

"Edi Suryana..... Bangun Edi.....!" Teriak Emak Evi mamah nya Edi, suaranya melengking memecah kesunyian pagi dari arah dapur.
Edi yang masih bergulung di dalam sarung pun menggeliat, menutupi telinganya yang berdengung. "Ada apa sih, Mak? Kabiasaan iiiiiiiiiiiihhhhhhh....teriak-teriak terus Emak," ucap Edi dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Emak Evi langsung melangkah masuk ke kamar, berkacak pinggang menatap putra satu-satunya itu. "Hey.... yang kebiasaan pisan kamu! Jam segini belum bangun! Cepet bangun, Edi. Takutnya Emak meninggal kamu gak bisa apa-apa. Cepet nyari kerja lagi biar kamu bisa mandiri biayain hidup kamu sendiri. Da Emak kan belum bisa ngebahagiain kamu, Edi." Ucap Evi, nadanya yang semula mengomel perlahan sedih dan sesak di dada.
Mendengar kata meninggal disebut oleh ibunya, Edi langsung terduduk. Rasa kantuknya hilang seketika. "Mak..... kebiasaan pisan iiiiiiiiiiiihhhhhhh... Jadi sedih Edi ah. Tenang, Mak, ke Edi nyari kerja. Sekarang mah Edi lagi nunggu Sandi, Mak. Paling besok Edi ka kota, Mak." Ucap Edi, berusaha menenangkan hati emaknya yang rapuh.
Mata Emak Evi langsung sedih. "Ka kota? Ka mana iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... nanti Emak sama siapa?" Tanya Evi, mendadak hatinya merasa berat harus berpisah dengan anaknya.
Edi menghela napas pelan, digenggamnya tangan sang emak yang mulai keriput. "Kan Edi harus kerja, Mak. Jadinya maap, Mak, kan kerjaan nya juga banyak di kota, Mak. Edi mau ngerantau biar bisa bantu Emak." Ucap Edi mencoba memberi pengertian.
Emak Evi mengusap sudut matanya yang basah. "Sedih Emak, Edi.... Cepet sekarang mandi. Itu makan kamu ada di meja ya." Ucap Evi, mencoba mengalihkan rasa sedihnya dengan perhatian seorang ibu.
Edi langsung tersenyum lebar, mencoba mencairkan suasana. "Ya makasih, makasih cintaku, sayangku, cinta pertama Edi." Ucap Edi dengan nada manja.
"Bau jigong iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... Sana ah! Emak mau beres-beres rumah dulu. Nanti jam 1 siang Emak biasa nyuci baju di rumah Bu Deni." Ucap Bu Evi sambil mendorong bahu Edi menjauh karena gemas.
Edi mengernyitkan dahi, merasa heran. "Mak..... Kenapa Emak yang nyuci? Kan di rumah Bu Deni ada mesin cuci, Mak." Ucap Edi, tidak tega membayangkan ibunya harus mengucek baju lagi.
"Bu Deni nya males nyuci bajunya. Biar Emak dapat pemasukan lagi, Edi." Emak
Evi menghela napas, lalu tatapannya berubah menjadi sangat serius. "Oh.... Iya inget, di lemari Emak ada uang buat bayar listrik bulan depan ya. Inget, Edi, stok beras nya. Beras jangan sampe kosong. Inget, beras, garem takutnya nanti emak jauh dari kamu. Pokoknya harus ada beras, garem, gas, sama minyak mah aman. Da gas di kampung mah masih bisa diganti ku hawu kan. Jadi kamu nya harus rajin. Nanti minggu depan tukang kelapa ngambil kelapa yang di belakang, inget harganya 3500 hiji kelapa. Kalau kurang dari itu jangan di jual!"
Edi merasa dadanya sesak mendengarkan emak nya ngomong, seolah-olah sang emak akan pergi jauh darinya. "Emak iiiiiiiiiiiihhhhhhh... kebiasaan kaya yang mau pergi jauh ajah. Ini kan Edi yang mau ngerantau, Emak iiiiiiiiiiiihhhhhhh...." Ucap Edi sedih.
Emak Evi menatap tajam ke luar jendela, mendadak raut wajahnya berubah dingin saat mengingat sesuatu. "Idih.... Edi.... maap ya Emak belum bisa ngebagiain Edi. Inget Edi, kalau Paman kamu minta rumah ini jangan di kasih! Pertahanankan , ini rumah kamu, rumah hak kamu. Jangan kalah sama Aki-aki. Kalau bisa dorong ke jurang Edi. Kan rumah kita kan jauh dari tetangga, hehehehe..." Ucap Evi, tertawa renyah.
Edi terbelalak, lalu ikut tertawa demi menutupi rasa ngeri sekaligus geli. "Hahahaha.... si Emak mah ada-ada ajah iiiiiiiiiiiihhhhhhh..." Ucap Edi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sumpah Emak kesel ka Aki-aki pikasebelen. Kalau Emak bisa ngebunuh tanpa nyentuh, udah emak bunuh dari dulu juga." Ucap Evi, kilatan amarah begitu kentara di matanya.
"Astaga.... Emak iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... Bahaya pisan sadis." Ucap Edi, buru-buru menenangkan emaknya sebelum emosinya makin meledak.
Emak Evi langsung menepuk dahinya, kembali teringat tujuan utama anaknya. "Oh... Iya, bener besok kamu ka kota. Inget, jangan nakal ya! Jangan mabok, jangan masuk ke club malam, apalagi narkoboy jangan pisan, Edi, inget!" Tegas Evi memeringati.
"Iya, gak akan Mak tenang mak... Edi mandi dulu, lapar Edi." Ucap Edi yang langsung beranjak dari kasur.
"Iya sana mandi dulu biar wangi. Udah mandi langsung makan. Abis makan langsung cuci piring nya, Edi." Ucap Evi dari ambang pintu.
"Oke siap, Kanjeng Ratu...!" Teriak Edi dari dalam kamar mandi.
Setelah obrolan pagi itu, Evi langsung sibuk beres-beres rumah. Setelah itu, seharian penuh Evi pergi untuk nyuci baju tetangga demi mengais rezeki. Sementara di rumah, Edi menghabiskan waktunya dengan menyirami tanaman sayur yang ada di pinggir rumahnya. Di sela-sela kegiatannya, tatapan Edi kosong menerawang ke langit, merindukan sosok pelindung yang kini telah tiada.
"Kalau bapak masih ada Edi gak akan ke kota ninggalin ibu pak..." Ucap Edi lirih, menghela napas panjang meratapi nasib hidupnya.
Namun, keheningan sore itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa membelah jalanan setapak.
"Edi...... Mak Evi........ Edi........!"
Mendengar namanya dan nama emaknya di sebut, Edi langsung lempar gayung buat nyiram tanaman. Baron tetangga Edi lari dengan napas terengah-engah ke arah rumah Edi dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa, Baron?" Tanya Edi, detak jantungnya mendadak berdegup kencang dengan rasa khawatir yang luar biasa.
"Itu, Edi! Emak Evi, Edi..... itu aduh... itu Edi iiiiiiiiiiiihhhhhhh...... Cepet....!" Teriak Baron, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah jalan desa dengan raut wajah yang campur aduk antara panik dan ketakutan.
Edi yang melihat tingkah sahabatnya itu malah jadi gemas sendiri. "Iya ada apa atuh iiiiiiiiiiiihhhhhhh..... Emak di mana? Perasaan tadi Emak di rumah Bu Deni di suruh ibu Deni, mau nyuci baju anak-anak Bu Deni." Ucap Edi, mencoba tetap tenang walau hatinya mulai ketar-ketir.
"Iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... Edi, cepet..... pake baju...... ganti itu kolor kamu! Kita ke sana iiiiiiiiiiiihhhhhhh......kita ke Emak!" Sentak Baron frustrasi karena Edi malah banyak tanya, sementara keadaan di sana sudah sangat mendesak.
Melihat Baron yang sampai histeris begitu, Edi akhirnya luluh walau masih ada rasa curiga di benaknya. "Sebentar, ganti baju dulu. Kamu gak bohong kan? Gak ngeprank?" Tanya Edi memastikan sambil melotot.
Sebenarnya Edi antara percaya dan gak percaya sama Baron. Masalahnya, Baron sama Mak Evi itu sebelas dua belas kelakuannya, suka jail dan kompak kalau sudah urusan menjahili Edi. Jadi Edi kurang percaya sama sahabat nya itu karena emang suka jail.