
Angga Menggoyang Tiga CEO Cantik
Tristan Leif|Bersambung
- Jumlah kata
- 198.7K
- Popular
- 20.1K
- Subscribe
- 1.6K
- Jumlah kata
- 198.7K
- Popular
- 20.1K
- Subscribe
- 1.6K
Sinopsis
Angga adalah seorang Tukang Sampah Keliling. Gajinya yang pas-pasan hanya cukup untuk makan ala kadarnya. Namun, sejak digigit ular aneh, Angga berubah menjadi pemuda super tampan, jenius, badan maskulin, insting kuat seperti ular, dan bahkan napsunya buas seperti ular. Pesona yang berpadu dengan kebuasan itulah yang membuat Tiga CEO Cantik dan wanita-wanita molek lainnya menjadi tak berdaya, terlebih, kejeniusan Angga membuatnya perlahan menjadi konglomerat kaya raya.
Ulasan
1 ulasan
Jeslyn Brave
31/8/26 03:49
Alur ceritanya menarik.Gak kerasa udah sampai akhir bab yang tak terkunci. Semangat Thor!! Ditunggu update nya 😆😆
1. Permintaan Aneh
“Aku akan bayar kamu tujuh puluh juta rupiah, asalkan kamu bisa bikin aku hamil!“ ucap Selly tanpa ragu.
Angga terperangah. Wajahnya tertunduk begitu dalam, tak berani menatap wajah cantik Selly.
“Kenapa diam, Ngga? Apa kurang?!“ sentak Selly yang tak sabar menunggu respon dari Angga.
Pemuda bernama lengkap Anggara itu masih saja menunduk menatap celana jeans lusuhnya yang ia potong tiga per empat.
Perlahan kemudian, Angga menarik napas panjang dan mengangkat wajahnya. “Ma-maaf, Bu Selly. Bukan saya nggak mau nerima uang itu, tapi saya ini cuma tukang sampah lho, Bu. Bu Selly harusnya bisa mencari pria berkelas dan tampan melebihi saya.“
Sebagai tukang sampah keliling, Angga bukanlah orang yang berada. Gajinya satu bulan tak lebih dari sekadar cukup untuk membeli beras dan bahan makanan sederhana.
Jangankan memikirkan untuk mencari kekasih di usianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun, merawat rumah peninggalan mendiang orang tuanya saja ia tak memiliki uang yang cukup.
Namun, begitulah kehidupan. Ijasah lulusan SMP miliknya tak bisa memberikan peluang kerja yang lebih lebar. Ia sudah merasa sangat beruntung saat dipekerjakan sebagai tukang sampah keliling oleh lurah kenalan mendiang ayahnya di kota.
Dan sekarang, di hadapannya, sedang menunggu seorang wanita kaya raya yang merupakan salah satu pelanggannya di sebuah kompleks perumahan elit.
“Kamu masih ragu juga rupanya?! Ya sudah begini saja… aku bulatkan bayarannya jadi seratus juta rupiah. Gimana?“ suara Selly kembali terdengar, memecah lamunan Angga.
Selly memang cantik dan masih muda. Usianya mungkin sepantaran dengan Angga. Ia adalah penghuni tunggal salah satu perumahan elit di sana, sekaligus seorang CEO dari sebuah perusahaan kosmetik besar.
Kulitnya putih bersih karena selalu menjalani perawatan mahal. Buah dada dan bokongnya juga cukup montok serta indah dipandang mata.
Jika berbicara angka skala satu sampai sepuluh, maka Selly berada di angka sembilan penuh, mendekati sempurna!
Namun, semua grafik puncak Selly itulah yang justru membuat Angga minder.
“Saya ini cuma orang dekil dan melarat, Bu Selly. Sangat nggak pantas buat bersanding sama Bu Selly,” Angga masih berusaha bertahan dengan pendiriannya.
Selly tersenyum sinis mendengar penolakan Angga. “Kamu nggak usah terlalu percaya diri, Ngga. Aku nggak minta kamu buat dampingi aku. Aku cuma butuh benihmu. Itu saja!“
“Aku bayar separuh biaya, kita naik ranjang, coba terus sampai aku hamil, setelah itu aku bakal melunasi sisanya dan kamu bebas pergi tanpa ikatan apapun,” lanjut Selly menerangkan lebih jelas keinginannya.
“Kenapa Bu Selly nggak coba cari pacar aja, menikah, lalu bikin anak?“ ucap Angga memberikan saran.
Mendengar itu, Selly menggeleng keras. Gerakan itu bahkan membuat gundukan besar di dadanya itu bergerak pejal mengikuti gerakan kepalanya.
“Kelamaan kalau harus nyari cowok dulu, Ngga. Bisa-bisa sepupuku hamil duluan dan merebut warisan dari kakek, termasuk perusahaanku!“ raung Selly dengan wajah yang sedikit panik saat mengingat ultimatum dari kakeknya tersebut.
“Kenapa warisannya nggak dibagi rata saja sih, Bu? Kan Bu Selly dan sepupu Bu Selly itu juga sama-sama keturunan kakek?!“ kening Angga berkerut heran.
Selly terkekeh kecut. “Aku juga nggak tahu, Ngga. Padahal, semua kekayaan keluarga dan perusahaan adalah hasil jerih payah orang tuaku. Tapi, sejak keduanya meninggal, kakek justru mengambil alihnya dan mempersyaratkan lahirnya keturunan buat jadi calon pewaris. Lucu banget,” keluh Selly sedikit membuka problematika keluarganya.
“Kenapa Bu Selly nggak berusaha memperjuangkannya dulu?!“ kejar Angga yang ikut merasa gemas dengan pola pikir orang-orang kaya seperti Selly dan kakeknya.
Selly langsung mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Angga tak melanjutkan perkataannya. “Stop, Ngga! Itu bukan urusanmu. Kamu cuma aku butuhkan buat menghamili aku, bukan buat jadi penasihat ahli waris,” ujarnya tegas.
Angga mengangguk dan menyadari jika langkahnya terlalu jauh mencampuri urusan domestik keluarga Selly.
“Tapi, kenapa harus tukang sampah keliling kayak saya, Bu Selly?!“ ia kembali pada pendiriannya.
“Karena kamu orang nggak penting,” lugas Selly singkat.
“Aku cuma butuh kamu tidurin dan hamil. Aku nggak mau ribet sama cowok,” imbuhnya lebih tegas yang justru membuat jantung Angga terasa tergores.
Ia memang orang miskin yang tidak penting, tapi bukan berarti bisa dipandang sebelah mata seperti itu!
Rasa kesal itu muncul mewarnai wajah Angga yang kini berubah sedikit sinis. “Kalau cuma butuh ditidurin, kenapa nggak pakai gigolo aja sekalian?!“ ujarnya pelan bercampur dongkol.
“Sialan kamu! Kamu pikir aku wanita murahan yang bisa jajan sembarangan?! Kamu masih perjaka, kan?“ balas Selly ikut tersinggung.
Angga mengangguk tanpa suara. Hatinya masih merasa kecewa pada kata-kata pedas Selly sebelumnya.
“Nah, itu yang aku butuhkan, Ngga. Biar kamu jelek, item, miskin, yang penting kamu masih steril!“ sambut Selly yang semakin membuat Angga emosional.
“Nggak usah diperjelas dong, Bu!“ seru Angga tak terima.
“Kenapa? Kan itu kenyataannya. Udah deh, buruan jawab permintaanku tadi!“ Selly kembali menekan, tak sabar menunggu jawaban Angga.
Angga terdiam lagi. Ia merasa di tengah persimpangan. Ia tak bisa menampik bahwa bayaran seratus juta rupiah itu cukup menggiurkan baginya.
“Saya minta waktu buat berpikir, Bu Selly,” akhirnya Angga memilih untuk memikirkan ulang tawaran itu.
Selly mengangguk dan membuka tas kecilnya. “Aku kasih waktu tiga hari saja. Ini ada uang satu juta rupiah buat makan, kamu tiga hari ini libur aja keliling sampahnya. Fokus pikirkan tawaranku tadi!“ ia memberikan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah ke tangan Angga.
“Jangan, Bu. Saya…”
“Nggak usah muna, Ngga. Terima saja dan pulang sana!“ potong Selly cepat.
—
Di atas batu besar tepi sungai desanya kini Angga duduk termenung sendiri.
Siang begitu terik dan panas saat Angga menerima uang itu dan memacu gerobak Tosa pengangkut sampahnya pulang ke desa yang berjarak sekitar satu jam dari kota dimana ia mengais rezeki.
'Ah, mending mandi aja dulu di sungai ini. Pening banget kepalaku,' gumam Angga sembari melucuti semua pakaiannya sendiri.
Posisi sungai tepi desa itu cukup rimbun karena berdampingan dengan hutan sehingga banyak area tertutup yang bisa digunakan dengan bebas untuk mandi sepuasnya tanpa terlihat dari luar.
Angga melompat tanpa busana ke dalam air sungai dan segera merasakan kesegaran air dari aliran pegunungan itu.
'Mandi yang seger, beli kentaki di pasar desa, lalu makan besar di rumah. Sempurna!' batin Angga menyusun rencana.
Ia pun berenang kesana kemari di tengah sungai yang airnya sebatas lehernya tersebut.
Namun, tiba-tiba dari balik sebuah batu sungai muncul seekor binatang sepanjang kurang lebih dua meter yang seluruh tubuhnya berwarna putih kekuningan.
Binatang itu meluncur cepat ke tempat dimana Angga berada.
Ia baru menyadarinya saat jarak keduanya hanya tersisa satu meter.
'ULAR!' pekik Angga begitu panik dan langsung berenang sekuat tenaga menuju tepian sungai.
Sayangnya, pergerakan ular itu jauh lebih cepat dari yang Angga duga.
Ular itu membelah cepat kedalaman air dan tahu-tahu sudah berada di dekat tubuh Angga, tepat di depan ular milik Angga!
Dari jarak yang begitu dekat, Angga bisa melihat ukuran kepala ular tersebut yang sebesar genggaman tangannya.
CRAT!
Rasa perih dan sakit yang teramat sangat segera terasa di bagian paling pribadi milik Angga setelah menerima gigitan ular tersebut.
Warna merah darah seketika merubah warna air di sekeliling tubuhnya.
'ARGHH, TIDAKK!'
Daftar bab
190 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
190 bab








