan kemudian… semuanya berubah.
Sekejap, apartemen, jalanan kota, hujan deras… hilang. Aku berdiri di tengah lapangan luas, tapi bukan lapangan kota. Lampu-lampu jalan berganti dengan cahaya aneh, bangunan tinggi tampak futuristik tapi familiar. Aroma hujan masih ada, tapi udara terasa berbeda, lebih bersih, lebih… hidup.
Aku menoleh ke sekeliling, dan melihat wanita yang tadi… berdiri di depanku, tersenyum samar. Aura dari tubuhnya kini jauh lebih jelas, memancar ke arahku seolah ada tali tak terlihat yang menghubungkan kami. “Selamat datang… di dunia baru,” katanya.
Aku menelan ludah. Dunia baru? Maksudnya… isekai? Rasanya mustahil, tapi mataku melihat jelas—bangunan, jalanan, semua… nyata, tapi berbeda. Dan di dadaku, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan? Daya tarik? Aura…?
Aku mencoba mengingat hidupku sebelumnya, berharap logika manusia masih berlaku.
Flashback singkat: Aku selalu hidup sederhana, rumah kecil, kantor kecil, dan rutinitas yang bisa ditebak. Tidak ada kejadian aneh, tidak ada kekuatan spesial, hanya… aku, Ziyan, pria biasa. Tapi malam ini… jelas berbeda.
“Ziyan… kamu harus mengerti… sejak saat ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi,” katanya sambil melangkah mendekat. “Dan aku bukan satu-satunya yang akan datang padamu.”
Aku menelan ludah lagi, mencoba menyaring semua rasa campur aduk di dadaku: takut, penasaran, penasaran lagi, dan rasa ingin tahu yang membara. “Apa maksudmu… wanita lain?” tanyaku, suara bergetar sedikit.
Dia tersenyum misterius. “Di dunia ini, ada aturan yang berbeda. Auramu… tidak biasa. Wanita-wanita akan merasakan tarikan itu, bahkan tanpa sadar. Beberapa akan mendekat, beberapa akan mencoba memilikinya. Mereka semua punya motif, dan mereka semua… terikat padamu.”
Aku mundur selangkah, jantung berdegup kencang. Dunia ini… seolah memutar ulang hidupku, tapi dengan hukum yang berbeda. Dan aku baru sadar, aku tidak bisa hanya diam menonton.
Mata wanita itu menyala lebih terang, menembus jiwaku. “Kamu harus belajar mengendalikannya… atau semuanya bisa kacau.”
Aku menatap sekeliling. Bangunan-bangunan tinggi, jalanan yang mirip kota asalku, tapi lebih hidup, lebih intens. Cahaya lampu biru dan ungu memantul di genangan air, membuat refleksi kota terlihat seperti lukisan hidup. Suara kendaraan futuristik, orang-orang yang berlari di trotoar dengan pakaian modern tapi berbeda… semuanya nyata, namun asing.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diriku. “Baik… aku Ziyan. Dan… aku akan mencoba menghadapinya.”
Dia tersenyum, aura di sekitarnya berpendar lembut. “Bagus… karena semua wanita… ingin memilikimu.”
Dalam hati, aku sadar satu hal: malam hujan yang biasa tadi bukan akhir dari hari.
Ini adalah awal dari takdirku, haremku, dan dunia paralel yang penuh misteri.
Dan di antara kilatan hujan, cahaya, dan aura yang menyelimuti kami, aku merasa satu hal: hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Aku berdiri beberapa saat tanpa bicara. Dunia ini terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi terlalu aneh untuk diterima begitu saja. Dadaku terasa hangat, seolah ada sesuatu yang berdenyut pelan di dalam sana. Bukan sakit—lebih seperti bangkitnya sesuatu yang lama tertidur.
Wanita itu memperhatikanku dengan saksama. Tatapannya bukan sekadar tertarik. Ada kebutuhan di sana. Ketergantungan yang bahkan dia sendiri tampak belum sepenuhnya pahami.
“Apa namamu?” tanyaku akhirnya.
“Alyssa,” jawabnya pelan.
Nama itu terasa pas dengan auranya—dingin di luar, tapi menyimpan bara yang siap menyala kapan saja. Saat dia menyebut namanya, aku merasakan getaran kecil di udara, hampir tak kasatmata. Seolah dunia ini bereaksi.
“Alyssa…” gumamku. “Kalau dunia ini berbeda, lalu… aku ini apa?”
Dia tersenyum tipis. “Kamu adalah pusat gangguan. Anomali. Pria yang seharusnya tidak ada… tapi justru menjadi pemicu segalanya.”
Kata-katanya membuat tengkukku merinding. Aku bukan pahlawan. Bukan orang istimewa. Tapi dunia ini seakan memaksaku menjadi sesuatu—suka atau tidak.
Dari kejauhan, terdengar langkah kaki. Lebih dari satu. Alyssa menoleh cepat, ekspresinya berubah waspada.
“Mereka mulai merasakannya,” katanya lirih. “Auramu.”
“Siapa mereka?” tanyaku.
“Wanita-wanita lain,” jawabnya jujur. “Dan beberapa dari mereka… tidak suka berbagi.”
Aku menghembuskan napas pelan. Jadi ini baru permulaan. Dunia baru. Aturan baru. Dan hidup yang tak lagi bisa kujalani dengan biasa-biasa saja.
Aku mengepalkan tangan, menatap kota paralel yang bercahaya di hadapanku.
Jika takdir memaksaku berdiri di pusat semua ini—
maka aku akan menghadapinya dengan caraku sendiri.
Dan tanpa kusadari, di balik lampu-lampu kota itu, beberapa pasang mata sudah mulai mengarah padaku.