Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Portal Waktu Pemuas Harem

Portal Waktu Pemuas Harem

Risya Petrova | Bersambung
Jumlah kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / Portal Waktu Pemuas Harem
Portal Waktu Pemuas Harem

Portal Waktu Pemuas Harem

Risya Petrova| Bersambung
Jumlah Kata
27.3K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPertualanganHarem
Reno adalah definisi dari "pecundang abadi". Dengan rekor 30 kali penolakan cinta dan motor bebek rongsokan, hidupnya tampak tak punya masa depan. Namun, sebuah kecelakaan di laboratorium profesor gila melemparnya kembali ke tahun 2001. Terjebak di masa lalu dengan koneksi telepati bersama saudari kembarnya, Reno menyadari tubuhnya kini mengandung partikel ozon yang membuatnya memiliki daya tarik seksual yang mematikan. Misinya mustahil: Memuaskan seribu wanita demi bisa pulang ke masa depan! Dari pria yang bahkan tak dilirik satpam kampus, kini Reno harus bertahan hidup dari kejaran "mangsa" yang haus akan auranya. Apakah Reno akan menjadi sang penakluk, atau justru hancur karena misinya sendiri?
Sisa-sisa harga diri

Layar ponsel Reno yang retak-retak berpendar redup di dalam kamarnya yang sempit dan pengap.

Ia berbaring telentang di atas kasur tipis tanpa dipan, menatap langit-langit kamar yang mulai berjamur.

Sebuah pesan singkat di aplikasi pesan instan baru saja menghancurkan sisa-sisa harga dirinya siang itu.

"Maaf ya, Ren. Kamu orangnya baik, tapi jujur aku butuh cowok yang punya masa depan jelas. Minimal punya kerjaan tetaplah. Kita temenan aja ya."

Reno, pemuda berusia 24 tahun, menghela napas panjang. Bahunya merosot meski ia sedang berbaring.

Ia menghitung dalam hati dengan tatapan kosong. Ini adalah penolakan ke-30 yang ia terima dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Angka yang fantastis untuk seorang pria yang sudah menjomblo selama lima tahun Sejak lulus SMA.

"Tiga puluh kali ditolak cewek," gumamnya pada dinding kamar. "Sial banget sih! Emang gue sejelek itu?"

Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Rini, saudari kembarnya. Reno mengusap wajahnya sebentar sebelum mengangkat telepon itu.

"Ren! Lo di mana? Bisa jemput gue di kampus nggak?" suara Rini terdengar terburu-buru. "Gue baru kelar magang di lab Prof Adrian. Jemput ya? Plis!"

Reno mendengus suram. Meskipun adiknya cerdas dan berprestasi, di saat-saat mendesak seperti ini, hanya Reno—si pengangguran yang punya banyak waktu luang yang bisa ia andalkan.

"Iya, iya. Gue jalan sekarang. Tunggu di gerbang belakang aja ya?"

"Oke, Ren. Tapi jangan lewat lobby utama ya, langsung ke lab aja lewat pintu belakang supaya nggak ribet sama satpam. Buruan ya!"

Reno menghela napas panjang. Bahkan dalam urusan menjemput pun, adiknya seolah memberikan instruksi khusus agar Reno tidak terlihat.

Ia pun menghampiri motor bebek tua keluaran tahun sembilan puluhan miliknya di halaman rumah. Motor itu tampak seperti rongsokan berjalan.

Saat ia tiba di depan gerbang Universitas Wijaya yang megah, motornya mulai batuk-batuk mengeluarkan asap hitam yang pekat.

BUM! Sebuah klakson nyaring mengejutkannya.

"Woi! Minggirin motor lo! Asapnya bikin polusi!"

Sebuah sedan sport berwarna merah mengkilap berhenti tepat di belakangnya. Di dalamnya duduk seorang pria sebayanya dengan kacamata hitam mahal.

Di samping pria itu, seorang gadis cantik menatap Reno dengan tatapan jijik, seolah-olah Reno adalah tumpukan sampah yang menghalangi jalan mereka menuju surga.

"Maaf, Mas. Sebentar, ini businya agak bermasalah," sahut Reno pelan, mencoba tetap sopan meski hatinya mendidih.

"Gak usah panggil gue 'Mas'! Emang gue saudara lo?! Buruan minggir sebelum gue tabrak!" gertak pria itu sambil menggeber mesin mobilnya, sengaja membuat suara bising yang memancing perhatian mahasiswa lain.

Reno menelan ludah. Dengan kepala tertunduk, ia menuntun motornya ke pinggir trotoar. Di balik punggungnya, tawa meremehkan dari para mahasiswa yang lewat terdengar seperti duri yang menusuk telinga.

Pecundang. Pengangguran. Benalu. Sampah masyarakat. Kata-kata itu seolah sudah menjadi label yang melekat permanen di keningnya.

Dunia memang tidak adil. Di rumah pun, suasananya tidak lebih baik. Ibunya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Rini.

Rini adalah cahaya keluarga; cerdas, ambisius, dan sekarang menjadi mahasiswi berprestasi yang mendapatkan beasiswa penuh serta magang sebagai asisten Profesor Adrian di laboratorium paling prestisius.

Sementara Reno? Dia hanyalah anak yang gagal melewati ujian masuk universitas negeri tiga kali berturut-turut.

Reno mulai berjalan menuju gedung penelitian di bagian belakang kampus untuk menemui Rini. Bau antiseptik dan dengung mesin menyambutnya saat ia memasuki laboratorium baja tersebut.

Ruangan itu luas, penuh dengan kabel-kabel melintang dan monitor yang berkedip dengan kode-kode rumit. Di tengah ruangan, sebuah struktur melingkar raksasa mengeluarkan dengungan rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Ren! Akhirnya sampai juga," Rini menghampirinya dengan wajah lelah. "Lama banget sih lo. Prof lagi stres berat nih karena proyek 'Pintu Ke Mana Saja'-nya belum stabil, makanya gue tadi nggak enak mau langsung cabut."

Di sudut ruangan, Profesor Adrian yang usianya sebaya dengan ayah mereka, sedang berbicara sendiri di depan papan tulis. Rambut putihnya acak-acakan, kacamata tebalnya miring.

"Kurang daya! Butuh lonjakan ozon! Ruang dan waktu itu seperti lembaran kertas yang harus dilipat!" teriak Profesor itu tiba-tiba sambil melempar spidolnya.

Reno berdiri di sana menunggu Rini merapikan barangnya, namun matanya tidak bisa berhenti melirik ke arah mesin melingkar tersebut. Cahaya biru elektrik mulai berpendar di tengah lingkaran itu. Rasanya seolah-olah mesin itu memanggilnya, menawarkan pelarian dari hidupnya yang menyedihkan.

"Rini, ini mesin apa sebenarnya?" tanya Reno mendekati konsol utama.

"Jangan dekat-dekat dulu! Itu prototipe pelipat dimensi. Masih sangat tidak stabil," peringat Rini tanpa menoleh.

Reno berdiri di depan panel kontrol. Ia melihat sebuah tombol merah besar dengan label 'Emergency Power / Phase Shift'. Rasa penasaran menguasai dirinya. Untuk sekali saja, ia ingin memegang kendali atas sesuatu yang hebat. Namun, nasib sial Reno konsisten.

Saat ia hendak melangkah mundur, kakinya menginjak tumpahan cairan pelumas yang licin di lantai laboratorium.

"Waaaa!"

Tubuhnya limbung. Dalam upaya mencari pegangan, telapak tangannya menghantam keras panel kontrol tersebut. Kaca pelindung pecah, dan telapak tangan Reno menekan tombol merah itu dengan telak.

BZZZZTTTT!

Suara ledakan listrik yang memekakkan telinga memenuhi ruangan. Lampu-lampu meledak. Sirine melolong.

"RENO!?!" Rini berteriak histeris, mencoba berlari ke arah kakaknya.

Cahaya biru berubah menjadi pusaran putih yang menyilaukan. Gravitasi menghilang. Tubuh Reno terangkat, tertarik oleh gaya hisap luar biasa dari pusat lingkaran.

"Rini! Tolong! Gue kesedot!" teriak Reno putus asa.

"Keluar dari sana! Ren!" Rini mencoba menggapai tangan Reno, namun ledakan energi mendorongnya mundur hingga terhempas ke dinding.

Pandangan Reno mulai kabur. Tubuhnya terasa seperti ditarik melewati lubang jarum. Ia merasa ada sesuatu yang meresap ke dalam pori-porinya, sebuah energi murni yang berbau seperti ozon setelah badai petir. Semuanya menjadi putih, dan kesadarannya pun lenyap.

***

Reno terbangun di atas trotoar semen yang kasar. Aroma aspal panas dan asap kendaraan yang berbeda menusuk hidungnya. Ia bangkit dengan lunglai, kepalanya berdenyut hebat.

"Di mana ini?" bisiknya.

Ia melihat sekeliling. Bangunan-bangunan tampak lebih kuno. Ada toko elektronik memajang televisi tabung. Orang-orang berpakaian aneh, celana kombor kedodoran dengan rantai dompet menjuntai, rambut belah tengah, dan ponsel tebal seukuran batu bata.

Matanya tertuju pada baliho besar kampanye, "Senin, 14 Mei 2001".

"Dua ribu satu?" Reno ternganga. "Gue kembali ke dua puluh empat tahun yang lalu?"

Tiba-tiba, suara Rini bergema di dalam otaknya. "Ren? Reno?! Bisa dengar gue nggak?!"

Reno tersentak. "Rini? Lo di mana?"

"Gue di masa depan! Di lab! Prof Adrian benar-benar gila ... dia bilang mesin itu mengirim ke koordinat waktu yang paling 'stabil' secara emosional buat lo. Ren, kita terhubung karena efek kuantum saudara kembar. Gue sekarang bisa ngomong sama lo lewat telepati!"

Reno memegang kepalanya. "Rini, gue pengen pulang! Rin, sumpah gue takut gila paraaah!"

"Sabar, Ren! Mesinnya terkunci. Protokol 'Mission Compliance' aktif. Lo nggak bakalan bisa balik kalau misinya nggak selesai!"

"Misi apa?!"

"Misi itu ... Prof bilang ini buat menguji daya tarik feromon ozon yang nempel di badan lo. Misinya adalah ... lo harus bisa memuaskan seribu wanita di tahun ini."

"WHAT?!" Reno berteriak keras. "Rin, ini misi bunuh diri apa? Satu cewek aja belum tentu mau sama gue! Gue ini tuna asmara sejati, Rin!"

Namun, saat itu juga, sekelompok gadis SMA yang lewat tiba-tiba berhenti total. Mereka menatap Reno dengan mata melebar dan pipi memerah. Mereka menghirup udara dalam-dalam, seolah Reno adalah aroma parfum paling memabukkan di dunia.

"Eh, Kakak di sana ganteng banget ya," bisik salah satu gadis itu dengan tatapan lapar.

"Ren, lari!" suara Rini berteriak di kepalanya. "Efek samping ozon itu bikin lo jadi magnet wanita paling berbahaya di tahun 2001! Lari sekarang atau lo bakal diserbu!"

Reno melihat bayangannya di kaca toko. Aura purba terpancar dari dirinya.

"Reno! Cepat lari bego!!!" Suara Rini berteriak cemas menggema di dalam kepala Reno.

Bersambung

Lanjut membaca
Lanjut membaca