Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Menjadi Simpanan Ibu dan Adik Sahabatku

Menjadi Simpanan Ibu dan Adik Sahabatku

Arish–Girl | Bersambung
Jumlah kata
25.7K
Popular
381
Subscribe
131
Novel / Menjadi Simpanan Ibu dan Adik Sahabatku
Menjadi Simpanan Ibu dan Adik Sahabatku

Menjadi Simpanan Ibu dan Adik Sahabatku

Arish–Girl| Bersambung
Jumlah Kata
25.7K
Popular
381
Subscribe
131
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeBadboyUrban21+
Kenzo Alfarizi, pria badboy yang datang ke kota untuk mengadu nasib, dia bertemu sahabat lamanya di kota. Bima menawarkan kontrakan untuk Kenzo di rumahnya.Tanpa sengaja, kedatangan Kenzo di rumah keluarga Bima telah menyalakan api asmara antara, tante Marisa, ibu Bima dan adiknya, Ziya. Bagaimana kisah ini berjalan tanpa sepengetahuan Bima? Lalu bagaimana reaksi saat Bima tau tentang hubungan ibu dan adiknya? Ikuti kisahnya!
Kontrakan untuk Kenzo

Kereta yang kutumpangi berhenti dengan dengusan panjang, seolah ikut lelah menempuh perjalanan jauh. Aku melangkah turun, menghirup udara kota yang terasa asing namun menjanjikan. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, lalu lintas sibuk, dan wajah-wajah asing berlalu-lalang tanpa peduli.

Inilah kota tempat aku akan memulai hidup baru.

Tas ransel kugantungkan di bahu, sementara mataku menyapu sekitar stasiun. Jujur saja, aku belum tahu harus ke mana. Kost belum dapat, pekerjaan masih menunggu panggilan, dan satu-satunya yang kupunya hanyalah tekad untuk bertahan.

“Kenzo?”

Langkahku terhenti. Suara itu terdengar familiar, terlalu familiar untuk diabaikan.

Aku menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dariku, menatap dengan raut tak percaya sebelum senyumnya merekah lebar.

“Bima?” tanyaku ragu.

“Gila! Kenzo beneran!” Ia tertawa kecil lalu menghampiri, menepuk bahuku dengan antusias. “Udah berapa tahun kita nggak ketemu, bro?!"

Aku ikut tersenyum. Sahabat lama sejak masa sekolah itu kini tampak jauh berbeda—lebih dewasa, lebih rapi, tapi sorot matanya masih sama.

“Baru sampai?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Baru turun kereta. Mau cari kost dulu, habis itu, ya… lihat nanti.”

Bima mengerutkan dahi. “Kost? Ngapain repot. Ikut aku aja dulu.”

“Hah?”

“Ibuku punya rumah kost,” katanya santai. “Masih ada kamar kosong. Daripada kamu bingung sendirian di kota ini.”

Aku ragu sejenak. Tawaran itu terlalu baik untuk seseorang yang baru saja menjejakkan kaki di kota asing. Tapi melihat wajah Bima yang tulus, keraguanku perlahan luruh.

“Anggap aja tamu dulu,” lanjutnya. “Nanti urusan bayar bisa belakangan.”

Aku menghela napas, lalu mengangguk. “Baiklah. Terima kasih, Bim.”

Dalam perjalanan menuju rumahnya, kami berbincang ringan—tentang masa lalu, tentang rencana ke depan. Namun entah mengapa, ada perasaan aneh yang menyelinap di dadaku. Seolah langkah yang kuambil hari ini bukan sekadar pulang ke rumah seorang sahabat… melainkan menuju awal dari sesuatu yang akan mengubah hidupku.

Aku belum tahu, bahwa di rumah itulah, aku akan bertemu dengan sosok yang kelak membuat duniaku tak lagi sama.

Pagar rumah itu terbuka perlahan. Bima melangkah lebih dulu, diikuti aku yang masih canggung menenteng tas ransel. Rumah dua lantai itu tampak bersih dan terawat, dengan halaman kecil yang dipenuhi pot tanaman. Suasananya tenang—jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Ibu,” panggil Bima sambil melangkah masuk. “Aku pulang.”

Tak lama, langkah kaki terdengar dari arah dalam. Seorang perempuan muncul dari balik pintu dapur.

Aku terdiam.

Perempuan itu mengenakan blouse sederhana berwarna krem, belahan dada yang terlihat terbuka ke bawah, terlihat menampakkan lipatan pay Udaranya yang menyembul jelas, rambutnya tergerai rapi hingga bahu. Wajahnya cantik dengan sorot mata tenang namun tajam, seolah mampu membaca orang dalam sekali pandang. Ada aura dewasa yang sulit dijelaskan, hangat, tapi juga berjarak.

“ma, aku tanpa sengaja bertemu teman lama di stasiun. Namanya Kenzo. Dia baru di kota ini. Dan dia berniat untuk mencari rumah kost atau kontrakan.,” kata Bima.

Perempuan itu menatapku sejenak. Tatapannya tidak lama, namun cukup membuatku merasa… diperhatikan.

“Bu Marissa,” katanya memperkenalkan diri, suaranya lembut namun tegas.

Aku segera menunduk sopan. “Senang bertemu dengan Ibu.”

Bima langsung menjelaskan maksud kedatanganku, tentang aku yang baru tiba di kota, rencana mencari kost, dan kemungkinan menyewa kamar di pinggiran kota karena harganya lebih terjangkau.

"Ma, gimana kalau Kenzo ngekost di tempat kost kita yang di pusat kota?" tanya Bima. "Itung itung mama juga bisa kurangi uang setor awal, karena kasihan dia masih baru dan belum menemukan pekerjaan," kata Bima.

Belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, Bu Marissa menggeleng pelan.

“Jangan,” katanya singkat.

Aku dan Bima sama-sama menoleh.

“Temanmu tidak perlu ngekost di sana. Semua kamar sepertinya sudah ful terisi," kata mamahnya Bima. Nada suaranya bukan menggurui, lebih seperti peringatan tulus.

Aku tersenyum kaku. “Saya hanya ingin mencari yang murah, tan.”

Bu Marissa terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat. Jarak kami kini cukup dekat hingga aku bisa mencium wangi samar parfumnya—ringan, tidak menyengat.

“Di rumah ini masih ada kamar kosong,” katanya akhirnya. “Lantai atas.”

Bima tampak terkejut. “mamah yakin?”

“Daripada dia jauh-jauh dan repot,” jawabnya tenang. “Lagipula, lebih mudah kalau ada yang dikenal. Kalian kan sahabat, kalian bisa sering bertemu dan berinteraksi. Kalau perlu, temanmu bisa kau ajak kerja di perusahaan kita," katanya dengan datar.

Tatapan Bu Marissa kembali tertuju padaku. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu di sana—bukan sekadar penilaian sebagai pemilik kost. Ada ketertarikan yang samar, halus, nyaris tak kasatmata… tapi terasa.

“Kamu bisa tinggal di sini,” katanya pelan. “Anggap saja rumah sendiri.”

Aku menelan ludah. Tawaran itu terasa terlalu mudah, terlalu hangat untuk pertemuan pertama. Namun entah mengapa, aku tidak menemukan alasan untuk menolak.

“Kalau kamu berkenan...” tambahnya, seolah membaca keraguanku.

Aku mengangguk perlahan. “Terima kasih, tante Marissa.”

Senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang sederhana, namun entah kenapa membuat dadaku berdebar.

"Bima, antar temann ke atas!" Perintah bu Marisa dengan nada suara datar sembari memberikan kunci kamar kepada Bima.

Bima baru saja meraih kunci kamar dari sang mama, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melirik layar, lalu menghela napas kecil.

“Sebentar,” katanya sambil mengangkat telepon. “Iya… iya, aku dengar.”

Ia berjalan menjauh beberapa langkah, suaranya mengecil saat berbicara serius dengan lawan bicaranya.

Bu Marissa menoleh ke arahku. “Bima sepertinya harus mengurus sesuatu,” katanya datar, namun matanya tak lepas dariku.

“Biar Tante saja yang antar,” lanjutnya singkat.

Aku sempat ragu. “Tidak apa-apa, tan?”

Ia mengangguk pelan. “Tangga ini sudah hafal langkahku.”

Kami berjalan berdampingan menuju tangga. Rumah itu terasa berbeda ketika hanya kami berdua—lebih sunyi, lebih… dekat. Langkah kami menyatu dengan bunyi kayu tangga yang berderit halus.

“Sudah lama kamu tidak ke kota ini?” tanyanya sambil menaiki anak tangga pertama.

“Sudah beberapa tahun,” jawabku. “Banyak yang berubah.”

Ia tersenyum tipis. “Kota ini memang cepat berubah. Begitu pun orangnya juga.”

Kami tiba di lantai dua. Lorong kecil memanjang dengan beberapa pintu kamar. Bu Marissa berhenti di depan sebuah pintu paling ujung.

“Ini kamar yang kosong,” katanya sambil membuka pintu.

Aku melangkah masuk. Kamar itu sederhana tapi rapi—jendela besar menghadap ke luar, cahaya sore masuk lembut, dan udara terasa hangat. Cukup nyaman… terlalu nyaman untuk pendatang sepertiku.

“Kamar ini jarang dipakai,” lanjut Bu Marissa. “Tenang. Cocok kalau kamu butuh istirahat.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, Tan. Saya benar-benar terbantu.”

Ia berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling kamar, lalu menatapku. Tatapannya kali ini berbeda—lebih lembut, lebih lama, seolah memastikan keputusannya tepat.

“Kalau ada apa-apa,” katanya pelan, “kamu bisa langsung turun. Aku biasanya di bawah.”

Aku mengangguk lagi. “Baik, tante Marissa.”

Sesaat hening tercipta. Tidak canggung, tapi juga tidak biasa. Lalu ia tersenyum tipis, berbalik, dan melangkah hendak meninggalkan kamar.

Namun tiba-tiba, sesuatu dari rambutnya terjatuh. Jepit kecil yang tersemat di rambutnya jatuh ke lantai. Kulihat tante Marisa berjongkok, langkah-langkah terlihat anggun dan hati-hati. Namun, belahan rok span yang di kenakan membuat wanita itu terlihat anggun. Saat tatapan matanya menatap lantai ia sedikit menunduk, membuat lipatan pay Udara di dadanya terlihat menyembul di balik krah leher yang terlalu longgar dan terbuka.

Aku menelan ludah, saat tanganku juga reflek hendak mengambil benda kecil itu, tatapan mata ini mengunci pada dada besar tante Marisa. Tanpa sadar, bukan jepit yang ku raih, melainkan tangan tante Marisa yang ku genggam.

Tante Marisa tersenyum, dia tidak marah

"Eh, maaf tante... Aku tidak sengaja," ucapku tampak ragu dan malu.

Tante Marisa seperti memahami sikapku yang salah tingkah. "Aku turun. Kalau ada apa apa kau bisa panggil aku di lantai bawah. Kamar di belakang ber cat ungu," ucapnya.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Salah tingkah sudah pasti. "Iya, Tante... Terimakasih," jawabku lirih.

Lanjut membaca
Lanjut membaca