

# Bab 1 –
---
*Desssss……*
Sakit…...
Apakah aku sedang sekarat?
Bau darah yang menyengat memenuhi hidung dan mulut Dimas Prasetyo. Tubuhnya tak mampu bergerak, bahkan sekadar menggerakkan jari pun terasa mustahil. Gelap. Pekat. Tanpa cahaya sedikit pun.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba membuka matanya — hanya setipis celah. Samar-samar, ia melihat sebuah truk tambang yang kelebihan muatan. Di sampingnya, terbaring seorang kakek berusia tujuh puluhan dan seorang perempuan cantik di penghujung usia dua puluhan — keduanya dalam genangan darah yang tak lagi bergerak. Orang-orang berkerumun di sekeliling mereka. Mulut-mulut itu bergerak, tampaknya berteriak sesuatu. Tapi Dimas tak bisa mendengar apa-apa. Tak ada suara. Senyap total.
Kakek itu sudah pergi.
Kak Kirana sudah pergi.
Dan dirinya… kemungkinan besar tak akan lama lagi.
Menatap wajah cantik perempuan yang diam-diam ia kagumi selama ini — Kirana Ramadhani — Dimas merasakan sesuatu seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya.
Kirana adalah tetangganya. Perempuan baik hati yang tak pernah sungkan menolong siapa pun. Tadi, di persimpangan Jalan Dago itu, ia melihat seorang kakek kesulitan berjalan, lalu dengan senyum hangatnya, ia menawarkan diri menemani kakek itu menyeberang. Lampu pejalan kaki sudah hijau. Mereka sudah benar. Tapi dari arah Jalan Ir. H. Juanda, sebuah truk pasir melaju kencang tanpa tanda-tanda akan berhenti — sopirnya mungkin mengantuk, mungkin mabuk. Dimas yang berdiri agak jauh melihat bahaya itu dan langsung berlari. Ia ingin mendorong Kirana menjauh. Tapi ia terlambat. Dan truk itu pun menyapu mereka bertiga.
*Penyesalan.*
Dimas belum pernah menyesal sedalam ini dalam hidupnya yang dua puluh tujuh tahun.
Seandainya ia lebih cepat menyadari truk itu kehilangan kendali. Seandainya ia lebih cepat berlari. Mungkin ketiganya tidak perlu berakhir seperti ini.
Tapi sekarang…
Sudah terlambat.
Kelopak matanya terasa semakin berat. Ia tak sanggup lagi memandangi tubuh-tubuh yang tergeletak itu. Dimas memejamkan mata, pasrah menunggu semuanya berakhir.
---
*DUAARRR!!!*
Petir menggelegar — begitu keras, seakan mampu menghancurkan jiwa.
Satu detik kemudian, pandangan Dimas berputar. Ia merasa dirinya terlempar keluar dari kegelapan itu.
Kekuatan kembali ke tubuhnya. Pendengaran kembali. Penglihatan kembali.
Dimas berdiri tergagap, memandang sekelilingnya dengan penuh kebingungan. Ia berada di pinggir persimpangan yang sama. Deru kendaraan Kota Bandung mengisi telinganya — mobil, angkot, ojek online, semuanya bergerak normal. Di bawah sinar lampu jalan yang kekuningan, orang-orang berjalan seperti tak ada yang terjadi.
*"Pak, biar saya bantu seberang, ya."*
*"Nggak usah, Neng. Bapak bisa sendiri."*
*"Kebetulan juga mau ke seberang, Pak. Bareng aja."*
Dimas menoleh ke sumber suara itu — dan membeku.
Kirana. Berdiri di zebra cross, tersenyum kepada seorang kakek tua yang bersandar pada tongkatnya. Kirana yang hidup. Kirana yang sehat. Kirana yang tadi ia saksikan tergeletak bersimbah darah.
Kirana mendongak, melihat Dimas, dan melambaikan tangan ringan. *"Eh, Mas Dimas! Baru pulang? Pergi sama teman-teman?"*
Di sebelah Kirana, sang kakek ikut menoleh ke arahnya, lalu terbatuk pelan.
*"A… iya, Kak."* Dimas menjawab otomatis, matanya masih menyapu sekitar, pikirannya berputar liar. Ia mengangkat tangannya sendiri, membuka telapak, mengepal, lalu membuka lagi.
Tidak ada luka. Tidak ada darah.
*Ini mimpi? Tidak ada kecelakaan? Semuanya hanya halusinasi?*
Lampu pejalan kaki berubah — kuning, lalu hijau. Gambar orang berjalan menyala di seberang. Para pejalan kaki mulai bergerak. Kakek itu melangkah paling lambat, tongkatnya mengetuk aspal satu per satu. Kirana dengan sabar menyesuaikan langkahnya.
Adegan ini begitu familiar.
Terlalu familiar.
Dan kemudian — *BRRRMMM* — suara mesin berat menggelegar dari sudut jalan.
Dimas menoleh cepat. Dari arah Jalan Ir. H. Juanda, sebuah truk pasir bermuatan penuh berbelok ke persimpangan. Kecepatannya sekitar empat puluh, mungkin lima puluh kilometer per jam. Gerakannya ganjil. Tidak ada tanda-tanda pengereman.
Dadanya seperti dipukul godam.
*Ini… bukankah ini persis seperti sebelum kecelakaan tadi?*
*Waktu… kembali ke belakang?*
Tidak ada waktu untuk berpikir panjang.
*"AWAS! LIHAT TRUKNYA!"* teriak Dimas sekencang yang ia bisa.
Semua orang di zebra cross itu sejenak terpaku, memandang sekitar dengan bingung.
*"Truk mana?"*
*"Di mana?"*
Kirana melihat truk itu dan berbalik ke Dimas dengan dahi berkerut. *"Mas Dimas, lebay deh. Kan lampunya merah di sana—"*
Tapi Dimas sudah tahu. Truk itu tidak akan berhenti.
Kakinya bergerak sebelum pikirannya selesai memproses. Ia berlari ke arah zebra cross sambil berteriak, *"Kak Kirana, minggir! Cepat, minggir sekarang!"*
Kirana terhenti. Senyumnya masih tersisa di bibir. *"Mas, truk itu kan—"*
*BRAKK!!!* Truk itu melindas marka jalan berhenti. Tidak melambat. Tidak membunyikan klakson. Ia melaju terus, menerjang lampu merah di depan puluhan pasang mata.
*"AAAAHH!"*
*"Lari! Lari!"*
*"Ada yang mau ketabrak!"*
Kepanikan meledak di persimpangan itu seperti bom. Orang-orang berlarian ke tepi jalan.
Kirana tersentak kaget. Ia langsung menarik lengan si kakek. *"Pak, ayo lari! Cepat!"*
*"Neng, tinggal saja Bapak."* Kakek itu justru mendorong tangan Kirana menjauh.
Tidak ada cukup waktu.
Deru mesin truk itu semakin memekakkan telinga.
Empat meter…
Tiga meter…
Kirana dan kakek itu berdiri mematung. Pasrah.
Tapi Dimas Prasetyo tidak datang untuk jadi saksi bisu kali ini.
Ia sudah tahu truk itu tidak akan berhenti. Ia sudah tahu hitungan detiknya. Maka dengan seluruh kecepatan yang tersisa di kakinya, Dimas menghambur ke arah keduanya — tubuhnya melesat seperti anak panah. Kedua tangannya merentang, melingkari pinggang Kirana di sebelah kanan dan pinggang kakek itu di sebelah kiri. Dengan teriakan panjang yang keluar dari lubuk paling dalam dadanya, ia berlari menerjang ke depan, membawa dua orang itu sekaligus.
*"YA AMPUN!"*
*"Mereka bakal mati!"*
Banyak yang menutup mata. Tak sanggup menyaksikan.
*WUUUUUSSSH!!!*
Truk itu melesat, menyerempet punggung Dimas — hanya beberapa sentimeter saja jaraknya dari menghancurkan tulang belakangnya.
Sang kakek terpelanting ke depan, meluncur di atas aspal sejauh setengah meter.
Kirana terhempas ke samping, berguling dua kali sebelum berhenti.
Dan Dimas — ia jatuh paling keras dari semuanya. Berbaring miring di tengah jalan, terengah-engah, merasakan nyeri menjalar dari pinggang hingga kakinya. Napasnya tercabik-cabik.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu pecahlah suara sorak.
*"Mereka selamat!"*
*"Anak muda itu gila, tapi keren banget!"*
Seseorang mulai bertepuk tangan — entah siapa yang memulai — dan dalam hitungan detik, tepuk tangan itu menjalar ke seluruh orang yang berdiri di pinggir persimpangan Jalan Dago sore itu. Riuh. Meriah. Bagai Dimas baru saja melakukan hal yang mustahil.
Dan mungkin memang begitu adanya.
Karena tidak ada seorang pun di sana yang tahu — bahwa anak muda yang kini terengah-engah di aspal itu sebenarnya baru saja hidup dua kali.
---