Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THUMB OF FATE

THUMB OF FATE

Out Of Black | Bersambung
Jumlah kata
22.1K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / THUMB OF FATE
THUMB OF FATE

THUMB OF FATE

Out Of Black| Bersambung
Jumlah Kata
22.1K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMiliarderHaremSupernatural
Arka Davendra adalah definisi lelaki yang selalu kalah oleh hidup. Wajah biasa, nasib buruk, dan harga diri yang dipatahkan pelan-pelan oleh dunia yang tak pernah ramah padanya. Sampai malam itu. Dalam keputusasaan, Arka menjentikkan ibu jarinya … dan hidupnya berubah. Wajahnya menjadi tampan. Rezekinya mengalir tanpa usaha. Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka sendiri. Orang-orang mulai memanggilnya dengan nama baru: Arka Devendra. Sosialita terpikat padanya. Wanita yang dulu meremehkannya kini memujanya. Dunia yang dulu menertawakannya, sekarang berebut perhatiannya. Arka merasa akhirnya ia memenangkan hidup. Namun keberuntungan itu tidak datang sendirian. Di saat nasib Arka melonjak tinggi, hidup orang-orang di sekitarnya mulai runtuh tanpa alasan. Nadira, satu-satunya yang pernah tulus padanya, tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Rekan kerja mengalami kecelakaan aneh. Dan seorang jurnalis bernama Dariane mulai melihat pola mengerikan di balik semua “kebetulan” itu. Semakin Arka menjentikkan ibu jarinya, semakin ia menyadari satu hal yang menakutkan: Keberuntungannya … diambil dari nasib orang lain. Sekarang Arka dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan. Tetap menjadi dewa keberuntungan yang dipuja semua wanita—atau kembali menjadi Arka yang tak berarti, demi menghentikan kehancuran orang-orang yang mulai terjerat oleh takdirnya. Karena setiap jentikan kecil dari ibu jarinya, selalu ada seseorang yang harus membayar harganya.
Lelaki Paling Sial di Kota Ini

Hujan deras mengguyur kota seperti air mata langit yang tak henti-hentinya menangis, disertai kilatan petir yang menyambar-nyambar bagai pedang amarah dewa-dewa kuno. Setiap tetes air terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, membekukan tulang hingga ke sumsum. Tak peduli siapa yang basah kuyup di bawahnya—kaya, miskin, bahagia, atau hancur—hujan ini tak pernah memilih korban. Ia hanya jatuh, tanpa ampun, tanpa belas kasihan.

Arka Devendra berdiri di trotoar depan gedung perkantoran megah yang menjulang 32 lantai, seperti menara sombong yang menantang langit. Kemeja putihnya yang dulu rapi kini tembus pandang, menempel lengket di kulitnya yang menggigil. Air hujan merembes masuk ke setiap pori-pori, mencampur keringat dingin dengan air mata yang tak terlihat. Sepatu kulit hitamnya, yang dibeli dengan gaji pertama enam tahun lalu, jebol di bagian tumit kiri. Setiap langkah terasa seperti menginjak genangan es yang tak berujung, air keruh menyusup masuk, membasahi kaus kakinya hingga terasa seperti belenggu basah yang menariknya ke bawah. Dompetnya hilang sejam lalu di angkot 47—mungkin dicopet oleh tangan-tangan tak kasat mata yang haus akan kesengsaraan orang lain, atau mungkin jatuh sendiri karena tangannya terlalu lemah menahan pegangan yang licin. Di dalamnya ada foto ibunya yang sudah pudar, kartu identitas yang sudah usang, dan sisa uang receh yang tak cukup untuk makan malam.

Tadi pagi, dia masih punya pekerjaan. Sebuah rutinitas yang membosankan tapi aman: duduk di cubicle kecil, mengetik laporan demi laporan, berpura-pura bahwa hidupnya punya arti.

Sekarang, yang tersisa hanyalah surat PHK satu lembar yang sudah lembab di saku celananya, tinta hitamnya mulai luntur seperti mimpi-mimpinya yang hancur. Dipecat karena "pengurangan biaya operasional," kata bosnya dengan suara dingin, tanpa tatap mata. Tapi Arka tahu yang sebenarnya: dia hanyalah korban dari politik kantor, dari intrik-intrik kecil yang menjadikannya pion yang mudah dikorbankan. Enam tahun pengabdian, malam-malam lembur tanpa bayaran, senyum palsu di rapat-rapat yang tak berarti—semua itu lenyap dalam sekejap, seperti asap yang ditiup angin.

Pintu lobi kaca membuka otomatis dengan desis halus, seolah menyambutnya dengan ejekan. Arka melangkah masuk, meninggalkan jejak air keruh di lantai marmer yang mengkilap seperti cermin, mencerminkan wajahnya yang pucat dan mata yang merah karena menahan tangis. Beberapa karyawan yang masih lembur menoleh sekilas, mata mereka penuh rasa kasihan yang cepat berubah menjadi ketakutan. Mereka memalingkan muka, kembali ke layar komputer mereka, seolah kehadirannya adalah virus yang bisa menular. Bau basah dan malu bercampur di udara, menyengat hidung, membuat tenggorokan Arka terasa sesak. Dia merasa seperti hantu yang tak diundang, mengembara di tempat yang dulu dia sebut rumah kedua.

Di depan meja resepsionis, Mirella Santoso berdiri tegak sambil memegang tabletnya dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang rapi terurai, blazer navy-nya tak ada satu lipatan pun yang salah, seolah dia adalah patung sempurna yang diciptakan untuk dunia ini. Dia sedang bicara dengan dua orang client, suaranya jelas dan tajam, seperti pisau yang dibuat khusus untuk memotong harga diri orang lain. Kata-katanya mengalir lancar, penuh keyakinan, membahas proyek jutaan dolar seolah itu hanyalah permainan anak-anak. Mirella, mantan kekasihnya—atau lebih tepatnya, mantan yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Dulu, mereka berjanji akan menaklukkan dunia bersama, tapi ambisi Mirella tumbuh lebih cepat daripada cintanya. Dia naik jabatan, sementara Arka tertinggal di belakang, menjadi bayangan yang tak lagi dibutuhkan.

Mirella menoleh. Matanya mengerjap sekali—mengenali wajah yang dulu dia cium dengan penuh gairah. Ekspresinya berubah dari profesional menjadi dingin, seperti es yang membeku dalam sekejap.

“Oh,” katanya, volume suaranya cukup keras supaya dua client itu ikut mendengar, seolah ingin membagikan penghinaan itu kepada semua orang. “Masih berani masuk ya? Kupikir orang yang dipecat biasanya tahu malu.”

Arka berhenti di tempatnya. Air menetes dari ujung rambutnya yang basah ke lantai, membentuk genangan kecil yang mencerminkan cahaya lampu neon. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia menahan diri, menelan ludah yang terasa pahit. Malu? Kata itu seperti pukulan di perutnya, mengingatkannya pada malam-malam ketika dia berjuang sendirian, sementara Mirella sibuk dengan karirnya. “Malu itu mahal, Rel,” jawabnya pelan, suaranya hampir pecah tapi dia paksa tetap tenang. “Aku lagi hemat.”

Mirella tertawa kecil, tapi tak ada kehangatan di situ—hanya dingin yang menusuk. Tawanya seperti racun yang merembes pelan, membuat Arka merasa semakin kecil. “Sayang sekali perusahaan ini nggak nerima pembayaran pakai harga diri yang sudah jatuh. Security!”

Dua petugas keamanan berjalan mendekat dengan langkah tegas, tangan mereka siap meraih lengan Arka. Mata mereka tanpa emosi, seperti robot yang diprogram untuk membersihkan sampah. Arka tak bergerak. Dia hanya menatap Mirella, lama, seolah mencari sisa-sisa cinta yang pernah ada di mata itu. Kenangan melintas di benaknya: malam pertama mereka berciuman di bawah hujan yang sama, janji-janji manis yang kini terasa seperti dusta. Air mata panas menggenang di matanya, tapi dia tahan, tak mau memberi kepuasan itu padanya.

“Pernah mikir nggak,” ucapnya datar, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan, “kalau yang kamu injak itu bukan cuma aku? Kamu injak mimpi kita, Rel. Mimpi yang dulu kita bangun bersama.”

Mirella mengangkat bahu, ekspresinya tak berubah. “Aku nggak injak sampah, Arka. Aku cuma menyapu. Dan kamu ... kamu sudah jadi bagian dari kotoran yang harus dibersihkan.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada Arka, membuatnya sesak napas. Dia mengangguk pelan, seperti menerima fakta pahit itu, meski hatinya hancur berkeping-keping. Lalu, tanpa kata lagi, dia berbalik. Pintu kaca membuka lagi, kali ini seperti menertawakan nasibnya, menyambutnya kembali ke dunia luar yang kejam.

Di luar, hujan makin deras, seperti banjir air mata yang tak berujung. Angin kencang menerpa wajahnya, mencampur air hujan dengan air mata yang akhirnya jatuh bebas. Arka berjalan tanpa tujuan, langkahnya berat, seolah setiap inci trotoar adalah beban yang harus ditanggung. Kenangan masa lalu menyerbu pikirannya: masa kecil di desa kecil, ibu yang bekerja keras membesarkannya sendirian setelah ayah pergi, beasiswa yang dia dapatkan dengan susah payah untuk kuliah di kota besar. Semua itu kini terasa sia-sia, seperti mimpi buruk yang tak pernah berakhir.

Pesan masuk di ponselnya yang tinggal 4% baterai, getarannya terasa seperti denyut jantung yang lemah.

**Nadira Azzahra**

Ka… kamu baik-baik aja? Tadi aku dengar dari temen di HR. Kok tiba-tiba… Aku khawatir banget. Mau aku datang ke sana?

Nadira, sahabatnya sejak kuliah, satu-satunya orang yang selalu ada di saat-saat terburuk. Dia yang selalu mendengarkan keluh kesah Arka, yang memberi bahu untuk menangis tanpa menghakimi. Arka menatap layar sampai lampunya mati sendiri, jempolnya sempat naik mau balas. Kata-kata berputar di kepalanya: "Aku hancur, Nad. Semua hilang." Tapi dia turun lagi. Tak ada pulsa, tak ada daya, tak ada jawaban yang pantas. Dia tak mau membebani Nadira dengan kegagalannya, tak mau melihat rasa kasihan di mata orang yang dia sayangi. Ponsel dimasukkan ke saku, dan dia melanjutkan langkahnya, sendirian di tengah badai.

Kosannya di gang sempit belakang pabrik percetakan terasa seperti penjara kecil yang lembab. Tangga besi berkarat berderit di bawah kakinya, bau apek campur minyak goreng bekas menyengat hidungnya seperti pengingat akan kemiskinan yang menempel. Setiap langkah naik terasa seperti mendaki gunung, tubuhnya lelah, hatinya lebih lelah lagi. Arka dorong pintu kamar 08 dengan bahu, karena tangannya terlalu gemetar. Gelap gulita menyambutnya. Listrik mati—lagi. Dia tahu tagihan sudah telat dua bulan, tapi tetap saja berharap ada keajaiban kecil setiap pulang, seperti lampu yang tiba-tiba menyala atau makanan hangat yang menunggu. Tapi keajaiban tak pernah datang untuk orang seperti dia.

Perutnya keroncongan seperti binatang liar yang kelaparan, tapi dia abaikan. Lemari es kecilnya cuma berisi setengah botol kecap yang sudah mengental dan sebutir telur yang entah sejak kapan terlupakan. Dia ambil telur itu, pegang sebentar di telapak tangannya yang dingin, merasakan kelembutan kulitnya yang rapuh—seperti hatinya sendiri. Lalu taruh kembali, tak ada tenaga buat nyalain kompor minyak yang sudah berkarat. Arka duduk di kasur tipis yang sudah bolong di sana-sini, punggungnya menyandar dinding yang lembab dan berjamur. Sepatu dilepas dengan susah payah, kaus kaki basah dilempar sembarangan ke sudut kamar. Harga dirinya rasanya ikut terlempar bersama kaus kaki itu, jatuh ke lantai yang kotor dan tak pernah dibersihkan.

Dalam kegelapan, tangan kanannya terangkat sendiri, menatap ibu jarinya di bawah cahaya samar lampu jalan yang menyusup lewat celah gorden robek. Ada tanda aneh di situ: garis melingkar tipis, hampir tak terlihat, seperti cap tinta yang sudah pudar. Tapi tadi pagi belum ada. Arka mengerutkan kening, jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Apa ini? Tanda dari mimpi buruk, atau sesuatu yang lebih gelap?

Lalu terdengar.

Samar-samar, seperti angin lewat celah pintu yang retak.

Tapi bukan angin.

“Ingin menukar nasibmu?”

Suara itu lembut, dalam, dan terasa mencekam, seperti bisikan setan yang merayap di telinga. Arka menatap ibu jarinya lagi, napasnya tersengal. Jantungnya berdetak seperti genderang perang, tapi wajahnya tetap datar, menyembunyikan badai emosi di dalam. Kenangan masa lalu kembali menyerbu: kehilangan ayah di usia muda, ibu yang sakit-sakitan tapi tetap tersenyum, perjuangan untuk bertahan di kota yang kejam ini. Semua itu membuatnya lelah, tapi juga marah. Marah pada dunia yang tak adil.

“Kalau nggak salah,” gumamnya pelan, suaranya bergetar karena campuran takut dan putus asa, “hidup sudah menukar nasibku berkali-kali. Tanpa izin. Tanpa belas kasihan.”

Dia tertawa kecil, suara itu getir, pendek, seperti tangis yang tertahan. Tawa itu bergema di kamar kecilnya, membuatnya merasa semakin sendirian.

Lalu, dengan gerakan yang hampir refleks, ibu jarinya menjentik.

Tak ada suara.

Hanya hening sesaat, yang terasa seperti keheningan sebelum badai.

Kemudian—

BOOM.

Lanjut membaca
Lanjut membaca